The first 144 lines.
Tidak, aku menolak menerimanya!
Aku tak mengerti. Tak ada yang perlu diterima.
Namaku Ken Takakura.
- Hentikan. Aku tak mau dengar! - Gawat. Kutukannya!
Ayase! Cepat! Pakai psikokinesismu!
Biar kuhisap tititmu!
Terima kasih banyak.
Mari tetapkan aturan dasar.
Namamu itu tabu.
Baik.
Kau suka okultisme, jadi aku akan memanggilmu Okarun.
Okarun?
Kalau pakai nama yang itu, mati kau.
Tapi itu nama asliku.
Namun, bisa dimengerti. Aku bisa menerimanya.
Akui saja. Kau tak keberatan dengan nama Okarun.
Apa?
Aku jelas keberatan!
Ayolah, coba lihat wajahmu!
Kau terlihat senang sekali, Okarun.
Bau!
Kau kentut di wajahku.
Kurang ajar!
Itu salahmu karena terus menekanku!
Sebentar, ini sudah pagi?
Kita tak perlu mengkhawatirkan Nenek Turbo sekarang.
Apa kau yakin?
Hantu keluar pada malam hari, bukan?
Mau ke rumahku sekarang?
Pakaianmu
lebih buruk dari hantu.
Hati-hati. Nenekku keras pada pria.
Pacar terakhirku hampir terbunuh.
Kenapa baru bilang sekarang?
Apa-apaan ini?
Okarun, kau baik-baik saja?
Begitu, ya.
Maaf, Okarun. Ini dilindungi oleh penghalang.
Kukira aku akan mati.
Baiklah, coba lewati.
Kau yakin tidak apa-apa sekarang?
Jika kau terbakar, akan kulempar kau ke sungai lagi.
Wah, menakutkan sekali!
Aman!
Bagaimana perasaanmu?
Ada perubahan?
Seluruh tubuhku perih, tapi…
Kenapa rambutmu itu?
Rambutmu ikal seperti nenek-nenek!
Apa? Apa yang kau tertawakan?
Aku hampir mati hari ini!
Nenek?
Apa? Dia tak ada di sini.
Ya sudah, masuklah.
Terima kasih!
Tunggu.
Tutup pintunya agar aku bisa ganti baju.
Baik.
MENJAUH
Ayase, kutukannya!
Hei! Jangan menerobos masuk!
Tetap menghadap dinding.
Maafkan aku.
Astaga, kau merepotkan!
Okarun, pakailah ini.
Ini untuk perempuan, tapi tak apa.
Terima kasih.
Oh ya, kau tak punya penis sekarang, 'kan?
Hah? Apa? Apa kau bilang?
Maaf! Aku tidak melihat apa-apa.
Sudah tidak apa-apa.
Hei.
Tunjukkan penismu.
Nenek Turbo bilang kau dikutuk karena dia mengambil kemaluanmu.
Hilang!
Wah! Seperti apa di bawah sana?
Coba kuintip!
Kau bodoh? Aku tak bisa perlihatkan ini!
Tak apa. Tak ada apa-apa di sana.
Bukan itu masalahnya!
Astaga, kau tidak asyik.
Ini menyebalkan sekali!
Ini hilang! Kita harus bagaimana?
Jangan beri kesan bahwa itu salahku!
Kau yang usulkan ide kontes itu!
Apa?
Aku tak pernah tertarik bualan UFO-mu sejak awal!
Kau yang bicara omong kosong, mencari gara-gara.
Aku tak mau melewatkan kesempatanku.
Karena aku selalu ingin punya teman.
Aku tak mau melewatkan kesempatan itu.
PO
Itu sebabnya aku sangat ingin bicara denganmu.
Namun,
aku seharusnya tahu kita hidup di dunia yang berbeda.
Orang sepertiku tak pantas bicara dengan orang sepertimu.
Maafkan aku telah melibatkanmu dalam hal-hal berbahaya.
Kau bisa kembali mengabaikanku setelah kita selesai menangani ini.
Kau menyebalkan sekali saat bersikap begitu.
Kau berasumsi tentang orang lain
dan menarik kesimpulan sendiri.
Kau tidak punya teman karena kau menjauhkan dirimu di luar sana.
Jadi, berhenti menyuruhku mengabaikanmu.
Ayo bahas soal paranormal seperti biasanya.
Hei, ayolah. Katakan sesuatu.
Colek, colek.
Jalang jelek!
Apa katamu tadi?
Ayase, kau sangat tidak peka.
Kau mengatakan semua isi pikiranmu.
Apa maksudmu, "tidak peka"?
Apa nenekmu baru pulang?
Kecilkan suaramu. Aku belum pernah dengar bunyi bel ini.
Apa yang terjadi?
Nenek pernah memberitahuku.
Rumah ini punya dua bel pintu.
Satu untuk manusia, dan satu lagi untuk roh jahat.
Astaga! Aku melepas jimatnya.
Sebentar saja tak apa, 'kan?
Wah! Ada sesuatu di sana.
Kita harus apa?
Kita akan kembalikan jimatnya! Roh jahat akan terbakar sepertimu.
Kau mencoba membakarku juga?
Tinggalkan saja halamannya, kau akan aman.
Tunggu sampai aku keluar sebelum memasang jimatnya!
Tidak ada di sini. Ke mana perginya?
Ayase, lihat.
Sialan!
Ayo pergi dari sini.
Lewat sana. Cepat!
- Ayase. - Apa?
Tak ada jalan keluar.
Kita dikurung dalam tembok.
Kita bisa pasang jimatnya di gerbang.
Tunggu, kau tak boleh pasang jimatnya!
Kenapa?
Gerbang kuil ada di dalam tembok.
Aku tidak akan bisa pergi ke luar.
Kini bagaimana?
Kita dalam masalah besar.
KEAMANAN RUMAH VS. KEJAHATAN DAN KEMALANGAN
Apa ini?
Ini gawat sekali.
Ayase.
No comments yet. Be the first to leave one.