The first 189 lines.
Jangan pergi.
Tetaplah bersamaku.
Pak Yoon, kau sangat aneh saat minum.
Sudah kubilang jangan pergi.
Aku membutuhkanmu.
Tae-in, kau pasti mabuk berat.
Kau baik-baik saja, Dokter Kang?
Kau benar. Pak Yoon pasti sangat mabuk.
- Tidak. Aku belum mabuk. - Ayo masuk.
Dia membuatku tak bisa tidur.
Tapi dia tidur nyenyak.
Hei.
Pak Yoon. Kukira kau tidur.
Bukankah tak nyaman tidur di sini?
Kau tiba-tiba menanyakan itu sekarang?
Benar.
Itu mulai menggangguku sekarang.
Dokter Kang.
- Mengagetkan saja. Astaga. - Mengagetkan saja.
- Kau melihat hantu dalam mimpimu? - Apa?
Astaga. Tidak. Itu bukan hantu.
Begitu rupanya. Kalau begitu, apa kau memimpikan Tae-in?
Apa? Tidak!
Sepertinya bukan. Turunlah untuk sarapan.
Apa aku sudah gila? Kenapa aku bermimpi seperti itu?
Itu karena dia dan hal-hal gila yang dia katakan semalam.
Yang benar saja.
Aku mengingatnya lagi. Astaga.
Ini untukmu, Ga-on.
Astaga. Ini enak sekali!
Aku akan percaya jika kau bilang Paik Jong Won yang memasaknya.
Jika aku wanita, aku akan menikahi Woo-yeon.
Astaga, Ga-on. Kuharap kau sudah tak mabuk.
Hei, kau bukan tipe Woo-yeon.
Kalau begitu, siapa tipe Woo-yeon?
Selamat pagi.
Selamat pagi, Dokter Kang. Ayo sarapan.
Kau bisa makan hidangan Korea sepagi ini?
Jika kau tak suka, aku bisa memanggang roti untukmu.
Astaga, tidak.
Astaga. Ini sangat enak.
Seperti yang kita bahas semalam, aku akan memproses konser rumah.
Aku menyukainya. Tae-in, bagaimana dengan daftar lagu kita?
Aku akan mempertimbangkannya dari daftar lagu-lagu
yang hendak kita bawakan di Green Concert.
Bagaimana kalau kita adakan pemungutan suara dari penggemar?
Kurasa kita tak punya cukup waktu untuk itu.
Benar juga. Aku akan memikirkan tema
yang bisa kita gunakan di rumah untuk konsernya.
Bagaimana cara kita memberi tahu penggemar?
Aku ingin yang kali ini istimewa.
Bagaimana jika kita memberi mereka petunjuk dengan cara kita sendiri?
- Ya. - Kita juga bisa melakukan itu.
Hampir lupa. Karena kita libur kemarin,
aku akan menambah waktu latihan satu jam.
Apa kau tupai? Kenapa kau menimbun makanan padahal tak memakannya?
Aku tak mengira kau rakus.
[ Tidak ada debu halus hari ini. Langit tampak cerah. ]
[ Roti lapis BLT kesukaanmu dan Americano hangat. ]
[ Semoga kau bangun sebelum kopimu dingin. Aku agak khawatir. ]
[ Kau selalu cantik apa pun riasanmu. Jangan terlalu memikirkannya. ]
[ Kau selalu cantik apa pun riasanmu. Jangan terlalu memikirkannya. ]
- Enak sekali. - Terima kasih atas makanannya.
- Terima kasih atas makanannya. - Terima kasih atas makanannya.
Hei. Ada peraturan di rumah ini.
Apa?
Baiklah.
Jika tak bermain, kau akan mencuci piring. Batu, kertas, gunting.
Aku menang!
Bersihkan semuanya.
- Tae-in kalah. Ayo. Cepatlah. - Baiklah.
Ayo.
[ Kenapa aku harus merasa canggung di dekatnya? ]
Omong-omong, aku baik-baik saja.
- Apa maksudmu? - Ini tentang kejadian semalam.
Kita akan bersikap dewasa. Tak usah dipikirkan dan lupakan kejadian itu.
Bagaimana aku bisa melupakannya?
Nadamu sumbang, tak sesuai ketukan, bahkan liriknya pun salah
saat kau menyanyikan "Amor Fati".
Aku tak akan bisa melupakan itu.
Apa yang kau lakukan?
Aku mau mengambil piringnya.
Hanya itu yang kau ingat dari semalam?
Benar juga.
Aku minum dengan Woo-yeon.
Apa aku menang?
Bersihkan sisanya, Pak Yoon.
Tunggu.
Lepas sarung tangannya.
Tunggu.
Apa lagi sekarang?
Lap itu sebelum kau pergi.
[ - Aku sudah menunggu! - Ga-on manis sekali. ]
[ - Halo! - Sungguh mengejutkan! ]
[ - Itu Yoo-chan dan Ga-on! - Halo, Sayang! ]
[ - Ga-on manis sekali. - Aku menyukainya! ]
[ - Yoo-chan! - Sulit kupercaya! ]
[ - Yoo-chan. - Halo, Ga-on. ]
[ - Halo! - Aku tak sabar. ]
[ Baiklah. Aku mengambil semuanya dari lemari Ga-on hari ini. ]
[ - Semua akan tampak bagus padanya. - Aku menyukainya. ]
[ - Ya! - Ga-on! ]
[ - Halo. - Kalian sedang apa? ]
[ - Cobalah, Ga-on. - Yoo-chan sangat modis. ]
[ - Dia cocok dengan pakaian apa pun. - Manis sekali! ]
[ - Aku tak sabar! - Kedekatan mereka tak terbantahkan! ]
[ - Aku mencintaimu! - Ga-on sangat manis. ]
[ - Manis sekali. - Pakailah. ]
[ - Aku mencintaimu. - Manis sekali! ]
[ - Tampak bagus! - Astaga. Kau tampak tampan. ]
[ - Manis sekali! - Cocok untukmu. ]
[ - Ga-on tampak bagus memakai apa pun. - Tampan. ]
[ - Ga-on sangat tampan. - Yoo-chan, baca komentarku. ]
[ Aku belajar bahasa Korea sekarang. Aku mencintai LUNA. ]
[ - Mereka manis sekali. - Kapan kau akan memakainya? ]
[ - Aku menunggu, Ga-on. - Aku sangat suka gaya itu. ]
[ - Yoo-chan bisa pilih pakaian yang bagus. - Ayo, pakailah sekarang. ]
[ - Itu pasti bocoran. - Aku sangat penasaran. ]
[ Bukankah orang-orang biasanya makan di pukul sebegini? ]
[ - Beri tahu kami. - Yoo-chan, aku penasaran. ]
Omong-omong, apa ini untuk konser rumah juga?
Orang-orang akan melihat rumah kami.
Jadi, aku hanya ingin menyiapkan rumahnya.
Begitu rupanya.
Tunggu.
Baiklah.
Ini.
Mari kita lakukan.
Omong-omong,
begitukah sikap Pak Yoon saat mabuk?
Itu? Kau pasti bingung kemarin.
Aku belum pernah melihatnya semabuk itu.
Menurutku dia tak boleh minum di luar.
Dia akan melakukan itu kepada wanita lain.
Kalau begitu,
apa dia boleh minum di rumah dan bersikap seperti itu
denganmu?
Aku...
Aku dokternya.
Aku harus memahami semua tingkah lakunya.
Tapi orang lain tidak.
Citra adalah segalanya bagi selebritas.
Hey, Hyung-jun.
Apa maksudmu? Kau serius?
- Baiklah. - Entah apa ini dengan benar.
Baiklah. Pindahkan itu.
- Baiklah. - Baiklah.
Ini gratis.
Ibumu menyuruhku memberimu banyak makanan gratis saat kau datang.
Astaga. Tak usah. Anda juga memberi kami banyak tulang rawan.
- Ayolah. - Hei.
Kau seharusnya berterima kasih saat dia memberimu makanan.
Benar. Benar sekali.
Aku memberimu banyak remis besar.
Beri tahu aku jika kau butuh makanan lagi. Mengerti?
- Baiklah. - Bintang hebat, semangat.
- Terima kasih! - Sama-sama!
Astaga. Dia belum berubah sedikit pun. Dia juga masih murah hati.
Hanya kau yang punya kehidupan baru.
Kau ingat SMA?
Kita ingin mengamen di Hongdae.
Kita datang ke Seoul untuk kali pertama dari pulau.
Kau yang berhasil.
Kau punya pacar?
Tidak.
Hei. Kau punya.
Siapa dia? Dia selebritas, bukan?
Yang benar saja.
Kau bisa memberitahuku.
Astaga. Kubilang tak ada.
Begitu rupanya. Ini belum serius.
Kapan kau akan mengajaknya berkencan?
Ini tak semudah itu.
Kurasa bukan hanya aku yang menyukainya.
Apa?
Lihat? Itu masalahmu.
Kau harus selalu menjadi orang baik dan mengalah.
Tapi tak ada kelonggaran dalam cinta.
Kau harus memperjuangkannya. Itu saja.
- Mengerti? - Memperjuangkannya?
- Hei. - Astaga.
- Sudah berapa lama tak bertemu? - Kau datang.
Kau tampak tampan sekarang.
Akhirnya aku bisa bertemu dengannya setelah Hyung-jun daftar wajib militer.
- Yang benar saja. - Kau sungguh menyakiti perasaanku.
- Kau menyakiti perasaanku. - Sudah berapa lama, ya?
- Astaga. - Ayo. Pesanlah makanan.
Bu!
- Aku merasa senang malam ini! - Hei.
No comments yet. Be the first to leave one.