The first 200 lines.
Jadi, dua malam sebelum kematian guru itu,
dia tiba-tiba menghilang.
Seolah-olah dia dikejar seseorang.
Itu dekat dengan toko kelontong. Jadi, seharusnya di sekitar sini.
"Sebelumnya"
Bu Lee.
Bu Lee. - Tidak! Bukan aku!
Namun, bagaimana dengan pria
yang menguntit guru itu semalam, tapi melarikan diri?
Siapa dia?
Kurasa itu pria yang kutunggu-tunggu.
Dengan begitu, aku bisa bertemu pria bertopi biru itu lagi.
Waktu 20 menit yang dihabiskan Bu Lee di kedai teh.
Satu-satunya orang yang dia temui di sana.
Namun, pria yang kukejar semalam
memakai topi biru.
Itu sebabnya aku berencana menyaksikannya sendiri.
"My Perfect Stranger Episode 6, Kebohongan Demi Kebohongan" Subtitle by VIU, Resync by surya_27895 for NEXT ver.
"Episode Enam"
Astaga.
Kamu tahu pukul berapa ini?
Ya...
Kalau begitu, kamu tahu bagaimana rasanya
menunggu seseorang yang pergi menemui pembunuh?
Kamu bilang hanya akan memeriksa wajahnya,
tapi kamu pergi selama tiga jam!
Astaga. Apa itu tadi?
Aku khawatir
kamu mungkin mengejarnya dan terluka seperti semalam.
Apa kamu terluka? - Tidak.
Aku tidak bisa menelepon polisi atau keluar untuk mencarimu.
Karena kita hidup di tahun 1987 yang bodoh ini,
aku bahkan tidak bisa meneleponmu.
Aku hampir gila di sini.
Maafkan aku.
Jadi, pria bertopi biru itu muncul?
Itu...
Siapa dia?
"Tiga jam lalu"
"Kedai Teh Bong Bong"
Ayahmu,
Baek Hee Sub.
Sial.
Tanggal 14 Mei 1987.
Itu hari kasus pembunuhan pertama terjadi.
Pria yang bertemu dengan korban, Lee Ju Young, hari itu
adalah ayahnya?
Jika pria bertopi biru adalah pelaku sebenarnya,
itu artinya dia bahkan membunuh ibunya.
Jadi, dia bahkan membunuh istrinya sendiri.
Lalu aku.
Aku tidak bisa memihak.
Aku harus tetap tenang dan objektif.
Mari kita rangkum.
Jika semuanya tetap sama,
Lee Ju Young seharusnya tiba tujuh menit sebelum dia.
Jika tidak terjadi apa-apa hari ini,
aku akan mengunjungi kedai teh sepulang sekolah.
Aku ingin minum kopi sendiri
dan menyelesaikan buku yang kubaca.
Aku sungguh tidak punya rencana untuk bertemu siapa pun.
Namun, akhirnya dia menemui seseorang yang tidak dia rencanakan.
Aku tidak mau membicarakan ini.
Pria bertopi biru, Baek Hee Sub.
Entah kenapa, mereka berdua bertengkar.
Sudah kubilang tetap di sana!
Satu-satunya orang yang menyaksikan pertengkaran mereka adalah
pemilik Kedai Teh Bong Bong.
Ke mana dia pergi?
Hei.
Ada lebih banyak orang.
Hei, kamu di sini.
Astaga, maaf.
Aku terlambat karena mendengar kabar gila dalam perjalanan ke sini.
Ingat ada keributan besar di sekolah pagi ini
karena guru magang itu?
Kamu tahu kenapa?
Ternyata
dia komunis.
Kamu tidak menonton berita?
Para mahasiswa ini menggila dan melakukan protes.
Ingat lagu aneh
yang dia nyanyikan di piknik sekolah?
Itu yang orang nyanyikan di protes itu.
Aku yakin dia juga akan memengaruhi kita.
Bukankah itu menakutkan?
Ya, itu menakutkan. - Benar, bukan?
Astaga. Memikirkannya saja membuatku merinding.
Orang tuaku...
Karena temanku melakukan hal seperti ini.
Bagaimana kamu tahu?
Kamu bilang sedang buang air besar.
Namun, aku penasaran kenapa tidak pernah bau.
Hei, Yoo Bum Ryong. Kamu masih belum selesai?
Belum.
Banyak yang harus kukeluarkan, terutama hari ini.
Hei, aku tidak tahu ini soal apa,
tapi ada keributan besar di sekolah kita.
Polisi berkerumun di sekolah kita.
Lalu mereka mencari guru magang.
Mencari siapa? - Guru magang.
Astaga. Berandal itu.
Dia tidak menyiram toilet.
Sial. Berandal menjijikkan itu.
"Mari kita pakai seolah-olah milik kita sendiri"
Itu milik si guru magang, bukan?
Kamu mencurinya?
Kamu akan mengadukanku?
Apa?
Apa kamu
akan memberi tahu orang lain tentang cincin ini?
Kamu tetap mencurinya, meski tahu itu salah?
Kamu mencuri barang orang lain dan menyembunyikannya di toilet.
Jika Soon Ae mengetahui perbuatanmu...
Soon Ae?
Bagaimana kamu tahu nama pacarku?
Apa kamu memikirkan
betapa terlukanya dia jika dia tahu?
Jangan lakukan apa pun yang membuatmu malu
di hadapan pacarmu.
Semua pria harus tahu itu.
Tunggu, Hee Sub.
Tunggu.
Baiklah.
Baiklah.
Akan kukembalikan kepadanya.
Aku akan bilang rasa penasaranku menguasaiku
dan minta maaf kepadanya secara langsung.
Aku akan mengembalikan ini kepadanya.
Jadi, kembalikan kepadaku.
Aku serius.
Seperti katamu, aku tidak mau melakukan apa pun.
yang membuatku malu di hadapan pacarku
dan kamu, temanku.
Aku akan merahasiakannya.
Aku tidak akan memberi tahu siapa pun.
Aku akan berpura-pura ini tidak pernah terjadi.
Kamu juga harus menepati janjimu.
Baiklah.
Terima kasih, Rekan.
Hee Sub. - Yu Sub.
Halo.
Jadilah teman yang baik bagi saudaraku.
Baiklah.
Ada apa?
"Kedai Teh Bong Bong"
Yoo Bum Ryong mencuri cincin Lee Ju Young.
Baek Hee Sub adalah pria bertopi biru.
Dialah yang kabur dari jembatan malam itu.
Saat itu, Baek Hee Sub meninggalkan kedai teh dengan seseorang.
Lalu Yoo Bum Ryong
pergi ke arah yang sama dengan korban.
Serta jalan yang diambil Lee Ju Young.
"Kedai Teh Bong Bong"
"Penginapan"
"Penginapan"
Cepat!
Apa kamu bercanda denganku sekarang?
Ko Min Soo?
Itu sangat tidak adil.
Pada hari pembunuhan,
aku bahkan tidak ada di Woojung-ri.
Saat itu, aku tinggal di sekolah asrama swasta
yang jauh dari kota.
Ibuku mengirimku ke sana agar aku bisa fokus belajar.
Sekolah itu berada di tengah gunung
tanpa telepon rumah.
Kamu mau mati?
Kenapa dia di sini?
Kakakmu
yang memintanya.
Berikan saja kepadaku dan akhiri ini.
Kenapa kamu membantahku?
Hei.
Hei, apa ini uangmu?
Lagi pula, kamu mungkin mengambilnya dari dompet Ibu.
Benar, bukan?
Mi Sook.
Dasar pecundang.
Ibu mengusir Kakak.
Jangan sok berkuasa.
Dasar kamu...
Kamu baik-baik saja?
Ayolah. Kamu...
Sial.
Lenganku...
Kamu menyakiti lenganku.
Aku menyesal diriku di masa depan menyelamatkan bajingan sepertimu!
Apa yang harus kulakukan denganmu?
Ini semua karenamu. Berengsek!
Ini salahmu! - Kamu baik-baik saja?
Pergilah ke telepon umum terdekat dan hubungi polisi.
Aku tidak memercayai sistem,
tapi setidaknya harus kutinggalkan catatan di sistem sialan itu.
Akan kupastikan dia membayar atas perbuatannya kali ini.
Ko Mi Sook. Pikirkan baik-baik.
Aku tidak mau
menelepon polisi.
Dia punya uang sekarang.
Dia akan kembali ke sekolah asrama setelah bersenang-senang
No comments yet. Be the first to leave one.