The first 200 lines.
Lagi tehnya, Bapa?
Tidak, terima kasih, Mrs. Sigman, ini cukup.
Kau ambil resiko besar, Bapa, melewati gunung sendirian.
Kau harusnya tunggu rombongan pedagang.
Aku ingin sekali sampai ke misi secepat yang aku mampu, Dr. Sigman.
- Ada apa, Celeste? - Lee Kwan, Nona Anne.
Bapa, aku tahu kau lelah sekali, tapi ada pasien di bangsal, sekarat.
Dia telah bertahan hidup, menunggumu sampai.
Scottie merasa keabadiannya dipertaruhkan, Bapa.
Tapi itu benar!
Tenanglah, Scottie, Lee Kwan berusia 80 tahun.
Contoh bagus atas kelangsungan hidup yang tak layak
tapi jangan bilang aku harus memandangnya serius sebagai jiwa yang abadi.
Sudahlah, Dave!
Maaf, Scottie. Begitu kau selesai dengannya, Bapa, aku senang hati akan lakukan post mortem padanya.
Koperku hanyut di sungai,
piala, minyak suci, jubahku.
Dia benar-benar butuh pemberkatanmu, Bapa.
Di mana orang ini?
Lee Kwan, Bapa O'Shea di sini.
Silakan duduk, Bapa.
Berkati aku, Bapa,
sudah lama semenjak aku...
mengakui dosa-dosaku.
Tenanglah, orang tua, tenang.
Semua yang dia doakan, Bapa, untuk bertahan hidup cukup lama
buatmu untuk sampai kemari dan ada di dekatnya di akhir hayatnya.
Dia punya keyakinan besar dan ketabahan.
Aku sedih dia tak bisa dapat upacara terakhir yang dia tunggu-tunggu.
Bisa kita berdoa, Bapa?
Ya.
Ya, tentu saja.
Dalam nama Bapa, Putera, dan Roh Kudus. Amin.
Bapa kami yang ada di surga, dimuliakanlah nama-Mu,
datanglah kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di atas bumi seperti di dalam surga.
Berilah kami rejeki pada hari ini dan ampunilah kesalahan kami,
seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami.
Janganlah masukkan kami ke dalam pencobaan tetapi bebaskanlah kami dari yang jahat. Amin.
Salam Maria, penuh rahmat, Tuhan sertamu.
Terpujilah engkau di antara wanita,
dan terpujilah buah tubuhmu, Yesus.
Santa Maria, Bunda Allah, doakanlah kami yang berdosa ini sekarang
dan waktu kami mati.
Amin.
Pasien tercinta Scottie sudah meninggal.
Ayo pulang.
Selamat pagi, Bapa.
Kau mengharapkan misa?
Misa?
Maafkan aku, aku...
belum terjaga sepenuhnya.
- Namamu siapa? - John Wong, Bapa O'Shea.
Aku urus semuanya buat pastor, merawat rumah, pembunyi lonceng gereja, kadang putra altar.
Mencuci dan menyeterika pakaian buatmu.
Aku bawa daftarnya juga. Baca daftarnya sekarang, Bapa O'Shea?
Ya, ya, bacakan daftarnya.
42 pernikahan.
Apa?
42 pernikahan, banyak bulan tanpa pastor.
Begitu.
36 pembaptisan, harusnya lebih. Mungkin lebih sekarang.
36 itu angka yang bagus.
Apa lagi?
Banyak orang ingin mengaku, meminta secepatnya.
Tugas benar-benar menumpuk, bukan?
Berapa lama semenjak karavan pedagang terakhir melintas kemari?
Sudah lama semenjak karavan terakhir.
Baiklah, John, aku akan ganti pakaian.
Ya, Bapa.
Pagi, aku segera menghampirimu.
Bawa dia ke klinik dan selesaikan pemeriksaannya.
Duduk.
Aku senang kau datang kemari.
- Cerutu? - Tidak, terima kasih.
Kotak terakhirku.
Aku pesan beberapa dari pantai, jika karavan sampai kemari.
Wong bilang padaku itu sudah lama semenjak karavan terakhir melintas kemari.
Benar.
Aku rasa mereka sudah bilang padamu di Sinkiang kalau aku merekomendasikan menutup misi ini.
Apa yang uskup putuskan untuk dilakukan?
Akankah aku diutus jauh-jauh kemari jika uskup memutuskan untuk menutup misinya?
Kita terus membukanya, tentu saja.
Uskup keliru. Misi seharusnya ditutup.
Kau sudah lihat klinikku, satu pasien belum dimandikan.
Dulu ada 20 orang seperti dia. Itu membuang waktu dan uang.
Ada banyak lagi dalam misi ini daripada di klinikmu, benar, kan, Dokter?
Adakah?
Dengar, salah seorang pastor kami tewas karena longsoran batu.
Bapa Coleman, pastor sebelum kau, terkena serangan jantung.
Orang China memandang pasti ada yang salah dengan cara hidup yang tak bisa menjaga kesehatan pastornya sendiri.
Mereka merasakan hal yang sama pada rumah sakitku, makanya mereka pergi ramai-ramai.
Tak ada alasan logis untuk melanjutkan misi ini.
Masalahnya, uskup tak berpikir alasan logis
sama pentingnya seperti alasan spiritual.
Itulah bedanya antara profesiku dengan profesi kalian.
Aku mungkin lebih tertarik dalam hal-hal mendasar yang kau pikirkan, Dokter.
Mari bicarakan hal penting ini.
Ini bukan hanya masalah klinikku.
Di atas sana di gunung, ada panglima perang bernama Yang, kita berada di pinggiran
wilayahnya. Uskup sudah beritahukan padamu tentangnya?
Ya, aku rasa begitu. Meskipun aku tahu kebijakan Yang
tidak untuk menghalangi misi ini.
Sejumlah pasukannya telah menyerang desa-desa terpencil
selain juga bagi Yang, ada politik yang membahayakan sekarang.
Mereka sudah bilang padamu di Sinkiang berapa banyak misi yang dipaksa untuk ditutup?
Aku...aku tak berpikir aku tahu jumlah pastinya.
Aku terkejut, Bapa. Uskup mengutusmu kemari membawa begitu sedikit informasi.
Mungkin dia tak berpikir itu penting.
Aku tak suka jawaban itu. Ada tiga nyawa dipertaruhkan dalam misi ini. Istriku, perawat Amerika, dan aku sendiri.
China sedang diambang kehancuran karena perang saudara.
Kupikir kami berhak atas suatu informasi yang uskup berikan padamu.
Uskup dan aku sebenarnya bukan teman yang dekat.
Apa itu diharapkan lucu?
Tempat ini sudah menewaskan dua pastor.
Aku tak berniat menambahkan diriku dan istriku
dalam daftar martir. Pahami itu baik-baik.
Dan ketika aku ajukan pertanyaan, aku harapkan jawaban yang beradab.
Kau tidak sedang bicara dengan jemaat parokimu sekarang.
Kau tidak sedang bicara dengan pasien kulimu.
Jangan mengandalkan terlalu banyak pada kolar itu, Bapa O'Shea.
Kau menginginkanku untuk lekas pergi?
Aku rasa aku sedikit kelewatan.
Istriku memintaku mengundangmu untuk makan malam nanti malam.
Dia sepertinya berpikir kau pasti sudah bosan dengan masakan China.
Terima kasih, memang.
Kita bisa lanjutkan pembahasannya nanti menyangkut sesuatu tentang obat.
Aku akan menantikannya, Dokter.
Pagi.
Selamat pagi, Bapa. Aku baru mau ke desa
tapi jika kau mau lihat rumah sakitnya, aku dengan senang...
Itu mungkin sangat menarik, tapi
aku pikir aku lebih ingin melihat-lihat desanya.
Penduduk desa belum melihatmu juga. Ini akan jadi kesempatan langka.
Aku ragukan itu.
Sudah lama semenjak aku jalan-jalan dengan wanita cantik.
Kau selalu mengejutkan orang seperti itu, Bapa?
Kenapa?
Orang tak berpikir para pastor pernah jalan-jalan dengan wanita.
Aku tidak terlahir sebagai pastor.
Sebenarnya, aku bisa mengingat hari waktu aku memilih juru rias terkasar di kampus.
Benarkah, Bapa?
Di mana rumahmu dulu di Amerika?
Columbus, Ohio.
Pasti kesepian bagimu ada di sini.
Kadang, tapi Beryl dan aku melakukan banyak hal bersama dan selalu ada pekerjaanku.
Beryl?
Istrinya Dr. Sigman. Dia mengagumkan.
Aku belajar banyak darinya.
Saat yang tepat untuk memuji dua wanita yang mengagumkan.
Itu sanjungan yang berlebihan, Bapa O'Shea.
Tak ada yang mengagumkan tentang diriku.
Mengagumkan setidaknya bagiku, karena kau harus kemari.
Ceritanya panjang, Bapa, aku mungkin bisa buat kau bosan suatu waktu jika kau cukup bersedia mendengarkannya.
Aku sudah bilang kau itu selebriti, Bapa.
- Sepertinya begitu. - Selamat pagi, Bapa.
Ini Ben So Lin, Bapa.
Selamat pagi.
Kami sudah menunggumu lama, Bapa.
Aku senang sekali di sini.
Ini, Bapa, manusia tertua di desa kami,
Ayah dengan anak tak terhitung.
Dia meminta berkatmu.
Aku juga meminta berkat.
Itu bagus sekali.
Kau memahami mereka begitu baik.
Itu satu-satunya hal untuk dilakukan agar mengesankan penduduk desa.
Mungkin itu sedikit terlalu bagus.
Orang China suka sikap seperti itu. Kau akan tahu.
Mereka akan ramai-ramai ke misi sekarang.
Itu harusnya buat Dr. Sigman senang.
Aku bisa penuhi kliniknya dan misi sekarang bisa tetap dibuka.
Bukankah kau senang, Bapa, melihat misinya diteruskan?
Jalan itu menuju ke mana?
- Desa nomor lima. - Tak ada yang lain?
Tidak.
Dr. Sigman bilang padaku karavan pedagang melintas kemari sering.
Dulunya. Itu sudah berbulan-bulan semenjak karavan terakhir.
Itu artinya tak ada transportasi lain ke pantai?
Maksudmu selain karavan? Aku takut tidak.
Begitu.
- Kau terjebak di sini, Bapa O'Shea, terlepas kau suka atau tidak. - Ya.
Kelihatannya begitu, kan?
Maaf mengganggu, Bapa. Aku rapikan tempat tidurnya.
Tidak, terima kasih, John.
Aku rapikan tempat tidurnya sendiri.
Bapa harus mengunjungi enam desa secepatnya untuk menemui warga.
- Haruskah? - Sangat perlu. Hari ini mengunjungi satu desa
untuk memberkati warga. Yesus meninggal demi semua.
Kau punya pandangan yang bagus, John, Yesus meninggal demi semua. Tak ada kesenangan.
Kau mengharapkan misa besok, Bapa?
Aku takut aku tak bisa menggelar misa besok, John.
Besok minggu, akan jadi misa pertama di St. Mary's sejak Bapa Coleman meninggal.
Koperku yang hanyut di sungai berisi jubah dan pialaku.
Aku takut kita harus tunggu sampai aku bisa memperolehnya kembali.
Seluruh penduduk desa akan ke gereja besok.
Harus menunggu. Mereka bisa memikul dosa mereka sedikit lebih lama.
Tidak, Bapa O'Shea keliru. Dosa tak bisa menunggu.
Warga sudah lelah. Memikul dosa mereka sudah lama semenjak Bapa Coleman.
Berat. Bapa O'Shea mengangkatnya, setelah itu warga tidak kelelahan.
Apa yang kau sarankan, John?
No comments yet. Be the first to leave one.