The first 200 lines.
PELATIHAN OFF-SEASON MUSIM PANAS 2016
PELATIHAN TIM NASIONAL OFF-SEASON MUSIM PANAS 2016
Rupanya kau tak sehebat itu, Hae-kang.
Mari bertanding lagi.
Padahal kau hanya sengaja mengalah.
Kau tahu kita semua akan didisiplinkan jika kau menang, bukan?
Hei, Se-yoon! Kenapa masih kotor begini?
- Maaf. - Astaga.
Dasar. Kau akan dihabisi jika masih kotor begini.
Dahulu aku…
MUSIM PANAS TAHUN 2016
Tenanglah, Semua!
Kalian tahu klub badminton menang di Kejuaraan Junior Nasional, 'kan?
Kenapa diam? Beri tepuk tangan.
Hae-kang dari kelas kita menjadi pemain terbaik.
- Itu adalah hal yang sangat hebat… - Klub bisbol datang!
- Selamat! - Kalian keren.
Ada apa dengan mereka?
Mereka hanya peringkat empat.
Teman-teman tak menonton final kita, tapi menonton semifinal klub bisbol.
Menyebalkan.
Klub mereka juga sering makan-makan.
Hae-kang, kau tetap yang terbaik. Jangan pedulikan mereka.
Benar. Pemain terbaik jauh berbeda dengan peringkat empat.
- Keren sekali. - Ya, 'kan?
Sebentar lagi pertandingan, jadi, jangan terluka.
Kita butuh kalian berempat. Paham?
- Baik. - Baik.
Pak, jika sumbangan untuk klub ini dihentikan,
apa kami bisa bertanding?
Fokus saja kepada pertandingan. Jangan pikirkan hal itu.
Benar, Pelatih Yoon?
Ya.
Kenapa kau begini juga?
Segera pemanasan.
- Baik. - Baik.
Kenapa begini di depan mereka? Tak profesional.
Benar. Aku memang tak profesional.
Jika tak ikut pertandingan kali ini,
aku tak akan digaji. Jika begitu,
Hae-kang dan Hae-in tak akan bisa makan.
Hentikan! Jangan khawatir. Hal itu tak akan terjadi.
Sumbangan dari pemerintah daerah dan sekolah dihentikan.
Bagaimana bisa ikut pertandingan?
Temanku anggota klub memanah di SMP Suncheon.
Kudengar sumbangannya dihentikan.
Mereka juga hanya diberi makan gimbap . Gimbap polos.
Apa? Bukan gimbap isi tuna atau keju?
Jika mau dapat sumbangan yang banyak, kita harus mengumpulkan anggota.
Setuju, Hae-kang?
Tidak. Kenapa aku harus ikut? Aku mau tidur saja di sini.
Kalian urus saja sendiri.
Kudengar kalian mencari anggota baru. Banyak yang ikut?
Tidak. Membujuk Hae-kang saja sudah sulit.
Hae-kang tak berani ke toilet sendiri, tapi ke mana setiap malam?
Entahlah. Sepertinya Hae-in juga pergi bersama dia.
Cukup.
Yoon-dam sangat berlagak.
Untuk menghasilkan pukulan lob, perhatikan kok,
dan pukul saat raket berada di atas.
Suaranya akan berbeda jika dipukul dengan benar.
Tanyalah kepada tiga anggota klub badminton.
Nanti kalian akan dievaluasi.
- Baik. - Baik.
- Itu keren sekali. - Kau keren sekali.
Pukulan yang barusan dinamakan lob.
Hae-kang, ajari In-sol.
- Aku? - Ada siapa lagi selain kalian?
Cepat!
Hei, Kutu Buku! Biar aku ajari jika kau butuh bantuan.
Tak perlu, Tong Kosong.
Hei. Maaf,
tapi olahraga tak seperti belajar. Tak semua orang bisa berhasil.
Sudahlah. Kau tak akan paham.
EVALUASI
Bagus.
Bagus. Selanjutnya.
Lagi.
Suara pukulan Woo-chan sangat bagus.
Apa? Bukan aku.
Aku di sini. Itu Hae-kang.
Apa? Aku?
Tolong minggir, Pak. Jangan parkir di sini.
GIMNASIUM
Kenapa? Siapa?
Presiden pun tak bisa masuk sembarangan ke gimnasium.
Cepat pinggirkan mobilmu.
Yang benar saja.
- Mereka sering kalah. - Ya.
Astaga.
Pak! Jangan masuk dengan sepatu.
Itu dia datang.
- Siapa dia? - Berilah salam.
Ini ayahnya In-sol.
Anggota sekaligus Pimpinan Dewan Jeong Byeong-hwi.
Halo.
Halo, Pak. Senang bertemu denganmu.
Silakan kalian bercakap-cakap berdua.
Apa? Membicarakan apa?
Pak Jeong. Jika itu masalahnya, jangan khawatir.
Seperti yang kau tahu, aku juga seorang ayah.
Aku yakin kau bisa memahamiku.
Tentu. Semua ayah pasti berharap sama.
Jika kau bisa mengabulkan permintaanku, setelah itu
aku akan memberi sumbangan ke sekolah.
Adikku pengawas sekolah,
jadi, aku bisa minta tambahkan bonus.
Namun…
tolong rahasiakan ini dari In-sol.
Dia sedang dalam masa puber,
jadi, tidak suka aku ikut campur atau membantunya.
Aku sangat paham itu.
Aku akan lakukan dengan baik, jadi, kau tak perlu khawatir.
Sudah dengar tawaran Pak Jeong?
Jika kita mengabulkannya, dia akan memberi sumbangan lagi.
Namun, pertandingan sudah sebentar lagi.
- Dana kita sisa sedikit. - Kalau begitu, laksanakan perintahnya,
dan persiapkan anak-anak untuk pertandingan musim panas saja.
Pada saat itu, kita pasti sudah dapat sumbangan dari Dinas Kota dan Pendidikan.
Lantas, apa maksudmu…
Lagi pula, mereka tak akan menang.
Jadi, pakai saja sisa dana itu untuk menggaji Pak Yoon.
Pak Jeong sudah mau membantu kita.
Terima kasih.
Aku akan bertanggung jawab, dan membimbing In-sol.
Sampaikan ini kepada anak-anak.
- Gunting, batu, kertas. - Gunting, batu, kertas.
YOON-DAM, WOO-CHAN
Baiklah. Aku siap.
Kalian sedang apa?
- Mau suit berapa kali? - Seratus satu kali.
Harus menang 51 kali.
Sisa satu kali suit lagi.
- Memang yang kalah melakukan apa? - Astaga.
Mengajak dia untuk bermain badminton.
Setidaknya bisa tambah satu anggota.
Hei. Kau pikir dia akan mau?
Waktu di gimnasium,
aku dengar dari teman SD In-sol.
- Tahu kenapa dia mulai main badminton? - Kenapa?
Waktu kelas 4 SD,
dia mendapat peringkat dua saat evaluasi pelajaran penjaskes.
Lantas, kenapa mulai main badminton?
Sejak saat itu, setiap pagi hari dia selalu les badminton.
- Akhirnya, dia peringkat satu. - Lantas kenapa?
Sepertinya dia memang begitu.
Lalu, dia semakin lihai hingga bisa mengalahkan murid SMP.
Dia tak suka kalah karena terbiasa peringkat satu di semua hal,
dan tak suka dipermalukan.
Gunting, batu, kertas!
Bagus.
Pergilah.
Hei, Ketua Kelas.
Kau sangat lihai bermain badminton. Sudah main berapa lama?
- Delapan tahun. - Hebat.
- Sekarang masih main? - Saat tak fokus belajar.
Itu membuatku tak memikirkan apa pun.
Kalian akan terus menggangguku begini?
Apa yang mau kalian katakan?
Sebenarnya, kami sedang mencari anggota baru.
Kau tahu Pria Raket, bukan?
- Lantas? - In-sol, apa kau…
tak mau bermain badminton
dengan kami?
Begini…
Sudahlah. Ayo pergi.
Sudah kubilang dia tak mau.
Dia tak punya alasan untuk bergabung.
Cepat pergi.
Semua, berkumpul!
Kalian tahu di pertandingan musim panas akan dipilih atlet remaja nasional, 'kan?
Kita akan mempersiapkan itu dari sekarang. Yoon-dam akan mengincar perempat final,
dan karena Woo-chan dan Yong-tae makin mahir,
kalian pasti bisa menang secara tim.
Ini istirahat yang penuh dengan strategi.
Lagi pula, pertandingan kini bukan pertandingan besar. Paham?
- Ya. - Ya.
Jus jeruk 100 persen untuk pemain terbaik kita.
Kau pelit sekali, Pak Bae. Bagaimana denganku?
Lihatlah. Sudah tak ada lagi.
Kenapa sudah habis?
Astaga.
Paham perkataanku, 'kan?
Kau tak pernah terpilih menjadi atlet remaja nasional
karena masalah daerah.
SMP Haenam Seo memang dulu ternama,
tapi sekarang tak punya jalur ke asosiasi.
Bukankah aku dan teman-teman hanya perlu berusaha lebih keras?
Aku suka berada di sini.
Ini semua demi dirimu.
Perhatian kepada teman-teman dan bertanggung jawab memang baik,
tapi kau harus keluar dari tempat ini.
Tapi, aku tak menyuruhmu pergi sekarang. Paham?
Semua bak piramid.
Nanti akan ada yang mengalahkan dan dikalahkan.
Artinya, kalian semua berpotensi untuk menjadi musuh.
Tidak. Kami sangat akrab.
Jadi, maksudku kalian harus mulai
mencari jalan untuk hidup masing-masing.
Tak ada hal yang lebih tak berguna
No comments yet. Be the first to leave one.