The first 200 lines.
Ada apa?
Di mana Tuan?
Dia di ruangan dalam.
Cepat artikan lukisannya.
Lukisan ini...
Tuan.
Cepat sembunyi.
Ada apa?
Seniman Choe telah mengungkap kita.
Saat ini, Kepala Kasim dan anak buahnya ada di luar.
Anda harus segera bersembunyi.
Apa yang kaukatakan?
Harusnya tepat saat ini...
Cepat kau sembunyikan Mu Yeon dulu.
Ya... kunyuk ini...
Mu Yeon!
Sebenarnya ada apa?
Bukannya Jeon Woo Chi telah mati di Yuldo?
Mu Yeon, ayo.
Aku datang untuk menyelamatkanmu.
Apa yang kau lakukan? Cepat tangkap dia!
Cepat pergi.
Ayo.
Tidak, Mu Yeon!
Jangan pergi! Ini aku, Jeon Woo Chi!
Mu Yeon...
Aku akan mengurusnya.
Kalian semua pergi dan nyalakan api.
Kita harus hilangkan jejak.
Jangan sampai ada jejak yang tertinggal.
Baik.
Kepala Kasim.
Ada kebakaran.
Ayo.
Jangan kejar dia.
Pasti ada yang bisa digunkan untuk membuka pintu.
Jalanku hanya satu!
Kau menjemput kematianmu, Jeon Woo Chi.
Tempat itu menggunakan batu hitam keramat.
Sihir Tao tak akan mempan.
Kepala Kasim datang, cepat sembunyi.
Cari dengan seksama!
Pokoknya lukisan itu harus ketemu!
Kepala Kasim,
tidak ada apa-apa.
Dasar bajingan!
Bajingan itu yang mencuri lukisannya!
Cepat berikan lukisannya.
Aku tak tahu apa yang kau bicarakan.
Aku yakin itu dia! Aku jelas lihat dia yang mencuri lukisannya!
Jadi jemarimu bisa disatukan begini.
Gigi... gigi bisa juga.
Aku, Bong Gu, tak tahu aksara. Bagaimana ini?
Sungguh menyebalkan.
Hei, Lee Chi. Coba lihat ini.
Tak ada yang tahu bagaimana menulis baris berikutnya.
Ikut baris ini, aku harus bagaimana ini?
Bukannya kusuruh untuk lihat?
Kalau ini...
Orang ini... kau bercanda?
Ini terbalik.
Kau benar. Kenapa tak terpikir olehku?
Ini...
Tulis saja sendiri.
Kau akan seperti ini?
Aku juga telah membantumu periksa banyak surat.
Tolong bantu aku sekali ini.
Lee seonbaenim, aksara "mengalir" untuk peribahasa "arus air yang mengalir sepanjang waktu".
Apa aksara dasar "mulut" ditulis dengan 3 atau 4 goresan?
Yang benar saja, masa hal mudah begitu kau tidak tahu?
Dan kau masih menyebut dirimu seorang terpelajar.
Aku mau ke kamar mandi. Selesaikan urusanmu sendiri.
Sendiri.
Selesaikan.
Baik.
Ya ampun...
Lee Chi! Mau ke mana?
Kenapa?
Ada yang ingin kukatakan. Kemarilah.
Sudah kubilang kemari. Kenapa masih bediri di situ?
Aku akan segera ke sana.
Bong Gu pasti banyak mengalami kesulitan.
Apa ini?
Aku harus memberikan kuliah kepada Yang Mulia.
Bukankah kehormatanku juga kehormatan bagi Bagian Pemberitaan Istana?
Tapi, harusnya kau juga tahu. Jika ini dikerjakan oleh Surat Kabar Istana harusnya bisa jadi inspirasi.
Karena itu, setelah membaca buku ini, kau harus menyiapkan materi kuliahnya.
Apa?
Tak ada banyak waktu. Kau harus lakukan sekarang, di sini.
Bahan kuliahnya ini dibutuhkan saat memberi kuliah nanti.
Apa yang kau lakukan?
Itu... bisa tidak aku kerjakan nanti?
Tidak ada waktu lagi.
Kenapa? Kau tidak mau?
Tidak, bukannya aku tidak mau...
Aigoo, perutku... aigoo...
Kenapa tiba-tiba logatmu berubah?
Kapan?
Kalau bukan logat, lantas apa?
Di mana? Aku tak pernah punya logat.
Dasar kunyuk! Kau mau mempermainkanku?
Cepat buatkan bahannya!
Baik akan kukerjakan.
Aku harus ke Sekretariat Istana,
jadi buat konsepnya dulu.
Akan kuperiksa saat aku kembali.
Ya ampun...
Tuanku. Tuanku... Tuanku. Tu--
Orang ini tiap kali ada kesempatan pasti ke jamban.
Pastikan kau awasi dia dengan seksama.
Baik.
Aku tak akan membiarkan dia melangkah sejengkalpun.
Apa yang kau lakukan? Cepat tulis.
Tak masalah selama aku tulis. Tentu saja aku akan menulisnya.
Aigoo, dia benar-benar membuatku gila.
Jelas-jelas aku menyuruhnya datang ke sini dini hari.
Di mana dia sebenarnya?
Aku tak bisa menulis... Aku tak tahu caranya...
Aku tak tahu harus melakukan apa.
Aku bahkan tidak tahu cara membaca.
Omo, aku telah kembali jadi Bong Gu.
Bagaimana ini?
Ada apa?
Tidak ada, aku sedang menulis.
Ada apa dengan suaramu? Kenapa?
Aigoo, aku harus membuatnya pergi.
Tuanku! Tuanku! Tuanku!
Dia sedang menulis, jangan ganggu dia.
Hei kunyuk, kenapa kau di sini?
Minggir sana!
Aku tidak bisa bergerak!
- Kunyuk satu ini... - Tuanku!
Jangan ganggu dia.
Tuan, anda baik-baik saja?
Kau ini, kenapa tidak bilang kalau kau di sini?
Sudah kubilang jangan menganggunya, kan?
Tolong pergilah. Aku ingin sendiri.
Baiklah. Tapi, tugas yang diberikan oleh Kepala Kasim sudah kau kerjakan?
Satu halamanpun belum kau tulis.
Pergilah.
Dia memintamu pergi.
Bong Gu, kau juga.
Aku juga?
Kalian berdua, keluar!
Ayo pergi.
Dia menyuruhku keluar juga...
Kau lihat kan? Baru kali ini aku lihat dia marah-marah.
Aigoo, bodoh amat kalau kau lihat juga.
Kau lagi dapat?
Wartawan Choe, mana mungkin pria punya itu--
Itu kan milik perempuan.
Itu sebabnya aku katakan dia aneh, dasar.
Aku belum pernah lihat dia marah.
Benar. Dia telah membantu Paduka Raja saat mereka lulus ujian masuk PNS.
Sebagai sarjana peringkat atas, wajar baginya marah saat dia merasa kalah.
Dia peringkat atas? Peringkat atas..
Mu Yeon, ayo.
Aku datang untuk menyelamatkanmu.
Mu Yeon!
Bagaimana?
Meskipun kami berusaha memadamkan api secepatnya, namun tidak ada yang tersisa.
Kami tidak bisa menemukan tempat persembunyian orang itu.
Kau yakin dia yang mencuri lukisan itu
Aku jelas melihatnya dari pintu.
Cepat katakan semua yang kau lihat dan dengar pada Kepala Kasim.
Aku melihat mereka membuka gulungan lukisan di sini dan di sebelah sana, membuat keributan.
Sepertinya mereka belum bisa mengungkap rahasia dibalik lukisan itu.
Lukisan?
Iya.
Lukisan apa?
Lukisan beberapa tangkai bunga.
Lukisan bunga?
Iya.
Setidaknya, mereka belum bisa mengungkap rahasia dibalik lukisan itu.
Masih bisa sedikit tenang.
Kami melihat wajah orang yang mencuri lukisannya.
Kalau kita gambar wajahnya,
kita pasti bisa menemukan lukisan yang dicuri.
Jangan terlalu khawatir.
Benar. Aku akan cari seniman secepatnya untuk menggambar wajah orang itu.
Ayo cepat pergi.
Jadi, kau belum bisa menemukan petanya?
Maafkan hamba, Yang mulia.
Bagaimana hal ini bisa terjadi?
Tapi, kenapa tambang perak terus disembunyikan?
Sebenarnya seberapa besar tambang perak yang ditemukan Hong Gil Dong
hingga membuat kekisruhan begini besar?
Hamba juga tidak tahu spesifiknya
namun kabarnya bisa membeli sebuah negara.
Apa? Sebuah negara?
Lantas kenapa bukan Raja Agung yang memegang peta tambang perak itu?
Uang itu bisa membuat Joseon jadi negara yang makin kuat.
Ketika mendiang Raja Agung dihadapkan bahwa mereka dapat tambang perak
hal pertama yang mereka pikirkan bukan keuntungan tapi malah kerugian.
Bukan hanya Dinasti Ming, tapi juga Jepang.
Semua perdagangan butuh uang.
Jika pihak luar menemukan bahwa Joseon memiliki tambang perak yang sangat besar,
maka seperti mendiang Raja Agung khawatirkan, pecahnya perang tak dapat terelakkan.
Lantas, apa yang harus kita lakukan sekarang?
Saya menemukan sebuah petunjuk.
No comments yet. Be the first to leave one.