The first 200 lines.
Itu dia.
Itu sampah, jangan sentuh.
Sudah larut. Kita cari lagi besok./ Tidak mau.
Bila tidak ketemu, nanti Ibu belikan yang baru.
Ibu, aku menemukannya./ Bagus, ayo pulang.
25 TAHUN KEMUDIAN
Aku pulang jam 02.00.
Lalu aku kemari. Kurasa kemari.
Kemudian Georgia mengajakku ke kelab.
Karena dia tebenganku, terpaksa aku ikut.
Sesampai di sana, dia ingin tidur.
Jadi, kutunggu hingga dia bangun lalu...
...aku tertidur. Tertidur seharian.
Kau marah?/ Seberapa harus marah?
Haruskah amat marah atau agak marah?
Mana yang lebih tepat untuk saat ini?
Mana yang lebih baik?/ Agak marah.
Bisakah agak marah?/ Kita takkan ributkan ini.
Aku setuju./ Aku tak mau.
Kebiasaan lama yang terus diulang-ulang.
Aku marah karena cuma bisa menemuimu saat kau teler...
...dan kau di rumah seharian menonton TV.
Lalu kau beralasan menganggur mempengaruhimu.
Itu tidak benar./ Aku marah karena kau tak bisa berubah.
Lalu kau janji akan berubah tapi kau bohong lagi.
Membohongiku, membohongi dirimu.
Kebiasaan lama yang tak ada solusinya.
Aku muak dengan ini!/ Tim.
Dengar.
Georgia yang ingin ke sana, aku bahkan tak mau.
Georgia itu siapa?
Natasha.
Glori, kau kacau.
Kau lepas kendali dan aku mencintaimu.
Tapi aku tak bisa bantu kau dalam keadaan begitu.
Kau bicara apa?/ Sudah kukemasi barangmu di kamar.
Kau boleh ambil kopernya./ Apa?
Sebaiknya kau tak di sini saat aku pulang, paham?
Tim./ Selamat tinggal.
Maaf./ Tim!
Tim!
Itu orangnya. Syukurlah.
Menjijikkan./ Kau pikir bisa lolos begitu saja?
Pasti dia belum pernah lakukan hal itu./ Mungkin.
Gloria, di mana stopkontaknya? Ponselku sudah sekarat.
Aku mau pesan makanan Tiongkok./ Siapa mau apel?
Aku mau makanan Tiongkok./ Itu sehat.
Apel? Yang benar saja.
RAKSASA
robbinsan IDFL™ SubsCrew
Permisi./ Oscar?/ Gloria?
Aku tak percaya ini.
Astaga. Suatu keajaiban bisa mengenalimu.
Ya, maksudku--/ Ngomong-omong, hai.
Hai. Halo./ Hai.
Apa yang kau lakukan di sini?
Aku butuh liburan dan orang tuaku sudah pindah.
Sudah lama aku tak kemari./ Tentu.
Sedang apa kau? Maksudku sekarang.
Tak sedang apa-apa./ Mau jalan-jalan?
Tentu./ Ayo, masuklah.
Baiklah./ Ya.
Butuh bantuan?
Maaf.
Aku masih terkejut kau benar-benar ada di sini.
Kita mau ke mana?
Kita akan ke tempatku bekerja, di bar.
Kerja di bar dengan ayahmu? Bagus.
Bukan. Kini bar itu milikku.
Ayahku telah meninggal./ Maaf, Os. Aku turut berduka.
Tak perlu./ Kapan meninggalnya?
Beberapa tahun lalu./ Dia orang yang amat baik.
Pasti ibumu sangat sedih kehilangan dia.
Ibuku meninggal jauh sebelum ayahku.
Astaga, maafkan aku./ Ya.
Saat itu kau masih di sini. Tak ingat?
Kau ikut melayat.
Terlihat berbeda seingatku.
Dinding belakang kurenovasi.
Karena kian sedikit pengunjung yang datang dan...
...kurasa nuansa kebarat-baratan menakuti mereka.
Wah!
Hei, aku suka ini.
Ya?/ Ya.
Sudah pasti. Lebih berseni, 'kan?
Aku ingin ada sedikit unsur bar klasik.
Unsur yang tak mengandalkan tema atau semacamnya.
Ini mengandung tema./ Tidak.
Mungkin menyerupai, ya. Tapi bukan tema.
Lagi pula temanya apa? Tema bar?
Bukankah dulu ini lebih besar?/ Ingatanmu bagus.
Kututup ruangan sebelah sana. Tak terlalu dibutuhkan.
Tenang. Ada teman sesekali datang membantuku.
Seringnya kuhabiskan waktu sendirian.
Kau tak apa-apa?
Kau garuk-garuk.
Ini pertanda gugup. Aku gatal di bagian sini.
Kau mirip monyet./ Aku mirip monyet.
Jadi, kau adalah rahasianya Oscar?
Bukan./ Kami belum mendengar tentangmu.
Kami teman SD...
...lalu aku pergi ke New York dan tinggal di sana sejak itu.
Aku kemari cuma untuk beberapa hari.
Tahukah apa masalahmu?/ Apa?
Dulu aku juga tinggal di New York.
Bekerja di sana beberapa bulan. Tempat percetakan.
Lalu aku bertemu seorang pria yang kehilangan paspor.
Dia tak sanggup buat yang baru, jadi kutolong dia.
Mengajaknya tinggal di tempatku sementara.
Seminggu berselang, ternyata polisi mencarinya...
...karena dia menghajar pacar prianya.
Hei, Gart./ Maaf.
Apa masalahku?/ Masalahmu?
Tadi kau tanya apa aku tahu masalahku.
Lalu kau bercerita. Hubungannya denganku apa?
Aku tak tanya begitu.
Masa?/ Ya, kau tanya. Maaf.
Dia punya kelainan ketika ada orang baru datang,...
...dia ingin sekali mengoceh./ Itu tidak benar.
Maaf.
Bagaimana kota Maidenhead? Banyak berubah?
Sejujurnya, aku tak tahu.
Sebelah sini.
Ya ampun! Oscar, lukisan kudanya!
Kau masih memasangnya di sini. Keren!
Mengapa ruangan ini tak digunakan? Padahal bagus!
Sudah kubilang tak terlalu dibutuhkan./ Tak butuh?
Renovasimu berhenti karena kehabisan uang.
Tak sanggup melanjutkannya.
Inilah aib miliknya.
Seperti pasang tato wanita.
Oscar?/ Ya?
Kau sinting. Ruangan ini ajaib!
Karena bukan sekadar harfiah. Lebih mirip--
Sebenarnya ini ironis.
Mau permen mint?/ Memang mulutku bau?
Hei, Oscar.
Kau punya teh celup?/ Mau secangkir teh?
Bukan, aku minta teh celup.
Teh yang ada talinya dan di ujungnya ada kertas.
Aku tak asing dengan teh celup. Untuk apa?
Aku mau sulapan./ Aku belum tahu namamu.
Joel./ Gloria.
Mengapa para lelaki selalu begitu?/ Apa?
Mereka selalu perkenalkan teman-temannya...
...kecuali yang ganteng. Paling ganteng.
Tahu teh panas? Teh panas tak ditaruh di botol.
Ruangan ini bagai filmnya Wes Anderson. Aku suka!
Andai lagunya lebih bagus.
Dulu saat kami sekolah,...
...setiap tahun diadakan lomba cerpen.
Dan Gloria selalu menang.
Sudahlah! Cerpenku jelek sekali.
Masa?
Yang pasti lebih bagus ketimbang milikku.
Akan kuambilkan minum lagi.
Aku tak tahu kau ingin jadi penulis.
Bukan aku. Itu intinya, Goblok. Dia yang penulis.
Aku bukan penulis. Maksudku,...
...aku tak menulis fiksi, tapi artikel majalah daring.
Dimuat di internet?/ Benar.
Keren./ Benar.
Tulislah alamatnya biar nanti kulihat.
Baiklah.
Ya./ Ini dia.
Maaf./ Hei! Apa masalahmu?
Mau kuhajar kau?/ Tak terjadi apa-apa./ Tolong diamlah.
Dia ingin merusak malam pertamamu kembali kemari.
Kita semua mabuk. Kami cuma main-main.
Tak terjadi apa-apa.
Ada apa ini?/ Tak ada apa-apa.
Astaga.
Apa yang terjadi?
Sialan.
Hai. Ada apa?
Entahlah. Aku baik-baik saja.
Aku belum dengar apa pun. Kau bicara apa? Apa?
Yang benar saja. Itu pasti cuma...
...gurauan di internet atau apalah.
Berita palsu yang viral, bukan?
Apa?
Aku butuh kedua tanganku. Kutelepon lagi nanti. Dah.
Astaga!
Ya ampun.
SEOUL DISERANG!
Astaga.
VIDEO AMATIR KEMUNCULAN RAKSASA
Apa itu?
Makhluk apa itu?
Halo? / Apa ini waktu yang tepat?
Maksudku, apa kau sibuk?
Tidak. Aku baru pulang. Ada apa?
Ada apa? Astaga, Tim.
Aku baru saja lihat berita dan aku syok.
Monster raksasa muncul begitu saja di Seoul.
Entah dari mana.
Memang gila, tapi kejadiannya 9 jam lalu.
Kau baru dengar sekarang?
Ya./ Kau seharian berbuat apa?
Tadi aku beres-beres rumah.
No comments yet. Be the first to leave one.