The first 194 lines.
Kau tampak tidak semangat,
Batta.
Pergi kau.
Hatimu pasti sakit.
Meski demi bertahan hidup,
merenggut nyawa orang lain itu sangat menyakitkan.
Berisik!
Maaf. Aku bermaksud menghiburmu.
Tidak baik bertengkar antar sesama perempuan.
Jangan ikut campur!
Kurang ajar kau!
Tidak ada!
Kau mencari ini?
Kunai-ku!
Kembalikan!
Shamo, Batta, tenangkan diri kalian!
Jika ingin pulang hidup-hidup,
kita harus bekerja sama bahkan dengan orang yang tidak kita sukai.
Jangan melawak.
Awalnya kita ada berapa orang?
Sekarang hanya ada 8 orang.
Eksperimen ini dirancang agar kita harus mengorbankan orang lain jika ingin maju.
Makanya kau tidak salah, begitu?
Aku tidak akan menanyakan kejadian dalam lift.
Tapi jika kau mau mengincar nyawaku, aku akan meladenimu.
Memamerkan jurusmu seperti itu.
Kau mau cepat mati, ya?
Aku ogah membeberkan jurusku semudah itu di depan orang lain.
Kau...
Tenang!
Orang luar diam saja!
Kiseru, jangan terpancing emosi.
Kalian tahu?
Sudah lama aku bosan dengan warna rambutku ini.
Tapi aku tidak punya keberanian untuk mengubahnya.
Makanya, aku memutuskan,
jika aku selamat hingga akhir eksperimen ini,
kali ini aku pasti akan mengubah warna rambutku!
Justru penting untuk memiliki harapan di saat seperti ini, 'kan?
Mungkin kau benar.
Boruto bagaimana?
Jika kau punya alasan untuk ingin bertahan hidup, bisa beri tahu kami?
Aku?
Aku...
Aku punya orang yang kukagumi.
Guruku bisa menuntaskan misi serumit apa pun
tanpa mengubah raut wajahnya sedikit pun.
Suatu saat, aku juga akan menjadi shinobi yang seperti itu.
Makanya, aku tidak bisa mati di tempat seperti ini.
Orang yang dikagumi, ya.
Aku juga punya.
Orang yang kusayangi sedang menungguku.
Soalnya aku sudah sangat merepotkannya.
Suatu saat nanti, aku ingin membahagiakannya.
Oh, maksudmu nenekmu?
Memangnya kenapa?
Memang benar aku sudah merepotkannya.
Begitu.
Jadi itu hasratmu, Shamo.
Lebih tepatnya bukan hasrat, tapi hal yang ingin kulakukan.
Namua bagaimana? Kau punya hasrat?
Aku tidak punya.
Tidak ada satu pun?
Itu aneh.
Jika ingatanku benar, tanda di lenganmu itu
seharusnya hanya ditorehkan pada pembunuh di penjara utara.
Kau pernah masuk penjara?
Hentikan. Jangan membahas masa lalu sekarang.
Dulu aku penjahat yang mengikuti hasratku.
Aku membunuh orang dan merebut apa pun yang kuinginkan.
Tapi, semakin sering aku merebut milik orang,
kegelisahan bahwa kali ini giliran milikku yang akan direbut semakin membesar.
Tanpa kusadari, aku jadi tidak bisa tidur sedikit pun.
Pada saat itu,
aku bertemu biksu yang terlihat miskin.
Dia tidak memiliki satu barang mahal pun,
tapi hatinya benar-benar tenteram.
Dengan bodohnya, aku bahkan berusaha mencuri makanannya.
Tapi aku tidak bisa.
Ditatap oleh bola matanya yang jernih,
hatiku yang gelap seolah dilelehkan.
Sejak itu, aku secara total menjauhkan diri dari hasrat
dan bersumpah untuk hidup dengan melatih batinku.
Dedikasi yang luar biasa.
Bagaimana kalau kau juga belajar sedikit darinya?
Diam kau!
Fugo bagaimana?
Sepertinya ada rahasia pada tas yang kau peluk dengan penuh sayang itu.
Aku hanya ingin mengantarkan uang ini ke klien.
Nasib perusahaanku bergantung pada ini.
Sudah kubilang, percayakan padaku.
Aku ingin mendengar ceritamu juga, Batta.
Soalnya kau kelihatan misterius.
Ogah.
Untuk apa kalian ingin tahu kenapa aku memerlukan uang?
Benar, 'kan? Seperti yang kuduga.
Apa?
Orang yang hanya ingin uang tidak akan menggunakan kata 'perlu'.
Kau memang punya suatu alasan, ya.
Coba ceritakan.
Tidak ada ruginya menceritakannya pada kami, 'kan?
Baiklah, jika kalian begitu ingin tahu.
Aku mengumpulkan banyak uang untuk membeli pulau.
Pulau?
Pasir putih dan laut biru.
Aku akan memonopolinya sendiri.
Waktuku terbuang sia-sia untuk mendengarkannya.
Kau benar-benar orang egois, ya.
Kau sendiri?
Apa kau punya alasan yang luar biasa sampai berhak menceramahi orang?
Aku?
Aku tidak punya kewajiban untuk menceritakannya padamu.
Lihat, 'kan? Pasti sesuatu yang tidak baik, 'kan?
Aku juga ingin tahu. Apa boleh?
Jika bisa keluar dari sini,
aku akan pergi berendam di onsen kampung halamanku.
Pasti asyik. Onsen seperti apa?
Aku lahir di desa tengah gunung yang berada di Perbatasan Takigakure.
Kakekku sering mengajakku ke onsen di sekitar sana.
Matahari terbenam yang bisa dinikmati sambil berendam sangat cantik.
Oh.
Onsen. Sangat bagus!
Tapi untuk itu, kau harus bertahan hidup hingga akhir.
Nah, berikutnya eksperimen yang mana?
Tinggal 3.
Kalian tidak akan bisa maju hanya dengan menunggu saja.
Biar aku yang pilih.
Aku tidak bisa berlama-lama di tempat ini.
Pilihan bagus.
Ini akan menjadi eksperimen paling kejam dibandingkan sebelumnya.
Nah, mari biar kuantar kalian.
Hawa ruangan ini mengerikan.
Mitsuki tidak bersamamu?
Dia melanjutkan penyelidikan di TKP.
Jadi, apa ada perkembangan?
Lokasi keretanya masih belum diketahui.
Tapi sebagai gantinya, kami mendapatkan ini,
daftar pembeli tiket kereta yang dinaiki Boruto.
Aku akan membandingkannya dengan data tiap negara
dan mencari tahu apa ada orang mencurigakan di antara mereka.
Ayo cepat kita mulai.
Sepertinya ini bekas darah.
Eh? Apa kita akan disuruh saling membunuh di sini?
Kau mengganggu konsentrasiku. Diam di pojok sana!
Kalau begitu, aku akan menjadi seperti orang yang tidak berguna.
Hei, ada tombol di sini. Bagaimana jika kita mencoba menekannya?
Apa ini tombol lampu?
Bunyi apa itu tadi?
Um, tadi itu...
Di atas!
Langit-langitnya menurun.
Ini gawat.
Sial! Tidak ada pintu keluar. Bagaimana ini?
Raiton: Kaminari no Kusabi!
Yatsume, jangan memaksakan diri!
Begini saja tidak masalah.
Yatsume! Kau baik-baik saja?
Ya. Aku tidak apa.
Sial.
Rasengan!
Tidak mempan sedikit pun.
Hei, kau! Apa yang kau lakukan?
Aku hanya berniat untuk menyalakan lampu.
Meski ditekan lagi, dia tidak mau kembali.
Ada 6 lainnya.
Cara apa pun boleh, cepat hentikan itu!
Kita hanya bisa mencoba menekannya.
Pilih yang mana pun tidak akan menjadi lebih buruk dari sekarang.
Terburuk!
Ini?
Apa yang ini?
Ini?
- Shamo, tenang sedikit! - Apa-apaan ini?
Hore!
Duh, tidak menjadi solusinya.
Hentikan! Bagaimana kalau semakin memburuk?
Tapi apa kita hanya bisa menunggu hingga menjadi gepeng?
Tidak. Ouga seharusnya ingin melihat kita saling menjatuhkan satu sama lain.
Tidak mungkin kita hanya akan berakhir dengan dilumatkan seperti ini.
Boruto, aku percayakan padamu.
Karena sudah sampai di sini, lakukan saja sampai akhir!
Pintu keluar?
Tidak. Itu lubang untuk bersembunyi.
Kita bisa terlindung dari plafon jika masuk ke sana.
Hore! Selamat!
Tempat ini milikku!
Oh, kau boleh juga.
Nah, cepatlah masuk.
Eh?
Aku harus segera sembunyi.
Tidak akan kuserahkan tempat ini.
Jangan sok!
Tidak. Aku mana boleh sembunyi sendirian saja.
Jangan memaksakan diri.
No comments yet. Be the first to leave one.