Hometown Cha-Cha-Cha

Hometown Cha-Cha-Cha (갯마을 차차차)

Download Indonesian Subtitle

Specials

Release info

갯마을 차차차-Hometown-Cha-Cha-Cha-E07-NEXT-NF
갯마을 차차차-Hometown-Cha-Cha-Cha-E07-WEB-DL-NF
A Commentary by Anangkaswandi

Tags

Web-DL
web-dl
web
WEB-DL
Published on: 2021-09-18
Downloads: 45
Hearing Impaired: No

Indonesian subtitle preview

The first 200 lines.

Seseorang sedang berusaha untuk romantis.

Indah tanpa harus berusaha.

- Cantik sekali. - Hei…

Astaga, aku hampir mati.

Aku melihat malaikat maut.

- Apa? - Apa?

Aku mencarimu ke mana-mana. Akhirnya ketemu juga.

Seong-hyeon?

Lama tak bertemu, Yoon Hye-jin.

Permisi. Entah kalian membicarakan apa,

- tapi bisa tolong angkat aku dahulu? - Maafkan aku.

Kenapa kau ada di sini?

Kita bertemu lagi. Tunggu sebentar.

Aku baru saja menyelamatkan nyawamu, 'kan? Kita impas, ya?

Benar juga. Kau melunasi utangmu secara kontan.

Aku memang tak suka mencicil.

Tak kusangka kita bertemu lagi seperti ini.

Kau benar.

Kalian saling kenal?

Kalian saling kenal?

Kalian juga?

Kau keluyuran sendirian lagi. Mau kupakaikan gelang penanda?

Ini kekerasan. Kau mau kupakaikan borgol?

Berisik. Semuanya sudah menunggu.

- Kita harus ke sana. - Sekarang?

Kepala Hong, mari ikut kami.

Baiklah.

Tapi kau siapa?

Ini aku. Penulis Wang Ji-won.

Kau masih tak mengenaliku setelah bersama dua hari?

Tidak apa-apa.

Kadang penampilanku sangat berbeda. Karena lama ikut Get Me Beauty .

Begitu…

Kalian sudah berkenalan?

Dia Kepala Hong yang menjadi pemandu kita di Gongjin,

sedangkan ini…

pembuat masalah di OVN,

pendongkrak rating, Sutradara Ji Seong-hyeon.

Halo, namaku Ji Seong-hyeon. Senang bertemu kalian.

Kau yang waktu itu datang ke rumahku, 'kan?

- Kau mengenalnya? - Semuanya.

Kita ada di restoran pelopor sup ikan pollack Gongjin

untuk mencicipi sup ikan pollack pertama di Korea.

Pelopor tim penjelajah seluruh penjuru Korea.

Siapakah kita?

- Rasa yang Pertama ! - Rasa yang Pertama !

Benar sekali.

Baiklah, apa saja bahan untuk membuat makanan di depan kalian?

- Seladren! - Kucai!

- Tahu? - Lobak?

- Bubuk cabai! - Ssukgat !

- Arak beras? - Kecap asin!

Bukan.

Bahan yang paling penting belum disebutkan.

- Ikan pollack segar. - Benar juga.

Benar.

Benar!

Apa nama acara TV yang menebak bahan makanan seperti ini?

Cicipi Apa Saja !

- Hebat. - Benar sekali.

Dialah yang membuat acara itu.

- Astaga! - Hei.

Pantas saja aku merasa wajahnya tak asing.

Tapi kenapa kau datang ke Gongjin?

Begini, aku datang ke Gongjin

untuk merekam acara hiburan baru yang berjudul Belalang Desa.

Kami akan berhati-hati agar syutingnya tak mengganggu keseharian kalian,

jadi, mohon dimaklumi. Terima kasih.

Dengan kata lain,

Gongjin dipilih untuk tampil di acara ini.

Peran aktifku di sini…

Pak Ji, berikutnya datang ke restoranku. Akan kubuatkan jjajangmyeon paling enak.

- Baiklah… - Kau boleh makan bersama kru…

Bu Dokter, dari mana kau mengenalnya?

Dia seniorku di kampus.

- Kalau kau? - Kami bertemu di jalan.

Hubungan kami dipenuhi kebohongan.

Apa?

Tunggu.

Jadi, dia memang mengenal Baek Jong-won?

Itu dia!

- Berikan kartu namamu. - Perhatian.

Nanti kita makan-makan lagi.

RESTORAN SASYIMI HWAJEONG

- Sulit dipercaya. - Makan yang banyak.

Hentikan.

- Omong-omong… - Tunggu.

- Aku permisi sebentar. - Ya.

Terima kasih.

Silakan.

- Aku salah apa? - Jangan bicara seperti itu.

- Jangan begitu. - Hentikan, kalian.

Akhirnya aku bisa membebaskan diri. Maaf.

Tidak apa-apa. Sejak dahulu kau memang populer.

Astaga.

Sudah berapa lama, ya?

Mungkin sepuluh tahun?

Bu Dokter, sepertinya kau harus mengalah dahulu.

Aku ingin kau menjelaskan sesuatu.

Kau tahu aku salah paham, tapi kenapa kau diam saja?

Karena yang kulakukan tidak beda jauh.

Jalan-jalan mencari makanan dan menganalisis rasanya.

Secara garis besar, ini memang mukbang .

Berkat itu, aku mendapatkan banyak kritik pedas.

Aku bukan orang yang mengatakan hal yang salah.

Baiklah, salam kenal.

Ya, salam kenal. Aku sudah boleh bicara dengan Hye-jin?

Silakan.

Hye-jin, aku sempat melihat orang yang mirip denganmu dari belakang.

Ternyata itu memang kau, ya.

- Sungguh? - Ya!

Lalu kenapa kau di sini?

Aku membuka klinik di sini, walaupun masih baru.

- Klinik Gigi Yoon? - Kau tahu dari mana?

Luar biasa. Aku lihat saat kebetulan lewat.

- Aku bahkan memotretnya. - Sungguh?

Jadi, itu klinikmu?

- Ya. - Aku yang carikan, bahkan merenovasinya.

- Itu alasan kalian saling kenal. - Ya.

Ya, bisa dibilang begitu.

Astaga.

Ternyata Pak Ji dan Dokter Yoon saling kenal? Kalian terlihat akrab.

- Dia seniorku di kampus. - Begitu.

Tapi kalian tidak terlihat seperti teman kampus biasa.

Apa hanya aku yang merasakan ada yang istimewa di antara kalian?

Bukan begitu. Astaga.

- Bukan begitu. - Tapi dia tiba-tiba serius.

Ada apa? Apa tebakanku benar, Dokter?

Tidak, bukan begitu. Dia adik kelas kesayanganku.

Adik kelas kesayangan?

Lihat, 'kan? Hubungan kalian istimewa.

Hei! Kenapa kau membawa pergi makananku?

Karena kau bicara terus. Kukira kau sudah selesai makan.

Aku belum memakannya.

Hei, ada seladren di gigimu.

Astaga.

Kau sangat menikmati supnya, ya?

Sial.

Maaf, besok aku harus kerja. Aku pulang dahulu.

Kau tak pernah pulang lebih awal karena itu.

Diam.

Hye-jin, di mana rumahmu? Kuantar, ya.

Tidak usah. Rumahku dekat.

- Dia mengantarnya. - Terserah.

Aku mau mencari udara segar sebentar.

- Baiklah. - Aku akan segera kembali.

- Kau pergi juga? - Aku pulang lebih dahulu, ya.

- Apa? - Kau mau ke mana?

Permisi.

- Mau pulang? - Ya. Dah.

Seharusnya kau jangan duduk di sana.

- Kita pulang saja. - Bukan salahku.

Padahal aku bisa pulang sendiri.

Itu benar.

Padahal rumahmu dekat sekali.

Lalu kenapa kau ikut juga?

Aku bukan mau mengantarmu, tapi aku harus mengantarnya kembali.

Walaupun dekat, dia pasti tersesat.

Kau benar.

Hei, aku tak separah itu.

- Yang benar saja. - Jangan menyangkal.

Dulu aku sering menyelamatkanmu saat tersesat mencari ruang kuliah.

Ya, itu memang benar.

Hei, bagaimana kalau kita

minum-minum berdua setelah mengantar Dokter Yoon?

Boleh saja.

- Kenapa tiba-tiba? - Apa?

Kenapa kalian minum-minum, tapi tak mengajakku?

Kau besok harus kerja pagi-pagi, 'kan?

Ya, tapi aku masih punya waktu sampai pukul 24.00.

Itu rumah Kepala Hong.

Masuklah.

Ini rumahmu?

Bagus, 'kan?

Pemandangannya bagus sekali.

Kau menata rumahmu dengan baik. Unik sekali.

Perabotan dan lampunya kubuat sendiri.

Mengecat, menempel, membuat, dan membeli bahan yang kurang.

Semua kulakukan sendiri.

Kau juga membuat miras sendiri?

Ya.

Itu koleksiku.

Miras kuat di rak bawah dan berbagai jenis teh di rak atas.

Tunggu. Sepertinya ada tempat yang kosong.

Itu karena aku kedatangan tamu yang tak diundang.

Tadinya ada arak ginseng yang sudah diperam selama satu tahun.

Hei, Seong-hyeon.

Duduklah di sini.

Aku ingin membantunya.

Tidak perlu. Dia Kepala Hong.

Dia orang yang bisa dan lebih suka mengerjakan semuanya sendiri.

Benar. Kau duduk saja.

Baiklah.

- Maaf, tapi di mana toiletnya? - Seong-hyeon.

Toiletnya ada di balik pintu itu.

Ya, baiklah.

Apa niatmu mengajak Seong-hyeon ke sini tanpa aku?

Mau membicarakanku?

Seorang dokter memang tak bisa mengobati dirinya sendiri.

- Apa? - Periksalah ke dokter.

Comments

No comments yet. Be the first to leave one.

Keep it about this subtitle — sync, quality, typos.500 characters left