The first 200 lines.
Pada Hari Anak...
...beragam orang datang.
Banyak orang menanyakan namaku.
Tapi tak ada yang ingat atau memanggilku.
Seperti itulah di panti asuhan.
Aku berjuang keras sendirian untuk waktu yang lama.
Aku muak dengan dunia ini yang tak peduli.
Ya? Aku mau menyewa beberapa jam.
Tak boleh laki-laki menyewa kamar sendirian?
Tentu boleh. Tapi waktu sudah habis.
Bayar 20 dolar lagi, kau bisa sewa untuk malam ini.
20 dolar lagi?
Aku tak mau bayar jika aku ke sini untuk mati!
Si pelit tak mau bayar 20 dolar. Masa bodoh.
Hei, Pak!
Jika kau mau mati, lakukan di tempat lain!
Kau tak apa-apa, Pak?
Kami harus makan juga.
Hei, Pak!
Kepala, lihat! Di sana!
Putar balikkan kapal.
Aku sudah siap. Aku akan masuk surga, 'kan?
Surga, aku datang.
Aku gagal mati lagi.
- Bagaimana keadaannya? - Baik.
Aku bahkan tak bisa mati sesuai kehendakku.
Permisi.
Dilarang merokok di rumah sakit.
Dilarang merokok di tempat ini.
Aku belum pernah diperlakukan seperti ini.
- Tapi... - Tapi, Pak?
Apa dia harus ikut?
Aku tak butuh psikiater.
- Ini prosedur standar, Pak. - Aku mengerti.
Sejak kapan kau berpikir mau bunuh diri?
- Belum lama. - Boleh aku tanya kenapa?
Aku tak bisa lanjutkan hidup lagi.
Kau masih mau mati?
Aku tak mengerti kenapa aku tak bisa mati.
Tidak lama, tapi kau sempat tidak bernafas.
- Jadi aku sempat meninggal. - Kesehatanmu tak ada masalah.
Tapi kudengar kau punya teman.
Apa dia menyuruhmu untuk mati?
Apa?
Tidak. Aku baru kenal dia di sini.
Aku mengerti.
Apa ada orang lain?
Tidak.
Kau dengar ada orang menangis?
Teman lain yang menangis.
Tak Ada Luka. 2 Teman Khayalan.
Jadi siapa yang merokok?
Sedang apa kau di sini?
Maaf.
Maaf aku menangis di sini.
Kenapa dia menangis di sini?
Perawat! Kau bisa antar pasien ini?
Kenapa dia menangis di sini?
Ada orang menangis di sini. Tolong antar dia juga.
Apa kau sembunyikan dia di sini?
Perawat!
Kenapa kau malu dengan perasaannya padamu?
Dokter seharusnya menyembuhkan orang, bukan melukai orang!
Tenang, Pak!
Jangan tinggalkan dia menangis seperti itu!
Awas tanganmu!
Keluarlah, Bu. Jangan diam saja di sana!
Aku tebak kalian bukan manusia?
Kalian mau apa dari aku?
Kami akan gunakan tubuhmu mulai sekarang.
Gunakan apa?
Tubuhmu.
Coba kuulangi.
Kalian bertiga...
...akan berbagi tubuhku?
Kalian semua?
Ya ampun.
Tiba-tiba aku sangat mengantuk.
Selamat pagi, Pak.
Lantai yang empuk lebih enak dari ranjang yang keras, kan?
Tidak, Pak.
Tentu saja ranjang lebih enak.
Anak itu...
Aku pasti hampir mati.
Aku melihat hantu.
Empat hantu.
Kalian akan ikuti aku terus?
Selalu?
Ke mana saja?
Permisi.
Apa kau merayuku?
Jangan malu-malu, orang asing.
- Terhubung dengan arwah. - Apa?
Mereka menempel padamu seperti lem.
Orang yang kembali dari kematian kadang bisa melihat arwah.
Tapi aku hanya mau mati.
Tak bisa, kecuali mereka pergi.
- Kenapa? - Apa perbuatanmu yang tak kau mengerti?
Dulu aku melakukan sesuatu, tapi tidak lagi.
Tubuhmu adalah jalan bagi mereka untuk masuk ke dunia ini.
Kau pikir mereka akan melepaskanmu dengan mudah?
Jadi mereka gunakan tubuhku karena...
Mereka butuh tubuhmu!
Mereka akan keluar masuk dari tubuhmu.
Kau akan berubah mengikuti kemauan mereka.
Dia punya banyak.
Kalian percaya dia?
Berapa kali aku harus larang dia meletakkan sampah di sini?
Dia menurunkan harga apartemen kita.
Apa dia buang air di celana? Kenapa cara jalannya begitu?
Aku akan tegur dia kali ini.
Dengar. Kenapa kau hidup seperti ini?
Apa aku akan lakukan ini jika aku mau hidup?
Kalau begitu cepatlah mati!
Jangan khawatir. Sedang kuusahakan.
Apa kau tak punya yang menyenangkan?
Di mana tempatku merokok?
Pertama kali ada yang datang.
Bagus jika mereka manusia.
Punya bir?
Dulu aku menjaga kesehatanku.
Aku jauhi alkohol.
Apa yang kau lakukan?
Apa dia gila?
Kau lihat apa?
Aku tak suka yang manis.
Aku tak pernah mencoba merokok seumur hidupku.
- Maaf. - Walau sepi atau sedih...
...aku tak pernah mengeluh karena aku laki-laki.
Maaf aku belum pernah ikut pertemuan ini.
Rapat Warga.
Briket populer sekarang.
Kunci jendela mobil dan...
Aku harus ke kamar mandi.
Aku lapar.
- Kalian sedang apa? - Aku ingin bir sekarang.
Dulu aku menjaga kesehatanku!
Kau harus sehat jika hidup sendirian.
Kalian tak punya keluarga?
Kenapa aku? Jauhi aku!
Kau tahu kenapa tiba-tiba kau merinding?
Saat itulah arwah jahat lewat.
Jika arwah marah, jadi dingin sekali. Itu alami.
Alami atau tidak...
...tolong buat mereka hilang! Supaya aku bisa mati!
- Aku tak bisa. - Kenapa?
Kita bisa panggil arwah, tapi tak bisa memulangkan mereka.
Lalu aku harus bagaimana?
- Hibur mereka. - Apa?
Tanya apa mau mereka.
Kau tak bisa paksa mereka pergi.
Mereka harus pergi sukarela.
Tapi aku tak panggil mereka.
Mereka menggunakanku dan tak membiarkanku mati.
Kenapa aku harus dengarkan hantu-hantu yang menyiksa itu?
Aku orang miskin.
Aku juga tak cukup sehat untuk menerima kalian semua.
Aku dipecat dan tak punya uang.
Kasihanilah dan lepaskan aku.
Kalian butuh penutupan, 'kan?
Penutupan bukan kata yang tepat.
Semua harapan atau hal-hal yang tak bisa kalian lakukan sebelumnya.
Aku akan lakukan apa saja untuk bantu kalian dapatkan keinginan.
Apa saja.
Bagaimana?
Sebenarnya...
Aku hanya ingin kameraku kembali.
- Aku mau duluan. - Di mana sopan santunmu?
Jadi yang pertama karena kau tua, itu kekanak-kanakan.
- Dasar kau... - Tunggu.
Kalian tentukan urutannya.
Tapi tolong, satu permohonan pada satu saat.
Ini menyiksaku.
- Ayah! - Ayah!
Kenapa ribut-ribut tentang dia mati?
Kau kirim dia ke sini karena kau tahu dia akan mati.
Apa? Kau pikir kau siapa?
Akhirnya datang karena dia mati.
- Tenang, Sayang. Ayo kita pergi. - Lepaskan!
Pagi, Jung won. Coba kita lihat.
Bunyi jantungmu baik hari ini.
Pecundang!
Sial.
Kau bisa kehilangan keahlian jika lama di sini.
- Sial. - Dia datang! Dia selalu memergoki kita.
Akan kupindahkan ke bangsal lain jika tak berhenti berjudi.
Aku ke rumah perawatan karena sekarat.
Ke mana lagi aku mau pergi?
Nak, ini Ayah.
Tak apa-apa. Ayah tahu kau sibuk.
Bagaimana cucu? Sudah bisa jalan?
Apa? Sudah bisa lari?
Nak?
Kapan liburan Dae-ho?
Apa? Dia dipecat?
Nak?
Ada kamera yang mau kukembalikan ke pemiliknya.
Balikkan.
Bukan itu.
Yang ini?
No comments yet. Be the first to leave one.