The first 200 lines.
"Tayangan ini mungkin tidak sesuai bagi pemirsa di bawah 15 tahun"
"Pemirsa diharap bijak"
"It's My Life"
"Episode 123"
Kamu tinggal dekat sini?
Cukup dekat.
Ada apa? Kamu tidak enak badan?
Kurasa pencernaanku terganggu.
Seharusnya jangan dimakan jika rasanya tidak enak.
Kenapa malah menghabiskannya?
Kamu mencemaskanku?
Rasanya menyenangkan.
Setidaknya kamu harus minum obat pencernaan.
Adakah toserba atau apotek dekat sini?
Hanya perlu jalan lurus ke sana.
Pak Ahn.
Astaga, sudah lama sekali.
Kurasa kita memang tidak tahu akan berpapasan dengan siapa, ya?
Halo, kamu sedang apa di lingkungan ini?
Pacarku tinggal di sekitar sini. Aku dalam perjalanan pulang
usai mengantarnya dan melihatmu.
Kabarmu baik-baik saja, bukan?
Kabar Pak Han dan istrinya juga baik?
Maksudmu Kak Man Seok dan Kak Yeon Sil?
Kamu tega sekali.
Mereka bisa saja menjadi mertuamu.
Omong-omong, dia pacaramu?
Bukan, dia pegawaiku.
Itu...
Aku pemagang di kantornya Pak Ahn.
Pencernaanku sedang terganggu.
Karena itu dia mengantarku pulang.
Baiklah. Begitu, ya.
Jin Ah, ayo lekas bergabung.
Mari selesaikan percakapan tadi.
Baiklah.
- Ibu ada di kamarnya? - Ya.
Bagaimana Woo Jin?
Dia merengek setelah minum obat, tapi sekarang sudah tidur.
Baiklah, coba pikirkan.
Pria tua ini dan In Sook
bahagia bersama.
Pak Heo dan Bu Yang,
yang agak lebih tua dari kami, juga selalu mesra satu sama lain.
Lalu kalian berdua, Si Woo dan Jin Ah
adalah pasutri yang sempurna.
Bagaimana dengan Nam Jin?
Kita akan diam saja melihat dia melajang sampai tua?
Kita harus mengumpulkan kekuatan
dan memastikan dia menikah sebelum akhir tahun ini.
Jika memang bisa begitu,
tidak ada alasan bagiku untuk menentangnya.
Tapi apa menurutmu Nam Jin tertarik?
Saat ini dia disibukkan dengan bisnis mal belanjanya.
Tampaknya dia belum siap menerima orang baru.
Setuju. Kurasa dia masih menyukai
Seung Joo.
Kenapa harus serumit ini?
Karena itulah kita harus agak memaksa dia.
Astaga, baiklah.
Mari wujudkan itu,
Kita bisa menyerah nanti jika memang tidak berhasil.
Baiklah.
Lantas, kita semua sepakat.
Harus apa untuk menjodohkan mereka dan membuat mereka mulai berkencan?
Bagaimana cara memastikan dia bisa sering-sering kemari?
Haruskah aku meminta dia mengajariku bahasa Inggris?
Karena perjalanan ranselku yang akan datang,
aku cemas karena sama sekali tidak bisa bahasa Inggris.
Kalian semua sedang apa di sini?
Aku menanyai Pak Heo apa dia bisa bekerja
sebagai kepala petugas hukum meski hanya paruh waktu.
Aku menanyakan pendapatnya.
Benar.
Aku ingin menikmati waktu santai, tapi dia tidak mengizinkanku.
Mari bahas soal itu lagi sepulangnya aku dari perjalanan.
- Tentu. Baiklah. - Ya, baiklah.
Aku hanya mau beristirahat.
Tahun lalu Kak Man Seok dan Yeon Sil ke New York menemui Seung Joo.
Mereka bilang Seung Joo tampak kurus.
Dia pasti mengalami kesulitan.
Dia akan segera pulang ke Korea.
Kamu mau menemuinya?
Aku ingin menemuinya, tapi tidak boleh, bukan?
Ada yang bersemangat soal jalan-jalan ke Eropa,
sementara aku hanya makan gukbap dan minum soju setiap hari.
Astaga. Hidupku amat sengsara. Sial.
Supnya hambar.
Aku rindu sup kimchi buatan Sun Ja.
Aku merasa kosong
dan kesepian.
Astaga. Aku sangat kesepian, Sun Ja.
Sun Ja.
Sun Ja.
Ya ampun. Sun Ja.
Kamu memanggilku?
Apa? Tidak.
Aku sedang memanggil Sun Ja-ku.
Namaku Park Sun Ja.
Bagaimana kamu tahu namaku?
Semua wanita bernama Sun Ja cantik.
Kamu sangat cantik,
jadi, aku tahu namamu Sun Ja.
Aku tersanjung meski itu hanya lelucon.
Mau tambah hidangan sampingan lagi?
Astaga, tidak usah.
Senyummu lebih baik daripada makanan dengan soju.
Untuk apa butuh tambahan makanan?
Astaga, kamu ini. Pintar sekali bicara.
- Akan kubawakan lagi. - Terima kasih.
Kamu akan bekerja membawa Woo Jin?
Kami akan membawanya ke pusat penitipan mulai hari ini.
Pusat penitipan?
Astaga. Kalian ini keterlaluan.
Kenapa meninggalkan anak sekecil dia di pusat penitipan? Tidak boleh.
Kemarilah, Woo Jin. Ayo, sini.
Nanti guru Hangul-mu akan datang
dan kamu juga ada kelas pengembangan kreativitas.
Kemarilah.
Tolong batalkan semua pelajaran itu.
Maksudku, Woo Jin tidak akan mengikuti semua pelajaran itu lagi.
Apa maksudmu?
Woo Jin suka belajar seperti ayahnya.
Gurunya selalu memuji dia.
Aku ibunya, Ibu.
Si Woo dan aku akan mengurus semua hal
terkait pendidikan Woo Jin.
Benar, Jin Ah. Aku mengerti benar perasaanmu.
Namun, kamu harus tahu
Woo Jin bukanlah anak dari keluarga biasa.
Dia anak dari Keluarga Hyunkang.
Apa salahnya jika sebagai neneknya, aku memberi dia pendidikan terbaik?
Kami tidak bilang itu salah. Maksud kami adalah
cara asuh Ibu berbeda
dengan kami. Itu saja.
Kami ingin membesarkan Woo Jin di lingkungan terbuka.
Kami juga akan membuat dia belajar saat sudah waktunya.
Woo Jin baru dua tahun, Ibu.
Kenapa harus mengajari banyak hal padahal dia masih kecil?
Astaga. Biarkan mereka
membesarkan anak mereka sesuai kemauan sendiri.
Untuk apa kamu membuang tenaga?
- Sampai nanti. - Sampai nanti.
Ya.
Aku melakukannya demi Woo Jin. Kenapa...
Kurasa itu bagus.
- Mau kubuatkan makan siang? - Ide bagus.
Ayo.
Perutku masih sakit.
Perutmu masih sakit?
Jika begitu, kamu bisa cuti sakit atau ambil cuti setengah hari.
Jika cuti setengah hari, aku hanya bisa melihat Anda setengah hari.
Lalu jika cuti sakit, aku tidak akan melihat Anda seharian.
Ini.
Ini obat pencernaan paling ampuh.
Aku tidak akan meminumnya.
Kenapa tidak?
Ini hadiah pertama pemberianmu.
Akan kusimpan ini sebagai harta karun keluarga.
Astaga. Bisa-bisanya kamu bercanda.
Minum saja obatnya.
Selamat pagi.
- Halo. - Halo.
Apa itu? Ha Na, kamu sedang sakit?
Itu, ya. Tampaknya
pencernaannya agak terganggu karena makanan di rumahku kemarin.
Apa maksudnya makanan rumahmu?
Aku merasakan adanya getaran cinta.
Bukan begitu.
Dia mampir karena Pak Lee memintanya membawakan berkas.
Hei, Jeong Joo.
Kamu memegang daftar perusahaan pakaian
yang mendaftar untuk mal belanja kita, bukan?
Ya. Akan kucetakkan untuk Anda.
Yun Hee, kirimkan melalui surel laporan penjualan bulan lalu
kepadaku, ya.
Baik, Pak Koo.
Pemagang. Kamu sudah selesai
memeriksa kuantitas produk di gudang?
Tinggal setengah jalan. Akan kuselesaikan hari ini.
Selesaikan sebelum makan siang.
Aku harus memindahkan semua dus sebelum kontraktornya datang.
- Ya? - Ya, segera kukerjakan.
Baiklah.
Benar juga, Pak Ahn. Kamu tahu ada rapat pukul 14.00 nanti, bukan?
Sudah kutaruh berkas-berkas rapatnya di mejamu.
- Terima kasih, Ha Na. - Sama-sama.
"CEO Choi Si Woo"
- Si Woo. - Kamu datang.
Bagaimana?
Aku sudah mendaftarkannya di pusat penitipan.
Tampaknya fasilitas di sana bagus
dan semua gurunya baik-baik.
Ibu akan kecewa untuk sementara waktu.
Jika dia berkata kejam, jangan dimasukkan ke hati.
Si Woo, bagaimana jika kita membantu dia bekerja lagi?
Bekerja?
Dia selalu bekerja seumur hidupnya.
Karena orang seperti dia harus tiba-tiba berhenti bekerja,
di mana lagi dia bisa menyalurkan semangatnya?
No comments yet. Be the first to leave one.