The first 200 lines.
"Episode 47"
Maaf, Ibu. Aku akan membersihkannya.
Maaf. Kami mau bangun pagi untuk bersih-bersih.
Tinggalkan saja.
Ibu, pergilah ke kamar.
Kami akan bersih-bersih dan membuatkan sarapan.
Sarapan sudah siap.
Kamu pulang pukul berapa, Dae Young?
Larut malam, saat kalian sudah tidur.
Kakak iparmu di sini. Kamu bisa pulang lebih cepat.
Dari mana kamu mendapatkan semua lauk ini?
Cicipilah. Lauknya enak.
Enak, bukan?
Sangat enak. Dibumbui dengan baik.
Kamu membuat semua ini?
Bagaimana aku bisa membuat semua ini? Aku membelinya.
Apa? Kamu membelinya?
Itu yang dilakukan semua orang belakangan ini.
Hyeon U dan aku makan roti panggang atau salad untuk sarapan,
tapi kalian berdua harus menyantap nasi.
Jadi, kami membeli semua ini kemarin.
Tidakkah ini sangat ekonomis dan nyaman?
Kalau begitu, kalian juga membeli supnya?
Ya. Itu produk terlaris toserbanya.
Walau tidak seenak buatan Ibu.
Apakah ibu pernah memintamu memasakkan kami sarapan?
Ibu.
Apakah Ibu marah karena kami membeli supnya?
Ibu sangat heran, bukan marah.
Kalau kalian terlalu sibuk sampai tidak bisa
memasak sup, kenapa menawarkan membuatkan sarapan?
Bukan begitu.
Aku mau menunjukkan kepada Ibu kalau ada pilihan yang lebih mudah.
Tidak akan ada habisnya mencari jalan keluar mudah.
Kalau kamu mau kenyamanan, jangan membuat sarapan. Biar ibu saja.
Kalian mengacau kali ini.
Ibumu tidak pernah menyajikan kepada kita
makanan dari toko seumur hidupnya.
Dia tidak suka memesan makanan.
Bagaimana Kakak bisa terpikirkan
membeli lauk padahal mengetahui hal itu?
Kamu benar. Kakak sangat bodoh.
Itu salahku.
Aku seharusnya mencegahmu. Kukira akan mudah.
Ibu. Maafkan aku.
Ibu tidak menginginkan permintaan maaf.
Ibu mungkin kuno, tapi menurut ibu
inti makanan buatan rumah bukan soal rasanya,
tapi cinta dan upaya yang dikerahkan.
Kamu bisa melakukan hal yang kamu mau saat bersama Hyeon U,
tapi tidak di sini.
Aku tidak berpikir keras.
Selesaikan makanmu dan jangan pikirkan ibu.
Ibu harus makan sesuatu.
Ibu memang sibuk dengan pekerjaan dan harus berangkat cepat.
Kamu sudah berusaha.
Sampai nanti.
- Dia baru saja pergi? - Ya.
Kita ke sini untuk membantu mereka, tapi lihatlah ini.
Aku tahu. Setiap usaha kita tidak ada yang berhasil.
Kenyataan pengembangan produk.
Kita tidak mengabaikan komponen itu karena tidak tahu itu bagus.
Bagaimana kamu akan menangani biayanya?
Bisakah kamu menjual krim seharga ratusan dolar?
Ibu melebih-lebihkannya. Tidak akan sebesar itu jika menambahkannya.
Astaga. Kamu menghabiskan banyak waktu di Afrika sampai
tidak tahu dunia nyata.
Tidak bisa ambil risiko sebesar itu berdasarkan ucapan seorang wanita
yang tidak tahu apa-apa soal bisnis.
Aku memilihnya karena dia tidak tahu apa-apa soal bisnis.
Untuk bersaing dengan perusahaan seperti Somi,
strategi yang sudah ada tidak akan berhasil.
Kita harus membedakan diri kita.
Tunggu saja.
Krim penenang dan perangkat hadiah akan membedakan kita.
Baiklah. Ibu akan menunggunya.
Kamu menelepon karena khawatir ibu tidak sarapan?
Berkat telepon darimu, Dae Young, ibu tidak merasa lapar lagi.
Jangan mengkhawatirkan ibu dan makanlah sesukamu.
Kamu akan mulai mengajari Il Lan dan Yi Ran, bukan?
Ya, ajari mereka dengan baik.
Baiklah, sampai nanti.
Kenapa kamu sangat peduli mengenai putramu yang sudah dewasa?
Dia mungkin sudah dewasa, tapi dia tetap putraku.
Apakah kamu begitu menyayanginya?
Tentu saja. Kenapa tidak? Dia putraku.
Tidak semua ibu sepertimu.
Dae Young beruntung.
Bukan dia yang beruntung.
Akulah yang beruntung karena memiliki putra sepertinya.
Dae Young-ku
sangat berharga bagiku. Dia istimewa.
Sangat sulit membujuk ibuku.
Kita harus mengubah ayahku. Itulah cara membantu ibuku.
Aku setuju.
Ibumu terlalu sulit.
Ayahmu kasar, tapi memiliki sisi manis.
Kamu berhasil bercanda dan menyanjung
pasien wanita tua jahat yang selalu mengumpat.
Lakukanlah itu kepada Ayah.
Akan kucoba. Bagaimana kita harus mengubahnya?
Bagaimana kalau membuatnya mengeluarkan sampah daur ulang?
Kamu dan semua suami melakukan itu.
- Baiklah. Pergilah bekerja. - Baiklah.
- Ayah, aku berangkat bekerja. - Baiklah.
- Hati-hati. - Sampai jumpa.
- Sampai nanti. - Sampai jumpa.
Plastik...
Kaki Ayah.
Astaga, hanya beberapa kali geser
dan lantainya sudah bersih.
Dahulu, kita harus berlutut dan mengepel lantai dengan lap.
Sekarang ada pembersih yang bisa melakukan itu.
Sungguh menarik.
Apakah Ayah pernah memakai ini?
Cobalah.
Ini sangat menarik.
Tekan saja tombol ini. Cobalah, Ayah.
Ini tombolnya dan peganglah gagangnya.
Cukup menyenangkan. Cobalah.
Astaga.
Ayah.
Kenapa Ayah berhenti?
Ibu pergi tanpa sarapan.
Tidakkah dia akan senang jika pulang ke rumah yang bersih?
Ayah bisa menyeka lantainya.
Aku akan melakukan selebihnya.
- Benarkah? - Ya.
Aku harus apa?
Aku tidak bisa tetap menyimpan aplikasi GPS-nya,
tapi tidak bisa menyingkirkannya juga.
Tidak ada jalan keluar.
Apakah kamu membawa ponselmu?
Tidak. Kutinggalkan di mejaku.
Kamu mau ke mana?
Aku harus bilang apa kepada istrimu kalau dia datang?
- Bilang aku pergi tanpa beri tahu. - Apa?
Tanpa memberi tahu?
Kalau begitu, dia malah akan memarahiku.
Aku tidak bisa berhenti begitu saja saat sulit mencari pekerjaan.
Apa? Pelacakan GPS?
Istrimu melacak semua gerakmu?
Ya, benar.
Astaga, itu gila.
Dia terlihat sangat pendiam,
tapi mengerikan.
Apakah itu artinya dia tahu kamu berada di sini?
Ya, jadi, kutinggalkan ponselku di klinik.
Astaga.
Apa tindakanmu?
Aku tidak bisa menceraikannya.
Cerai?
Kamu bahkan memikirkan itu?
Orang bisa menyalahkan kedua pihak pada perceraian pertama,
tapi anggap aku bercerai dua kali. Siapa yang akan disalahkan orang?
Orang akan berpikir aku bermasalah.
Kenapa kamu sangat memedulikan pemikiran orang lain?
Pemikiran orang lain tidak terlalu penting.
Aku akan merasa malu di dekat Dong Hyun.
Aku tidak bisa bercerai dua kali.
Kurasa begitu. Lupakan soal itu.
Pertama, kamu harus menangani ponselmu.
Bagaimana? Apakah ada cara?
Jatuhkan di toilet atau bilang saja hilang.
Lalu pastikan dia tidak bisa melacak ponsel barumu.
Kalau dia melakukannya sekali, dia akan melakukannya lagi.
Kalau begitu, beli ponsel lagi.
Gunakan ponsel ber-GPS sebagai alibimu
dan pakai yang satunya lagi.
Apakah aku harus berbuat sejauh itu?
Pikirkanlah.
Istrimu menguasaimu.
Bisakah kamu hidup seperti itu?
Belilah saja ponsel satu lagi.
Permainan ganda.
Itu jawabannya.
Bersulang untuk itu, ya?
Kenapa kamu kembali ke rumah?
Bukankah kamu seharusnya di kelas matematika sekarang?
Aku tidak enak badan dan mau beristirahat.
Ada apa? Apakah kamu sakit?
Aku tidak benar-benar sakit atau terluka.
Aku hanya lelah.
Benarkah?
Baiklah, beristirahatlah.
Baiklah.
Apakah dia belajar terlalu keras untuk menaikkan nilainya?
Apa sebaiknya kubelikan dia tonik?
Bagaimana direktur akan mengatasi keadaan
dirinya dilacak?
Halo. Direktur tidak ada.
Apa maksudmu? Dia di ruangannya.
Apakah ada klien?
Tidak ada klien, tapi istrimu di sini.
Benarkah?
Hai.
Dari mana kamu?
Kamu meninggalkan klinik dan ponselmu.
Apakah kamu minum-minum?
Hanya sekaleng bir.
No comments yet. Be the first to leave one.