The first 200 lines.
Kurasa pria itu
masih hidup.
Kau baik-baik saja?
Atas pertanyaan bodohku, dia menjawab...
Apa aku bermimpi?
Aku sering bermimpi buruk belakangan ini.
Dia kembali hidup
lagi
dan lagi dalam mimpi itu.
Mimpinya menakutkan, tapi aku baik-baik saja.
Karena itu hanya mimpi buruk.
Tapi
mimpi buruk itu kini jadi kenyataan?
Mungkin.
Silakan saja.
Teruslah datang jika kau berani.
Takkan kubiarkan orang berengsek sepertimu menginjak-injak diriku.
Aku tidak akan pernah menyerah.
- Lihat posturku. - Apa?
- Begini melakukannya? - Menyebalkan sekali.
- Ayolah, Bung. Jangan tertawa. - Lihat dia.
- Lakukan dengan benar. - Panas sekali.
Bukan kalian berdua yang memukulinya?
Apa?
Saat kami tiba di sana, dia sudah babak belur.
- Ya. - Lalu siapa?
Asal kau tahu, dia benar-benar tumbang.
- Tumbang? - Apa yang kalian bisikkan di sana?
Tidak sopan jika tidak melibatkan kami.
Kenapa mengayunkan lenganmu? Bahumu kaku lagi?
Sudah kubilang lakukan peregangan seperti ini.
Astaga. Dia pikir peregangan itu obat.
Coba saja, ya?
Dia datang. Penyembuh segala penyakit.
- Pasti ada yang selamat. - Yang benar saja.
Ayolah, Bung.
Kau mau air madu?
Tidak, terima kasih.
- Kau suka kacang pinus? - Ya, tapi tidak, terima kasih.
- Mau bergabung dengan kami... - Tidak.
- Dia lancang sekali. - Orang tuanya pasti sangat bangga, bukan?
Mereka pasti tidak butuh hal lain.
Tentu saja tidak.
- Mereka bahkan tak perlu makan. - Benar sekali.
Kalau tak makan, bisa mati.
- Astaga. - Apa?
Aku yakin orang tuamu juga hebat. Apa pekerjaan mereka?
- Kami tidak tahu apa pun tentangmu. - Benar.
Mereka akan menginterogasinya.
- Punya pacar? - Berapa tinggimu?
- Berapa usiamu? - Apa hobimu?
Apa keahlianmu?
Siapa namamu, Tuan Chef?
Eun Gyehoon.
Namaku Eun Gyehoon.
Apa alasan sebenarnya?
Benarkah untuk menemukan saudarimu?
Tidak.
Lalu?
Mungkin
orang yang kucari adalah
salah satu dari mereka.
ANAK ITU KEMBALI
EPISODE 5
Aku akan makan banyak mulai sekarang dan menjadi kuat dan sehat.
Tapi kau selalu makan banyak.
Itu salah satu keahlianmu.
Aku bicara secara metaforis. Maksudku bukan hanya makan,
tapi hal yang diwakili makan.
Seperti keberanian, tekad, dan resolusi.
- Apa maksudnya? - Entahlah.
Sepertinya dia sudah bertekad sekarang.
Begitu rupanya.
Ibu, Nenek. Apa mungkin...
Apa?
Si berengsek itu...
- Siapa? - Siapa yang mengganggumu kali ini?
Lupakan saja.
Aku belum yakin 100 persen dia masih hidup.
Kubilang lupakan saja.
Aku serius.
Berhenti melotot dan makanlah. Aku bisa sakit perut.
- Omong-omong, kau. - Ada apa denganku?
Kau bukan remaja lagi. Berhentilah memberontak, ya?
Cepat berhenti dari restoran chef itu dan cari pekerjaan baru.
Jika tidak, ibu akan menemui dia dan menantangnya sendiri.
- Ayolah, Ibu. - Bisa-bisanya dia menerimamu
padahal kita juga punya restoran.
Dia tidak punya etika bisnis.
Akan kutangani sekarang...
Tapi dia unggul.
Apa?
Kita harus membuatnya senang.
Kenapa?
Tidak apa-apa. Katakan saja.
Masalahnya...
Aku berbagi rahasiaku dengannya.
Kurasa dia tahu sesuatu tentangku.
Tidak mungkin.
Dia tahu semuanya.
Tentang apa?
Tentang aku membunuh seseorang
dan menyembunyikan jasadnya di kulkas.
Kenapa bisa?
Aku memberi tahu dia semuanya.
Dia mengancammu untuk memberitahunya?
Kami hanya makan.
Dia mengancammu saat sedang makan?
Ya, aku juga minum-minum.
Karena mabuk, aku mengungkapkan semuanya meski dia tak bertanya...
Dasar kurang ajar...
Jangan pakai kekerasan!
Kau benar-benar sudah gila!
- Aku tidak bilang semuanya. - Kenapa memberitahunya soal itu?
Aku hanya bilang membunuh seseorang, tapi dia langsung tahu.
- Nenek! - Lepaskan, Bu.
- Ternyata dia sangat pintar. - Kau memujinya
di tengah semua ini? Kenapa memberitahunya?
- Sial. Kemarilah! - Nenek!
Nenek, aku pergi.
Hei, kembali ke sini!
Kembali ke sini sekarang!
Jantungku, berhentilah berdebar kencang.
Dan ingat ini.
Aku tidak pernah memedulikanmu.
Kuakui terkadang aku bersimpati kepadamu.
Tapi itu saja.
Jangan lupa.
Kebaikannya hanya karena rasa kasihan.
Semua baik-baik saja?
Ya, Chef.
Baguslah...
Kalau begitu.
Semua orang terlambat hari ini.
Aku hanya datang lebih awal.
Begitu rupanya.
Kalau begitu, bisa bantu aku bersiap?
Tentu saja. Aku siap membantumu.
Akan kubantu mengikatnya.
Tidak usah, terima kasih.
Dahyun, bawang bombainya sudah siap...
Dahyun, biar aku saja.
Belah dua bawang bombainya.
Lalu...
Dahyun,
bisa cicipi rasanya?
Rasanya enak.
Apa tadi aku melakukan sesuatu
yang menyinggung atau membuatmu kesal?
- Tidak. - Kurasa begitu.
Sama sekali tidak.
- Selamat pagi. - Selamat pagi.
Selamat pagi!
Dahyun, senyummu lebih cerah hari ini.
- Benarkah? - Benar. Harimu menyenangkan sejauh ini?
Ya.
- Aku suka kalungmu. - Kau suka?
Mereka punya banyak barang bagus. Kau mau ikut denganku?
Ibuku akan memarahiku jika aku berbelanja.
Aku saja. Ajak aku bersamamu.
Jangan ikut campur, Jinhoo. Berhentilah bergaul dengan kami.
Aku tidak ingin bergaul. Aku juga hanya ingin melihat-lihat.
Dia kesal.
Permisi, Nona Noh. Saus yang kita buat tadi...
Ya, Chef. Maksud Anda, sausnya?
Jadi, dia tahu semuanya?
Siapa?
Hidup kita bergantung padanya.
Kalau begitu...
Kita harus membuatnya senang.
Kau sudah sarapan?
Jika belum, mau makan sup?
Orang Korea butuh makanan Korea, bukan Italia.
Beri tahu kami kapan pun jika kau ingin hidangan Korea, ya?
Kami menganggap tetangga kami keluarga.
Tentu saja.
Sial, anak itu.
Kenapa aku harus menjilatnya?
Coba ikuti saja, baru putuskan rencana kita nanti. Aduh, sakit.
Memalukan sekali. Aku ingin mati saja.
Aku akan cuci piring
- karena kalah. - Aku punya beberapa foto.
Perutnya penuh dengan telur.
Benar.
Sepertinya akan meletus.
- Kau tak punya satu lagi? - Tidak hanya penuh, hampir meletus.
Bagaimana dengan...
Eun Gyehoon.
Eun Gyehoon. Astaga.
Apa-apaan...
Astaga, pria ini.
- Ada apa? - Sedang apa dia di sana?
Dia selalu mengintip dari sana.
Kenapa?
Aku tidak tahu.
Mungkin karena dia rindu buang air kecil di mana-mana.
- Astaga. - Dasar aneh.
CITA RASA IBU SUP CHOONOK
Kurasa pria itu
masih hidup.
No comments yet. Be the first to leave one.