Release info

Mohabbatein 2000 BluRay 720p x264 Ganool
A Commentary by dietdoank
Cocok untuk bluray ganool Resync dari agan lututkanan

Tags

BluRay
x264
720p
720
ganool
Published on: 2014-11-30
Downloads: 570
Hearing Impaired: No

Indonesian subtitle preview

The first 200 lines.

- Gurukul? - Ya!

Namaku Karan... Karan Choudhry.

Samir... Samir Sharma.

Hey kawan! Gurukul?

Ini pertemuan pertama mereka. Saat itu mereka tak tahu...

Pertemuan singkat mereka di stasiun, akan menjadi persahabatan yang abadi.

Kamarnya cukup luas.

Yang masuk pertama kali, dia yang dapat. Ini tempat tidurku.

Oh Tuhan! Ini kasur atau batu...? Kita tak bisa berbuat apa-apa, kan?

Sekarang di Gurukul, Kita hanya harus belajar.

Walau kasur sekeras batu, Kita harus tetap tidur.

Hey kawan! Itu keren kan?

Tidak ada yang mendengarkanku.

Kalau diantara kalian ada yang "ngorok", beritahu aku dulu...

Jadi aku bisa menyumpal telingaku dengan kapas.

Itu karena aku suka tidur 8 jam dan memimpikan gadis-gadis cantik!

Harap kalian maklum, Terima kasih....

Apa itu? Suara apa itu?

Siapa dia?

Dialah rektor universitas Gurukul. Tn. Narayan Shankar.

Tradisi, Kebaikan dan Disiplin.

Itulah 3 aturan utama kampus ini...

Suatu aturan yang membina masa depan kalian.

Semua alumni kampus ini sudah meninggalkan contoh yang baik bagi kalian.

Sekarang, mereka sudah menjadi orang sukses dengan kemampuannya masing-masing.

Ada yang jadi penulis terkenal, pengusaha sukses dan petinggi pemerintahan.

Tapi yang membuat mereka seperti itu karena seumur hidup mereka mengikuti ajaran kampus ini.

Sekarang, kalian diberikan kesempatan melakukan hal yang sama...

Kalian dipilih dari pelosok negeri lalu dibawa kemari...

dengan keyakinan kelak kalian akan mampu meraih kesuksesan.

Tapi tidaklah mudah meraih kesuksesan.

Dibalik kesuksesan selalu ada pengorbanan.

Sekarang, setelah memasuki kampus ini. Kalian harus meninggalkan dunia luar.

Aku harap kalian semua tekun belajar dan mematuhi aturan yang ada disini dengan baik.

Jika ada siswa yang kedapatan melanggarnya dia dengan segera dikeluarkan.

Dan ingatlah, sekali kalian dikeluarkan dari sini... Semua kampus lain tak akan ada yang menerimamu.

Jika diantara kalian tidak ada yang mau berkorban,...

Dia dipersilahkan keluar dari kampus ini sekarang juga.

Tapi jika kalian ingin tetap disini, maka gerbang kampus dan dunia luar tertutup bagi kalian.

Sekarang pejamkan mata dan menunduklah. Pikirkan setiap kata-kataku, lalu buatlah keputusan.

- Vicky! Itu fotoku! - Aku cuma mau lihat, teman...

- Tapi siapa gadis yang bersamamu ini? - Bukan siapa-siapa, ayo kembalikan.

Hentikan, Vicky... Apa yang kau lakukan?

Oh Tuhan! Ternyata kau. Mengagetkan saja.

Cepatlah kesini. Ada yang ingin kuperlihatkan.

Siapa dia?

Ini? Romeo dan Juliet, Heer Ranjha,...

Samir dan...Samir dan...?

Sanjana! Dia tidak seperti yang kalian pikirkan.

Dia hanya teman baikku... sebenarnya, dia dulu temanku.

Temanmu?

Sanju adalah teman kecilku. Kami sahabat karib.

Kami bertetangga dan seumuran pula.

Kami memotret ini saat perayaan Itu hari ulang tahunnya...

Dan keesokannya dia sudah pergi untuk selama-lamanya.

Ayahnya pindah tugas dan itu terakhir kali aku melihatnya.

Itu sudah 6 tahun yang lalu. Saat itu aku masih 14 tahun.

Tapi kau tahu dimana dia sekarang?

Beberapa bulan lalu kudengar dia dikota ini.

Baguslah! Berarti kau tahu dia tinggal dimana, kan?

Tidak, Aku tidak tahu. Dan aku juga tidak akan mencari tahunya.

Kenapa tidak?

Karena itu sudah lama sekali dan entah dia masih mengenaliku atau tidak...

Ingin bertemu denganku atau tidak.

Kalau memang ditakdirkan bertemu, pasti kami akan dipertemukan.

Kalau tidak, maka kami tidak akan bertemu.

Hey Samir! Kau benar-benar mencintai gadis ini.

Tidak, bukan begitu. Dia hanya sebatas teman lamaku.

Diamlah! Hanya teman lama!

Katakan satu hal. Berapa banyak foto teman lamamu yang kau bawa sejak umur 6 tahun?

Itu bel untuk cintamu!

Ayolah, ini waktunya tidur.

Dia hanya kawan lama! Seandainya foto itu ada padaku.

Mungkin sekarang aku sudah dirumahnya, dan mencicipi masakannya.

Dan lihatlah kau! "Kami akan bertemu kalau itu memang sudah ditakdirkan"

Kau tahu, Karan! Disebelah kampus kita ada kampus putri juga?

- Apa urusannya denganku? - Kau tidak perlu berbuat apa-apa.

Kau pikirkan saja. Biarkan aku yang akan berbuat.

Sial! Aku terlambat. Kenapa masuknya pagi-pagi sekali?

Siapa itu...? Berhenti disitu!

Berhentilah! Dasar pencuri.

Ishika! Nona Monica sudah datang! Cepatlah!

Ishika! . Ishk....

Semuanya sudah beres! Ayo kita pulang... Aku lapar sekali.

- Kita masih harus membeli air mineral. - Ditoko sana ada yang jual.

Kalian bawa semua barang-barang ke mobil. Aku akan membelinya.

Kau selalu hanya memikirkan makanan. Selain makanan kau tidak tahu apa-apa.

- Berapa harganya? - "Dedh" (1 1/2) rupees

Kenapa bisa "dedh" rupee? Bukankah harganya cuma "dhai" (2 1/2) rupee.

Tidak Nona, harganya "dedh" rupees.

Aku tahu harganya cuma "dhai" rupees...

Dan aku hanya akan membayar segitu, tidak kurang tidak lebih.

- Kenapa kau tidak mengerti juga? - Aku tak mau dengar alasan lagi!

Mau atau tidak? Bicaralah yang jelas.

Nona... harganya bukan "dhai" rupee, Tapi "dedh" rupee!

Kemarin temanku belanja disini hanya membayar "dhai" rupee.

Mungkin saja itu Nona. Tapi sekarang harganya "dedh" Rupee.

Tapi aku cuma akan membayar "dhai" rupee. Cepat bungkuskan.

- Bagaimana aku menjelaskannya pada orang ini? - Tolong pegangkan ini. Terima kasih.

"Jika ditakdirkan bertemu, pasti bertemu. "

Kau mau memberinya atau tidak?

Bagaimana bisa menjual barang "dedh" rupee dengan harga "dhai" rupee?

Aku tak mau tahu! Aku akan bayar "dhai" rupee... Kalau kau mau cepatlah.

Sebenarnya, "dedh" itu lebih kecil dari "dhai" rupee.

Benarkah "dedh" lebih kecil dari "dhai"?

Itu yang mau kujelaskan.

- Berapa sebenarnya "dedh" rupee itu? - Baiklah... 1 rupee 30 sen.

- Baik, aku akan membayar "dedh" rupee. - Terserahlah.

- Ini gelangnya dan ini kembaliannya. - Terima kasih.

Boleh aku lihat gelang-gelang itu.

- Untukmu? - Ya

- Apa? - Tidak, ini untuk temanku...

- Coba yang merah,... - ya, yang itu...

Samir..? Samir Sharma?!

- Sanju... - Kau rupanya. Aku tidak percaya!

- Mengapa kau ada di sini? - Aku... aku mahasiswa universitas Gurukul.

- Lumayanlah Tn. Sharma. - Keren huh!

Berarti sudah lama kau disini. Tapi kau tidak pernah menelponku!

- Soalnya aku tidak punya. - Sudah jangan banyak alasan!

Sebenarnya kau tak ingat aku, makanya kau tidak peduli aku ada dikota ini atau tidak.

Berapa nomor telponku? Yang benar saja! Dasar bodoh!

- Permisi Nona. - Itu punyaku. Terima kasih.

- Apa itu? - Tidak ada... cuma daftar belanja.

- Apa kau sudah mendapatkan semuanya? - Ya...sudah.

Ayo ikut denganku! Aku akan menyadarkanmu!

Kau pikir kau siapa?

Hanya karena kau siswa Gurukul kau bisa sombong begitu! Ayo kerumah.

Papa akan senang bertemu denganmu.

- Sanju, aku tak bisa, aku harus kembali ke Gurukul. - Berjanjilah hari Minggu kau akan kerumah.

- Janji? - Ya, Janji.

Khan Baba, biasanya jam berapa kereta api dari Aligarh datang?

Sebentar lagi juga akan datang. Mau jemput siapa?

- Dosen kampusku. - Oh begitu...

Sebentar lagi keretanya akan tiba.

Khan Baba, siapa gadis itu?

Itu Kiran. Dia sering kemari.

Kiran!

- Hey! Gurukul. Kau dari Gurukul? - Ya Pak.

- Perlu dibantu, Tuan? - Tidak usah.

- Ayo berangkat. - Ya pak...

Baiklah teman. Aku sudah putuskan! Aku akan keluar gerbang besok pagi...

Aku akan melewati gerbang itu dan masuk ke asrama putri...

Dimanapun gadis itu berada aku akan menemukannya...

Lalu menatap matanya dan berkata "kau sangat cantik".

Aku akan melakukannya!

Sekarang beritahu aku, apa rencana kalian?

Rencanamu apa, Samir?

Apa selamanya dia akan selalu jadi teman baikmu?

Tidak.

Sudah bertahun-tahun dia menjadi sahabatku...

- Tapi sekarang harus lebih dari itu. - Semangat yang bagus!

Hey Karan! Apa yang kau pikirkan?

Aku akan memikirkan dia sebagai mimpi yang terindah dan melupakannya.

Apa? Jangan bicara seperti seorang gadis!

Mungkin kalian lupa. Tapi aku masih ingat setiap kata-kata dari Narayan Shankar!

"Jika kalian melanggar aturan Gurukul, maka akan langsung dikeluarkan... "

Oh ayolah, Karan! Jangan jadi penakut! Biasanya orang cuma bisa bicara...

Tapi bukan berarti kita harus menganggapnya serius.

Narayan Shankar bersungguh-sungguh dalam setiap kata-katanya...

Dia pernah membuktikan kata-katanya dan dia akan melakukannya lagi.

Apa yang pernah dia lakukan?

Kisahnya sangat terkenal.

Dulu ada seorang siswa beberapa tahun yang lalu.

Katanya dia sangat cerdas. Semua menganggap dia siswa yang berbakat.

Tapi dia melakukan satu kesalahan. Melanggar peraturan Gurukul. Dia jatuh cinta.

Narayan Shankar langsung mengeluarkannya tanpa pernah melihat dia sekalipun.

Dan seperti yang semua orang tahu...

Sekali dikeluarkan dari sini, kau takkan diterima dikampus manapun.

Sekarang, tiada yang tahu bagaimana nasibnya. Juga tiada yang tahu siapa namanya.

Dan gadis yang dicintainya, dia bunuh diri.

Gadis itu adalah anak tunggal dari Narayan Shankar!

Semua orang berpikir kejadian itu akan membuat Narayan Shankar berubah.

Ternyata tidak, malah dia semakin keras.

Jadi bukannya aku penakut atau pengecut...

Tapi aku tidak cukup kuat untuk melawan Narayan Shankar.

Aku tidak sekuat itu.

Kurasa dia ditakdirkan hanya menjadi sebatas teman bagiku.

Kau harus menunggu sedikit lagi, Ishk...

Sampai seseorang datang menyelamatkan kita dari Narayan Shankar.

Kau mau apa? Kau tak boleh masuk. Pergilah... Pergi!

Aku tak bisa melakukannya sendiri. Kau dari mana?

Aku baru belanja dipasar...

Dan kau bermasalah dengan lampu.

Tuan Seera, aku sudah menyuruhmu menyiapkan surat-surat. Apa sudah siap?

- Sudah, Tuan. - Letakkan saja dimejaku.

Apa yang terjadi disini?

Selamat pagi, Tuan! Namaku Raj Aryan. Aku ada janji denganmu, Tuan.

Apa kau tidak tahu para siswa sedang belajar dan disini tidak boleh ada keributan?

Apa kau tidak tahu ditempat ini tidak boleh berisik?

Maafkan saya, Tuan. Seorang gadis kecil melihatku memegang biola..

Dan memintaku memainkannya. Aku tak bisa mengecewakannya.

Yang lebih penting disini tidak ada peraturan yang dilanggar.

Ikuti aku.

- Jadi kau mengajar musik. - Ya, Tuan.

Dan kau ingin diberi kesempatan untuk mengajarkannya di kampus ini.

Ya, Tuan.

- Dan sadar dengan tradisi yang ada di Gurukul? - Ya.

Mengetahui fakta bahwa musik tidak pernah diajarkan di sini,..

- Dan mungkin juga tidak akan pernah diajarkan? - Ya, Tuan.

Kubaca di sini kau sudah ditawarkan mengajar di 3 universitas lain..

More Indonesian subtitles for Mohabbatein (Love Stories)

Comments

No comments yet. Be the first to leave one.

Keep it about this subtitle — sync, quality, typos.500 characters left