The first 200 lines.
Bagaimana aku bisa memercayaimu?
Percayalah kepadaku!
Kami hanya melihat album kelulusan.
Kamu bohong! - Tidak.
Bukankah kamu berjanji tidak akan membuatku gelisah lagi?
Kamu bilang tidak akan membuatku merasa kesepian.
Aku kembali.
Terima kasih atas kerja kerasmu. - Terima kasih atas kerja kerasmu.
Ini untukmu.
Dokumen ini untuk LIETAX.
Ada kesalahan cetak, jadi, aku mengoreksinya.
Terima kasih.
Begini...
Aku kembali.
Kami kembali. - Selamat datang kembali.
Akan kutuangkan teh.
Terima kasih. - Cepat sekali.
Ini produk spesial untuk semuanya, bacang manis.
Terima kasih.
Begini...
Ada apa?
Kamu ada waktu luang malam ini?
Aku ingin bicara.
Maaf, aku agak sibuk hari ini. Aku tidak punya waktu.
Kamu sibuk apa?
Perjalanan bisnisnya melelahkan. - Terima kasih.
Aku sudah menunggumu kembali.
Kenapa?
Aku ingin memberimu sesuatu.
"Surat pengunduran diri"
Uesugi.
Kamu mau mengundurkan diri?
Ya,
tolong setujui.
Karena kamu akan menikah, bukan?
Bagaimana mungkin?
Ada banyak pekerjaan di rumah.
Aku harus membantu keluarga di Nagano.
Apa?
Riko, kamu akan kembali ke kampung halaman?
Ya.
Begitu rupanya.
Teppei, kamu tahu soal ini? - Apa?
Tidak.
Omong-omong, jangan bicarakan di sini.
Ayo pergi ke tempat lain.
Ikuti aku.
Ya.
"Episode 10"
"Perusahaan Elektronik Daiwa Cabang Tokyo"
Aku datang.
Hei.
Jika mau menemui kakakku, dia ada di dalam.
Riko, ada tamu untukmu.
Aku datang.
Aku ingin bicara denganmu.
Midori, bisa keluar sebentar?
Bukankah kamu mau menyerahkan formulir pendaftaran universitas?
Sekarang sudah tutup.
Begini...
Kalau begitu, cari restoran keluarga untuk menghabiskan waktu.
Ambil ini. - Baiklah.
Ada apa?
Kenapa kamu tiba-tiba berhenti bekerja?
Apa karena aku?
Tentu saja tidak.
Tapi karena keluargaku.
Adikku
akan masuk universitas tahun depan.
Penginapan kami butuh lebih banyak staf.
Ada banyak hal yang harus dilakukan.
Jika aku bilang
jangan pergi, kamu tetap pergi?
Kenapa kamu bilang begitu?
Siapa yang memberimu hak untuk mengatakan itu?
Kamu terlalu tidak berpendirian, Teppei.
Kamu yang tidak berpendirian.
Kamu bahkan tidak mau membahas masalah penting denganku.
Kita tidak punya hubungan, bukan?
Tentu punya.
Aku serius. Aku ingin membicarakan dan memperbaiki hubungan kita.
Tapi hatimu tidak terlalu menyukainya, bukan?
Bukankah sudah jelas?
Menyukai seseorang
atau membenci seseorang hanya butuh waktu singkat.
Tapi
kepercayaan adalah sesuatu
yang tidak mudah didapatkan.
Pergilah.
Apa yang kamu lakukan? - Pergilah.
Ada apa? Kenapa kamu melamun?
Aku akan memberimu pekerjaan. Kamu dengar?
Maafkan aku.
Untuk kampanye produk baru kami,
Kepala Departemen Humas,
ingin Agensi Eko berpartisipasi.
Bagaimana menurutmu? Lumayan, bukan?
Tolong biarkan kami mencobanya.
Terima kasih.
Aku mengandalkanmu. - Baiklah.
Produk baru LIETAX?
Jika dapat, itu akan jadi bisnis besar.
Fokuslah dan lakukan dengan baik.
Ya, tapi...
Jangan khawatir.
Departemen Kreatif bilang ingin bekerja denganmu lagi.
Begitukah?
Meski ada perdebatan di masa lalu,
mereka sangat puas dengan produk akhirnya.
Kali ini, kamu harus menang.
Baiklah.
Hei, apa yang terjadi
antara kamu dan Uesugi?
Terima kasih.
Surat pengunduran dirinya menyebutkan banyak alasan keluarga,
tapi tidak hanya itu, bukan?
Aku ingin
menjelaskan satu hal.
Ada apa?
Apa kamu
benar-benar ingin pergi ke Tiongkok?
Begini...
Jika tidak...
Jika kamu hanya ingin pergi dari sini,
jika itu bukan keinginanmu,
kurasa aku tidak bisa mendukungmu.
Mungkin aku tidak berhak mengatakan hal ini.
Aku tidak berhak
mendengarkan hal ini.
Aku yang salah.
Akulah
yang mengkhianatimu
dan sangat menyakitimu.
Apakah terjadi sesuatu
antara kamu dan Teppei?
Maafkan aku.
Kamu tidak mau mengarang alasan?
Selamat datang.
Biar kuambil jaketmu.
Baiklah.
Teppei.
Kamu di sini.
Aku sudah lama menunggumu. Sebelah sini.
Baiklah.
Ya! - Ya!
Baiklah. - Bukalah.
Hei, minumlah denganku hari ini.
Riko, sebelah sini.
Terima kasih.
Riko tiba-tiba ingin mengumpulkan semua orang.
Aku memeriksa dan menyadari
bahwa orang yang paling penting tidak ada di sini.
Erika, kamu mengundangnya?
Ya.
Hei, Teppei, ini.
Duduklah di sini, ayo. - Baiklah.
Aku duduk di sana saja. Ayolah.
Permisi. Tolong tambah segelas lagi.
Tolong tambah untuk satu orang lagi.
Ada yang ingin kukatakan.
Sebenarnya, aku sudah memutuskan untuk putus dengannya.
Sejujurnya, aku merasa sangat lega sekarang.
Dia pembohong, mesum, dan berengsek.
Aku pasti sudah gila mau mengencaninya.
Aku sudah mengundurkan diri dan akan kembali ke kampung halaman.
Mulai sekarang, aku tidak perlu menemuinya lagi.
Aku merasa sangat lega sekarang.
Itu saja.
Begini...
Riko masih sama seperti sebelumnya. Dia terus terang sekali.
Teppei, ada yang ingin kamu katakan?
Aku memang mesum dan berengsek,
tapi aku tidak berbohong.
Jika kamu ingin menghinaku, silakan.
Lakukanlah ratusan kali jika itu membuatmu merasa lebih baik.
Tapi apa pun yang kamu katakan,
perasaanku tidak akan berubah.
Aku tidak pernah berniat putus denganmu.
Apa maksudmu?
Kamu bertindak seenaknya dan membicarakan perasaanmu.
Kamu terdengar seperti orang bodoh.
Aku akan pulang.
Riko. - Ini uang patunganku.
Riko.
Maaf soal ini. - Riko.
Tunggu, Riko.
Selamat malam.
Apa maumu?
Aku datang untuk minta maaf
tentang kejadian waktu itu.
Kamu tidak perlu minta maaf kepadaku.
Lagi pula,
bukan kamu
yang sengaja menyakitiku, bukan?
Hanya saja,
kamu menyukai Teppei.
Benar, bukan?
Ya.
Jadi, aku tidak akan mencari alasan.
Tapi aku ditolak.
No comments yet. Be the first to leave one.