Specials

Release info

이번 생은 처음이라ㅡtvN's This Life is Our First E10 171107 HDTV H264-NEXT
A Commentary by Artha Regina
TLIOF E10 | Cant wait for next week's episode

Tags

HDTV
hdtv
HD
Published on: 2017-11-08
Downloads: 51
Hearing Impaired: No

Indonesian subtitle preview

The first 200 lines.

Halo.

Ya.

Aku Yang Ho Rang. Kita dulu sekelas waktu SMP.

Ya, tahu.

Aku juga masuk sini karena ingin sekelas denganmu.

Kau 'kan murid terbaik di sekolah kita.

Aku hari ini duduk di sampingmu, jadi bantu aku masuk universitas di Seoul.

Ya?

Tapi, kau...

Kenapa bicaramu pakai logat Seoul?

Aku pindah kesini dari Seoul. Kau belum tahu?

Tahu, tapi kau 'kan pindah ke sini sudah dari TK.

Pak Guru datang!

Baiklah, anak-anak. Fokuslah.

Kalian sudah umur 18 tahun.

Kalian masih baru kelas 1.

Juga, hari ini ada murid pindahan.

Dia Woo Soo Ji.

Dia baru pindah dari Jinju. Perkenalkan dirimu.

Itu saja?

Ya.

Duduklah di kursi yang kosong.

Kenapa dia? Apa dia pemain voli?

Rapor kalian harus ditandatangani ya.

Ji Ho, nilaimu paling tinggi lagi?

Kau peringkat dua?

Kalau kau yang kedua, siapa yang pertama?

Kau murid terbaik?/ Serius?

Soo Ji, ajari aku./ Aku juga.

Orang tuaku pasti membunuhku./ Ajari aku juga.

Antri dulu, aku 'kan yang tanya dia duluan.

Apaan kau ini, dia bisa membantu kita berdua.

Ya, 'kan?

Apa? Dia murid terbaik?

Kenapa dia bisa dapat nilai bagus padahal dia sepertinya atlet?

Sepertinya dia juga dapat nilai paling tinggi juga di Jinju.

Tahu kenapa dia pindah ke Namhae?

Tak tahu. Memangnya kenapa?

Ibunya ternyata mengelola rumah pelacuran di Jinju...,

...dan seorang pria yang sudah menikah...

Dia juga tidak punya ayah.

Kalaupun punya, dia mungkin tak tahu siapa ayahnya.

Jangan cerita ke orang lain hal seperti ini, ya.

Takkan. Kenapa aku harus cerita-cerita?

Lihat bintang-bintang-nya.

Banyak sekali.

Sungguh desa yang membosankan.

Apa?

Kau cari mati?

Tidak! Kenapa memang?

Ada apa ini?

Katanya kau yang memulai rumor kalau ibuku mengelola rumah pelacuran.

Aku juga tahunya dari orang lain.

Apa iya?

Kalau begitu, apa kau juga baru tahu kalau dia berselingkuh...

...dengan pria yang sudah menikah juga?

Siapa yang mulai gosip ini?

Hei!

Lepaskan dia dulu, kita harus bicara baik-baik saja.

Lepaskan aku! Lepas!

Tidak, ikut aku!

Padahal aku sangat bangga punya dua murid terbaik di kelasku.

Memalukan sekali kalian ini.

Sadarlah kau ini.

Dan juga. Ji Ho, kenapa kau juga sampai ikut-ikutan?

Hei. Ini pasti salahmu, bukan?

Bagus, ya.

Sadarlah.

Aigoo.

Kenapa aku saja yang dipukul? Kenapa cuma aku?

Memangnya anak bodoh juga bukan manusia?

Kalian juga harusnya dipukul.

Kalian sudah mirip pangsit saja.

Kalian jelek!

Rang, jangan menangis.

Apa ini? Kau rupanya bisa pakai logat Namhae.

Jika kau tak terima diperlakukan begini, rajin-rajinlah belajar.

Aku tak pandai belajar.

Kalau aku bisa, aku juga pasti sudah jadi murid terbaik.

Terserahlah.

Jangan sombong kau! Aku benci kau!

Rang. Katanya kau datang ke rumahku.

Tindakan kekanak-kanakan apaan ini?

Permintaan maafmu sudah kuterima.

Jawab soal yang kulingkari pakai spidol merah, tiga kali.

Pasti itu masuk di ujian.

Juga, jangan beraninya kau pakai logat Seoul di depanku.

Aku tak suka dengarnya.

Dasar orang ini.

Demikianlah kami bertiga menjadi sahabat.

Hei! Lihat ini! Aku dapat 70!

Bagaimana?

Hebat, Ho Rang./ Baguslah.

Kau cuma salah tiga.

Kukejar kalian, ya!

Hei, aku dapat!

Aku dapat./ Apa itu?

Dapat./ Apa itu?

Besar sekali. Ini ikan air tawar.

Besar sekali!

Aku ingin menjadi bos.

Aku pasti akan menjadi bos.

Tapi kau sangat pintar. Kenapa kau mau berbisnis?

Jadi dosen saja.

Atau konglomerat.

Kalaupun begitu, aku pasti akan bergantung pada gajiku.

Hidup hanya sekali. Mana bisa kita hidup di bawah perintah orang selamanya?

Aku pasti akan menghasilkan uang sendiri.

Benar juga. Kau 'kan mudah marah, mana bisa kerja disuruh-suruh sama orang.

Kalau aku, ingin menikah dengan pria sukses yang giat bekerja...

...dan menjadi ibu rumah tangga.

Pria sukses yang giat bekerja? Kenapa?

Kau tidak mau menikah langsung saja dengan keluarga kaya?

Tidak.

Jika dia dapat uang dari orang tuanya, berarti aku harus tinggal sama mertuaku.

Jika pria itu sukses dari nol, maka semuanya milik kami berdua saja.

Berarti salah satu dari kita akan menikahi seorang profesional?

Mungkin dokter atau pengacara?

Belakangan ini, orang teknik yang terbaik.

Pebisnis lulusan sarjana teknik.

Itulah pria idealku.

Ji Ho, kalau kau?

Apa lagi? Dia ini mau jadi penulis. Benar, 'kan?

Bukan.

Terus apa?

Memang benar aku ingin menjadi penulis karena aku suka menulis...,

...tapi itu bukan impianku.

Impianku...

...cinta./ Cinta?

Memang cinta itu impian?

Tetangga sebelahmu Min Gook menyukaimu.

Pacari saja dia.

Apaan, dia itu jelek.

Pacari Seung Hoon saja.

Bukan itu maksudku.

Aku ingin punya cinta dalam hidupku.

Aku ingin bertemu seseorang, seperti takdir.

Itulah impianku.

Aku menyukai seseorang.

Apa maksudmu?

Apa? Siapa?

Suamiku.

Kau bercanda?

Apaan ini? Kau mau buat kami iri, ya?

Haruskah kubilang juga keras-keras kalau juga mencintai Won Seok disini?

Dasar orang ini!

Sebenarnya, aku masih belum tahu apa itu pernikahan.

Namun, menyukai seseorang...

Dalam hidup, satu cinta...

...sudah lebih dari cukup.

Ucapan dia terus terngiang di hatiku.

Bagian belakang kepalanya pun...

...kelihatan keren.

Kau sudah bangun?

Ya.

Kucing sudah baikan?

Ya. Kata orang RS, sakitnya cuma sementara.

Kenapa? Apa ada yang aneh di wajahku?

Ya.

Kau tampan.

Apa ada sesuatu, ya, di jendela?

Apa harus kubersihkan?

Aku bisa melihat orang yang kusuka setiap hari.

Pernikahan rupanya...

...enak juga.

Kalian di rumah?

Ibu.

[Episode 10: Karena Ini Saat Pertamaku Punya Mertua]

Ini acar deodeok, dan ini makarel rebus.

Dia suka masakan ikan rebus.

Ya.

Kenapa Ibu tak mengabari dulu?

Buat apa Ibu mengabarimu dulu?

Ini 'kan akhir pekan, jadi Ibu pikir kalian di rumah.

Ayo kita taruh ini di kulkas.

Ya, baik.

Tak usah. Aku saja./ Tak perlu.

Kau itu tidak tahu apa-apa kerja di dapur.

Kamilah yang harus mengurus pekerjaan rumah.

Benar, Ji Ho?

Ya.

Ini./ Ya, sini.

Kau ingat Wakil Kepala Sekolah Hwang?

Dia mengirimi kami sekardus apel.

Aku juga sudah membungkusnya buat ayahmu, ini pasti enak.

Ya./ Kau suka apel?

Ya, suka. Aku juga orangnya tak pilih-pilih makanan.

Baguslah.

Aku saja...

Sini. Biar aku saja.

Katanya kau bekerja di kafe.

Ya, aku harus bekerja.

Kau khawatir kalau kau membebani suamimu, ya?

Manis sekali kau ini.

Dimana anakku ini bisa ketemu kau?

Kau tidak lupa tentang upacara peringatan besok, 'kan?

Kalau kau pulang kerja cepat.../ Aku besok pulang telat.

Lagipula 'kan aku tidak pernah ikut upacara pemakaman keluarga.

Kenapa tiba-tiba.../ Ya.

Ibu tahu kau sibuk.

Comments

No comments yet. Be the first to leave one.

Keep it about this subtitle — sync, quality, typos.500 characters left