The first 156 lines.
Seorang kakak harus selalu ada di depan adiknya.
Mu, kurasa...
Kurasa aku ingin menjadi astronot.
Aku yakin aku bisa pergi ke bulan.
Kita berdua akan jadi astronot.
Janji di atas bukit itu terjadi dua puluh tahun lalu.
Yeee!
Hibito akhirnya berhasil
kembali dari bulan!
Aku pulang.
Eh, apa itu?
Eh, apa itu?
Hibito, ini...
Tentu saja itu batu bulan.
Oleh-oleh.
Benarkah? Luar biasa!
Jadi ini batu dari bulan?
Biasa saja.
Kau ini. Batu bulan begini dilempar seperti batu biasa!
Kau itu mau ke bulan, 'kan?
Kalau kau di sana, yang begituan banyak, kok.
Sialan!
ZainuddinAri mempersembahkan
Space Brothers
Space Brothers
Space Brothers
Space Brothers
Space Brothers
Space Brothers
ZainuddinAri mempersembahkan
Space Brothers
ZainuddinAri mempersembahkan
Space Brothers
ZainuddinAri mempersembahkan
Space Brothers
ZainuddinAri mempersembahkan
ZainuddinAri mempersembahkan
ZainuddinAri mempersembahkan
ZainuddinAri mempersembahkan
ZainuddinAri mempersembahkan
ZainuddinAri mempersembahkan
ZainuddinAri mempersembahkan
ZainuddinAri mempersembahkan
ZainuddinAri mempersembahkan
ZainuddinAri mempersembahkan
Kau selalu ada di dalam hatiku
Tapi kau tak bicara sepatah kata pun, tersenyum pun tidak
Selama ini kita selalu bersama
Kita ini memang bebal, tapi kita percaya
Semua waktu yang kuhabiskan bersamamu
Terasa bagaikan mimpi
Kita menghubungkan bintang-bintang dan melukis gambar
Ke dalam lubuk hati kita
Biarkan saja hati kita bergetar bergelora
Gunakan saja langit sebagai kanvas
Dan jadikan gambar yang kekal
#62 Mereka yang Mimpinya Selangit
#62 Mereka yang Mimpinya Selangit
Papa! Papa!
Selamat datang, Papa!
Ayah pulang, Alan!
Jangan takut begitu.
Aku sudah suruh anakku untuk jaga jarak, kok.
Maaf, Alan.
Sebentar lagi Ayah akan main denganmu.
Ya! Aku tahu, kok!
Kalian bertiga! Kita harus berangkat!
Nah, aku pergi dulu.
Mereka harus memeriksa kesehatan kami.
Merepotkan, ya?
Nanti pagi aku pulang.
Ya.
Nah, semuanya baik-baik saja.
Kalian boleh berbaring.
Ini lebih parah dari yang kubayangkan.
Tubuhku menyusut seperti kerupuk kena angin.
Aku hampir tak bisa berdiri tegak.
Kira-kira ada yang menyadarinya tidak, ya?
Aku juga.
Senyumanku mungkin agak sedikit kaku.
Kalian semua kelihatan kuat kok dari sini.
Itu sebabnya kalian dipilih sebagai astronot.
Benar, benar.
Di bumi, tubuh dan pakaian kalian itu enam kali lebih berat.
Butuh banyak usaha untuk bersikap seperti biasa kalau kondisinya begini, 'kan?
Kita bisa menderita cedera otot yang serius kalau ditabrak anak-anak.
Sebagai ayah, tak bisa memeluk anaknya saat pulang
rasanya tak enak sekali.
Kita semua begitu.
Ternyata, anak kecil itu hal yang paling berbahaya yang harus dihadapi astronot saat pulang, ya?
Baiklah.
Kalian akan menjalani rehab selama 45 hari ke depan.
Beberapa hari pertama, kalian akan mengalami rasa lelah yang ekstrem.
Selama rehab, kalian akan bekerja tiga jam per hari.
Tidur, tes lari, latihan, lalu tidur lagi.
Begitulah siklusnya.
Tentu saja, kalian pasti akan sangat kelelahan.
Hei, Hibito.
Ingatlah ini.
Hah? Ingat apa?
Kau punya kekuatan untuk membimbing kakakmu.
Kalau kau tetap berada di depan Mutta dan mengarahkan jalannya,
Mutta akan berada tepat di belakangmu.
Kalau kau berhenti,
Bibi yakin
Mutta akan memberimu dorongan dari belakang.
Itulah hubungan yang indah
yang saling kalian berikan.
Kau sudah sadar, Hibito?
Kau mimpi indah?
Ya.
Maaf kalau buru-buru, tapi aku harus mulai pemeriksaannya.
Oke.
Seorang wanita yang lagi lari memang mantap.
Entah kenapa, aku sama sekali tak capek.
Pertandaku semakin kuat.
Apa aku harus beri tahu dia?
Atau aku diam saja?
Tidak, aku harus beri tahu.
Hibito, kau mau bubur buat makan malam?
Tidak, aku 'kan bukannya sakit.
Aku hanya merasa lemas.
Satu lagi, bisa tolong pindahkan Apo?
Dia enam kali lebih berat sekarang.
Sepertinya udon tak apa-apa.
Sepertinya boleh.
Tunggu.
Kalau begitu, kita makan udon saja, ya, Hibito?
Udon yang kenyal-kenyal.
Udon yang biasa saja.
Udon kenyal-kenyal yang biasa.
Biar kata kenyal-kenyal, itu juga udon.
Ayah sehat, ibu lebih-lebih.
Lalu...
Apa maksudmu, Amanti?
Begini.
Saat kita pertama bertemu, aku bisa melihat masa depanmu.
Mungkin kau sadar kalau aku melihat sesuatu.
Hah? Ah, ya, begitulah.
Eh? Tunggu.
Bukankah demamku yang dia lihat waktu itu?
Setiap hari, penglihatanku semakin jelas, jadi kuputuskan untuk bicara denganmu.
Aku melihat kau
terlihat kesakitan dan sangat sedih.
Tak akan terjadi hal buruk langsung padamu,
melainkan orang yang sangat kaukenal.
Orang itu akan terserang penyakit yang sangat serius.
Jangan-jangan dia Hibito?
Mungkin saja bukan.
Saat aku melihat dia pulang, aku sadar.
Dia sedang menderita sama seperti dirimu.
Siapa yang
akan sakit?
Apa tujuan Anda berkunjung?
Bisnis? Liburan?
Bisnis.
No comments yet. Be the first to leave one.