The first 200 lines.
Alih bahasa oleh VIU Disinkronisasi ulang untuk versi WEB-DL
"Drama ini hanya fiktif belaka dan tidak berkaitan"
"dengan orang, organisasi, lokasi, atau insiden yang sebenarnya."
"Syuting dilakukan sesuai dengan protokol COVID-19"
"dan diadakan bimbingan untuk aktor anak-anak"
"CGI dipakai dalam kebanyakan adegan yang melibatkan hewan"
"Keluarga Dibunuh di Guryeong"
"Tersangka Utamanya Putra Sulung yang Masih SD?"
Ini perbuatanmu?
Bukan.
Kamu melihat sesuatu hari itu?
Tidak.
Aku tidak melihat apa pun.
"Kepolisian Guryeong"
Tapi Tuhan
tidak pernah menjawab doaku.
Aku akhirnya menjadi pembunuh.
Pembunuhan pertamaku berlangsung ceroboh
dan aku ingat merasa kelelahan.
Namun, aku terus mengingat kesenangan dan sensasi
yang kurasakan hari itu.
Pagi ini, di klub tinju daerah Seokjin-dong, Moojin,
ditemukan jasad kepala pelatih yang terbakar parah.
Korban ternyata
anggota keluarga korban Head Hunter,
pembunuh berantai yang meneror negeri ini 25 tahun lalu.
Setelah hari itu,
pembunuhan berlanjut.
DNA yang bermutasi muncul saat masyarakat berevolusi
menciptakan psikopat.
Satu persen teratas dari DNA itu dikenal sebagai predator.
Sama seperti naluri singa untuk berburu kelinci,
bagi predator ini, manusia lain
hanyalah mangsa.
Aku adalah predator.
Begitulah aku lahir.
"Mouse"
Berengsek, berhenti!
"Episode 2"
Berhenti!
Lepaskan!
Sial.
Sial.
Rasakan ini.
Kamu berhak diam dan dibantu pengacara.
Apa pun perkataanmu bisa dipakai untuk menentangmu di pengadilan.
Tunggu. Kamu akan menembakku?
Kamu gila. Polisi tidak boleh melakukan ini!
Kamu benar. Aku sudah gila.
Tolong. Ada orang di sana?
- Tolong! - Diamlah.
Kamu ingin orang membantu pembunuh?
Jangan bergerak. Aku akan cepat.
Moo Chi, kumohon. Jangan lakukan ini.
Jangan biarkan pria itu menghancurkan hidupmu.
Apa-apaan ini?
Kamu mau ke mana?
Kemari.
Kamu mau ke mana?
Hei! Turun dari sana.
Jika kamu jatuh dan mati, pengejaran ini sia-sia.
Baiklah. Kalau begitu, tembak.
Tembak, maka aku akan lompat!
Siapa bilang aku akan menembak?
Aku hanya bercanda untuk menakutimu.
Bercanda? Kamu yang tadi.
Kamu menembakku dari belakang setelah menyuruhku kabur!
Ingatannya tajam juga.
Baiklah. Aku akan menahanmu saja.
Turun dari situ, lalu aku akan menahanmu.
Turunlah. Ayo.
Kembali ke sini.
Tapi berpikirlah dengan bijak.
Kamu memerkosa kakak-beradik itu
dan memukuli mereka sampai mati dengan palu.
Tapi negeri sialan ini tidak akan pernah mengeksekusimu.
Sebagai gantinya, kamu akan terjebak di sel penjara selamanya.
Orang berwajah tampan sepertimu?
Kamu harus tahu, ada berbagai orang mesum di penjara.
Aku tidak akan bisa membantu meski kamu memohon untuk kubunuh.
Hei! Bukan main.
Kamu sungguh akan melompat?
Kamu tidak bisa mendengar perkataanku?
Aku berkemah selama setahun di depan rumah pacarmu
bukan hanya untuk melihatmu melompat dari gedung.
Turun!
Jika kamu melompat dari sini, ususmu akan berceceran.
Usumu akan tercecer di jalan.
Pikirkan orang-orang yang harus membersihkannya,
dasar bedebah egois.
Jadi, ayo pilih solusi yang lebih baik.
Baiklah. Kalau begitu, tetap di sana
dan aku akan menembak dari sini.
Kamu bisa mendarat di tanah dengan peluruku di tubuhmu. Setuju?
Baiklah.
Astaga.
Aku benar-benar harus berhenti minum.
Di mana kamu?
Kamu sungguh melompat?
Sial.
Dia sungguh tidak berguna.
Halo?
Aku menuju ke gereja pagi-pagi dan melihat kilatan besar.
Jadi, aku memeriksa kilatan itu.
Aku tidak percaya ini.
Dia kesulitan membesarkan seorang putri sendirian.
Apa ini bau alkohol?
Astaga.
Apa?
Kamu terus bergerak.
Jangan bergerak, ya?
Jangan bergerak.
Moo Chi.
Hei. Kamu lihat itu?
Mayatnya terus bergerak.
Ini keren sekali.
Sudah kuperingatkan, jangan mabuk dan mengacaukan kasusku.
Sungguh mengecewakan. Kamu bicara seolah kita orang asing.
Ini bukan kasusmu, tapi kasusku.
- Astaga. - Ini perbuatan bedebah itu.
Lihat, cukup jelas.
- Kamu meneleponnya, bukan? - Dia terus meneleponku.
- Dia membunuhnya. - Aku akan mengurusnya.
Dengar. Hei, lepaskan.
- Ayolah. - Lepaskan aku, Berengsek.
- Ayo. Astaga. - Aku bersumpah dia membunuhnya!
- Semabuk apa kamu? - Ini kasusku!
Astaga. Tunggu.
Astaga, jangan.
Jaket ini baru, bahkan labelnya masih ada.
Lewat sini.
- Pastikan dia tetap di sini. - Baik.
Aku bersumpah aku benar!
Pelakunya bedebah itu!
- Dia membunuhnya! - Maaf.
Dia memaksaku meneleponnya setiap kali ada kasus pembunuhan.
Dia melakukan wawancara.
Hentikan dia. Cegah dia bicara!
Ini ulah pelaku yang membunuh pelatih gimnasium belakangan ini.
Aku yakin dia pelakunya.
Dia juga membunuhnya.
Mungkin dia salah satu orang yang membenci dewa.
Bisa juga, dia hanya cari perhatian.
Polisi menyelidiki kasus ini dengan berasumsi
bahwa pelatih dan pegawai wanita itu dibunuh oleh pelaku yang sama
yang membenci agama tertentu.
Kamu gagal lagi?
Kalau begini, aku akan menua dan mati.
Aku tidak akan membiarkan itu terjadi.
Sudah setahun?
Kamu bersumpah akan membunuh orang yang membunuh kakak-adik dengan palu
agar bisa kemari untuk membunuhku juga,
tapi kamu tetap di situ.
Kenapa terburu-buru?
Kamu tetap akan mati.
Tunggu saja.
Dia target sepele.
Kali ini, aku menemukan target bagus.
Ko Moo Chi.
Pada akhirnya,
kamu akan gagal.
Apa?
Kamu tidak bisa membunuh orang.
Aku tahu hanya dengan menatap matamu.
Aku tahu kamu orang sepertiku atau manusia biasa.
Kupikir kamu dokter otak, bukan dokter mata.
Agar mampu membunuh orang,
tatapan matamu harus kosong.
Tapi tatapan matamu penuh emosi.
Kemarahan, penderitaan,
penyesalan, simpati,
dan cinta.
Hentikan omong kosongmu.
Hal ini tidak bisa diupayakan.
Ini bawaan lahir.
Jangan memaksakan diri.
Hentikan omong kosongmu dan tunggu sampai aku memotongmu.
Tidak akan lama.
Baiklah.
Aku akan menantikannya.
Lain kali, tikam aku dengan benar.
Bukan di sini.
Lakukan di sini.
Belakangan ini,
aku menemukan Alkitab di TKP,
dan aku membaca sesuatu yang sangat mengesankan.
Itu benar-benar mengajariku sesuatu.
"Siapa pun yang membunuh manusia harus dihukum mati."
"Siapa pun yang membunuh hewan seseorang
harus mengganti rugi."
"Patah tulang dibalas patah tulang,
mata dibalas mata, gigi dibalas gigi."
Imamat pasal 24 ayat 17 sampai 20.
Amin.
Dahulu aku sering menghina Tuhan
karena dia selalu bicara soal pengampunan.
Tapi ternyata dia tahu yang dia ucapkan.
Jadi, kupikir aku harus menurutinya.
Aku harus membalas apa yang kualami.
Aku harus melakukan lebih dari memberimu pelajaran.
No comments yet. Be the first to leave one.