The first 184 lines.
- Selamat pagi. - Selamat pagi.
Aromanya enak sekali.
Bukankah itu ikan sauri?
Kenapa memanggang ikan sauri?
Karena ini hari istimewa.
Apa?
Hari ini ulang tahun Kinako.
Pada hari kau menemukan Kinako?
Ya, hari saat Tuhan membiarkan kami saling bertemu!
Bukan begitu, Kinako?
Lagi-lagi, kau pencinta kucing yang putus asa.
Namun, semuanya tampak lezat.
Masih ada lagi. Aku akan membuat sarapan hari ini.
- Apa? - Apa?
Itu…
- Jangan. Sama sekali tidak. - Kenapa?
Aku pernah makan rebusan daging sapi buatan Sui dan sakit.
Bahkan ketika aku mengingatnya…
Tapi aku yakin soal itu.
Saat kau membuat spageti Napolitan, warnanya gelap dan berlendir.
Bukan hanya rasa yang bermasalah.
Kau pernah menghanguskan pancinya, mengacaukannya, dan meledakkannya.
Kalian berlebihan!
Apa?
Hei.
Hei!
Mereka jahat, ya, Kinako?
SANG AHLI TEH
SANG KOKI
SANG KOKI PASTRI
SANG BARISTA
KUCING MASKOT
- Manis sekali! - Benar, bukan?
Teman suamiku cari seseorang untuk mengadopsi kucing ini.
Kau mau?
Maafkan aku.
Aku tak yakin bisa mengurusnya.
Baiklah, aku mengerti.
Omong-omong,
restoran tempura lezat tempat kau mengajakku tempo hari…
Apakah buka hari ini?
Kurasa begitu. Kau akan makan siang di sana?
Aku ingin makan nasi tempura hari ini.
Baiklah.
Baik…
Halo, ini Sakurada.
Ayah? Ini aku.
Ternyata Tsubasa.
Kau sudah makan teratur dan menghirup udara segar?
Seperti berjalan-jalan.
Aku mengerti kau tidak tahu harus bagaimana setelah pensiun,
tapi tak aktif itu buruk bagi kesehatanmu.
Aku baru ingat.
Aku menemukan restoran bagus tempo hari.
Mau ke sana bersama malam ini?
Apa?
Omong-omong, Toki,
kau keluar dengan murid kelas tembikar kemarin, bukan?
Benar, para pria tua itu. Apa menyenangkan?
Sebenarnya…
Apa yang terjadi?
Kuajak mereka ke restoran nasi boga bahari yang biasa kukunjungi.
Dahulu hanya diketahui mereka yang tahu.
Tapi sepertinya diperkenalkan di TV
dan ada antrean panjang sampai kami tak bisa masuk.
Benarkah?
Jadi, kau tidak makan di sana?
Tidak, meja mereka penuh hingga tiga bulan ke depan.
Astaga!
Kasihan. Kau menantikan nasi boga bahari itu, tapi tak bisa memakannya.
Hentikan sekarang!
Tapi aku mengerti perasaanmu.
- Apa yang terjadi setelah itu? - Akhirnya,
kami makan soba,
lalu,
kami berempat menyanyikan lagu enka
dan lagu tema drama sejarah di karaoke
selama sekitar lima jam.
- Lima jam? - Ya.
Namun, lagu enka dan drama sejarah…
Kau punya hobi yang unik.
- Menurutmu begitu? - Apa yang kau suka dari drama sejarah?
Aku senang kau bertanya!
Bagaimanapun, aku suka keadilan puitis.
Orang jahat selalu dihukum pada akhirnya.
Itu membuatku merasa segar setelah menontonnya.
- Selain itu… - Astaga!
- Aku harus pergi dan bersiap. - Aku akan membantumu.
- Aku juga. - Kurasa para pahlawan diperlukan.
Keadilan akan selalu menang pada akhirnya.
Astaga, ini sungguh bukan hariku.
Saat istirahat makan siang, aku sibuk menghadapi keluhan pelanggan
dan hanya bisa makan satu manju .
Hari ini, dari semua hari, pertemuannya panjang
jadi, tidak bisa pulang lebih awal.
Selain itu…
secara mengejutkan, restoran tempura
tutup sementara.
Kau ingin memakannya lagi saat tidak bisa memakannya.
Sial!
Kimono?
Restoran Jepang?
Nasi tempuraku!
- Kau mau tutup? - Apa?
Belum.
Aku beruntung!
- Hanya aku. - Selamat datang.
Apa? Aku di restoran sekarang.
Maaf, Ayah. Tiba-tiba ada pekerjaan.
Makan saja sendiri hari ini. Maaf. Aku harus pergi.
Tapi makan sendiri…
- Halo, permisi. - Ya?
Kau menyajikan kari di sini?
Itu makanan untuk pegawai kami hari ini.
Untuk pegawai, aku mengerti.
Ini hidangan terbatas, dan kami sajikan kepada pelanggan tetap.
- Reputasinya bagus. - Begitu…
Ini kali pertamaku di sini.
Jika kau tak keberatan,
kau mau makan kari?
Apa?
Baiklah, aku mau.
Baiklah.
- Halo, Pak? - Mengesankan!
Satu pelanggan di sini.
Selamat datang.
Silakan duduk di sini.
Santai saja.
Satu nasi tempura.
Begini, Pak.
Aku sungguh minta maaf,
tapi kami tak menyajikan nasi tempura di sini.
Apa? Bukankah ini restoran Jepang?
Kalian memakai kimono, dan gedungnya sudah tua.
Kupikir…
- Pak! - Pak?
Nasi… Nasi tempuraku.
Nasi tempuraku…
Dia tampak sangat putus asa.
Ini seperti
aku di pagi hari.
Ada antrean panjang sampai kami tak bisa masuk.
Nasi tempuraku…
Nasi tempuraku…
Dia pasti memikirkan
untuk makan nasi tempura seharian.
Dia bermimpi menyantap nasi tempura.
Kini impiannya
hancur berkeping-keping.
Tak bisa kubiarkan!
Apa?
Pak.
Kau mau satu nasi tempura, bukan?
Apa?
Tapi kau bilang tak menyajikannya di sini.
Tolong serahkan kepadaku.
Terima kasih sudah menunggu.
Ini kari dengan sayuran musim dinginmu.
Selamat menikmati.
Terima kasih atas makanannya.
Terima kasih sudah menunggu.
Ini nasi tempuramu.
Hebat!
Mangkuknya penuh dengan tempura hingga hampir tak bisa melihat nasinya.
Juga, udang ini
sangat datar dan besar.
Maafkan aku. Sebenarnya,
kami tak punya udang, jadi, sebagai gantinya
aku membuat tempura ayam.
Apa?
Apa?
Maafkan aku.
Tapi ini tetap nasi tempura, bukan?
Terima kasih atas makanannya.
- Ini benar-benar… - Enak sekali!
Tempura ini benar-benar lezat.
Dagingnya sangat empuk.
- Benarkah ini ayam? - Ya.
Aku menggunakan dada ayam.
Dibumbui dengan yoghurt, itu menjadi lembut dan mengembang.
Benarkah?
Dada ayam ini sama sekali tidak alot,
tapi lembut dan berair.
Saus manis ini membuatnya makin menarik!
No comments yet. Be the first to leave one.