The first 200 lines.
Persiapan segala perlengkapan
Selena, kita akan segera mulai.
- Baiklah. Nenek? Kakek? - Aku di sini.
- Aku datang. - Selalu terlambat.
- Musim ketiga. Kami kembali. - Hore!
- Kau siap? - Aku siap.
Aku kembali, dan aku pirang.
Ada dua wanita pirang di dapur.
Sebenarnya, tiga dengan Nenek.
Ini bisa jadi sangat menarik.
- Apa pun mungkin. - Apa pun mungkin.
Mungkin aku bisa menemukan pacar, salah satu koki lajang.
Astaga!
Hei, Teman-teman, ini Selena.
Aku telah belajar banyak tentang memasak selama dua musim terakhir.
Astaga! Bajuku robek!
- Astaga. Tidak! - Tidak apa-apa.
Kita memulai dengan buruk.
Namun, aku sadar aku hanya menggores permukaannya.
Bahan makanan.
Akan ada apa saja?
- Astaga! Siapa ini? - Astaga.
- Hai. - Apa kabar?
- Ada kiriman untukmu. - Terima kasih.
- Siapa namamu? - Tentu saja. Chance.
Hai. Aku Raquelle. Senang bertemu denganmu.
- Senang berjumpa. Santai saja. - Semoga harimu menyenangkan.
Raquelle.
Dia sangat manis!
Astaga. Dia yang akan mengantar bahan makanan kita?
Jadi, aku melanjutkan belajar...
Yang berarti bahkan jika koki itu...
Berjarak 4.828 kilometer...
Kami masih bisa bersenang-senang memasak bersama...
- Dia siap. - Secara terpisah.
Lihat aku. Senyum.
Selena dan Kwame, pengambilan pertama.
Mari kita lakukan.
Kwame!
Hei. Kau bisa melihatku? Kau bisa mendengarku?
Aku bisa melihatmu. Aku bisa mendengarmu. Hai.
Apa kabar?
Di episode ini, aku ditemani Koki Kwame Onwuachi.
Dia koki pemenang penghargaan James Beard...
Seorang juri dan mantan kontestan Top Chef...
Penulis memoar luar biasa...
Dia juga membuka lima restoran sebelum usia 30 tahun.
Kemarilah. Mendekatlah. Mendekatlah padaku.
Aku ingin melihatmu dari dekat dan depan.
Apa itu rambut pirang?
- Apa? - Rambutku pirang.
- Aku berpikir, "Di mana Selena?" - Ini Selena.
- Ini sahabatku, Raquelle. - Baiklah.
- Aku hanya bercanda. - Hai!
Senang bertemu, Raquelle.
- Senang bertemu denganmu. - Kau manis sekali. Dia manis.
- Ya. Dia... Kau manis! - Terima kasih.
Menurutku kau juga manis.
Tunggu. Apa yang terjadi?
- Dia bicara padaku atau padamu? - Padaku.
Kalian tidak perlu tersipu karena aku.
Kita di sini untuk memasak.
- Aku siap. - Baiklah. Bagus.
Kau pernah makan makanan Nigeria?
Aku belum pernah menyantap makanan Nigeria.
Kau harus mencicipinya.
Hal yang terpenting, kau akan membuatnya sendiri.
- Astaga. - Itu... Ya.
- Ini makan malam hari Minggu, bukan? - Enak.
Kita akan buat hidangan nasional Nigeria...
Nasi jollof...
Semur ayam merah, kesukaanku...
Dan pisang goreng.
Semua ini adalah hidangan tradisional...
Yang kau dapatkan di akhir pekan...
Hari Minggu, di Nigeria.
Baik, aku tidak sabar.
Kau punya pisau yang tajam? Pisau itu tajam?
Aku telah mengasah... Bukan aku secara pribadi...
Tapi aku sudah mengasahnya.
Begini masalahnya. Aku tidak pandai menggunakan pisau.
Aku hanya akan mengatakannya.
Selena, ini musim ketiga.
Kau harus...
Sudah lebih baik menggunakan pisau saat ini.
Aku tahu.
Kita akan mulai potong semua bahan untuk semur merah ini.
Kita akan memasukkannya ke dalam mangkuk.
- Bagaimana dengan ini? - Itu bagus.
Itu mangkuk yang sama persis dengan milikku.
- Bagus! - Kita sepaham.
Jadi, kita akan mengambil paprika.
Baiklah.
Kita akan minum air.
Maaf, aku dehidrasi. Baiklah.
Potong bagian atas lebih dahulu.
Tidak ada cara benar atau salah. Jangan sampai terluka saja.
- Aku tidak... Hei, aku memakai... - Lalu kau putar...
Kau melakukan ini?
- Kau melakukan itu. - Dia melakukan itu.
Lalu kita akan memotong bagian bawahnya.
- Sudah. - Baik.
Lalu kau cukup membuat irisan.
- Baik. - Mengerti?
Lalu ambil pisau dan gulung saja.
Itu akan membuang bagian dalamnya...
Seperti seorang ahli.
Seperti seorang ahli.
- Lihat itu! - Indah.
Jadi, itu cara kita bergerak cepat di dapur.
Potong kasar saja.
Tidak perlu potongan khusus.
- Ini akan diblender. - Baiklah.
Lalu keluarkan batang ini.
Sudah. Potong secara acak.
Lalu kita akan melakukan hal yang sama...
- Dengan paprika lainnya. - Baiklah.
Sejujurnya, Sel, keterampilan pisaumu tidak seburuk yang kuharapkan.
Kita akan beralih ke tomat saat ini.
- Berapa banyak? - Enam tomat.
Terima kasih, Sayang. Ini terasa bagus.
- Astaga! - Astaga.
Berikan saja kepadaku.
Astaga. Baiklah. Maaf.
Tidak apa-apa.
Jadi, untuk ini, kau cukup memotongnya.
Jadi, aku memotongnya menjadi dua.
Menciprat, itu yang sering kukatakan saat tomat mengenai talenan.
Baiklah.
Lalu potong menjadi enam bagian.
- Baik. - Jadi, aku bahkan tidak ingat...
Kali terakhir aku makan hidangan ini...
Tapi aku tumbuh sebentar di Nigeria.
- Ya. - Aku anak yang sangat nakal.
Aku dibesarkan di Bronx di Kota New York.
Ibuku bilang aku akan melakukan...
Liburan dua pekan mengunjungi kakekku di Nigeria.
- Begitu. - Aku ditinggal dua tahun di sana...
Untuk belajar menghormati...
Dan menghargai apa yang kumiliki di Amerika.
Itu indah, tapi apa kau... Tunggu, apa?
Ya. Aku juga berada di desa.
Aku harus pergi ke sekolah.
Tidak ada listrik.
Namun, aku belajar banyak hal yang harus dihargai di sini.
Aku juga belajar cara membuat makanan Nigeria...
- Dengan berada di sana. Ya. - Aku suka itu.
Jadi, itu saat kau mulai memasak?
Ibuku mendirikan perusahaan katering...
Dan dia memberiku celemek saat usiaku lima tahun...
Aku juga harus membantu.
Namun, aku belajar untuk menghargai bahan-bahan...
Dan dari mana asalnya...
Saat aku tinggal di Afrika. Kami harus beternak sendiri...
- Memetik sayuran sendiri. Dan... - Astaga.
Aku sangat bersyukur atas pengalaman itu.
Kita agak dimanja, bukan?
Sedikit.
Kita akan masukkan tomat itu ke mangkuk.
- Baiklah. - Lalu kita akan melanjutkan...
- Ke bawang bombai. - Akan kuambilkan bawang bombai.
Kau merindukan rambutmu yang sebelumnya?
Tidak.
Terkadang kau harus kehilangan sesuatu...
Untuk belajar menyukainya.
- Aku setuju. Aku suka itu. - "Kehilanganmu untuk mencintaiku."
- "Kehilanganmu untuk mencintaiku." - Entah kau tahu atau tidak.
Ada lagu kesukaanku yang mengatakan itu.
Aku pernah mendengarnya. Kau?
Aku perlu kehilanganmu Untuk mencintaiku
Baiklah. Matikan. Cukup.
Potong bawang bombai menjadi dua.
- Baiklah. - Potong bagian atasnya...
Dan kau akan potong bagian bawahnya.
Itu akan membuatnya sangat mudah dikupas.
Baik.
Aku memahami level kemampuanmu.
Baiklah.
Juga kepercayaan dirimu.
Itu sesuatu yang harus dihargai.
- Terima kasih... - Sama-sama.
Tapi itu semua bohong. Aku hanya bercanda.
Apa kau hanya berpura-pura di sini?
Tidak, aku selalu bilang, "Tersenyumlah.
Bersikaplah seolah kau tahu apa yang kau lakukan."
Itu akan membuatmu sukses dalam hidup. Pasti.
- Menurutmu kenapa aku di sini? - Itulah dunia hiburan dalam dirimu.
- Jadi, kita punya bawang bombai. - Baik, aku tidak akan berbohong.
Kurasa yang satunya salah.
Tidak ada tekanan di dapur ini.
- Baiklah. - Semua baik-baik saja.
Potong menjadi enam bagian dan masukkan ke mangkuk itu.
Aku suka moto itu. Tidak ada tekanan di dapur.
Saat aku tidak bisa mencapai nada tinggi di studio...
Mereka akan bilang, "Jangan takut."
Lalu aku melakukannya dengan percaya diri...
- Dan biasanya aku berhasil. - Astaga.
- Aku suka itu. - Jangan takut. Aku suka itu.
- Baiklah. - Lalu...
Kita akan mengambil salah satu bahan ini...
No comments yet. Be the first to leave one.