The first 187 lines.
The Prince Who Turns Into A Frog
=Prince Become Frog=
=Episode ke-7=
=Gambaran Rencana Renovasi Penginapan Chiwa=
Ini gambaran rencana renovasi penginapan.
Aku coba gambar secara garis besar.
Silakan dilihat.
Bagi-bagikan.
Mungkin tidak cukup.
Ini.
Hei.
Membersihkan penginapan masih bisa kupahami.
Tapi kenapa harus mengubah sistem keuangan?
Karena laporan keuangan sebelumnya seperti buatan anak TK.
Thongnam, kau!
- Tenang, tenang. - Cukup, cukup.
Sudah, Lookpat.
Kak, biarkan dia selesai bicara.
Tenang, tenang, tenang.
Kenapa?
Aku yang bertanggung jawab atas keuangan.
Mana yang tidak sistematis?
Katakan.
Begitu ya?
Maaf, Lookpat.
Begini.
Pembukuan bukan hanya...
...mencatat waktu dan jumlah uang yang masuk dan keluar.
Harus detail sampai dari mana uangnya.
Pengeluaran digunakan untuk apa.
Untuk pengeluaran, dibagi dua bagian.
Ada pengeluaran normal.
Contohnya gaji yang harus dibayar tiap bulan.
Juga ada pengeluaran tak pasti.
Contoh makanan, uang minyak dan lainnya.
Menurutku semakin detail pembukuan,
semakin kita bisa berhemat.
Mengerti?
Mengerti.
Ya begini saja.
Pertanyaan.
Katakan.
Kamu mau mengubah ini dan itu, apa uangnya ada?
Sekarang uang untuk makan saja sulit didapat.
Benar, benar.
Sebenarnya tidak selalu ditentukan oleh uang.
Tapi ditentukan oleh bahan yang kita pakai,
dan apa yang mau diperbaiki.
Kulihat desa kita punya banyak benda yang bisa dipakai.
Hanya saja semuanya tak maksimal memanfaatkannya.
Sungguh berbakat.
Kenapa?
Ucapannya ini, memang seperti CEO Chanwell.
Apa ingatannya sudah pulih?
Ha? Ingatannya pulih?
Kepala Desa.
- Ha, ada apa? - Ada apa?
Ada pertanyaan?
Tidak, aku tidak ada.
Dia, dia.
Katakan.
Kurasa semua yang kau tulis ini.
Tidak ada masalah.
Tapi jika sudah dilakukan sesuai rencana.
Juga tak bisa menjamin ada yang datang berwisata.
Benar.
Perkataan ibuku benar.
Apa gunanya melakukan ini?
Ehm...
Suara apa itu?
Berhenti.
Semua penduduk desa.
Entah kalian dari Desa Chiwa atau Desa Chiwu, Chiwi...
...atau orang dari desa lain.
Asalkan berasal dari daerah ini,
silakan berpartisipasi dalam Festival lomba menari tahunan.
Ini diselenggarakan oleh penanggung jawab daerah.
Tahun ini selain ada piala,
kita punya hadiah lima ribu baht.
Berhenti, berhenti.
Hentikan.
Bisa kecilkan suaramu?
Kita sedang rapat.
Kak Thongnam, apa kabar?
Kebetulan sekali bisa bertemu denganmu.
Halo.
Bawa mobil kemari, bagaimana bisa tidak ketemu?
Bedak di wajahmu selain untuk menyamarkan flek.
Apa juga menyamarkan otakmu?
Jangan ikut campur, anjing kecil.
Jangan banyak bicara.
Kak Thongnam.
Jangan lupa mendukung Sasa saat lomba tari nanti.
Dukungan pertama bisa menambah 2 poin.
Hei, Thong Hansa, siapa itu Sasa?
Paman.
Tentu saja itu nama nona kami.
Baru dinamakan tadi pagi.
Dipanggil Sasa.
Mengganti nama dalam sekejap.
Benar, aneh.
Kurasa Hansa lebih enak didengar.
Kak Thongnam, kau rasa Hansa lebih bagus?
Benar.
Kalau begitu namaku tetap Hansa saja.
Panggil Hansa saja.
Panggil Hansa, Kak Thongnam.
Ada-ada saja.
Huh, membosankan.
Kamu datang hanya untuk mengatakan ada lomba menari ya?
Kami sudah tahu.
Kamu sudah boleh pergi, pergilah.
Kita mau melanjutkan rapat.
Hei, Bibi!
Kak Lookpat.
Aku sedang bicara dengan Kak Thongnam-ku.
Bukan bicara denganmu, Bibi.
Bibi, Bibi kepalamu.
Mundur, mundur.
Tunggu, Hansa.
Aku mau tahu lomba apa yang kau maksud.
Bisa dijelaskan padaku?
Lihat, 'kan, Bibi?
Pria ini sedang bicara denganku.
Tidak bicara denganmu.
- Hei. - Putriku.
Tenang, tenang.
Lomba tari diadakan setiap tahun.
Lomba ini untuk para wanita.
Belikan bunga dan ajak menari orang yang kau dukung.
Tapi...
...bunga pertama yang diberikan,
harus menurut perasaan sendiri.
Lomba gila ini?
Ini idemu untuk memperbaiki penginapan?
Apa bagus begini?
Bagus sekali.
Ini sangat bagus untuk desa.
Tarian akrobat,
tarian biasa atau tarian penuh perasaan,
bisa ditemukan di internet bukan?
Tapi tarian tradisional begini...
...hanya bisa disaksikan kalau datang kemari.
Apa bisa begini?
Apa sungguh bagus?
Ini tergantung bagaimana kau memperkenalkannya.
Kalau bisa populer di media sosial,
orang-orang akan tertarik.
Ingin tahu apa ini.
Saat mereka ingin tahu,
maka akan tertarik datang untuk melihat langsung.
Ya, benar, benar.
Tapi ngomong-ngomong.
Adegan di televisi,
di dalam drama juga banyak yang seperti ini.
Kedengarannya bagus.
Hei, pengetahuanmu cukup kaya.
Aku pernah membacanya.
Di mana aku membacanya?
Sangat familier seperti pernah melihatnya langsung.
- Hei... - Ehm.
Tamunya di sana.
- Cepat antarkan barangnya. - Baik.
Jangan lupa terima uangnya.
- Baik. - Sana.
Maaf, membuat Kamu menunggu lama.
Ini pesananmu.
- Sudah datang ya? - Ya.
Ini pesanan Kamu.
Sungguh tak bisa tenang sedetik pun.
Hampir ketahuan.
Ini kembaliannya.
Sudah selesai?
Sudah.
Terima kasih, Paman.
Untukmu.
- Terima kasih. - Terima kasih.
Nitcha, cepatlah makan.
Ini semua kesukaanmu.
Kamu saja yang makan, aku tak nafsu makan.
Nitcha, aku tahu kau mencemaskan Kin.
Tapi kau bisa sakit kalau terus begini.
Tapi aku sungguh tidak lapar.
Nitcha, Nitcha.
Kamu masih ingat ya?
Ingat.
Jika Nitcha kecil tak mau makan,
No comments yet. Be the first to leave one.