The first 200 lines.
DIADAPTASI DARI BUKU A MAN CALLED AHOK KARYA RUDI VALINKA.
Saya menghimbau
โฆteman-teman yang mendukung saya
tolong membubarkan diri.
Ini adalah markas Brimob.
Markas Brimob ini butuh ketenangan.
Ada enam ribu warga tinggal di sini.
Lagi pula, ini wilayah Depok.
Saya sudah aman di sini.
Saya mohon, kalau bisa membubarkan diri.
Kalau di sini terganggu, saya bisa dipindahkan lagiโฆ
Sebagai akibat dari demonstrasi ini.
Ini bukan wilayah DKI.
Jadi, demi kebaikan saya, Saudara-Saudara sebaiknya bubarkan diri.
Saya sudah jelaskan
kondisi saya sehat, baik.
Saya dengar Bapak, Ibu, mau pasang lilin.
Saya himbau, jangan lakukan.
Jujur, bila Bapak, Ibu tidak mendengar suara saya,
saya pikir akan ada pihak yang menyusupโฆ
Jika Bapak, Ibu, melakukan aksi seperti itu.
Kita tidak bisa memilih mau lahir dari keluarga seperti apa.
Tapi kita bisa memilih mimpi kita.
Dan dia mengatakanโฆ
"Kau akan jadi bupati, Hok!"
Cita-cita yang besar untuk kampung halamannya
membuatnya menjadi salah satu orang yang dicintai
di Kampung Gantung, Belitung Timur.
Namanya, Tjoeng Kiem Nam.
Orang-orang di kampungku mengenalnya sebagai "Tauke".
Dan aku beruntung bisa memanggilnyaโฆ
Papa.
Hok, nanti Papa akan datang ke sekolahmu,
ingin melihatmu jadi komandan upacara.
Tidak tahun ini.
Ada yang nilainya lebih dari kau?
Lagi pula, Papa membesarkanmu untuk jadi inspektur!
Bukan hanya menjadi komandan upacara.
Menjadi komandan upacara itu mimpimu,
bukan mimpi dia.
Apa sebenarnya mimpimu?
Sudahlah!
Pak Kim Namโฆ
Apa kabar?
Ada apa kalian ke sini?
Begini, aku bawa dokumen untuk ditandatangani Pak Kim Nam.
Hargamu ini sama saja merampok! Aku tak akan tanda tanganโฆ
Sampai kau mengubah isinya!
Pak Kim Namโฆ
Kau sudah lihat banyak kontraktor gulung tikarโฆ
Karena tak bermain dengan cara kami.
Begini cara kami bermain di siniโฆ
Lupakan! Aku tak akan tanda tangan!
Ya terserah Bapak,
tapi itu artinya proyek Bapak tidak ada yang jalan.
Jadi, Bapak tanda tangan.
Setelah itu, semuanya lancar.
Ya?
Ayo pergi!
Ke mana?
Bukan paras atau sifat kerasnya yang memenangkan
hati banyak orangโฆ
Termasuk ibuku.
Tapi mungkin
hanya kami yang merasakan kalau hatinya
selalu terbagi.
Bantu mamamu ke dalam!
Ayo, Nak.
Ada apa?
Aku mau minta tolong, Tauke. Anakku mau masuk sekolah.
Iyaโฆ
Ahok!
Koh Asun?
Hadiah lagi?
Seperti biasa, Koh.
Papamu itu orang paling aneh di dunia.
Duit banyakโฆ
Tapi dari dulu selalu kasih cek mundur.
Kalau sampai utangโฆ
Berarti dia tak punya uang.
Aku tahu!
Duit hasil utangโฆ
Dibagi-bagi ke orang lain!
Kapan dia akan kapok?
Jangan cuma melihatโฆ
Ambil saja satu!
Ini.
Hok! Hitung dulu.
Sepuluh ribu.
Sudah kuhitung.
Harusnya ini cukup.
Terima kasih banyak, Tauke.
Iya. Hei, Nak!
Sekolah yang benar!
Agar bisa membangun Belitung saat dewasa.
Malam, Tauke.
Bisa tolong kami?
Duit untuk belanja besok kurang!
Aku sudah tahu kau mau bilang apaโฆ
Ini salah!
Kau berikan uang saat kita paling membutuhkan.
Sudah kubilang!
Tidak ada di kamus mana pun, kita akan susah kalau kita memberi.
Lagi pula, sebanyak apa pun duit kita keluar,
kita bisa makan enak, anak-anak terus sehat.
Kita tak pernah kekurangan, 'kan?
Lihat kita sekarang!
Apa?
Sekarang buktinya!
Rezeki sudah ada yang mengatur.
Kita ini didoakan orang-orang yang kita tolong,
itu kunci keselamatan.
Di rumah ini harus setiap hariโฆ
Aku ajarkan anak-anak untuk melayani orang lain.
Besok kita beri contoh pada mereka.
Kau layani orang rumah dengan makan yang enak.
Sekarang kita istirahat.
Yuk.
Ada 100 buah, satunya 25 rupiah.
Jadi, totalnya 2.500 rupiah, Pak.
Lama tidak kelihatan, Ci Bun. Sehat, 'kan?
Sehat. Kalau aku sakit, aku tak ada di sini, 'kan?
Ci Bun ini, perempuan luar biasa.
Sudah sepuluh tahun lebih jadi pelangganku.
Dia rajin membeli emas, hampir tiap bulan.
- Tabungan untuk pendidikan anak, katanya. - Hebat, 'kan?
Istriku tak pernah begitu.
Punya uang sedikitโฆ
Pergi belanja ke Jakarta.
Kalau mungkin, pergi ke Singapura. Pening sekali kepalaku.
- Ci Bun, mau beli berapa karat? - Ya?
Aku mau jual.
Tumben, narik tabungan.
Namanya hidup, pasti ada pasang surut.
Semua orang pasti pernah mengalami.
Ci Bun, bisa ajaโฆ
Pasti mau belanja barang mahal,
tapi tak mau ketahuan suami, 'kan?
Tak mungkin istri Kim Nam tak punya uang.
- Benar. - Cukup. Jadi, aku dapat berapa?
Iya. Sebentar.
- Ini, Ci. - Iya.
- Terima kasih. - Iya.
Aku pergi dulu.
Iya.
Ci Bun.
Sekilo berapa ini?
Tumben tanya harga, Ci Bun?
Mau pesta, ya?
Masa mau beli tak boleh tahu harganya?
Ini hari baik, Ci Bun.
Harga di sini tak bisa dibandingkan
dengan jasa Tauke dan Ci Bun untuk kami.
Belajar yang baik, Nak.
Hei, salam dulu ke Nyonya.
Tidak usah.
Kau itu dagang. Berapa harganya?
Ambillah, Ci Bun. Aku memaksa!
Terima kasihโฆ
Salam hormat untuk Tauke, Ci.
Ayo silakan, duduklah.
Tidak cuma setahun sekali kalian dilayani.
Fifi, ambil minum untuk Bibi!
Layani Bibi.
Ayo, Pak Suyan, Bibi, silakan!
Ayo.
Hok, ambilkan Papa daging.
Suyan! Jaga anak-anakku.
Iya, Pak.
Mereka yang akan hapus kesulitan rakyat Belitung.
Anak-anakku akan jadi dokter,
bupati dan pengacara.
Mereka akan buat maju tanah ini.
Amin.
Kalian ingat,
nanti kalau mau berburu harimau,
ajak saudara sekandung.
Kalau kita dikelilingi harimau ganas yang siap menerkam,
kemungkinan, kawan seperburuan kita akan lari menyelamatkan diri sendiri,
walaupun risikonya tinggal kita yang diserang harimau.
Tapi jika kau berburu dengan saudara sekandung,
walaupun berhadapan dengan harimau ganas,
dia tetap tak akan lari.
Karena kalau lari berarti kehilangan saudara sekandung.
Tunggu dulu!
Tugasmu itu memudahkanโฆ
Bukan mempersulit pengusaha di sini.
Aku tak mengerti bicaramu berputar-putar.
Kau bilang aku harus hati-hati. Itu maksudnya apa?
Masa tidak mengerti?
Dengan cuaca yang seperti ini dan produksi timah yang menurun,
cuma proyek-proyekku yang bisa menyelamatkanmu!
Sebentar lagi perusahaanmu akan jatuh.
Coba Pak Kim Nam lihatโฆ
Semua karyawan itu sebentar lagi akan kehilangan pekerjaan.
Kasihan.
Kau masuk lewat pintu itu,
kau tahu harus keluar lewat mana!
Kau tak diterima di sini!
Pak Kim Nam,
No comments yet. Be the first to leave one.