The first 200 lines.
Oke. Maaf, Ally. Aku sungguh minta maaf.
Maafkan aku juga.
Aku tak sengaja bilang hal kasar, dan aku minta maaf.
Baiklah. Oke.
Kini kita perlu Ny. Shirani.
Dokter giginya sudah siap.
Semua gigi kakekku dicabut, saat usianya 22 tahun.
-Apa? Itu gila. -Ya.
Itu terjadi, di masa lalu.
Lalu aku kutip
"untuk menyimpan hal buruk."
Wow. Ya, bayangkan itu,
bayangkan pakai gigi palsu.
Ya.
Baiklah, sayang, kau menari? Ya.
-Dia akan keluarkan semua miliknya. -Astaga.
Saling mengumpat kasar.
Sampah!
Ini terasa lucu, tertawa bersama, ya?
Ya.
-Sudah agak suram. -Cukup suram.
Setidaknya hormonku
seimbang sempurna mengatasinya.
Syukurlah.
Bayangkan buruknya itu jika tidak.
Astaga.
Jika aku mematikan hal ini antara kau dan Ava...
"Jika"?
Masuk akal.
Maaf aku memperburuk kondisi.
Aku tak tahu, Paul.
Semakin aku berusaha memperbaiki,
hasilnya semakin kacau.
Aku benci diriku sendiri.
Itu omong kosong.
Kau selalu ada untuk Ava.
Ya, tapi artinya aku tak terlihat saat aku tak apa.
Dan saat aku mengacaukan, dia tahu.
Itu olok-oloknya besok.
Dia akan menguasainya.
Semuanya sudah dia pastikan.
Kau sangat optimis hari ini.
-Ya? -Ya.
Aku sendiri terkejut.
Oke, kau bisa beraksi.
Kita tidur cepat malam ini.
Kita akan berdiam diri agar yang ini
bisa tidur nyenyak sebelum olokannya.
Ayah dan Luke akan bereskan dan para perempuan bersantai.
Hei, bukannya kita harus punya rokok di ruang tamu?
Bagaimana kabarmu?
Baik.
Akan kau hancurkan.
Jacob masih tak bicara denganmu?
Dia tak mau dengar.
Tetap kirim lagu sedih ke cerita Instagramnya.
Aku bersumpah demi Harrison
aku tak suruh Ruby melepaskannya.
Sumpah demi Lennon.
Jangan sumpah demi McCartney. Itu bohong.
Jacob akan kemari. Dia sedang patah hati.
Mungkin dia perlu waktu tenang.
Juga dengan keinginan terbaik di dunia,
Jacob orang aneh.
Oke, jadi dia tak mau kehilangan teman.
SD KING'S MANOR- MASUK
-Kau siap? -Tidak.
Kau hantam itu.
Tentu.
Aku tak tahu.
Aku takut soal itu.
Kita bisa lakukan.
Ayolah.
Sampai jumpa, cewek.
Semoga berhasil.
-Hai. -Kau tak apa?
-Ya. Kau? -Ya, tak parah.
-Yah, maksudku, agak buruk. -Sama.
Maafkan aku soal kau dan Ruby.
"Kekeringan adalah paling parah.
"Saat bunga yang kita tanam bersama, mati kehausan."
-Dylan? -Swift.
-Jonathan? -Taylor.
Ruby suka dia.
Jadi kau mau jalan kapan-kapan?
Sekarang aku ada waktu longgar.
Ya, tentu.
Keren.
Kau gambar apa?
Pada hitungan ketiga?
-Oke. -Oke.
-Satu. Dua. Tiga. -Dua. Tiga.
HASIL UJIAN MASUK
Enam puluh tiga.
Batas lulusnya?
Delapan puluh.
Kau dapat berapa?
Sembilan puluh empat.
Aku tak akan masuk, 'kan?
Ya, tentu. Tentu saja.
Aku perlu kerja keras.
Tak apa, Grace.
Ini cuma uji coba.
Ini bukan hari keberuntunganmu.
Kudengar mereka bangun gimnasium baru di Sekolah Core Field.
Mungkin di sana tak terlalu buruk.
Hei, maaf tadi Ibu masih menelepon.
Bagaimana nilaimu?
Sembilan empat.
Ava, itu luar biasa! Astaga.
Kerja bagus.
Ada apa?
Kau menahan diri dari nilai 100?
Grace mengacaukannya.
Sangat buruk.
Oh, tidak, hal yang buruk.
Kita tak bisa masuk ke sekolah yang sama
jika gagal ujian aslinya...
Ibu paham, benar.
Ya, Ibu...
Ibu prihatin.
-Tapi... -Jangan bilang itu tak penting.
Itu berati bagiku, Ibu.
Tidak. Maksud Ibu bukan itu.
Tidak.
Ibu paham itu penting.
Tapi pertemananmu akan bertahan, meskipun kalian beda sekolah.
Mungkin akan makin kuat. Ibu janji.
Dan Ibu bangga padamu.
Ibu tak kaget, tapi sangat bangga.
Dan, ayo beritahu ayahmu.
Dia lembur, agak malam.
Ya, tentu.
Mungkin bisa minta dia beli es krim saat pulang
karena gula menyembuhkan segalanya.
Selain diabetes.
Ya, Ibu penuh omong kosong.
Kau tak apa?
Tapi Ava?
-Amat pintar. -Sangat pintar.
Ini semua soal itu. Benar, bukan?
Melihat anakmu tumbuh dewasa.
Lebih pintar. Dia bisa apa pun sekarang.
Pengobatan, hukum.
Sains data.
-Kau tahu apa itu? -Tak ada yang tahu.
Ada harapan untuk itu.
Apakah itu membuat Luke anak buangan?
Persetan denganku. Aku tak bermaksud demikian.
Apa? Kau sadar lakukan hal ini
saat kau ambil perkataanku
dan membuatnya jadi semacam sindiran.
Ok, mungkin itu karena aku sangat peka
bagaimana kau bereaksi berlebihan.
Kadang terasa seperti aku terus melangkah...
-Di hal rentan. Aku tahu. -Tidak.
Bukan hal rentan,
di ladang ranjau.
Lebih bururk.
-Sangat buruk. -Paham.
Ayo, Nona, selesaikan.
Kau butuh asupan otak hari ini.
Aku tak yakin selai coklat itu termasuk asupan otak.
-Ya.. -Hei, itu 13% hazelnut.
Kau paham ini, Ava.
Kau tahu lebih banyak orang yang pernah Ayah temui.
Ayah bertemu Einstein.
Einstein mati 1950-an.
Kau lihat?
Kau lihat hebatmu?
Kau akan jadi hebat.
Aku cuma..
Aku tak tahu.
Hari ini firasatku buruk.
Tapi aku harus bersiap.
-Kau tak apa? -Ya.
Meregangkan punggungku yang lelah.
Bagus.
Apa? Aku peregangan?
Bukan, kau bisa dengar lututku bunyi saat berdiri.
Bukan. Cuma kau dan aku bersiap. Aku rindu itu.
Aku tahu.
Mereka buat kau datang tiap enam bulan.
Agar hubunganmu tetap hangat.
Aku tak mau kau jalan di ladang ranjau lagi.
Aku juga tidak.
Kau tak takut padaku?
Ini saat yang berpotensi bahaya.
-Benar. Oke. -Ya.
Hal perlu berubah, bukan?
Jadi waktu Hurt Locker .
Kusingkirkan ranjaunya.
Seperti Putri Di.
Kupikir dia tak menyingkirkan ranjaunya sendiri.
Tidak, dia pakai pelayan melakukannya,
-bukan? -Ya.
Ini sulit, semua ini?
Ya.
Kau mendadak jadi orang tua
dan kau yakin
No comments yet. Be the first to leave one.