The confession tapes

The confession tapes

Download Indonesian Subtitle

Release info

The Confession Tapes S01E01 WEB-STRiFE
A Commentary by tikacika25

Tags

web
Published on: 2017-09-20
Downloads: 29
Hearing Impaired: No

Indonesian subtitle preview

The first 200 lines.

tikacika25

Mereka akan menahan kalian.

Kau dan temanmu.

Jika kau butuh bantuanku,

lakukan yang kuperintahkan, dan semua akan kubereskan.

Jika kau tak mau, beritahu aku sekarang,

kau takkan mau pernah mengenalku. / Aku butuh bantuanmu.

Aku akan selamatkan kau dan temanmu dari penjara.

Tapi kau harus membayarku. / Ya.

Masalahmu ini sangat besar.

Bagaimana kalian bisa membunuh tiga orang sekaligus?

Ceritakan yang terjadi di sana,

dan akan kujelaskan solusiku untuk masalahmu.

13 JULI 1995 PUKUL 2.01 PAGI

Apa yang ingin anda laporkan? / Ada...

Aku butuh... ambulans.

Baik, ada masalah apa? / Ada pembobolan rumah, aku...

Baik, tenanglah dulu. Ada masalah apa?

Kami berdua...

Ibu dan ayah temanku...

mereka...

Mereka tewas.

Tenanglah dulu. / Kurasa di sini tidak aman.

Kami akan tunggu di luar rumah. / Silakan, keluarlah.

Lekaslah. / Petugas sedang menuju ke sana.

Baik. / Mereka sedang dalam perjalanan

Kami tunggu di luar. / Baik, silakan.

Sekitar pukul 2.30 pagi ada telepon masuk.

Atasanku menyuruhku ke kediaman keluarga Rafay,

yang ada di daerah Bellevue.

Mereka baru saja pindah jadi banyak kardus-kardus.

Di ruang keluarga lantai satu, istri Rafay tewas tertelungkup.

Kepalanya dipukul dengan benda tumpul.

Dari sana, kami ke atas menuju kamar Dr. Rafay.

Banyak ceceran darah dan otak...

Seluruh ruangan dipenuhi bekas pembunuhan Dr. Rafay.

Lalu kami ke kamar Basma Rafay, putri Dr. Rafay.

Dia tadinya masih hidup.

Kemudian dia meninggal di RS keesokan paginya.

Orang yang menemukan mereka adalah Atif Rafay, putra korban,

dan temannya, Sebastian Burns.

Hanya mereka saksi mata yang kami miliki.

Saat mereka dibawa ke kantor polisi,

orang-orang baru sadar manusia macam apa mereka berdua.

TRUE EAST BAGIAN 1

Saat itu, kami tak paham betapa kejamnya dunia.

Aku tak tahu cara menjelaskannya.

Tapi saat kita remaja, rasanya tak ada yang mustahil.

SARAH ISAACS MANTAN KEKASIH SEBASTIAN

Kami berpacaran saat kelas 12,

hingga tahun pertama perkuliahan.

Sebastian itu pintar.

Dia cerdas tapi pemalas.

Dia senang berbincang,

berdebat dan menceritakan semua perasaannya.

Lalu Atif, dia anak yang berprestasi.

Orangtuanya berpendidikan tinggi. Ibunya punya gelar Master.

Sedangkan Dr. Rafay punya gelar Doktor di jurusan teknik.

Kedua orangtua Afif sangat berprestasi.

Itu mungkin sebabnya Atif kuliah di Universitas Cornell.

Kampus itu cocok untuknya dan dia senang menjalaninya.

Kakak Atif mengalami disabilitas karena pernah terjangkit meningitis waktu kecil.

Itu sebabnya ibu Atif sangat memperhatikan kakaknya.

Sebastian dan Atif bersahabat dekat.

Mereka tampak mustahil untuk berteman.

Secara budaya, mereka berbeda. Mereka teman yang aneh.

Keluarga Rafay tinggal di Vancouver Utara.

Lalu mereka pindah ke Bellevue.

Sedangkan Sebastian masih tinggal di Vancouver.

Saat itu, dia sedang berkunjung ke rumah Atif.

Atif sedang berkuliah di Universitas Cornell.

Ibu Atif yang menyuruh mereka datang ke rumah.

Jadi mereka sudah menginap di sana selama lima hari.

Tragedi itu terjadi saat mereka keluar rumah.

BOB THOMPSON DETEKTIF BELLEVUE

Kami mengumpulkan keterangan dari Burns dan Rafay.

Saat sedang memeriksa alibi mereka, rupanya banyak yang ingat mereka.

Mereka keluar rumah pukul 8.30 malam.

Mereka ke restoran Keg, setelah dari sana,

mereka ke bioskop untuk menonton "The Lion King".

Loren, anda bekerja di Bioskop Factoria.

Apa itu benar? / Ya.

Anda bilang mengenali salah satu dari mereka?

Aku yakin memang melihatnya karena dia memakai jaket tentara.

Seberapa yakin? / Sangat yakin.

Setelah menonton, mereka ke Seattle.

Dengan mengendarai mobil, mampir ke sebuah kedai makan.

Anda pernah melihat mereka sebelumnya?

Ya, mereka menanyakan klub di daerah ini serta kapan tutupnya.

Lalu mereka pergi ke sebuah klub.

Setelah dari klub, mereka pulang.

Manusia akan bertindak agak berbeda setelah melihat sesuatu yang traumatis.

Tapi tindakan mereka terlalu aneh.

Atif Rafay tampak tak peduli dengan yang telah terjadi.

Dia melihat ibunya tewas.

Lalu dia ke atas, menemukan jasad ayahnya. Dia tak bisa berbuat banyak.

Dia mendengar suara adiknya di sebelah kamar ayahnya.

Kutanya, "Kau memeriksa adikmu?" Dia jawab, "Tidak."

"Kenapa kau tidak memeriksanya padahal kau tahu dia masih hidup?"

Lalu dia bilang, "Aku tak bisa berbuat banyak."

Bahkan, dia juga bilang, "Aku bahkan tak tahu cara memasang perban".

"Yang kutahu, ada yang mencuri Walkman milikku,"

dari rak di kamarnya.

Perekam kaset video di ruang keluarga juga hilang.

Kau baru saja melihat ayah dan ibumu dibantai.

Dan kau malah cerita tentang Walkman-mu yang dicuri?

Sebastian Burns tampak terpukul, bahkan tak mau bicara pada polisi.

Dia merasa, "Aku sudah bicara pada polisi.

Sudah kuceritakan semua yang terjadi."

Semua menjadi jelas. "Dia sudah terjaga sepanjang malam ini.

Dia mungkin lelah. Dia baru saja melihat TKP pembunuhan yang mengerikan.

Yang dia butuhkan adalah istirahat."

Maka kami suruh mereka menginap di sebuah hotel,

kami beri nomor pager kami,

dan bilang,"Kami akan hubungi lagi nanti, tidurlah."

Aku tak tahu jam berapa mereka akan pulang.

Rencana mereka tak terlalu jelas. Lalu aku sibuk menelepon rumah Burns.

Lalu keesokan paginya,

orangtuaku membangunkanku.

Katanya mereka membaca berita di koran

bahwa keluarga Atif dibunuh.

Aku mengira Burns masih belum tahu.

Lalu kuhubungi Ayah Burns.

Beliau menjawab teleponnya dan sempat bergurau

dan berkata, "Sebastian belum pulang."

Lalu aku berkata sambil menangis di telepon,

aku berkata, "Anda pasti belum mendengar beritanya."

Sebastian akhirnya menelepon kami. Sekitar pukul 9 malam.

Lalu aku bertanya, "Apa kabarmu? Bagaimana keadaanmu?

Apa kau sedang di dalam sel tahanan?"

Lalu dia jawab, "Tidak, kami di sebuah motel."

DAVE BURNS AYAH SEBASTIAN

Lalu kujawab, "Aku...

Aku ingin menjemput kalian dan membawa kalian ke sini

karena kalian tak mungkin kembali ke rumah Atif.

Itu artinya kalian tak punya tempat untuk menginap."

Dia jawab, "Kami tak bisa pergi sebelum memberitahu polisi."

Setelah pembunuhan terjadi, mereka dibawa

oleh Kepolisian Bellevue dan diasingkan.

Mereka berada di kamar motel yang suram selama tiga hari

sambil mempertanyakan kebijakan polisi Bellevue pada saat itu.

Awalnya, saat kau mencatat pernyataan,

kau takkan terlalu memperhatikannya.

Tapi setelah kau mencerna ulang pernyataan tersebut,

kau akan berpikir, "Aku harus mencermati ini lagi.

Ada yang ganjil."

Sebastian Burns yang menghubungi 911.

Ada pembobolan rumah.

Awalnya, kalimat itu tidak aneh bagiku.

Pembobolan mengacu pada perampokan bukan pembunuhan.

Saat kau melihat kondisi rumahnya, itu tampak dibuat seakan ada perampokan.

Di kamar Sebastian Burns menginap, ada kardus berisi berkas-berkas.

Di awal kau masuk, mungkin memang tampak seperti ada yang mengobrak-abrik

dokumen di sana.

Tapi jika diperhatikan lebih seksama, kardus itu tidak dibongkar sama sekali.

Hanya sekedar dijatuhkan.

Lalu kami memeriksa alibi di restoran Keg.

Lalu pelayannya berkata, "Oh, ya.

Aku ingat mereka karena mereka memesan salad dan minuman anggur."

Mereka memesan anggur jadi mereka diminta mengeluarkan kartu identitas

dan aku ingat ada dua orang Kanada kemari

yang memesan minuman anggur dan salad.

Di kedai makan Seattle, pelayannya juga ingat mereka

karena mereka hanya memesan minuman soda dan kentang goreng.

"Lalu mereka memberiku uang tip 10 dolar.

Di klub malam The Weathered Wall,

pria itu ingat mereka dan berkata, "Aku sedang melihat jamku, pukul 1.40.

Klub kami hampir tutup. Aku tak mengizinkan mereka masuk."

Potongan kecil keterangan itu mulai kami satukan.

Secara terpisah, keterangan-keterangan itu tak ada artinya.

Tapi setelah di satukan, akan muncul sebuah

rencana pembunuhan yang tersusun rapi.

PERILAKU YANG GANJIL

Keesokan harinya, kami ingin menemui mereka di hotel,

tapi mereka sudah tak ada.

Carol segera menghubungi konsulat Kanada

untuk mencari keterangan

apakah mereka kembali ke Vancouver.

Dan ternyata benar.

Setelah mereka tiba di rumah Sebastian,

polisi Bellevue membocorkan informasi...

bukan membocorkan...

memberitahu pers bahwa Sebastian dan Atif kabur,

yang mana itu taktik kotor untuk menunjukan mereka berdua bersalah,

dan itu takkan berakhir baik.

Lalu kami laporkan lewat media... Tidak, kami tidak melaporkan...

Lalu...

Beritanya tersebar di media bahwa Burns dan Rafay lari ke Kanada.

Yang kutahu, mereka kabur,

melarikan diri dari Bellevue secepat mungkin.

Namun, sejujurnya...

kami tak punya alasan untuk menahan mereka...

Mereka bebas mau pergi ke mana saja.

Tapi mereka malah pergi begitu saja.

Mereka kembali ke sini sekitar pukul 5.00.

Kami menyalakan berita Seattle di TV saat itu

karena kami ingin tahu perkembangan berita.

Dan...

liputannya malah tentang pemakaman.

Kerabat Rafay berkumpul di Masjid Northgate hari ini.

Comments

No comments yet. Be the first to leave one.

Keep it about this subtitle — sync, quality, typos.500 characters left