The first 200 lines.
[Drama ini adalah fiktif belaka. Kesamaan apa pun hanyalah kebetulan]
Perwakilan.
Apakah Anda menyukaiku?
Apa?
Bukan, Anda bilang pacaran dengan pria yang lebih baik,
apa maksudnya Anda sendiri?
Anda menyukaiku kan, Perwakilan?
Benar 'kan?
Iya 'kan?
Bisakah aku menjawab seperti ini?
Apa?
Kenapa aku melakukannya?
Nona Na Ling-won.
Hei, Nona Na Ling-won.
Apa?
Ya.
Tadi apa katamu?
Dengan kata lain...
Benar-benar.
Apa Anda menyukaiku?
Apa aku boleh jawab begini?
Apa?
Mohon sadarlah.
Dibilang minum sesuka hati, apa kamu mabuk sesuka hatimu juga?
Jelas-jelas menyukaiku.
Aku bisa melihatnya.
Ganti rugi kursi, traktir minum kopi,
bahkan juga menalangi uang makan bersama.
Juga mentraktirku minum bir.
Meski kata Anda adalah masalah hukum,
berhubungan dengan efektivitas kerja dan sejenisnya,
tapi semua itu hanya alasan.
Karena menyukaiku,
makanya ingin berbuat baik kepadaku.
Karena sudah begini,
katakanlah saja dengan jujur.
Seperti seorang pria, bertindaklah berani.
Sungguh boleh berkata jujur?
Aku melakukannya karena kasihan padamu.
Merasa kasihan padamu.
Apa?
Kasihan kamu sudah umur segini, baru berencana membeli rumah.
Kasihan kamu begitu perhitungan hanya karena 10.000 Won.
Membantumu dengan maksud membantu tetangga yang kasihan.
Apakah jawaban ini bisa?
Tetangga yang kasihan?
Benar-benar. Kenapa bisa salah paham begini?
Aku adalah Yoo Ja-seong dari Gyelong.
Naga terakhir yang keluar dari Gyelong di Korea.
Apa aku bekerja keras demi menyukai wanita sepertimu?
Kamu kira aku membangun usaha demi menyukai wanita sepertimu?
Mohon sadar diri!
Kelak aku harus bagaimana?
Aku pantas mati.
Mati saja.
Aku tidak berani ke perusahaan lagi besok.
Meski kasihan, juga tidak boleh baik terhadapnya.
Mana mungkin aku suka Na Ling-won?
Aku adalah Yoo Ja-seong dari Gyelong.
Mana mungkin menyukai Na Ling-won yang tak punya rumah?
Saya naikkan volume-nya ya.
Berkatalah yang lebih masuk akal!
Maaf.
Bukan.
Aku bukan sedang bicara denganmu.
Tapi kenapa ada argometer di mobilku?
Apa?
Ini mobil saya, taksi pribadi.
Taksi?
Bukan supir pribadi?
Saya supir taksi.
- Lalu mobilku? - Apa?
Apa?
Ini...
Kelihatannya, aku mau pesan supir pribadi, malah jadi pesan taksi.
Maaf, mohon putar balik ke Itaewon.
Baik.
Aku yang sempurna, malah berbuat kesalahan seperti ini.
Wajar saja, pukulan emosional yang kuterima terlalu besar.
Sungguh menyia-nyiakan uang, waktu dan perasaan.
Semuanya karena Na Ling-won.
Na Ling-won, Na Ling-won.
Na Ling-won!
Perwakilan, apa kabar?
Selamat pagi.
Selamat pagi? Kamu lupa kemarin...
Oh ya, apa Anda sampai di rumah dengan selamat kemarin?
Aku minum sampai mabuk, tidak ingat apa pun lagi.
Begitu ya?
Kemarin kamu memang terlihat cukup mabuk.
Benar.
Aku harus berhenti minum bir, kalau tidak harus bunuh diri.
Tapi, meski aku bilang mau traktir minum,
namun ternyata mahal sekali.
Kamu bayarlah setengah.
Berapa totalnya?
- 380.000 Won. - Apa?
Bukan, kemarin kita hanya minum 2 gelas draft bir,
dan 6 botol bir,
ditambah udang bawang putih Spanyol.
Paling banyak juga hanya 100.000 Won.
Salad ayam itu gratis.
Kamu ingat sangat jelas.
Kamu tidak mabuk, tapi tidak ingin mengingatnya lagi 'kan?
Perbuatan menjijikkanmu kemarin.
Aku tidak punya muka untuk bertemu Anda lagi.
Maaf.
Masalah kemarin, sungguh maaf.
Maaf?
Berkali-kali menampar orang, apa gunanya minta maaf?
Maaf bisa membuat bekas tamparan di wajah hilang?
Apa?
Penghinaan yang terukir dalam hatiku
tidak bisa hilang karena satu kata maaf.
Tahu?
Bagaimana ini?
Benar saja.
Apa kabar semuanya?
- Iya. - Sudah datang?
Apa ini? Kemarin wawancara sampai malam sekali?
Kelihatannya kamu lelah sekali.
Iya, sedikit lelah.
Begitu ya?
Aku juga lelah sekali.
Bagaimana? Demi memperbaiki kadar gula,
kita minum kopi manis ya?
Pemimpin Redaksi mau traktir?
Gila ya?
Orang yang seharusnya traktir di restoran steak yang diakui Baek Jong-won...
tapi keberuntungannya belum sampai harus traktir.
Wanita yang begitu beruntung, siapa wanita itu?
Nama wanita itu adalah Na Young-won.
Seharusnya Reporter Na yang traktir.
Tapi...
Salah.
Kita masih punya orang lain.
Apa katamu?
Awalnya aku ingin menyuruh Editor Na yang menghemat uang traktir kopi karena Perwakilan.
Tapi nama Perwakilan terlintas di otak saya.
- Nama? - Iya.
Demi efektivitas kerja semuanya,
seharusnya Perwakilan yang traktir.
Kalimat itu mendadak terlintas.
Makanya saya secara khusus datang untuk minta petunjuk.
Aku melakukannya dengan baik 'kan?
Bagaimana dengan efektivitas kerjaku?
Apa?
Aku mentraktir minum kopi,
tentu efektivitas kerja Tim Editor akan meningkat.
Tapi bagaimana denganku yang mentraktir kopi?
Aku yang bertanggung jawab paling berat di Monthly Magazine?
Bukankah efektivitas kerjaku akan menurun?
Bagaimana? Bagaimana?
Katanya, suruh Editor Na yang traktir.
Bukan, waktu itu...
Benar, waktu itu aku yang traktir.
Sekarang aku menyesal karena mentraktir waktu itu.
Tidak seharusnya menyia-nyiakan uang itu.
Apa menu yang yang termahal akhir-akhir ini?
Matcha cream frappuccino.
Tidak ada yang lebih mahal?
Upgrade saja ke gelas besar.
Juga boleh tambah lebih banyak topping.
Tambah juga sirup hazelnut.
Boleh tambah sedikit krim segar.
Tambah juga 2 shot espresso.
Berhenti!
Tambah semua yang bisa ditambahkan.
Ada apa ini?
Dia merasa sangat dirugikan karena mentraktir kopi waktu itu?
Pokoknya, aku mau minum yang sama dengan Perwakilan.
- Aku juga. - Benar-benar.
Young-won mana punya uang untuk mentraktir?
Aku yang traktir. Aku saja.
Tidak perlu, Senior.
- Aku saja. - Tidak perlu.
Sudah kubilang, mau membantumu berhemat.
Aku akan menikmatinya dengan baik, Senior.
Indra keenamku datang, indra keenam.
Apa? Kamu merasakan sesuatu?
Waktu itu aku curiga indra keenamku sudah tidak berfungsi.
Tidak, aku yakin Perwakilan Yoo menyukaimu.
Kenapa berkata seperti itu lagi? Benar-benar.
Kenapa?
Waktu itu menggantikanmu traktir kopi,
hari ini menyuruhmu traktir kopi.
Bukankah jelas sekali?
Dia sengaja melepas untuk mendapatkanmu.
Bukan.
Menurutmu Perwakilan Yoo bagaimana?
Meski sedikit tidak sopan,
tapi dia seharusnya masih bisa sedikit romantis 'kan?
Sudah kubilang, bukan seperti itu.
Sudah kubilang, pasti benar.
Jika tidak percaya, tanyalah langsung padanya.
"Apa Anda menyukai saya?" Langsung tanya padanya.
- Langsung tanya... - Sudah kutanya.
Kubilang, sudah kutanyakan.
Apa?
Sungguh hampir gila.
No comments yet. Be the first to leave one.