The Thin Red Line

The Thin Red Line

Download Indonesian Subtitle

Release info

The Thin Red Line 1998 720p BrRip x264 YIFY
A Commentary by thekamek
Resync Dari Punya Mas RizalAdam

Tags

brrip
x264
720p
720
Published on: 2012-12-11
Downloads: 430
Hearing Impaired: Yes

Indonesian subtitle preview

The first 200 lines.

Mengapa perang ini berada di tengah-tengah alam?

Mengapa alam tidak bersaing dengan sendirinya?

Daratan berhadapan dengan lautan?

Apakah ada satu kekuatan pembalasan di alam?

Bukan hanya satu, tapi ada dua kekuatan?

Aku ingat ibuku saat beliau sekarat.

Beliau terlihat sangat renta dan lemah.

Kutanya apakah beliau merasa takut.

Beliau hanya menggelengkan kepala.

Aku takut menyentuh kematian yang kulihat dalam diri beliau.

Tak bisa kutemukan sesuatu yang indah atau menyemangatinya kembali ke Tuhan.

Kudengar orang bicara tentang keabadian, tapi aku tak melihatnya.

Aku penasaran bagaimana diriku bila mati nanti.

Seperti apa rasanya mengetahui bahwa nafas sekarang ini...

...adalah nafas terakhir yang akan kau hirup.

Aku hanya berharap bisa menemui kematian yang sama seperti beliau.

Dengan ketenangan yang sama.

Sebab di sanalah keabadian yang tak kulihat itu bersembunyi.

Bocah-bocah di sini tak pernah berkelahi.

Kadang-kadang saja.

Kadang saat kau melihat mereka bermain...

...mereka selalu berkelahi!

- Dia takut padaku? - Sedikit.

- Kau takut padaku? - Ya.

- Kenapa? - Sebab kau kelihatan...

Kau kelihatan seperti tentara!

- Aku seperti tentara? - Ya.

Tapi itu tidak jadi soal.

Itu tidak jadi soal.

- Anaknya mengantuk. - Ya.

Kalau dia ingin berenang, dia tidur dulu.

Baiklah, ayo. Berputarlah.

Jalan. Cepat!

Ayo, cepat.

Ayo jalan!

Witt, ada kapal patroli!

Itu kapal Amerika.

Sedang apa kapal itu sendirian di sini?

Kau sama sekali tak berubah, ya, Witt?

Kau tak belajar apa pun.

Seseorang tinggal menyerahkannya padamu, kau akan bahayakan diri demi mereka.

Sudah berapa kali kau mangkir?

Sudah berapa lama di militer? Enam tahun?

Bukankah sudah saatnya kau bertindak pintar dan berhenti jadi prajurit brengsek?

Jika kau memang mau menginginkannya.

Kita semua tak sepintar itu.

Memang, dan itu amat disayangkan.

Lihat dirimu.

Nyatanya, kau tak bisa lakukan tugas dengan baik di kompiku.

Kau tak akan pernah jadi prajurit sejati, tidak di dunia Tuhan.

Ini Kompi C, aku Sersan Pertama-nya. Aku yang memimpin pasukan ini.

Kapten Staros, dia perwira tingginya, tapi akulah pimpinan pasukan.

Tak ada yang akan macam-macam.

Kau hanyalah tambahan mulut lagi yang harus kuberi makan.

Normalnya, kau akan dibawa ke mahkamah militer.

Tapi kutawarkan satu kesepakatan untukmu.

Harus kuanggap dirimu beruntung.

Aku akan menugaskanmu ke pasukan disipliner.

Kau akan jadi pembawa tandu. Mengurus prajurit yang terluka.

Aku bisa lakukan apa saja yang kau tugaskan.

Aku dua kali lebih hebat darimu.

Di dunia ini...

...seorang pria sendirian bukanlah apa-apa.

Dan tak ada dunia lain kecuali dunia ini.

Kau salah, Top.

Aku melihat dunia lain.

Terkadang kupikir itu hanya imajinasiku saja.

Kalau begitu...

...kau telah melihat banyak hal yang tak akan pernah kulihat.

Kita hidup di dunia yang akan meledak dengan sendirinya...

...secepat setiap orang bisa mengaturnya.

Dalam situasi demikian, pria hanya bisa tutup mata dan tiada yang menyentuhnya.

Menjaga dirinya sendiri.

Mungkin aku sahabat dekat yang pernah kau miliki.

Kau bahkan tak menyadarinya.

Dia sangat membencimu.

Aku tak pernah merasa dia membenciku sebab aku tak membencinya.

Aku cinta Kompi Charlie.

Mereka teman-temanku.

Mereka menyebutnya "The Rock".

Tak ada yang inginkan pulau ini. Jepang dirikan lapangan udara di sana.

Pertempuran dibatasi sampai di kawasan ini.

Seperti yang kalian lihat, ini jalan mereka menuju Australia...

...dan ini cara mereka menguasai jalur laut menuju Amerika.

Jika akan hentikan Jepang menuju ke Pasifik Selatan, kita harus lakukan di sini.

Marinir sudah melakukan tugas mereka. Kini giliran kita.

Akulah yang bekerja susah payah.

Dasar para jenderal penjilat.

Kurendahkan martabatku...

...demi mereka dan keluargaku.

Demi negaraku.

- Aku salut padamu, Kolonel. Sungguh. - Terima kasih, Pak.

Kebanyakan pria seumuranmu sudah pensiun dari sekarang.

Tak masalah.

Kita butuh perwira tinggi dengan kematangan dan watak sepertimu.

Kami memiliki banyak sersan dan letnan kolonel yang bagus.

Namun saat seseorang dapatkan lambang elang itu, dia tak sabar dapatkan lambang bintang.

Dia menjadi politikus, ya?

Berusaha untuk terus maju.

Susah sekali untuk tetap berada di atas.

- Ucapanmu benar, Pak. - Dengan Laksamana sedang mengawasi.

- Selalu ada yang mengawasi. - Ya.

Seperti seekor elang.

Selalu ada yang siap terlibat jika kau tak mau.

- Kau punya anak, Kolonel? - Ya, Pak.

Bagus. Kita tak mau anak cucu kita...

...bertempur di perang ini 30 tahun dari sekarang, bukan?

- Tentu saja tak mau, Pak. - Maka kalahkan mereka tanpa ampun.

Singkirkan mereka dari bukit itu dan lindungi lapangan udaranya.

Baik, Pak.

Kau heran mengapa Jepang bangun lapangan udara di sana?

Kurasa kita tak tahu situasi keseluruhan jika ternyata memang ada.

- Bagaimana menurutmu? - Tak pernah kutanyakan itu pada diriku.

Kau pria yang bersahaja.

Tak ada yang menginginkan pulau itu selain kau.

Seberapa besar kau menginginkannya?

Sebanyak yang aku inginkan, Pak.

Semua yang mereka korbankan demi aku...

...menyembur keluar bagaikan air di tanah.

Semua yang mungkin telah kuberikan demi cinta.

Sudah sangat terlambat.

Mati...

...selambat pohon.

Kau merasakannya?

Ya, Pak.

Terima kasih, Pak.

Semakin dekat menuju Caesar, semakin besar rasa takut itu.

Tak bisa kukendalikan betapa takutnya diriku ini, Sersan.

Tak bisa kukendalikan.

Ayah tiriku mengambil balok dan memukuliku saat kecil dulu...

...dan aku takut dan biasanya lari dan bersembunyi.

Aku tidur di kandang ayam setiap malamnya.

Dan tak pernah kumenyangka kalau ini tak lebih buruk dari itu.

Tapi aku masih hidup saat ini. Menghitung waktu.

Kita akan segera mendarat dan akan ada serangan udara.

Mungkin kita akan tewas sebelum mencapai pantai.

Tempat ini seperti pekuburan besar yang mengapung.

- Siapa namamu, Nak? - Aku mau punya mobil bila keluar.

- Siapa namamu? - Edward B. Train.

Train?

Satu-satunya yang permanen hanyalah kematian dan Tuhan. Itu saja.

Hanya itu yang harusnya kalian cemaskan.

Perang ini takkan jadi akhir bagiku atau kalian.

- Kita akan lakukan serangan udara? - Bagaimana aku bisa tahu?

Yang kutahu, mereka tak lakukan serangan udara terakhir kalinya.

Di sisi lain, dulu mereka nyaris ledakkan diri.

Kau ingin aku mengatakan apa?

Kau sangat membantu, Tills. Jangan bilang apa pun.

Kuberitahu kau sesuatu.

Kita berada di lautan ini seperti bebek di dalam kapal.

Aku sudah tahu itu.

Pikirkan itu, Tills.

Pikirkan itu.

- Kau tak lihat kegembiraannya? - Aku tak tertarik.

- Ya, kurasa ini cukup ramai. - Masih tetap tak tertarik.

Aku sedang dalam perjalanan mendapatkan pistol itu.

Benarkah? Bersenang-senanglah.

Ya, bersenang-senanglah.

Berharaplah mendapatkannya begitu kita mendarat di pantai dan serang Jepang.

Buka pintu ini!

Buka pintunya!

Kalian semua belajar main permainan kartu ini...

Baiklah. Di sini aku akan tidur.

Baiklah, Nona-nona. Apakah ini tugas menjahit atau bermain kartu?

Baiklah, aku mengerti. Robert punya 2 jack.

Aku tak pernah tawar-menawar seperti ini saat daftar masuk militer sebelum perang.

Bagaimana aku bisa tahu akan ada perang? Jawab aku.

Yang kuketahui, Kompi Charlie selalu dapat tugas sulit. Selalu.

Dan aku bisa beritahu juga ini salah siapa.

Ini salah kapten kita.

Pertama, dia buat kita berada di kapal ini yang mana kita tak tahu apa-apa.

Lalu dia membuat kita berada di urutan ke-4 di daftar turun dari kapal ini.

Halo, Kapten.

Kubaca di arsipmu kalau kau dulu perwira tinggi sebelum perang.

Bagaimana kau bisa menjadi prajurit biasa?

Karena istriku.

Dulunya aku perwira tinggi yang mengurus bagian mesin.

Kami tak pernah berpisah sebelumnya...

...meskipun selama semalam saja.

Aku menjalaninya selama empat tahun lalu kemudian berhenti.

Aku mengundurkan diri begitu saja.

Mereka mengirimku kembali ke AS.

Kata mereka, aku takkan dapatkan jabatan perwira tinggi lagi.

Itu mereka katakan saat aku kena wajib militer dan ditugaskan di infanteri.

Dasar brengsek.

Tidak, aku tak salahkan mereka.

Di mana dia sekarang?

Dia di rumah.

Kenapa aku harus takut mati?

Aku milikmu.

Cepat! Cepat!

Cepat! Cepat!

Cepat! Cepat!

Bergerak!

Jika aku pergi lebih dulu, aku akan menunggumu di sana.

Di seberang perairan gelap.

Kenakan helm-mu.

Bersamalah denganku sekarang.

- Kau rasakan tekanannya, Kapten? - Ya, Pak.

Aku suka padamu, Kapten.

More Indonesian subtitles for The Thin Red Line

Comments

No comments yet. Be the first to leave one.

Keep it about this subtitle — sync, quality, typos.500 characters left