The first 141 lines.
SERIAL NETFLIX ORIGINAL
Kawan. Makanlah yang banyak.
Kau tak makan?
Aku harus menjaga berat badan.
Begitu rupanya. Baiklah.
Ada cara terbaik untuk membakar kalori.
- Apa itu? - Itu adalah karaoke!
Bagaimana? Mau bolos belajar tambahan hari ini?
Tidak. Aku harus belajar.
Aku juga sibuk berlatih.
Betapa menyedihkannya para murid SMA realistis ini.
Kali terakhir kalian juga menolak walau kutraktir.
Sesama teman tidak boleh begitu!
Karaoke satu jam saja cukup.
Aku akan menolak meski diberi bonus waktu tambahan.
Kalian setuju, 'kan?
- Setuju, Ha-young? - Tidak.
KARAOKE SSONG
Aku maklum meski kau selalu terlambat
Aku tak akan menanyakan Dengan siapa kau bertemu
- Aku tetap menanti meski kita bertengkar - Aku tetap menanti meski kita bertengkar
- Aku berusaha tersenyum, meski sakit hati - Aku berusaha tersenyum, meski sakit hati
- Hatiku bertahan karena menginginkanmu - Hatiku bertahan karena menginginkanmu
- Walau sering menangis - Walau sering menangis
- Kubahagia tiap melihatmu - Kubahagia tiap melihatmu
Kau menggemaskan Dari ujung rambut sampai ujung kaki
Aku bangga bahwa kau adalah kekasihku
Shin Sol-i!
- Membuatku yang ketus ini - Membuatku yang ketus ini
- Tersenyum seharian - Tersenyum seharian
- Apa yang kau perbuat terhadapku? - Apa yang kau perbuat terhadapku?
- Berjanjilah satu hal kepadaku - Berjanjilah satu hal kepadaku
- Hingga akhir dunia - Hingga akhir dunia
- Cukup perlihatkan kegemasanmu di depanku - Cukup perlihatkan kegemasanmu di depanku
Berapa skornya? 100?
Sungguh 100?
- Luar biasa! - Hebat!
WAKTU
Tersisa satu menit.
KARAOKE SSONG
- Halo? - Kau di mana? Sedang apa?
Pertandingan tak lama lagi!
Jangan cemas. Aku pergi sekarang.
Kenapa? Ada masalah?
Tidak.
Kawan, sebenarnya ini kali pertamaku berkaraoke.
Apa? Sungguh?
Pelatih melarangku karena harus berlatih.
Bahaya. Kini, kalian pasti minta kuajak setiap hari.
Akhir pekan ini, aku ada pertandingan. Mau menonton?
Apa?
Tiketnya berapa?
Tentu gratis!
Datang saja. Kutraktir makan malam.
Kau pelit sekali. Sol-i saja yang gratis?
Tentu kalian juga gratis.
Datanglah, Semua!
Baiklah. Kami akan datang dan memberimu semangat penuh.
Omong-omong, kenapa perasaanku tidak enak?
Tidak enak apanya?
Guru Penertib!
Sial! Sandinya apa, ya?
Astaga, kenapa aku mendadak lupa?
Sepedaku hilang!
Hati-hati, Sol-i!
Tinggalkan saja.
Ayo!
Naik, Kawan!
Sepedamu hilang?
Sepeda itu masih baru. Sekarang hilang lagi?
Kemari kau!
Ibu! Itu juga senjata.
Salah pukul, orang bisa mati.
Kalau begitu, akan ibu pukul kau dengan benar.
- Kumohon, Ibu. - Sini!
Ayah, selamatkan aku.
Salahmu sendiri. Kenapa sepedamu hilang lagi?
Itu terjadi saat aku beli buku latihan di toko buku.
Teman-temanku juga banyak yang kehilangan sepeda di sana.
Katanya hilang saat beli buku latihan. Niatnya untuk belajar.
Kalian bersekongkol lagi untuk memojokkanku?
Apa gunanya kubuat resep baru siang malam?
Aku cari uang, kalian yang habiskan!
Kami tidak selalu menghabiskannya.
Aku banyak membantu, 'kan?
Beli sepeda baru akhir pekan ini!
- Jangan merengek lelah naik bus. - Apa?
Tidak perlu.
Mestinya aku minta dibelikan sepeda saja.
Bukannya dibonceng Heon, aku malah sengsara begini.
Kakiku pegal sekali!
Kawan!
Hai!
Kawan, kau pasti menderita tak punya sepeda.
Menderita apanya? Aku sedang mengintrospeksi diri.
Sementara ini mau kujemput setiap pagi?
Tidak, terima kasih.
Omong-omong,
kira-kira apa yang kau butuhkan saat sedih?
Entahlah.
Saat sedih,
kurasa ditemani saja sudah sangat menghibur.
Begitu, ya?
Ya.
BIAR KUBANTU!
Kalian sudah bekerja keras.
Banyak murid yang membuat bapak merasa tersentuh dari PR ini.
Terutama Hui-ji dan Cha Heon.
Bapak sampai mengira tulisan mereka karya penulis sungguhan,
bukan murid SMA.
Jadi,
Bapak ingin minta Sol-i membacakan ini.
- Apa? - Sol-i, tolong bacakan.
Baik, Pak.
CHA HEON
"Suatu hari saat berumur delapan tahun,
aku tersesat di tempat asing.
Kala itu aku sangat ingin menangis,
tapi aku menahan diri sekuat tenaga.
Beberapa lama kemudian,
- Ayah menemukanku." - Heon!
Ayah!
"Akhirnya, air mataku pun meluap tak tertahankan.
- Ayah melihatku menangis, - Tak apa-apa.
- dan memelukku dengan hangat. - Tenanglah.
Setelah itu, kami pergi ke restoran Tiongkok
dan makan jajangmyeon kesukaanku bersama-sama.
Tangan Ayah yang kugenggam erat
selama perjalanan pulang terasa begitu hangat.
Itu adalah hari terpanjang yang kulalui berdua
bersama Ayah yang selalu sibuk bekerja."
Masih suka makan jajangmyeon dengan ayahmu?
Heon, besok ibuku masak bulgogi. Mau ikut makan?
Tidak.
Kalau begitu, mau pergi bersama naik sepeda?
Aku akan diam. Tak akan mengganggumu.
Aku juga seringan bulu burung.
Bagaimana?
Pergilah naik sepedaku.
Kau mau ke mana?
Apa aku boleh ikut?
No comments yet. Be the first to leave one.