The first 200 lines.
Hari ini, pada tahun 1442,
aku, Yi Do, Raja Joseon...
...memohon kepada Yongshinho dari Baegaksan...
Jika kau memakai bahasa Mandarin,
apa para dewa negeri ini paham?
Ucapkan dalam bahasa Korea.
Ya, Dewa Hujan!
Kami berada di ambang kematian akibat kekeringan.
Rakyat sudah haus akan hujan selama enam bulan.
Apa ini hukuman-Mu...
karena raja yang tak layak?
Ya, Dewa Hujan!
Memakai jubah hitam di cuaca panas ini,
aku yang akan menerima hukumannya.
Tolong bebankan semua kesalahan kepadaku
dan berkati tanah ini dengan hujan manis!
Ambil jubahku.
Kau lebih baik dariku.
Ada apa, Baginda?
Kau sudah bekerja tanpa lelah untuk membuat buku-buku itu.
Kau bahkan menyertakan gambar
untuk mereka yang tak bisa membaca.
Itu hanya selembar kertas yang tak berguna.
Aku menjalani hidup yang sia-sia
dan membuang-buang waktu membuat sampah seperti itu!
Kenapa itu sampah, Baginda?
Tidak peduli berapa banyak buku yang kubuat,
rakyat biasa tak bisa membacanya!
Itu membusuk di gudang.
Itu yang membuatnya menjadi sampah!
Itu sebabnya
Kau bekerja keras menciptakan huruf
yang mudah dipelajari.
Menurutku, membuat huruf baru itu
di luar kemampuanku.
Kenapa berjuang sendirian
saat kau punya para menteri istana yang pintar?
Merekalah
yang paling menentang huruf-huruf itu.
Mengetahui cara membaca bahasa Mandarin
sudah memberi mereka kekuasaan selama beberapa generasi.
Mereka tak mau kehilangan hak istimewanya.
Yang Mulia.
Bersamaan dengan kunjungan kami,
kita sudah diberkati dengan hujan.
Surga pasti senang dengan
ikatan Joseon dan Jepang, Baginda.
Kenapa kalian datang kali ini?
Yang Mulia! Tolong selamatkan hidup kami!
Apa maksudmu?
Jika tak bisa membawa Tripitaka Buddha,
kami bersumpah tak akan kembali hidup-hidup
dan menyeberangi lautan, Baginda.
Namun, aku memberimu salinan cetaknya
setiap kalian datang.
Bukan buku yang kami inginkan,
tetapi balok kayu asli.
Yang Mulia.
Apa?
Kalian ingin harta nasional kita?
Joseon sudah menolak agama Buddha
dan menyembah Konfusius, Baginda.
Itu tak dibutuhkan di sini.
Mendiang Raja Jeongjong berjanji untuk memberikannya kepada kami,
jadi kami membangun sebuah kuil
untuk melestarikannya, Baginda.
Jika janji raja mendiang tak ditepati,
bagaimana bisa Joseon menjadi negara yang beradab, Baginda?
Menyegarkan sekali.
Ayah, apa yang akan kau lakukan terkait Tripitaka itu?
Agama Buddha ini, agama Buddha itu.
Suyang? Anpyeong? Ayo, minum.
Hanya satu gelas.
Minuman keras adalah racun untuk diabetes.
Hanya satu.
Berapa lama kita harus menunggu?
Jika kau tak bisa memberi kami Tripitaka itu,
tolong bunuh saja kami!
Tolong bunuh kami!
Kenapa ragu untuk memberikannya kepada mereka, Baginda?
Karena kita tak bisa membakar semua kuil
dan membunuh para biarawan,
menyingkirkan Tripitaka itu
adalah hal yang harus kita lakukan sebagai penganut Konghucu.
Rakyat masih percaya kepada Buddha.
Ini akan menimbulkan keributan.
Jika kita menyingkirkan akar agama Buddha
yang dipercaya dan diyakini rakyat jelata,
tak akan ada alasan untuk keributan.
Walau Tripitaka itu
hanya 80.000 lauh kayu untuk kita,
itu bisa menjadi simbol yang kuat
untuk orang Jepang yang percaya pada Buddha.
Jika negara ini bersatu
karena simbol itu,
siapa yang tahu apa yang akan mereka lakukan berikutnya?
Ini masalah yang rumit.
Diskusikan lebih lanjut. Ayo, bicarakan besok.
Besok, Baginda?
Kenapa tak menyuruh mereka untuk segera pergi, Baginda?
Kau orang yang tegas
dalam melihat apa yang kau inginkan.
Namun, sepertinya kau sudah tak tertarik dengan istana, Baginda.
Duduk dan bicaralah.
Misalnya saja ritual hujan.
Kau menundanya sampai tak punya pilihan.
Sekarang, hujan tak berhenti!
Tripitaka itu bukan sekadar
kumpulan Kitab Suci Buddha.
Itu jauh lebih berarti.
Sekelompok kecil penganut Konghucu
yang berkuasa yang memperdebatkan Tripitaka
memperlakukan keringat
dan air mata rakyat seperti hal yang biasa!
Apa yang bisa kita lakukan?
Ada seorang pria yang bisa menyelesaikan ini,
tetapi dia bodoh dan keras kepala.
Aku akan mengurus sisanya, Pak.
(Kuil Haeinsa, Ruang Penyimpanan Tripitaka Koreana)
Tuan.
Tuan!
Tuan.
Tuan.
Ini surat dari biksu kepala Kuil Daeja-am.
- Hakjo. - Ya.
Ayo, pergi ke Hanyang.
Apa kau Shinmi?
Terima kasih sudah datang jauh-jauh.
Selamatkan kami, Buddha yang Pengasih!
Joseon harus menepati janjinya.
Selamatkan kami, Buddha yang Pengasih!
Joseon harus menepati janjinya.
Selamatkan kami, Buddha yang Pengasih!
Joseon harus menepati janjinya.
Selamatkan kami, Buddha yang Pengasih!
Joseon harus menepati janjinya.
Selamatkan kami, Buddha yang Pengasih!
Joseon harus menepati janjinya.
Apa kalian pengemis?
Siapa kau?
Aku?
Aku adalah pelindung Tripitaka di Kuil Haeinsa.
Aku murid Buddha.
Kasihanilah, Tuan!
Jika kami tak bisa mengambil kembali Tripitaka,
keluarga kami juga akan dibunuh!
Aku tak bisa memberikannya kepada kalian
dan kalian tak bisa mengembalikannya.
Jadi, mari kita mati saja di sini.
Pemilik Tripitaka itu bukan raja,
menteri istana, atau biksu,
melainkan rakyat Joseon.
Jika kalian mau mengambilnya,
mintalah izin mereka dahulu.
Kasihanilah kami!
Tiongkok, Tibet, Khitan, dan Goryeo.
Penduduk asli membuat punya mereka sendiri.
Kalian juga harus membuatnya sendiri.
Bahkan di negara besar seperti Goryeo,
butuh 16 tahun untuk membuatnya.
Kami tak punya kemampuan untuk membuatnya.
Walau butuh waktu 100 tahun,
jika bukan buatan kalian sendiri,
itu hanyalah potongan kayu.
Kalian boleh meminta makanan,
tetapi bukan kebenaran.
Silakan masuk.
Kenapa kalian tak membungkuk kepadaku?
Kau pernah melihat anjing membungkuk?
Istana memperlakukan biksu seperti anjing.
Kami hanya mengikuti hukum.
Bagaimana jika minum teh, Baginda?
Teh jenis apa ini?
Rasanya sangat manis dan pahit.
Ini enak sekali!
Ini teh Omija, kebanggaan istanaku.
- Kalian mau tambah? - Ya.
Kau adalah anak yang menyanyikan doa Buddha yang aneh?
Itu adalah Sutra Barisan Kepahlawanan
dalam Sanskerta asli Buddha.
Sanskerta?
Apa kalian membujuk para biksu Jepang
dalam Sanskerta juga?
Seorang biksu yang baik bisa mengucapkannya
terlepas dari negara mana asalnya.
Biksu Hakjo?
Kami boleh mendengarkan Sutranya?
Kau bisa menulis apa yang kau katakan?
Biksu Hakyeol adalah yang terbaik dalam menulis.
Apa itu huruf fonetik?
(Dilarang Berbicara Selama Pelatihan)
Apa kau tahu huruf fonetik lain?
Tuan Shinmi membaca kitab suci Buddha
dalam huruf Tibet dan juga Phagspa.
Itu semua adalah huruf fonetik,
dibuat oleh para biksu, berdasarkan Sanskerta.
Jika akar dari semua huruf fonetik adalah Sanskerta,
pasti ada sebuah kaidah di baliknya.
1.500 tahun yang lalu,
beberapa biksu dari India
No comments yet. Be the first to leave one.