The first 200 lines.
Alif Akbar Badarudien Teknik Komputer Jaringan Smkn 1 Rengasdengklok
Karawang, Jawa Barat, Indonesia
Saat dirimu menyalakan sebatang korek api...
...api hampir menyala dengan arogan.
Seperti bisa mengubah seluruh Dunia menjadi abu.
Tetapi akhirnya, ia menyadari nilainya.
Mulai berkedip karena takut terbakar sendiri.
Akhirnya, itu membakar dengan cerah untuk terakhir kalinya.
Dan kemudian berubah menjadi abu.
Pak Komisaris, penyelidikan ini telah dijadikan prioritas utama.
Kami mempertanyakan semua Informan kami.
Dan mereka telah mengaktifkan seluruh jaringan mereka di Kota.
Perintah yang ketat telah diberikan, untuk mencegah berita ini bocor kemedia.
Setiap Penjahat berpikir dua kali sebelum membunuh Petugas Polisi.
Dia tidak hanya membunuhnya, tetapi juga membakarnya hidup-hidup.
Dan meninggalkan abunya diluar Kantor Polisi untuk menantang kita.
Siapapun dia, dia tidak takut pada kita.
Dan itulah kekuatan terbesarnya.
Senang sekali melihat semua Orang yang ada disini...
...pada jam awal ini untuk bergabung dengan Cleanliness Drive ini.
Bahkan, aku bertanggung jawab untuk membersihkan seluruh Negara, dan bukan Pantai ini saja.
Sehingga bendera tricolor kami bisa dengan bangga melayang di Langit.
Wow...
Sebelum membuat bendera tricolor kami bangga...
...kau harus belajar mengibarkannya dengan benar.
Mengapa membuat keributan untuk kesalahan sekecil itu, Sayang.
Kesalahan kecil!
Itu menjadi kesalahan kecil bagimu.
Tetapi tidak bagi Para Prajurit...
...yang mempertaruhkan hidup mereka setiap hari untuk itu.
Juga bagi Warga yang berdiri di Ruang Bioskop...
...dan menyanyikan lagu kebangsaan dengan hormat.
Tapi jika itu masih hal kecil bagimu...
...maka setiap Prajurit, setiap Warga Negara di Negara ini, harus diizinkan...
...untuk menggantungmu juga.
Kau harus lebih berhati hati.
Lihat, kau telah memotong diri sendiri.
Tak masalah.
Seseorang harus menumpahkan sedikit darah untuk membersihkan Kota ini.
Seseorang bisa membersihkan Kota tanpa menumpahkan darah.
Hai. Shikha.
Aku membaca itu.
Veer.
Shikha.
Aku akan menemuimu, selamat tinggal.
Aku pergi.
Ya, Inspektur Kadri yang berbicara.
Ya.
Aku sudah mendapat instruksi.
Bayangkan kalau Putramu tak pernah ada disini.
Kau hanya mengirimnya langsung ke Bandara, dan dari sana ke Amerika.
Tak perlu berterima kasih padaku.
Besok transfer saja uang keakunku.
Pak...
Pak...
Tapi ini bukan keadilan, Pak. Ini bukan keadilan.
Berasal dari mana kau? - Faridabad.
Maka kau harus tinggal disana.
Mengapa kau datang kesini dengan Istrimu untuk berbaring di Trotoar seperti sampah?
Semua sampah berbagi nasib yang sama.
Mereka tidak mendapatkan keadilan.
Mereka hanya dibebaskan.
Sama seperti yang dia lakukan.
Ayo pergi.
Sayangnya...
Mata uang kami berubah...
...tetapi niatmu tidak.
Entah itu Patil atau Qadri.
Mereka semua satu Komunitas.
Saat ini berapa tarifnya bagi Orang yang tidur di Trotoar?
Bajingan.
Aku menanyakan tarif, bukan namamu.
Ketika kau tak malu untuk bertanya...
Kenapa kau malu mengatakannya?
2 juta.
2 juta!
Berapa tarifnya ketika kau baru saja bergabung?
2,00,000!
2,00,000!
Wow...
Hari-hari baik pasti telah tiba.
Hampir ada 4500 agama di Dunia ini.
Dan ribuan Orang mati untuk itu dan membunuh untuk itu setiap hari.
Tetapi Orang-Orang sepertimu telah menciptakan agama baru.
Korupsi!
Sekarang, aku akan membuat kematianmu menjadi pengalaman yang sangat menyakitkan.
Kau akan terbakar dalam kehidupan ini...
...tapi merasakan juga sakitnya dikehidupanmu selanjutnya.
Pak Qadri yang malang.
Pemanggang barunya diantarkan hari ini.
Tapi dia sendiri menjadi roti panggang yang terbakar.
Dan kau...
Kau seharusnya mengantarkan ini dua hari yang lalu.
Kalau kau mengirimnya tepat waktu...
Setidaknya dia bisa menikmati beberapa toasts sebelum dia mati.
Pak!
Apa ada Saksi Mata. - Tidak, Pak.
Apakah semua Orang disekitar sini tuli atau buta? - Ya, Pak.
Maksudku, tidak Pak.
Jika pelindung Kota tidak bisa melindungi Perwira mereka sendiri...
Maka Orang akan mulai hilang kepercayaan kepada Polisi.
Ya, Pak.
Kapan cuti DCP Shivansh Rathod berakhir?
Papa, kau sudah duduk disini selama dua jam?
Berapa banyak Ikan yang ditangkap?
Tapi kau tak bergerak.
Hanya duduk disana dan mendengkur.
Ikan yang kucari belum mengambil umpan.
Mengapa aku harus mengumumkan kedatanganku dengan menangkap Ikan Kecil?
Biarkan kata itu menyebar...
Tentang Seorang Nelayan Amatiran...
...yang bisa dengan mudah ditipu.
Dia tak tahu cara memancing.
Akhirnya, Ikan Besar datang.
Tak kenal takut!
Sombong!
Untuk mengejek Nelayan Amatiran.
Maka aku akan memancing dia.
Menangkapnya dan memasaknya.
Kami akan makan Ikan Goreng untuk makan malam.
Oke.
Dapat dia. Dapat dia. Dapat dia.
Halo.
Selamat siang Pak. - Selamat siang.
Pak, dua Petugas Polisi di bakar sampai mati di Mumbai.
Komisaris Polisi menginginkanmu untuk memotong liburan pendek dan kembali ke Mumbai.
Papa, mau kemana?
Aku sudah selesai menangkap Ikan Kecil, Sayang.
Waktunya menangkap Buaya.
Selamat datang kembali, Shivansh.
Jai Hind, Pak.
Kuharap kau bersenang senang diliburanmu?
Pasti, Pak. Tapi itu lebih kecil dari yang kuharapkan.
Aku tak punya pilihan.
Aku menginginkan Petugasku yang paling cerdas dalam kasus ini.
Kejujuranku yang akan membantu kami memecahkan kasus ini...
...dan bukan kecerdasanku.
Nah, kedua Petugas yang meninggal itu...
...menghadapi beberapa tuduhan korupsi.
Penyelidikan terhadap mereka dibatalkan.
Kita bisa mengatakan dengan jujur kalau kejujuran bukan salah satu dari kualitas mereka.
Hanya ada dua opsi untuk menghentikan pembunuhan ini.
Satu; Kita harus menangkap si Pembunuh.
Dua; Petugas Departemen kami harus berhenti korup.
Sebenarnya, Pak, kita hanya punya satu pilihan.
Kita harus menangkap si Pembunuh.
Maaf, Pak.
Maka tangkaplah dia. - Akan kutangkap, Pak.
Selamat pagi, Petugas.
Selamat pagi, Pak!
Setelah menyelesaikan tugasnya Inspektur Sadashiv...
...meninggalkan Kantor Polisi Santacruz pada pukul 22:00.
Hari berikutnya, jam 7 pagi...
...Seseorang meninggalkan abunya diluar Kantor Polisi.
Pukul 11 pagi, jipnya ditemukan ditinggalkan di Jalan Raya.
Selama waktu itu, si Pembunuh menculik Inspektur Patil dan membakarnya hidup-hidup.
Mengubahnya menjadi abu.
Dan sekarang...
...kami Petugas Polisi akan mengubahnya menjadi abu.
Benarkan? - Ya, Pak!
Siapa Teman Inspektur Patil? Apa rutinitasnya?
Siapa yang dia temui setelah jam kerja? Apakah dia punya simpanan?
Apakah dia suka menonton film? Atau tidak?
Bar mana yang dia minum?
Dan dari Toko mana dia biasa membeli daun sirih?
Kami pasti akan menemukan beberapa petunjuk, melalui pertanyaan-pertanyaan itu.
Aku menginginkan rekaman setiap kamera CCTV, kamera ATM, dan kamera Jembatan Tol
Periksa rekaman dari ATM yang diluar Rumah Inspektur Qadri.
Pembunuh itu pasti meninggalkan beberapa petunjuk.
Paham. - Ya, Pak.
Jangan lepaskan Bajingan itu.
Dua Petugas Polisi dibunuh secara brutal dalam tiga hari.
Kami telah mendengar bahwa ada suasana ketakutan diantara Para Petugas Polisi.
Hanya Pengecut yang menyerang dari kegelapan.
Aku berdiri tepat didepanmu dan si Pembunuh berdiri tepat didepanmu.
Disiang bolong. Tanpa penutup.
Tapi Pak, ada yang bilang bahwa kedua Petugas Polisi itu korup.
Ada juga diskusi yang mengamuk di Media Sosial...
...bahwa Pembunuhnya mungkin melakukan sesuatu yang benar.
Apa pendapatmu?
Aku yakin kau pasti sudah mendengar pepatah ini.
"Lengan Panjang Hukum."
Faktanya, ini sudah sering digunakan difilm...
...sehingga menjadi lelucon.
Sebenarnya, hukum tidak memiliki lengan panjang.
Beberapa memiliki lengan besar, sebagian kecil. Ada yang lemah dan ada yang kuat.
Tetapi hukum tidak memiliki lengan panjang.
Tetapi hanya Para Petugas Hukum...
...yang memiliki hak untuk mengambil hukum ketangan mereka.
Mengarsipkan FIR hampir tidak mungkin.
Pembunuh itu memberi mereka jawaban yang pas dalam bahasa mereka sendiri.
DCP Shivansh telah menantang si Pembunuh...
...tetapi ini tak terlihat seperti tugas yang mudah.
Slogan ini telah bergema di Mumbai dan juga diseluruh Negeri.
"Korup bayar, dan korupsi akan berakhir."
"Korup bayar, dan korupsi akan berakhir."
"Korup bayar, dan korupsi akan berakhir."
Dan bukan hanya Polisi.
Kupikir si Pembunuh juga harus menargetkan Para Politisi yang korup juga.
Dan Para Pemerkosa juga.
No comments yet. Be the first to leave one.