Release info

인간실격-Lost-E12-NEXT-iQIYI
A Commentary by Anangkaswandi

Tags

other
Published on: 2021-10-10
Downloads: 17
Hearing Impaired: No

Indonesian subtitle preview

The first 200 lines.

[Semua tempat, tokoh, firma, dan peristiwa dalam tayangan ini hanyalah fiksi.]

Tenda ini

terlihat seperti labu, ya?

Saat matahari terbit,

saat pagi tiba,

semuanya akan menghilang, seperti kereta labu.

Tempat ini. Momen ini.

Semuanya.

Apa kita akan ke laut?

Entahlah.

Mau bertaruh?

50.000 won.

Aku bertaruh kita tak langsung pulang.

Kau bertaruh kita langsung pulang.

Kau sudah tidur?

Selamat tidur.

Boleh kusentuh wajahmu?

Boleh.

[Jika bergegas setelah matahari terbit, aku tidak akan terlambat.]

[Apa kita bisa melihat matahari terbit? Cuacanya berawan.]

Kenapa kau sedih sekali?

Tiap kali

aku melihatmu, kau selalu sedih.

Bahkan sekarang.

Apa yang kau pikirkan?

Bahwa aku sebenarnya sedih.

Bukan marah.

Itulah yang kupikirkan.

Aku selalu

mengira aku marah.

Orang-orang di sekitarku selalu memperlakukanku seperti itu.

"Dia selalu marah. Jadi, berhati-hatilah."

Siapa yang seperti itu?

Semua orang yang mengenalku.

Ayahmu tidak seperti itu.

Aku juga.

Aku takut.

Kenapa?

Kau bilang semua ini akan hilang besok pagi.

Tempat ini, momen ini, semuanya.

Jadi...

Aku ingin menyentuh wajahmu.

Sebelum semuanya benar-benar menghilang.

Tapi

aku takut karena kau mengizinkannya dengan mudah.

Kapan kali terakhir aku menyentuh wajah seseorang?

Aku tak yakin aku bisa.

Terima kasih.

Karena mengatakan aku sedih.

Aku akan keluar sebentar.

Tidak ada tempat yang buka, ya?

Aku baru

mencari di Pasar Dongdaemun.

Menyerah saja.

Kau benar bahwa kebanyakan tempat buka 24 jam.

Tapi bukan toko perlengkapan tidur.

Aku akan mencari di Pasar Namdaemun.

Mereka hanya menjual selimut di siang hari.

Bukan di pagi-pagi buta.

Bagaimana kau tahu?

Kau bahkan belum mencarinya.

Aku tahu karena aku pergi ke banyak pasar saat fajar.

Saat fajar?

Kenapa?

Untuk bekerja.

Lalu kenapa kau ikut denganku?

Kau seharusnya tetap di sana.

Aku penasaran.

Kau penasaran denganku?

Aku penasaran

ke mana orang baik dan jujur pergi

saat fajar dengan pacarnya.

Kau tak akan bisa membeli selimut.

Tapi kau tak bisa tinggal di jalanan.

Jadi, pub atau ruang karaoke

atau sauna kering?

Kau mungkin muak dengan warnet.

Kalau tak mau ke semua tempat itu,

mau menginap di motel?

Apa?

Tapi itu bukan karena kau akan meninggalkan rumah Gang-jae.

Kurasa kau akan memperlakukanku seperti

sesuatu yang sangat berharga.

Membuatku merasa berharga.

Tapi

aku tak pernah mengalami itu.

Jadi, aku tak bisa membayangkan akan seperti apa.

Permisi, Pak.

Alih-alih ke Pasar Dongdaemun,

bisakah kau kembali ke arah kami datang?

Baiklah.

Terima kasih.

Hei.

Kau membuatku takut saja.

Kau baru masuk?

Tidak, aku belum pulang.

Apa maksudmu?

Aku akan keluar lagi.

Kau akan membeli barang yang sama?

Begini,

karena aku memecahkannya, aku harus menggantinya.

Benarkah kau yang memecahkannya?

Tentu saja aku.

Bukankah mantan istrimu

melihat senyaman apa kau tinggal di sini,

lalu marah dan melemparnya ke dinding?

Tidak.

Aku yang memecahkannya.

Saat kuambil, itu terlepas dari tanganku.

Lalu jatuh dan pecah.

Woo-nam.

Kau pasti tahu itu menghantam langit-langit

dan bingkai foto, sampai meninggalkan bekas di mana-mana.

Terpental sampai ke sana?

Woo-nam.

Itu sudah kubersihkan.

Aku tak mau Soon-gyu marah.

Terima kasih.

Dan kau tak akan

bisa menemukan ini.

Kenapa? Kau membelinya di saluran belanja.

Itu sudah lama sekali.

Biar aku yang mengurus ini.

Belikan dia set baru yang bagus.

Baiklah.

Kau mau pergi?

Kubilang aku akan keluar lagi.

Kau mau ke mana?

Keluar.

Dengan siapa?

Kau begitu

tegas hari ini.

- Woo-nam. - Ya?

Apa ada masalah?

Ya.

Ya?

Bisakah kau ke kamar Soon-gyu dan mengambil selimut?

Selimut?

Semoga berhasil.

Aku akan segera turun.

Kau lebih bernyali daripada dugaanku.

Membawa pulang seorang gadis selarut ini.

Mengambil selimut untuk beberapa alasan.

Itu berbahaya. Aku tak bisa meninggalkannya di jalanan.

Kalau begitu, kau seharusnya mengajaknya masuk.

Kamarku berantakan. Aku tak mungkin mengajaknya masuk.

Kau sangat mencintainya, ya?

Dia tampak tak asing, sepertinya aku pernah melihatnya.

Kau tak pernah melihatnya.

Aku belum pernah melihatnya.

Dia mengingatkanku pada seseorang.

Dia mirip siapa?

Soon-gyu.

Kakakmu.

Woo-nam.

Kau sudah sangat stres

sampai jadi gila, ya?

Apa?

Tidak, lihat baik-baik.

Aku tidak tahu apakah karena gelap,

tapi dilihat daru siluet dan sebagainya,

dia mirip kakakmu.

Dia tinggi,

memiliki kaki yang panjang,

wajah yang ramping,

mata yang besar, dan hidung yang mancung.

Gaya rambutnya berbeda.

Jika dia memotong rambutnya, dia Soon Gyu.

Kau tahu,

dari semua hal yang kudengar selama 27 tahun terakhir,

ucapanmu tadi adalah omong kosong terbesar.

Tidak.

Lihat baik-baik.

Hei...

Aku mengerti.

Kau menginginkan wanita

yang menyerupai kakakmu.

Kau mau pergi?

Bersamanya?

Ya.

Kapan kau akan kembali?

Entahlah.

Mungkin segera.

Atau mungkin agak lama.

Tolong jaga Soon-gyu.

Biar kubawa.

Ini berat.

Tidak apa-apa.

Aku sebenarnya menyesal

telah meninggalkan itu.

Benar, 'kan?

Anginnya kencang sekali.

Aku naik ke arah sana tadi.

Orang-orang memotret

bintang dan bulan.

Aku melihat foto-fotonya.

Foto-fotonya bagus sekali.

Aku ingin mengambil foto.

Jadi, kami bertukar nomor telepon.

Rupanya kau keluar.

Comments

No comments yet. Be the first to leave one.

Keep it about this subtitle — sync, quality, typos.500 characters left