The first 200 lines.
Wah, Aya Sofya indah sekali.
Salah satu bangunan paling indah di dunia.
Tak bisa dipercaya aku bisa foto pranikah di sini.
Sangat romantis. Aku senang sekali!
Hai, Sayang.
Kau sudah sampai?
Fotografernya sudah di sini.
Apa?
Batalkan pernikahan kita?
Sayang?
Bapak dan Ibu sekalian, kapten penerbangan Anda berbicara.
Kita akan segera mendarat di Bandara Internasional Ataturk.
Kami harap penerbangan Anda menyenangkan. Terima kasih.
Kurasa itu hanya mimpi.
Mungkin aku terlalu semangat
soal pengambilan foto pranikah kami.
Terlebih, di tempat paling spesial...
dipenuhi dengan kenangan!
DUA TAHUN SEBELUMNYA
Oke. Kuakui...
Pertama kali aku datang ke Istanbul, aku hanya punya satu misi.
Jadi tunangan Azad!
Maksudku, halo...
Aku tunggu enam tahun sampai pacarku selesaikan sekolah kedokteran
lalu pikirkan pernikahan?
Maaf, tetapi aku bukan tipe orang yang suka menunggu.
Jadi, rencanaku
ke Istanbul untuk kursus singkat di universitas yang sama dengan Azad,
dan dalam tiga bulan, akan kuatur agar dia melamarku.
Lalu kami menikah secepatnya.
Rencana hebat, 'kan?
Cantik sekali, 'kan? Itu Aya Sofya.
Tak sabar menunggu.
Permisi, kau tahu alamat ini?
Di atas sana.
Oh, permisi. Paman!
Ini Azad. Aku sibuk sekarang. Kau tahu yang harus dilakukan.
Oke.
Assalamualaikum.
Wah. Gadis cantik menjatuhiku.
Pasti ini hari keberuntunganku.
- Tak apa? - Ya.
Kau akan betah di sini.
Orang-orang ramah. Kau tak akan mau kembali ke Malaysia.
Oke, aku yakin betah di sini.
Ini tempatnya.
Malam pertamamu di Istanbul. Harus kita buat spesial, ya?
Sayang!
Siapa dia?
Dia bantu membawa koperku.
Ini pacarku.
Halo, Pacar.
Halo. Biar kuurus dari sini.
Oke, terima kasih.
Baiklah, gadis cantik, semoga bertemu lagi.
Terima kasih sudah menolongku.
Assalamualaikum.
Waalaikumsalam.
- Berapa kali harus kubilang? - Apa?
Jangan mudah percaya orang asing.
Bagaimana kalau dia bawa lari tasmu?
Jangan cepat menuduh. Dia tulus menolongku.
Kalau tulus, dia tak akan mau terima uang tip.
Aku harus bagaimana? Aku tak bisa bawa semua tas sendirian.
Kucoba meneleponmu, tetapi tak kau jawab.
Jadi kau akan percaya pada setiap pria yang terlihat tulus?
Bagaimana kalau dia pencuri... atau penculik?
Apa kau berpikir sejauh itu?
Aku datang sejauh ini karena rindu padamu. Jangan marah-marah?
Makanya aku tak mau kau datang.
Kau tahu aku sibuk. Sekolah kedokteran itu tak mudah.
Sekarang, aku juga harus jaga kau.
Baiklah. Aku bisa urus diri sendiri.
Kau merajuk?
Aku marah karena peduli.
Kalau tidak, aku tak akan peduli.
D... aku senang kau datang.
Akhirnya, aku bisa sampai Istanbul!
Pertemuanku dengan A tak seperti yang kubayangkan.
Aku berharap dimanja setelah enam bulan berpisah.
Yang kudapat malah omelan.
A bilang kehadiranku di sini buat dia stres.
Dia mau belajar dengan tekun tetapi harus khawatirkan aku juga.
Akan kubuktikan padanya aku bisa jaga diri dan tak jadi beban.
Faktanya, dia akan merasa beruntung ada aku di sini.
Kujamin dia akan melamarku sebelum aku kembali ke KL.
Insyaallah. Doakan aku, Teman. Peluk dan cium, D
Selesai. Selamat datang!
- Makanan. - Baunya enak. Siapa yang masak?
Cantik!
Saat mengantuk, orang bisa terlelap.
Saat lapar, orang dapat makanan.
Halo, Dian.
Keren sekali kau di sini. Kami bisa makan enak tiap hari.
Hei, kau bodoh tak tahu malu.
Apa dia bilang itu untukmu?
Jangan khawatir, aku masak untuk semua. Mari makan.
Senang sekali mendengarnya.
Cepatlah, ayo makan.
Hai, Sayang. Ayo makan, aku masak makanan kesukaanmu.
Terima kasih, Sayang.
Hei, cepat. Makanan tak menunggu orang.
Hei, kau cuci bajuku?
Bukan apa-apa, tak ada yang kukerjakan hari ini.
Sayang, boleh aku ikut kau ke universitas besok?
Aku mau daftar kursus.
Oke, tetapi besok aku sibuk. Tak bisa temani kau lama.
Kuantar ke Institut Bahasa.
Setelah daftar, kau bisa pulang sendiri.
Aku ingin kunjungi fakultasmu.
Tak bisakah kau makan siang denganku?
Sayang, kau tahu aku sibuk. Bukankah kau bilang bisa urus dirimu?
Sudah kubilang jangan ke sini kau tetap datang.
Katamu mau belajar bahasa Turki di sini.
Aku tak keberatan, tetapi jika kau mau kutemani
setiap hari selama tiga bulan ini, aku kesulitan.
Mari berfokus pada kegiatan masing-masing
kalau ada waktu kuajak kau keluar.
Oke?
Oke. Aku janji tak akan jadi beban.
- Jadi... - Ya?
Kau sudah dapat tempat tinggal?
Tempat tinggalku?
Kau tak berencana tinggal di sini, 'kan?
Apa? Tak boleh?
Sayang, kau cewek. Tak boleh tinggal dengan tiga cowok.
Itu tak mungkin.
Siapa peduli? Kita tak berbuat salah.
Kita mungkin tidur terpisah, tetapi apa kata orang?
Tak baik untuk kita.
Cari tempat tinggalmu besok.
Selamat tidur.
Istanbul, romantis sekali. Semoga beruntung, Sayang!
Jangan khawatir, pacarku juga seperti itu.
Dia terlalu serius soal pekerjaan.
Tetapi pria seperti itu yang terbaik. Mereka sangat bertanggung jawab.
Insyaallah, kau akan segera dapat cincinmu.
Jangan manjakan pacarmu.
Jangan manjakan dia. Cewek harus jual mahal. Punya nilai tawar.
Tunjukkan dia bukan segalanya.
Jika kau sulit didapatkan, dia akan mengejarmu.
Itu kata orang yang sudah pengalaman.
Omong-omong, semoga beruntung, oke?
Sayang, ini luar biasa.
Sejuk.
D, aku sudah terlambat.
Institut Bahasa di sana. Ikuti jalur ini sampai habis.
Aku harus segera ke kelas.
Kau tak bisa antar ke sana?
Tak bisa. Aku harus pergi.
Fakultasku jauh. Kita bertemu di rumah nanti malam.
Makan siang juga tak bisa?
Sayang, kau janji apa tadi malam?
Temui teman sekelasmu dan kenalan dengan mereka.
Oke?
Oke, Sayang. Sampai jumpa.
- Oke, dah. - Dah, Sayang.
Dian!
Jangan lupa cari tempat tinggal.
Tak akan lupa.
Ya, jadi berapa sewanya per bulan?
Oke. Biar kupikirkan, nanti aku kabari.
Oke, dah.
Puas.
Tambah lagi?
Tak bisa. Kalau makan lagi, perutku bisa pecah, dan aku mati.
Besok menunya apa, Bu?
Kau sungguh tak tahu malu.
Cari untung selagi dia di sini.
Betul, Dian?
Ya, lagi pula aku akan segera pindah.
Hah? Kau pindah? Kenapa?
Tinggallah...
Kalau dia pindah, kita akan rugi.
Ya, rugi kita.
Nadim, ayo ke dapur bantu cuci piring.
- Terima kasih, Dian. Enak sekali. - Sama-sama.
- D... - Ya?
Kau sudah dapat tempat tinggal?
Belum. Sulit.
Semua terlalu mahal atau terlalu jauh.
Yang bagus sudah diambil orang.
Masih banyak tempat lain. Besok lanjut cari lagi.
Oke.
Tetapi tak apa kalau aku tinggal sedikit lebih lama, 'kan?
Nadim dan Ljoi sepertinya tak keberatan.
Aku tak khawatir soal mereka. Tetapi pelajar Malaysia yang lain.
Lebih baik kau pindah sebelum kursus mulai.
Kalau kursus sudah mulai, kau akan terlalu sibuk.
- Oke? - Oke.
Rencana A gagal.
Intinya, aku tetap harus pindah. Karena, apa kata orang...
cewek tinggal dengan tiga cowok dan lain-lain...
Siapa peduli apa kata orang selama kita tak berbuat salah?
Tetapi pacar paranoidku memaksa aku pindah.
Jadi aku perlu rencana baru.
Siapa tahu, kalau A lihat aku bisa hidup tanpanya,
dia sadar bahwa dia tak bisa hidup tanpaku!
Kuharap! Peluk dan cium, D.
Kirim.
No comments yet. Be the first to leave one.