The first 200 lines.
Hei.
Kamu baik-baik saja?
Kamu Hantu Universitas Seoul?
Apa?
Sedang apa kalian di sana?
- Benar. - Astaga.
- Kamu baik-baik saja? - Ya.
Kamu baik-baik saja?
Kamu sama sekali tidak terluka?
Bajumu baik-baik saja?
Kamu tetap mendadak muncul.
- Apa? - Kamu tidak mengingatku?
Tentu saja aku mengingatmu.
Hari ini saja, kita sudah tiga kali bertemu.
Aku sangat berutang budi kepadamu.
Aku bahkan tidak tahu bagaimana cara membalasmu.
Aku tidak tahu ada apa denganku hari ini.
Nona Im Chi Woo. Senang berjumpa denganmu.
Kubilang senang berjumpa denganmu.
Hei, tarik ceratnya.
Baik.
Aku harus menarik ceratnya.
Sekali lagi terima kasih atas semuanya hari ini.
Permisi.
Ya.
Apa? Koyok?
Kamu bisa membelinya sendiri.
Dia pasti sibuk.
Dia melupakan semuanya.
Dia Hantu Universitas Seoul.
"Episode 3"
Semua orang membahas dia selagi kamu masuk militer.
- Hantu? - Ya.
Dia muncul di mana pun seperti hantu.
Yang terpenting, ada orang yang melihatnya
di toserba dan restoran barbeku secara bersamaan.
Berhentilah melantur.
Dia juga berada di warnet dan toko es krim secara bersamaan.
Kudengar orang-orang menjadi takut.
Apa hantu tidak punya pekerjaan yang lebih baik?
Berapa banyak pekerjaan paruh waktunya?
Apa itu masuk akal?
- Dia datang. - Itu dia.
Apa-apaan ini?
Siapa yang membuang kulit pisang di sini?
Kudengar
dia muncul di semua tempat yang kita tahu di sekitar sini.
Maksudku, bagaimana bisa hantu
begitu realistis dan sederhana?
Astaga.
Siapa yang melakukan ini?
Panas! Astaga.
Selain itu, kalian pernah mendengar hantu basah kuyup kehujanan?
Kudengar dia bisa melakukan teleportasi dalam sekejap.
Baik. Lihatlah.
Apa yang akan kamu lakukan?
Aku akan mencari tahu untuk kalian.
- Jangan. - Kamu minum terlalu banyak.
- Hei, jangan. - Lihat saja.
- Hei. - Hentikan dia.
Astaga.
- Permisi. - Astaga!
Permisi!
Apa yang dilakukan oleh Jin Yoo?
Kamu manusia.
Astaga.
Aku akan mengambilnya besok.
Baiklah.
- Halo. - Halo.
Tunggu sebentar.
Ini.
Adikku memakai payungmu
dan menghilangkannya.
Hanya ini payung yang ada di rumah kami.
Aku benar-benar minta maaf.
Tidak masalah.
Bukankah ini payung untuk anak-anak?
Terima kasih.
Dan aku benar-benar minta maaf.
- Halo. - Halo.
Halo.
- Selamat datang! - Mau pesan apa?
Kalian sudah siap memesan?
Mari memesan galbi.
- Baik, ayo pesan itu. - Beri tahu aku jika sudah siap.
- Mau makan apa? - Kita harus memesan apa?
- Galbi? - Baiklah.
Kami akan memesan galbi.
- Teman-teman, ayo minum. - Minumlah.
Makanan kalian sudah datang.
Tunggu!
- Tidak masalah. - Kubilang akan membawanya.
Astaga, berat sekali.
- Tolong ganti panggangan kami. - Baiklah!
- Tidak! Kami tidak butuh yang baru. - Baiklah.
- Baiklah. - Dagingnya hangus
dan tersangkut di panggangan. Ada apa denganmu?
Rasa daging hangus sangat enak. Makan saja.
Jin Yoo, kamu menyebalkan.
Apa tindakanmu jika kami semua terkena kanker karena kamu?
Kanker apa maksudmu? Coba saja.
Makanlah.
- Astaga! Sial. - Ya?
Sekarang pukul 6.00.
- Diamlah. - Itu...
Kenapa kamu berisik di tempat umum?
- Aku akan masuk sekarang. - Cepatlah.
Kenapa mendadak?
Aku tidak tahu.
Dia punya pekerjaan paruh waktu lain selain ini.
- Dia juga berhenti di tempat lain. - Benarkah?
Benarkah terjadi sesuatu kepadanya?
Anda tahu nomor ponselnya?
Dia tidak punya ponsel.
Begitu rupanya.
Dia menghilang begitu saja
dan muncul setelah 15 tahun.
- Baiklah. - Selamat menikmati.
Terima kasih.
Tidak kusangka kamu lebih suka bibimbap daripada pasta..
Aku juga bisa mencampur nasi.
Makanan terasa lebih enak saat disiapkan oleh orang lain.
Begitu juga kopi. Barista kopi yang membuatkan kita.
Rasanya jauh lebih enak daripada buatan kita sendiri.
Sepertinya kamu pria yang baik.
Pria baik tidak cocok untukku.
Mereka membuatku ngeri dan tubuhku terasa gatal.
Sayang sekali.
Aku akan mencampur nasimu selama seumur hidupmu.
Apa?
Menikahlah.
Menikahlah denganku.
Dengar. Pernikahan itu untuk dua orang yang saling mencintai.
Kamu tidak boleh melamar orang
untuk menikah denganmu padahal baru bertemu dua kali.
Lantas kapan aku boleh melamarmu?
Dalam kencan kita yang ketujuh atau kesepuluh?
Baiklah. Mulai hari ini, kita akan bertemu setiap hari.
Hari Selasa depan adalah kencan kesepuluh kita.
Maka aku akan melamar lagi. Bagaimana?
Akankah kamu melamarku
andai aku bukan putri tunggal Grup Hansoo?
Yi Yoo, kamu naif.
Apa?
Kamu memang berasal dari keluarga Grup Hansoo.
Mengabaikan statusmu dan memperlakukanmu begitu
berarti kamu ingin dipandang sebelah mata?
Jika ada pria yang bisa melihatmu
sebagai Choi Yi Yoo, bukan putri keluarga Grup Hansoo,
jangan berkata apa pun dan pergi saja.
Itu bohong.
- Kamu buaya darat, bukan? - Bukan.
Aku tidak pernah menggenggam tangan wanita dengan benar.
Terserah kamu percaya atau tidak.
Pria berusia 34 tahun tidak pantas membanggakannya.
Ini.
Cobalah.
Rasanya jauh lebih enak daripada campuranmu sendiri.
Kamu memang buaya darat karena mengalihkan topik.
Aku lulus ujian advokat dalam satu kali tes.
Aku lulus ujian dalam tahun akhir kuliah.
Aku peringkat kelima dari angkatanku di institut
dan mengikuti akselerasi untuk jadi pengacara setelah pengadilanku.
Kapan aku ada waktu untuk punya pacar dan menjadi buaya darat?
Kamu mengutarakan pikiranmu dan selalu menyombong.
Aku menyebalkan, bukan?
Bukan hanya mi yang bisa lembek.
Nasi juga bisa menjadi lembek jika tidak segera dimakan.
Makanlah.
Kamu sudah pulang, Sayang.
Kamu bilang tidak terluka.
Kenapa hari ini tidak bekerja? Kamu hanya berbaring di ranjang?
Entahlah. Otot-ototku pasti tertarik.
Punggungku sakit dan bahuku terasa kaku.
Aku tidak bisa bekerja hari ini.
Katamu memasak adalah impianmu.
Katamu bisnis truk makanan dijamin akan sukses.
Kalau begitu, perbaiki mobil itu.
Bumper depannya terus berderak karena penyok.
Aku tidak bisa keluar. Memalukan.
Tidak ada uang untuk memperbaiki mobil.
- Kita harus mencari rumah dahulu. - Kamu kejam sekali.
Aku?
Aku kejam?
Kamu lupa masalah besar yang kamu sebabkan hari ini?
Mana mungkin? Pikirmu aku bodoh?
Bagaimana dengan koyok?
Kamu tidak membelinya?
Pakailah sebanyak mungkin.
Tutupi tubuhmu dengan koyok dan berumur panjang.
Sudah kuduga kamu akan membelinya. Kenapa kamu selalu mengomel?
Apa ini?
Bukan apa-apa.
Kamu mau pergi ke mana? Bantu aku menempel koyok!
Aku harus menempel ini di pinggangku.
Entah apa aku bisa mencapainya.
Kenapa Ayah pulang larut?
Hai, Sayang.
Ayah pulang. Tidurlah lagi.
Kejadiannya sudah lama
No comments yet. Be the first to leave one.