The first 168 lines.
Cantik, bukan?
Kami yang membuat boneka Hina ini.
Hebat, bukan?
Iya, hebat.
Cantik sekali.
Paling cantik sedunia.
Wakana, kamu juga bisa seperti kakek kalau tekun berlatih.
Menjijikkan!
Padahal laki-laki, kenapa malah suka boneka perempuan?
Aku benci kamu!
Selamat pagi.
Hari ini pun kamu tampak cantik.
Pagi, Kek.
Pagi, Wakana.
Wakana, kamu menjahit semalaman, 'kan?
Apa tidurmu cukup?
Semalam aku terbawa suasana.
Aku belum ahli memakai kuas dan gagal beberapa kali.
Hasilnya belum sebagus punya Kakek.
Kamu kira pengalaman kakek sudah berapa tahun?
Empat puluh tujuh tahun?
Empat puluh delapan tahu!
Selamat makan.
Meski belum bisa membuat wajah, kamu sudah ahli menjahit bajunya.
Cuma bisa itu.
Masih banyak yang belum kukuasai.
Tidak perlu buru-buru.
Perlahan saja tidak apa.
Lagi pula, kamu masih pelajar.
Ya.
Oh iya, apa kamu sudah dapat teman di SMA?
Kamu baik-baik saja?
Ya.
Kenapa tiba-tiba tanya begitu?
Soalnya kamu sibuk dengan boneka saat SD dan SMP tiap harinya.
Kakek kira kamu tidak punya teman.
Punya, aku punya teman, kok.
Hanya saja, mereka sibuk kegiatan ekskul, jadinya sulit atur waktu.
Cuma begitu, kok. Sumpah.
Benarkah? Kalau begitu, kakek lega.
Syukurlah.
Aku berangkat.
Hati-hati di jalan.
Ya.
- Jam pertama gurunya galak! - Awas nanti kena marah!
Pagi!
Ma-Maaf, saya salah orang!
Maaf, Kakek.
Aku...
tidak punya teman meski sudah SMA.
Mau bagaimana lagi?
Mimpiku adalah menjadi Kashirashi boneka Hina.
Karena itu, hobiku...
Berlatih membuat boneka Hina,
mengamatinya,
dan mengajaknya bicara.
Kalau begini, mana bisa aku bicara dengan yang lain!
Sudah 'nonton episode enam kemarin?
Anime "Chiretsu"?
Seru banget! Animasinya kece parah!
Di turnamen tempo hari...
Hal yang kusuka berbeda dengan yang mereka sukai.
- Yo. - Yo.
Karena itu, kalau aku membaur pasti akan merusak suasana.
Apa...
...sebaiknya aku tidak ada?
Hei!
Aduh!
- Maaf, Marin! Kamu enggak apa-apa? - Aduh. Maaf.
- Kamu enggak apa-apa? - Aduh.
Aku enggak apa-apa.
Maaf, ya, uh...
Gojo.
Kitagawa!
Um...
Kamu enggak apa-apa?
Ya!
Itu...
Ada sesuatu di tanganmu.
Apa ini? Kayaknya bukan luka, deh.
Ini bukan apa-apa.
Apanya?
Oh.
Baguslah.
Marin, kamu enggak apa-apa?
Tulangku remuk semua, nih.
Jangan bohong.
Tintanya masih membekas.
Aku terkejut.
Ini pertama kalinya kami mengobrol.
Dia periang, punya banyak teman, dan selalu menjadi pusat perhatian.
Kami hidup di dunia yang berbeda.
Kemarin sore...
Serius mau membahas itu?
Jarang banget Marin mau ikut keluyuran habis pulang sekolah.
Biasanya kamu langsung pulang.
Pas itu sedang sibuk kerja paruh waktu di salon.
Aku juga ingin potong rambut.
Kerja paruh waktu, toh?
Terus, ada cowok yang menunggu Marin padahal sudah selesai nyalon.
Wah, harusnya langsung pulang, dong.
Mukanya gimana?
Lumayan ganteng.
Terus saat mau pulang, dia menghampiri kami.
Mungkin dia ingin buat kesempatan mengobrol?
Hei, itu aksesoris dari suatu anime, 'kan?
Kamu otaku banget!
Cupu banget.
Kau yang cupu!
Terus Marin langsung pulang.
Serius? Dia tewas di tempat, dong.
Sadis banget.
Si cowok cuma diam di tempat.
Kalau memang ganteng, bukannya mubazir?
Marin kalau didekati langsung judes, sih.
Bukan masalah ganteng atau tidak.
Dia bukan cowok baik-baik.
Aku tahu kalau dia basa-basi dan bercanda,
tapi jangan menghina kesukaan orang lain, dong
- Itu dia! - Setuju!
Terus dia nyebut Neng Shion dari "suatu anime".
Muncul dah, laskar pembela Neng Shion.
Kami enggak paham yang begituan.
Di kelasku,
ada orang yang hidup di dunia yang berbeda denganku.
Hidup di dunia yang bisa menerima jati diri sendiri...
...rasanya pasti sangat lega.
Serius? Kau mau gantiin piket lagi?
Ya, boleh.
Kami tertolong!
Kerjain piket hari ini, lah.
Tapi Gojo bilang mau gantiin.
Enggak mau telat kerja paruh waktu.
Oke, Gojo, tolong urus sisanya!
Hei!
Maaf, Gojo. Nanti kutraktir jus, deh!
Mengerjakan semuanya sendiri memang sulit,
tapi jauh lebih baik daripada aku membuat canggung suasana.
Kalau ada aku, mereka akan bingung memilih topik.
Bakal susah juga kalau suasananya hening.
Sebaiknya cepat kuselesaikan, lalu pulang.
Apa Kitagawa melupakan sesuatu?
Apa?
Tidak.
Um, apa yang kamu lakukan?
Seperti yang kamu lihat. Sedang piket.
Aku telat karena harus ke toilet, tapi hari ini jatahku piket.
Kamu mau melakukan piket?
Iya, lah. Wajar, 'kan?
Hei, yang lain di mana?
Pulang, katanya ada kerja sambilan.
Serius? Semuanya?
Iya.
Gojo, apa kamu dipaksa?
Iya juga.
Kok 'gitu?
Tetap mau meski tahu? Kamu enggak keberatan?
Ya, memang keberatan, sih.
Sudah kuduga.
Apa kamu bilang kalau keberatan?
Belum.
Mereka bilang kalau mengandalkanku, jadi aku rasa tidak apa.
Itu bukan mengandalkan, tapi memanfaatkan.
Padahal enggak suka, tapi hanya diam, bukannya itu salah?
Apalagi kalau menyangkut diri sendiri, harusnya tegas, dong!
Ungkapkan perasaanmu demi kebaikanmu sendiri.
Aduh!
Hei, kenapa? Kamu tidak apa-apa?
No comments yet. Be the first to leave one.