The first 200 lines.
"Semua karakter Tempat kejadian Dalam Drama Ini Sepenuhnya Fiksi"
Kau menangis?
Kau ingin aku tetap di sini atau pergi?
Aku ingin kau pergi.
Aku ingin kau…
ikut denganku.
Pembongkaran beres.
Apa yang harus dibicarakan?
Aku punya hadiah.
Kau menolak pembongkaran. Kini hadiah?
Aku menolak. Kau tahu, UU Antikorupsi.
UU itu tak berlaku.
Aku mengembalikan barang milikmu.
Siapa bilang peti kecil hitam ini punyaku?
Dukun Eun-wol.
Wanita manis itu.
Sepertinya dia baik.
Aku tak mau ini.
Dia menyetujui pembongkaran.
Kau menolak hadiah dari penyelamatmu?
Apa isinya?
Bukalah. Itu punyamu.
Aku tak mau.
Sepertinya ada tulang di dalam.
Mungkin pusaka, bukan tulang.
Mungkin lukisan Shin Yun-bok.
Naiklah. Ayo kuantar.
Tidak perlu.
Aku tak mau diantar orang yang tak dekat denganku.
Naik angkutan umum pasti sulit.
Sulit dekat dengan pengemudi bus, taksi, dan kereta.
Aku mau mengantar
kotak kayu ini, bukan kau.
Karena itu sepertinya barang antik 300 tahun.
Telepon aku setelah dibuka.
Aku juga ingin tahu isinya.
- Kau bisa, 'kan? - Tentu.
Semoga kau bertemu sopir bus yang dekat denganmu dan diantar.
Aku naik taksi!
Dia sangat angkuh.
Jangan cemaskan ayahmu.
Dia pergi ke laut yang luas.
Cita-citanya keliling dunia.
Keinginannya terwujud.
Sayangku.
Kau pasti kesepian selama ini.
Menyebalkan sekali.
Semua orang di sekitarmu bodoh.
Jadi, mereka tak menyadari betapa baiknya kau.
Dia wanita yang ramah.
Dia tak akan memberiku barang aneh.
Haruskah kubawa ke Authentic Masterpieces?
Mungkinkah ini lukisan Shin Yun-bok?
Jangan menduga-duga.
Ayo buka dahulu.
Apa ini?
Astaga!
Jika kau mau sok jual mahal,
enyahlah.
KOTAK KAYU
JANG SIN-YU
Terlalu malam untuk menelepon, 'kan?
Aku menelepon malam-malam karenamu.
Kotaknya sudah dibuka?
Belum.
Kenapa belum?
Ingin kubuka, tapi tak bisa.
Aku ingin menghancurkannya dengan kapak, tapi tak bisa. Kenapa?
Tidak ada kapak di rumah.
Kau mabuk?
Dua kaleng bir tak akan membuatku mabuk.
Orang enggan terbuka kepadaku.
Bahkan gembok pun tak mau.
Kenapa mereka mengucilkanku?
Nak,
ayo bersantai dengan Ibu.
Aku ada telepon.
Nanti aku menyusul.
Berhenti minum dan buka kotaknya.
Lalu, hubungi aku.
Seseorang pasti bahagia
memiliki ibu yang ramah.
"Bersantai dengan Ibu."
KOTA ONJU
Selamat pagi.
Pagi ini buruk.
Kepalaku sakit sekali.
Kukira hanya wajahku yang menua, tapi kini tubuhku juga.
Hong-jo, bisakah kau pergi ke toko swalayan
untuk beli minuman pereda pengar?
Tentu.
Tidak perlu.
Tidak apa-apa. Aku akan bergegas.
Bagaimana jika dia melaporkanku ke Tim Audit
karena dia urus urusan pribadiku?
Pak Gong…
Kau sudah merampungkan laporannya.
Aku pusing, jadi akan kubaca nanti.
- Baik. - Kenapa? Tidak boleh kubaca nanti?
Kau menatapku dengan sinis.
Dengan mata besar itu.
Tidak.
Aku akan mengurus masalah pot gantung.
Aku juga makan siang di luar,
jadi jangan cemaskan aku.
Ayo sarapan siang dengan sup pengar pukul 11.00.
Selalu sekitar musim ini.
Jadi, harus kami gantung paling lambat pekan depan.
Wali Kota juga melewati jalan itu saat ke kantor.
Aku bisa saja dimarahi.
Ini zonal geranium.
Kalendula, Moulin Rouge,
Maverick oranye, dan Horizon Appleblossom.
Ada berbagai jenis.
Jadi, pilihlah yang kau suka.
Aku bertemu Pengacara Seo siang ini.
Kita kalah dari Haum di persidangan.
- Lagi? - Tingkat kekalahan konselor Onju
di atas 60 persen.
Anggaran kota lebih dari 1,2 miliar won terbuang.
PNS membuang waktu dan uang mereka untuk konsultasi pengacara eksternal.
Maka itu kusarankan
kita isi posisi penasihat hukum yang kosong setahun belakangan.
Pertahankan saja dua firma hukum dan rekrut pengacara andal di Balai Kota.
Itu lebih hemat.
Ide yang bagus.
Apa pengacara yang murah dan andal mau datang ke sini?
Gajinya agak…
Pasti ada yang tak mementingkan uang.
Tak ada orang seperti itu.
LAW & HIGH
"Sakit dan kutukan akan berakhir."
"Pemilik kotak kayu itu datang."
Kotak itu milik
Lee Hong-jo.
Namun,
dia belum meneleponku.
Ada apa?
Sudah dibuka?
Tidak. Belum.
Kenapa belum?
Aku sibuk.
Hei, Bu.
Jangan duduk di ayunan.
Kau makan sendiri di ayunan?
Kau pasti tak tahu pekerjaan PNS.
- Semuanya… - Aku tak perlu tahu, 'kan?
Kapan kau pulang?
Entahlah.
- Mungkin melembur… - Jangan melembur hari ini.
Pulang lebih cepat dan bukalah setibanya di rumah.
Hubungi aku nanti.
Mana jawabanmu?
Aku enggan menghubungimu.
Bahkan Aladdin berlaku sopan kepada Jin.
Namun, kau sama sekali tak sopan kepadaku.
Aku akan minta dengan sopan.
Tolong buka kotak kayunya hari ini.
Tolong hubungi aku juga.
Baiklah. Akan kupertimbangkan dan…
Halo?
Dia menutup teleponnya?
Hei!
Sudah kubilang jangan duduk di sana.
Sial.
Angkatanmu tiga tahun di atasku?
Kau tak tahu.
Aku selalu di perpustakaan dan kau menongkrong.
Aku belajar dengan tekun.
Sepanjang waktu.
Kau main basket di depan perpustakaan.
Berisik sekali.
Kau mau meminta kompensasi untuk itu?
Aku menawarkan posisi pengacara Balai Kota.
Kau tahu berapa gajiku?
Aku tak mau tahu.
Tidak bisa kami samakan juga. Namun…
aku baru tahu kau mata duitan.
Aku tidak mata duitan.
Namun, aku suka pekerjaan yang menantang.
Kau mau aku jadi penasihat PNS
dan membantu gugatan.
Lawannya firma besar.
Banyak perusahaan besar
yang aktivitasnya ilegal dan menunggak pajak miliaran won.
Putuskan secepatnya
agar aku bisa cari yang lain.
Boleh kutanya?
Soal perusahaan besar itu.
Haum salah satunya?
Tentu saja.
Satu, dua, tiga, empat,
lima, enam, tujuh, delapan, sembilan, sepuluh, 11.
Sudah kuduga. Apa ini takdir?
Aku dan Pak Kwon melembur.
PNS HONG-JO
Ada apa?
Aku dilarang, tapi kau sendiri malah melembur.
Bukan wajahmu yang ingin kulihat.
Benar sekali.
No comments yet. Be the first to leave one.