The first 200 lines.
Seo Yeon...
Seo Yeon.
"Episode 47"
Apa?
Jae Hee, sungguh mengejutkan. Kamu menunggu ayah?
Aku sedang di sekitar sini dan berpikir kita harus pulang bersama.
Apa ada masalah?
Chae Woon mengetahui
soal ayahnya mengelola toko jahit.
Begitukah?
Kamu sudah bicara dengannya?
Aku sudah menelepon, tapi dia tidak menjawab.
Aku yakin dia sudah di rumah sekarang.
Dia pasti cukup kesal.
Ayahnya juga.
Benar sekali.
Karena kami bekerja di lingkungan yang sama,
ayah harus mengawasi Pak Park dari waktu ke waktu.
Kami akan sangat menghargai itu, Ayah.
Ayo.
Seo Yeon...
Chae Woon.
Hei. Ayah!
Apa hari Ayah menyenangkan?
Chae Woon, kamu membersihkan rumah?
Sedikit saja.
Kita harus melakukannya bersama di akhir pekan.
Kamu pasti sudah lelah karena bekerja seharian.
Aku hanya membersihkan sedikit.
Aku juga di rumah,
tapi ternyata kamu hanya menyukai ayahku.
- Ayah. - Ya?
Hanya aku atau Ayah juga mendengar suara itu?
Entahlah. Ayah tidak mendengar apa pun.
- Benarkah? Tapi aku dengar. - Apa?
Sungguh, Semuanya? Aku akan merajuk.
Jae Hee? Jae Hee, kapan kamu tiba di sini?
Apa? Ayah masih tidak melihat apa pun.
- Benarkah? - Tidak ada apa-apa.
Apa yang kulihat?
Sulit dipercaya. Ayah, sejak kapan Ayah andal menggoda orang?
Biar aku saja.
Bagus mensterilkan ponsel saat kita pulang.
Sekarang bukan saatnya untuk ini. Ada hal lain yang harus kulakukan.
Kamu tahu, bukan?
Mengenai toko jahit ayahmu
di dekat Vila Samgwang.
Ya.
Maaf aku tidak pernah memberitahumu.
Hanya aku tidak ingin membuatmu kesal.
Tidak, aku bersyukur
atas perhatianmu terhadap Park Pil Hong.
Aku hanya malu dengan situasinya.
Kenapa kamu malu
padahal sekarang kamu adalah aku dan aku adalah kamu?
Bukankah itu alasan kita menikah?
Jadi, jangan pernah berpikir begitu.
Baik.
Benar juga. Bukankah sebentar lagi ulang tahun ibumu?
Benarkah? Sudah sebentar lagi?
Ya.
Jadi, apa yang harus kita lakukan di hari ulang tahunnya?
Aku ingin ulang tahunnya megah karena kita merayakannya
untuk kali pertama sebagai pasutri.
Bagaimana kalian biasanya merayakannya?
Begini...
Aku hanya makan malam sederhana dengannya.
Bagaimana dengan Ayah?
Dia selalu sibuk.
Kalau begitu, aku harus bicara dengan Ayah besok.
Baiklah.
Moong, mari selesaikan ini dan berjalan-jalan.
Kedengarannya bagus.
Benar juga. Ada tempat yang ingin kukunjungi bersamamu.
- Benarkah? - Ya.
Inikah tempat ingin kamu kunjungi?
Ya.
Kita tidak pernah belanja di tempat begini saat menyiapkan pernikahan.
Aku selalu ingin datang ke sini bersamamu.
Mari coba duduk di sini.
Ini sangat nyaman.
Jae Hee, ini cantik.
Tapi ini tampak mahal.
Moong, aku akan menghasilkan banyak uang
dan membelikanmu semua ini.
Benarkah? Lantas, akan kupilih yang aku mau sebelumnya.
Ini bagus.
Hanya ini yang bisa kulakukan untukmu sekarang.
Apa yang harus kulakukan?
Jung Hoo terus menggangguku.
Aku merasa bersemangat saat bertemu dengan Profesor Son.
Tapi mungkin aku harus berhenti merasa bersemangat.
Akhirnya hidupku kembali.
Aku tidak bisa hidup mencemaskan dua pria seperti ini selamanya.
Haruskah aku mengakhiri semuanya?
Apa Profesor Son di rumah?
Apa aku harus mengakhiri semuanya?
Astaga.
"Profesor Son Jung Hoo"
Halo, Profesor Son.
Bu Min Jae, maaf menghubungimu selarut ini.
Aku di kantorku sekarang,
tapi tidak bisa pulang karena ada urusan di kantor.
Benarkah?
Kukira aku akan segera pulang,
jadi, aku menyuruh pengasuh pulang.
Dan Ba Wi tidak menjawab teleponku.
Astaga. Benarkah?
Aku akan memeriksanya.
Bisakah kamu melakukan itu untukku? Terima kasih.
Aku akan memeriksanya dan meneleponmu kembali.
Baiklah.
Ba Wi tertidur saat menonton TV.
Itu sebabnya dia tidak menjawab teleponmu.
Benarkah? Syukurlah.
Ba Wi, ini ayahmu.
Ayah, maafkan aku.
Tidak apa-apa, Ba Wi. Maaf.
Kamu tidak menjawab telepon, jadi, ayah khawatir.
Kamu melakukan hal yang sama sebelumnya.
Ba Wi, berhentilah menangis.
Kamu seperti ini karena baru bangun.
Profesor Son, jangan khawatir.
Aku akan membiarkannya tidur di tempatku.
Aku sungguh minta maaf soal itu.
Tidak masalah. Jangan cemaskan dia dan selesaikan pekerjaanmu.
Baiklah.
Ba Wi.
Lihat wajahmu.
Jangan tidur setelah makan malam seperti itu.
Gigimu akan berlubang dan itu akan sakit.
Kamu mau kubantu mencuci wajahmu
dan menyikat gigi?
Baiklah. Ayo.
Ayo sikat gigi.
Aneh sekali.
Sebelum ibu kita tahu tentang kita,
aku tidak begitu merindukanmu.
Astaga. Sayangku, Hae Deun. Kamu begitu merindukanku?
Selalu begitu. Jika seseorang berusaha menghentikanmu,
kamu lebih ingin melakukannya.
Mungkin karena itulah kita begitu saling jatuh cinta.
Lalu? Jika para ibu merestui kita, akankah kita berhenti jatuh cinta?
Pasti.
Pak Makjang!
Aku bercanda.
Hae Deun, pindahkan wajahmu sedikit. Aku tidak bisa melihat kecantikanmu.
Aku tidak bisa. Aku agak kacau sekarang.
Kamu selalu kacau.
Itulah yang membuatmu menarik.
Apa?
Itu juga lelucon.
- Begini... - Apa?
Masalahnya... Di belakangmu...
- Ada apa? - Apa itu Hae Deun?
Astaga.
Astaga. Aku tutup teleponnya.
Aku harus bagaimana?
Astaga.
Ibu tidak percaya ini.
Kamu baru melihatnya beberapa jam lalu.
Apa kamu begitu menyukai Hae Deun?
Ya.
Kamu sangat menyebalkan, Jun A.
Kamu hanya membuat ibu tampak seperti orang jahat di sini.
Maafkan aku.
Dasar berandal. Bagaimana kamu bisa tersenyum sekarang?
Apa? Teganya kamu...
Ibu, ini sangat aneh.
Yang menarik adalah
dahulu aku merasa jauh dari Ibu.
Tapi setelah Ibu mencegahku mengencani Hae Deun,
aku merasa lebih intim dengan Ibu.
Rasanya jaraknya hilang. Apa ini lampu hijau?
Ya, ini lampu hijau.
Ibu senang lampu hijau menyala.
Tapi ibu tidak bisa membiarkan kalian berdua berkencan.
Astaga, Ibu.
Tolong izinkan kami.
Astaga,
Ibu datang ke sini berharap bisa makan buah bersamamu,
- tapi lupakanlah. - Ibu, kita bisa makan bersama.
Ibu ingin aku menelepon Seo A? Di mana dia sekarang?
Dia belum pulang?
Seo A belum pulang.
Benarkah? Ke mana dia pergi saat kakaknya terjebak di rumah?
Aku akan meneleponnya.
Astaga.
"Kak Jun A"
Ini sudah cukup.
Sutradara Jang Seo A.
Kamu pasti sangat mencintai Na Ro.
Uang ini menjelaskan semuanya.
Aku tidak bisa memberimu lebih dari itu.
Hanya itu yang bisa kulakukan.
Aku tidak bisa berhenti seperti ini.
Sepertinya
kamu bisa sedikit lebih murah hati daripada ini.
Ayolah. Kamu akan lebih murah hati?
Kamu...
No comments yet. Be the first to leave one.