The first 200 lines.
Sampai.
Terima kasih banyak.
Kau seksi.
- Terima kasih. - Sst, jangan bicara.
Tetaplah seksi.
Aku punya nomor HP'mu.
Baiklah, jangan nakal.
Ibu?
Ayah?
Ayah, aku mohon.
Aku mohon.
Jangan...
Disini tertulis kau sekolah di Sekolah Hukum New York.
Di Long Island.
Aku tahu tempatnya.
Dan kau lulus musim panas yang lalu.
Ya, benar.
Akhirnya. Puji Tuhan.
Aku tak yakin Tuhan ada hubungannya dengan itu.
Apa yang kau lakukan sejak lulus?
Menangani kasus secara independen.
Mencari pengalaman bagus.
Mencoba bertahan hidup sambil menunggu pekerjaan impianku.
Hmm.
Dengarkan...
Aku mau jujur padamu.
Kau lulus sekolah hukum.
Kau bisa lulus. Itu bukan hal yang mudah.
Aku pekerja keras.
Tapi lulusan kami dari Harvard, Princeton, dan Yale.
Nn. Sacks...
Aku menyadari bahwa...
...aku bukan lulusan universitas terkenal.
Tapi ada yang bisa aku ceritakan padamu.
Kau tak akan bisa menemukan pekerja keras,
yang lebih gigih, yang punya hasrat dan energi,
determinasi dan inspirasi seperti yang aku punya.
Aku suka pekerjaan ini. Aku menghayati setiap detailnya.
Dan...
...aku paham anggapanmu terhadapku.
Kau punya anggapan itu sejak aku masuk ke sini.
Tapi tugasku untuk menyakinkanmu, karena itulah keahlianku.
Itu keahlianku. Aku ahli di bidang itu.
Itu takdir dari Tuhan untukku di muka bumi ini, Bu.
Maaf...
Aku mengerti...
Ambillah.
Terima kasih.
Selanjutnya.
Sialan.
Apa-apaan...?
Ini bukan kuncinya.
Kau yang melakukannya?
Bukan. Tapi kamu.
Oh, tidak, tidak...
Kau harus membiarkanku masuk.
Aku tebak kau pasti ada kasus yang akan selesai.
Ya, sebenarnya begitu.
Dan saat kau menang, kau membayarku $3000 untuk sewa 2 bulan kemarin?
Itu yang kau mau, kan?
Punya uang $3,000.00 untuk bayar sewa di akhir bulan.
Dengarkan aku.
Atau buang barangmu atau jual ke Goodwill.
Kau tak bisa lakukan itu.
Surat pemberitahuan 30 hari. Itu aturannya.
Kau benar-benar pengacara payah.
Aku sudah berikan surat pemberitahuan sebulan lalu.
Lisa.
Kau harus pulang.
Oke, senang bicara padamu.
Aaron...
...dengarkan aku.
- Lisa... - Ayahmu meninggal.
Aaron?
Uh...
Aaron?
Paddington.
Kemarilah, nak.
Sepertinya kau tak pernah melatih anjing ini.
Santai, nak.
Aku hanya ingin membantu Ibumu membereskan rumah saat Ayahmu tiada.
Tak apa-apa, Yates, Tolong kendalikan anjingnya.
Kau mungkin hebat dan pengacara ternama.
Tapi bukan berarti kau bisa melupakan asalmu.
Bagaimana aku bisa melupakannya?
Ibu?
Apa ini...?
Halo?
Hei, Bu.
Kau sudah datang.
Ya, tentu saja. Aku disini.
Senang kau bisa datang.
Kau kurus.
Aku siapkan makanan untukmu.
Maaf, sereal dan susunya habis.
Tak ada waktu belanja minggu ini.
Lisa biasanya mengajakku tapi...
...setelah kejadian itu...
Bu, tak apa-apa.
Ini sudah enak. Terima kasih.
Aku sering masak makan malam paling enak untuk Ayahmu.
Dia suka masakan ini.
Aku bisa makan lebih banyak.
Mungkin nanti kita bisa ke toko dan kau bisa membuatku gemuk seperti Ayah?
Itu tidak lucu.
Bu, kau mau bicarakan hal ini?
Tidak juga.
Tak perlu.
Kau sudah tahu yang perlu kau tahu.
Dia sudah meninggal.
Dia bangga padamu.
Pengacara muda mulai berkembang.
Beberapa minggu terakhir...
...dia sering membicarakanmu.
Saat kau kecil dan suka mencari barang antik,
kau akan menemukan barang yang bagus...
...untuk diambil dan dijual ke toko.
Kau juga sering terlibat sedikit masalah.
Aku kehabisan perban.
Bu, maaf aku tak bisa menemani hari-harimu.
Kehidupan bisa menghalangi kehidupan yang lain, kan?
Kau seharusnya menghubungiku.
Sudah.
Kau sudah habiskan sereal'mu?
Maaf. Aku tak bermaksud membuatmu takut.
Wow...semua ini dari toko Ayahku.
Aku tahu.
Aku yang membantumu Ibumu menindahkannya kesini.
Baiklah. Aku tahu.
Seharusnya aku lebih sering ke sini.
Tidak perlu. Kami tahu kesibukanmu.
Tapi memang kau terlalu sibuk...
...untuk yang lain dan orang lain.
Bu, aku minta maaf.
Banyak orang menanyakan dirimu.
Mereka ingin ketemu kamu.
Aku tak bisa.
Tak apa-apa. Jangan khawatir. Biar aku saja, oke?
Biar aku saja.
Biar aku saja.
Terima kasih.
Hmm.
Hari yang besar, ya?
Bagaimana kau tahu?
Iklan yang efektif.
Yang penting laku, kan?
Mana ibumu?
Jangan tanya.
Berikan dia waktu.
Mana pacarmu?
Jadi kau sudah dengar, ya?
Tidak. Aku tak dengar apapun.
Aku tahu kau tak bisa terus melajang.
Pacarku sedang kerja.
Namanya Derek.
Derek si brengsek itu?
Dia sudah berubah.
Dia seorang Sherif sekarang.
Si anak hilang telah kembali.
- Seharusnya kau bahagia untukku. - Apa kabar, Ty?
Apa kabar, Ty?
- Bagaimana keadaanmu? - Keadaanku baik.
Aku harus pergi.
- Apa kau tak mau beli sesuatu? - Tidak.
Ada apa tadi?
Aku dan pacarnya pernah punya masalah.
Masalah? Masalah apa?
Bukan soal itu, bung. Aku sudah tobat selama 3 tahun.
Oh.
Kau tahu bagaimana kehidupan kota kecil, kan? Kau sudah pulang?
Ya, belum lama.
Aku hanya ingin menemani Ibuku kembali pulih.
Ya, dia membutuhkanmu.
Dia bilang kau sedang cari partner untuk firma.
Aaron?
Apa yang kau lakukan?
Sial.
Baiklah, aku harus pergi. Kau bereskan urusanmu dulu.
Nanti aku hubungi lagi, ya?
- Baiklah. - Bagus.
Ada apa ini? Letakkan itu.
- Bu... - Letakkan itu.
- Letakkan itu. - Bu, kemari lah.
Aku cuma beres-beres. Itu saja.
Ini hasil kerja Ayahmu.
Dia menghargai semua barang-barang ini.
Aku tahu, tapi...
- Tapi apa? - Tapi Ayah sudah...
Jangan kau teruskan.
Jangan kau teruskan.
Baiklah. Maafkan aku.
- Aku pikir... - Jangan, jangan...
Masalahnya kau tidak berpikir.
Jika bisa berpikir, kau tak akan seenaknya ke sini setelah bertahun-tahun...
...dan menjual barang-barang Ayahmu.
Bu, itu tidak adil.
Aku hanya ingin membantu.
Jadi kau cuma mau membantu. Baik sekali kamu.
Kau bisa pergi berbulan-bulan tanpa mengabari kami.
Telepon saja tidak.
No comments yet. Be the first to leave one.