Release info

우리들의-블루스-Our-Blues-E12-NEXT-NF
우리들의-블루스-Our-Blues-E12-WEBRip-NF
A Commentary by Anangkaswandi

Tags

other
Published on: 2022-05-15
Downloads: 18
Hearing Impaired: No

Indonesian subtitle preview

The first 200 lines.

Halo?

Begini…

Yeong-ok sedang tidak ada di sini.

Maaf, dengan siapa, ya?

Halo?

Halo?

Halo?

Ada apa lagi malam-malam begini?

Kalau lelah, mengapa tak bisa tidur?

Jangan membual lagi.

Melukis berapa banyak sampai merasa lelah?

Benarkah? Sungguh melukis?

Baiklah. Sungguh seorang seniman.

Apa?

Baiklah, penulis.

Benar, jadi penulis saja.

Pacarku.

Aku sudah putus dengan Cheol-ung.

Aku sudah mengatakannya berkali-kali.

Hei, aku sudah menguap. Sudah, ya.

Baik. Aku ke sana bulan depan.

Ya. Aku berjanji akan ke sana.

Ya. Aku janji.

Tidurlah yang nyenyak.

Siapa?

Ada banyak gosip yang menyebar tentang aku.

Banyak orang penasaran aku mendapat telepon dari siapa.

Aku juga tahu semua gosip itu.

Menduga itu telepon dari suamiku

atau anak yang kutinggalkan di daratan.

Tidak ada yang benar.

Kalau begitu, ya sudah. Selesai.

Kini, aku bisa menerima apa pun itu.

Orang tua, adik kakak, atau kerabat mengesalkan,

mantan pacar yang enggan enyah, penguntit, kreditur,

aku bisa menerimanya. Akan kuatasi semuanya.

Karena kau pacarku.

Mengapa kau lucu sekali?

Astaga.

Aku sudah tidak mabuk.

Sepertinya…

aku juga sudah tidak mabuk.

Aku akan menata selimut.

Kau tahu kalau kamarnya hanya satu, 'kan?

- Ya. - Ya.

Mengapa kau menyetir begini?

Mengapa kau bahagia sekali?

Aku tidak begitu.

Kalian tidur bersama, 'kan?

Ternyata kalian tidur bersama.

Ternyata benar.

Gi-jun.

Aku ingin membeli rumah semacam itu.

Rumah?

Aku juga harus mempersiapkan pernikahan. Harus mengajukan KPR pada bank.

Belikan aku juga.

Kalau menurut padaku. Saat kau menikah.

- Benarkah? - Tentu saja.

Astaga. Kakakku akan membelikan rumah!

- Kakakku yang terbaik. - Menjauhlah.

Aku harus menjadi penurut.

Kapan kau akan menyatakannya pada Dal-i?

Bagaimana cara membuat suara napas seperti itu?

Kalau tahu caranya, mungkin bisa menyelam lebih lama.

Tolong!

Kaki Kak Yeong-ok tersangkut jaring!

Bu, tolong bantu dia!

Kapten Bae! Tolong kami!

Ada haenyeo tenggelam!

Ini milikku. Ambil semuanya!

Ini punyaku.

Ini punya Bu Chun-hui.

Ambil semuanya.

Apa kau senang dapat banyak tangkapan?

Apa kau sungguh merasa senang?

Ada apa denganmu?

Mengapa datang dari daratan dan mengganggu kami?

Mengapa?

Karenamu, para haenyeo yang harusnya bekerja empat jam,

hanya bisa bekerja kurang dari satu jam!

Apa ini?

Ya Tuhan.

- Ini! - Ambil punyaku juga!

Astaga. Tahan amarahmu.

- Abaikan dia. - Aku dan Bu Chun-hui hampir meninggal!

Meski Bu Chun-hui terlihat kuat, usianya sudah sekitar 70 tahun.

Dia harus terus menahan napas untuk menyelamatkanmu.

Dia bisa meninggal karenamu. Kau mau tanggung jawab?

- Maukah kau bertanggung jawab? - Astaga.

Yeong-ok, Bu Chun-hui memanggilmu.

Hye-ja, kau juga dipanggil.

Ya Tuhan.

- Ayo. - Dasar berandal…

Kau bisa jadi kematian kami semua!

- Masuklah. - Astaga!

Kalau jadi dia, aku tak akan bekerja mulai besok.

Membuat orang hampir mati, tetapi tak minta maaf.

Bahkan tak berterima kasih telah diselamatkan!

Apa yang kau lakukan?

- Aku minta maaf. - Tak perlu!

Tahu salah, tetapi bertindak begitu!

- Maaf. - Jangan datang mulai besok!

Aku jadi tak bisa bekerja karena ada dia!

Mengapa jadi tak bisa bekerja karena dia?

Usir saja dia.

Aku akan tetap bekerja di laut. Usir saja.

Astaga, kau bukan main.

Aku akan mengikuti apa yang dikatakan Bu Chun-hui.

Beliau menyelamatku saat aku tenggelam saat masih muda dahulu.

Aku akan menurut padamu.

Mengapa kau ikut berlutut padahal tidak salah?

- Bu, sampai jumpa besok. - Ya.

Pergilah.

Bu, aku akan antar sampai ke rumah.

Pergilah.

Aku yang akan mengantarnya.

Kau jangan bekerja mulai besok.

Kalau kau datang, yang lain jadi tak bisa bekerja.

Aku telah membuat kesalahan, Bu.

Aku tak perlu mendengar kau minta maaf.

Bu Ok-dong pun kehilangan anaknya saat anaknya menyelam.

Bu Hye-ja juga kehilangan ibunya.

Aku juga kehilangan banyak teman.

Kalau terlalu serakah di laut, kau akan mati.

Masih untung bila hanya kau yang mati. Jika semuanya?

Aku minta maaf. Ini tidak akan terjadi lagi.

Tentu saja tidak akan terjadi lagi.

Kau berhenti bekerja mulai hari ini.

Aku ingin tetap bekerja di laut.

Tolong beri tahu caranya agar aku tetap bisa…

- bekerja di laut. - Kau…

Apa kau ingin membunuh seseorang dengan bekerja di laut?

Haenyeo adalah satu kesatuan, mati atau hidup bersama.

Aku sudah beri tahu berapa kali?

Hari ini pun, kalau tidak ada haenyeo lain di dekatmu, kau sudah mati.

Kau tak tahu terima kasih pada para haenyeo lain.

Hanya fokus pada abalone, dan berpikir mendapat uang.

Kau tak sadar bisa mati dan terus bekerja di laut.

- Aku minta maaf. - Bagaimana aku bisa percaya itu?

Percaya dengan wanita yang selalu berbohong.

Aku tidak pernah berbohong.

Tidak pernah berbohong apanya?

Harus kutanyakan pada orang lain?

Kau bilang orang tuamu seniman. Lalu bilang, mereka berjualan di pasar.

Bicara begini, lalu begitu.

Sebenarnya, orang tuamu masih hidup atau sudah meninggal?

Mereka sudah meninggal.

Mereka memang seniman.

Mereka sulit bertahan hidup,

dan akhirnya berjualan baju

di Dongdaemun

hingga kelelahan, lalu meninggal karena kecelakaan.

Aku tidak bilang kalau mereka sudah meninggal

karena tidak ada yang tanya apakah mereka masih hidup.

Tidak ada bertanya, jadi, aku merasa tak perlu beri tahu.

Aku tak ingin orang lain tahu aku yatim piatu.

Aku bersumpah

tidak pernah berbohong sama sekali.

Aku hanya jawab sesuai pertanyaan.

Apa kau punya suami,

atau punya anak di daratan?

Tak punya satu pun.

Lalu, mengapa begitu serakah mencari nafkah?

Selain itu, siapa yang terus meneleponmu?

Kalau tak jawab, tak usah datang lagi besok.

Dia…

adalah…

satu-satunya…

MI-RAN DAN EUN-HUI 1

Lihat ke depan.

Kalau melihatku, bisa terluka.

Lihat? Apa kataku?

Topi…

Baguskah untukku?

Kau tentu saja cocok memakai apa pun.

Anakmu yang di Paris itu dari suami yang mana?

Pertama? Kedua?

Ketiga?

Dia sudah mau wisuda, tentu yang pertama.

Bukan suami kedua yang kuceraikan sepuluh tahun lalu usai dua tahun menikah.

Bukan juga suami ketiga yang kuceraikan setahun lalu usai tiga bulan menikah.

Sayang sekali. Tempat ini hanya menenangkan jika ada kau.

Baiklah pada istrimu.

Sesuai pesananmu pekan depan

pada hari Kamis pukul 18.00.

Meski aku sudah berhenti,

Pak Son yang akan mengambil alih,

jadi, tetaplah berkunjung.

Hari ini, aku yang akan memijatmu.

Padahal aku ke sini karenamu.

Tolong antar Bu Jang ke ruang naratama.

- Baik. Silakan masuk. - Aku segera menyusul.

KECANTIKAN DAN TERAPI

- Selamat datang. - Halo.

Handuknya hangat.

Pundakmu sangat kaku.

Kau pergi ke Paris untuk wisuda anakmu. Kau bisa pergi lalu kembali.

Mengapa sampai menjual tempat ini?

Setelah ke Paris untuk wisuda anakku,

kami akan mengeliling Eropa dan Amerika, keliling dunia.

Comments

No comments yet. Be the first to leave one.

Keep it about this subtitle — sync, quality, typos.500 characters left