The first 181 lines.
Sato, mau lihat Porsche yang kami pakai untuk pengiriman?
Porsche?
Porsche.
Porsche, ya?
Tak terlalu jauh, jadi, naik ini.
Tak perlu mengkhawatirkan bensin atau tempat parkir.
Jadi, ini mobil perusahaan, ya?
Ini seperti pekerjaan biasa.
The Fable
Jambore Pembebasan Penjara
Ini untuk merayakan kebebasanmu.
Makanlah apa pun yang kau suka.
Teh oolong?
Kau akan bertemu bos nanti.
Jadi, jangan mabuk.
Ya, aku mengerti, Aniki.
Kita tak bisa boros seperti dahulu untuk perayaan pembebasan penjara.
Terutama dalam kasusmu...
Sudah kubilang aku mengerti.
Lima belas tahun, ya?
Aku yakin grup kita sudah banyak berubah.
Ya.
Saat bos ini menjabat, dia mulai menggaji anak-anak muda.
Apa? Memangnya mereka pekerja kantoran?
Sudah masanya.
Bukan hanya kita yang melakukannya.
Jika tak dapat bayaran, mereka akan lakukan hal yang sangat buruk.
Itulah yang dilakukan yakuza.
Kita memang yakuza,
tapi selama menjadi organisasi, kita tak bisa mengabaikan zaman.
Tapi sistem tingkatan piramida belum berubah.
Mungkin begitu, tapi masih ada 20 atau 30 orang di grup.
Kau punya masalah dengan grup?
Tenanglah, dan aku akan menjadikanmu salah satu anak buahku.
Jangan terbawa suasana penjara.
Aku tak terbawa suasana.
Pemandangannya juga banyak berubah, ya?
Merasa...
Dasar bedebah bermuka tebal.
Dia temanmu?
Bukan, dia hanya kenalan.
Octopus
Aku sudah selesai mengantar.
Apa? Kau bercanda.
Butuh setidaknya 40 menit pulang pergi dengan sepeda itu.
Sekarang baru 20 menit berlalu.
Benar, bukan?
Benarkah? Biasanya butuh waktu selama itu?
Kau mengayuh sekencang mungkin?
Tidak. Aku mengayuh secara biasa.
Dia sama sekali tak berkeringat.
Mau kutelepon untuk memastikan itu sudah diantar?
Bukannya aku tak memercayaimu, tapi ini kali pertamamu,
jadi, kami akan memeriksanya dengan klien.
Omong-omong,
mau minum kopi?
Tidak, terima kasih. Aku baru saja minum.
- Kapan? - Presdir.
Mereka bilang dia mengantarnya, lalu minum kopi dan pergi.
- Apa? - Apa?
Itu baru mantan kurir sungguhan.
Sikap profesionalmu bagus.
Ya. Bagaimanapun, aku profesional.
Bagaimana jika kita mengadakan pesta penyambutan, Presdir?
Kau benar. Baik, bagaimana kalau adakan pesta penyambutan untuk Sato?
Baiklah! Hari ini, kita akan pulang satu jam lebih awal.
Itu tiga juta yen.
Dalam kasusmu, aku tak bisa bilang, "Terima kasih atas kerja kerasmu."
Tapi terimalah hadiah apresiasi ini dariku dan Kapten.
Terima kasih.
Kau bergabung kembali dengan yakuza, jadi, apa rencanamu sekarang?
Bagi pengacau sepertiku,
aku tak akan bisa menjadi contoh bagi siapa pun,
jadi, aku hanya berharap bisa menjadi sebuah peringatan.
Ya, sedikit kecap lagi.
Aniki.
Tak ada yang menambahkan kecap selambat itu.
Siapa yang membuat peraturan itu?
Kita bisa memasak sesuka hati.
Sama dengan lukisan dan musik.
Buatlah sesuai keinginanmu,
dengan cara apa pun yang kau suka.
Apa?
Sebagai juniormu, seharusnya ini tugasku.
Ini hari istimewa. Santai saja mencari tempat tinggal.
Sementara itu, kau bisa tinggal di sini.
Bagaimana dengan rumah yang kita datangi saat ada masalah?
Rumah dengan Hakosuka-mu.
Tempat itu disewakan kepada kerabat bos.
Kontraknya satu tahun.
Kerabat bos?
Omong-omong, akhirnya kau bebas, jadi, santai saja untuk sementara.
Santai saja, ya?
Pertama, aku ingin mobil.
Apa saja, selama masih berfungsi.
Ada?
Ya, akan kuusahakan.
Bagaimana dengan pistol?
Dengar, Kojima.
Kini senpi tak membantu.
Sudah lama aku tak melihatnya.
Dahulu kau sering membawa revolver kaliber .38, bukan?
Zaman telah berubah.
Grup Kujira di kota sebelah, Taisei,
bahkan kelompok agresif itu kini damai.
Pokoknya, santai saja.
Biasakan diri dengan dunia luar.
Kau masih berpikir aku terbawa suasana penjara?
Baiklah.
Kami di Octopus menyambut Sato, pria 800 yen per jam.
Bersulang!
Selamat datang!
Pria 800 yen per jam, ya?
Saat aku masih muda, standarnya adalah 600 yen per jam.
Ya.
Saat ini aku hanya ingin pengalaman.
Itu sudah pasti. Pengalaman itu penting saat masih muda.
Itu menjadi aset nanti.
Aku menjatuhkan edamame.
Apa? Ada apa?
Bukan apa-apa.
Kau berganti menjadi rok?
Aku harus bekerja di bar setelah ini.
Kau harus libur sesekali, Misaki. Kau bekerja terlalu keras.
Apa?
Bukan apa-apa.
Apa? Tunggu, Sato. Kau makan kulit edamame?
Apa?
Jangan bilang biasanya tak dimakan.
Bukannya tak bisa dimakan, tapi biasanya kulitnya tak dimakan.
Tapi jika kau suka, silakan.
Benar, Presdir?
Ya.
Memaksimalkan manfaat makanan itu adalah hal baik.
Lagi pula, kau bukan makan kulit semangka.
Apa? Jadi, biasanya kulit semangka tak dimakan?
Kulitnya kaya vitamin, jadi, kurasa tak apa-apa.
Dahulu hidupmu pasti sangat miskin.
Jangan berkata begitu, Kainuma.
Sato, seperti apa kehidupanmu saat masih kecil?
Kau mungkin tak mau cerita, jadi, tak apa-apa.
Tidak, aku tak keberatan.
Saat aku sudah bisa mengingat,
aku sering ditinggalkan di pergunungan
dengan pisau dan disuruh pulang sendiri.
Itu terdengar seperti Rambo.
Tak mungkin.
Aku melalui banyak hal lain, tapi hanya itu yang bisa kuceritakan.
Bagaimana bisa pria dengan tekad begitu dibuat menangis oleh preman?
Tekad dan keberanian itu berbeda.
Sudah cukup.
Aku yakin dia sudah melalui banyak hal, Presdir.
Mereka meninggalkanmu di pergunungan, jadi, maksudnya kau dibuang, bukan?
Kau tak perlu membicarakannya. Itu pasti menyakitkan.
Itu tak menyakitkan, tapi brutal.
Hei, kenapa kau menangis, Misaki?
Aku tak bisa menahannya. Aku kasihan kepadanya.
Kenapa?
Berkat itu, aku selamat.
Jangan makan tulangnya!
Apa?
Kau luar biasa untuk ukuran orang cengeng, Sato.
Nanti tersedak! Jangan, Sato!
Tolong berhenti memakan tulangnya!
Astaga! Dia memakan semuanya!
Tulangnya mengandung kalsium.
Kau pasti pernah makan kadal dan serangga...
Presdir!
Ya, benar.
Benarkah?
Apa rasanya enak? Bagaimana rasanya?
Rasanya tak enak.
Baiklah, aku harus bekerja setelah ini.
Selamat malam.
Ini sudah larut. Pesanlah taksi.
Aku ingin berjalan.
Ini olahraga yang bagus.
Kau juga harus jalan kaki sesekali, Presdir.
Omong-omong,
aku searah dengan Misaki, jadi, aku akan mengantarnya ke sana.
Lagi pula, ini sudah larut.
No comments yet. Be the first to leave one.