Season 1

Release info

Miraculous Brothers S01E03 VIU WEB-DL
A Commentary by Luh_Fil
Duration: 01:00:10

Tags

Web-DL
web-dl
web
WEB-DL
Published on: 2023-07-05
Downloads: 14
Hearing Impaired: No

Indonesian subtitle preview

The first 200 lines.

"Tuhan Sudah Mati" dipuji sebagai novel terbaik tahun ini.

Penulis novel sukses ini, Yuk Dong Ju,

dicurigai mencuri novel dari penulis tidak terkenal

dan menerbitkannya atas namanya.

Kecurigaan ini menyebabkan skandal besar.

Pembaca dan masyarakat mengajukan petisi ke Gedung Biru

untuk memulai penyelidikan guna mengungkap skandal ini.

Jumlah petisinya sejauh ini telah mencapai 300.000.

Beberapa orang mulai memboikot semua buku dari rumah penerbitannya,

Sastra dan Imajinasi.

Informasi pribadi keluarga penulis juga telah terungkap.

Kecurigaan tersebut berubah menjadi skandal besar.

Benarkah kamu mencuri novel itu?

Ada yang bilang kamu menyebabkan kecelakaan mobil untuk mencurinya.

Siapa penulis asli novel itu?

Sampai kapan kamu akan merahasiakannya?

Bagaimana perasaanmu sekarang?

Ada yang ingin kamu katakan kepada pembaca?

Kamu sama sekali tidak merasa bersalah?

Kamu siap menghadapi penyelidikan kejaksaan?

Siapa yang menulis novel itu? Kamu atau anak tidak dikenal itu?

Jawab pertanyaanku!

Sampai kapan kamu akan terus begini?

Kamu telah melakukan sesuatu yang sangat berbahaya.

Novel ini seharusnya

tidak dirilis ke dunia.

"Episode 3"

"Hari ini, Lee Myung Seok"

"Hari ini, Lee Myung Seok"

"Kepala Editor"

Astaga. Kaget.

Hei, kapan kamu selesai hari ini?

Aku bertugas malam kemarin. Aku baru mau pulang. Kenapa?

Bisakah kamu pergi ke rumahku dan memasang kamera pengawas?

Jangan beli yang murah. Beli yang berkualitas tinggi.

Aku akan membayarmu nanti.

Hei, aku juga mengganti kode aksesnya.

Kenapa? Ada yang membobol rumahmu?

Telepon aku jika sudah sampai. Terima kasih atas bantuanmu.

Dong Ju.

"Jung Yong Dae, Pemimpin Redaksi"

"Nomor Telepon Umum"

"Kepala Editor"

Halo.

Kamu baik-baik saja? - Apa maksudmu?

Kamu ingat kejadian semalam, bukan?

Aku mencintaimu - Hei!

Berengsek.

Apa yang terjadi? - Astaga!

Tidak! - Apa yang terjadi?

Itukah alasanmu meneleponku?

Tidak juga.

Kamu tahu kamu ada wawancara hari ini, bukan?

Pak Yuk?

Ya, aku mendengarkan.

Kamu harus tiba setidaknya satu jam sebelum wawancara.

Kamu juga harus dirias.

Kamu tidak bisa berfoto dengan luka di wajahmu.

Kamu harus merekam video

yang akan diunggah di situs daring koran itu.

Video?

Aku tidak bisa diwawancarai dengan wajah seperti ini.

Bisakah kamu menundanya?

Pak Yuk.

Kamu sudah menundanya sekali.

Jika kamu tidak datang untuk wawancara ini,

kamu akan melihat artikel berita yang berbeda.

Tentang penyerangan dan pelanggaran kontrakmu.

Baiklah! Terserah saja. Astaga.

Astaga. Ini membuatku gila.

Kamu memakai itu saat mengalami kecelakaan.

Kami harus segera merawatmu, jadi, terpaksa kami gunting.

Begitu rupanya.

Benar. Kamu hanya memakai sepatu kets sebelah.

Terima kasih. - Sama-sama.

Mungkin seharusnya aku bertanya kepadanya.

Aku ingin tanda tangan penulisnya dan berfoto dengannya.

"Bangsal 4102, Tidak Dikenal"

"Bangsal 4102, Tidak Dikenal"

Selamat ulang tahun.

Tapi kamu tidak ingat siapa dia?

Tidak.

Aku yakin itu keluargamu.

Lantas kenapa mereka tidak mencariku?

Kenapa orang tuaku tidak mencariku?

Aku yakin mereka mencarimu.

Omong-omong, kembalinya ingatanmu adalah pertanda bagus.

Kamu harus pulang sekarang.

Pulang? - Ya.

Tidak ada lagi yang bisa kami lakukan untukmu di rumah sakit.

Asalkan kamu tidak keberatan,

mau tinggal di rumahku sampai kamu menemukan keluargamu?

Rumahku mungkin lebih baik daripada tempat perlindungan.

Akan kupikirkan.

Kuharap kamu mempertimbangkannya dengan pola pikir positif.

Maafkan aku.

Ada apa denganmu? - Maafkan aku!

Astaga. - Maafkan aku.

Maafkan aku. Ini salahku.

Maafkan aku.

Maafkan aku.

Kritikus memuji karyamu karena memiliki wawasan mendalam

mengenai keserakahan orang-orang dan batasan antara baik dan buruk.

Novelmu sangat viral di kalangan para pembaca.

Sangat vital?

Bukan. Novelmu menjadi viral. Semacam tren.

Begitu rupanya.

Baiklah. Ini kali pertamaku mendengarnya.

Novel itu berlatar belakang pertengahan tahun 1990-an.

Kurasa dia gugup.

Novel itu sangat populer di kalangan generasi muda.

Benar.

Begitu rupanya.

Pak Yuk, bisa mendongak sedikit? Itu pasti tampak bagus.

Baiklah.

Adakah alasan khusus di balik penulisan novel ini?

Soal itu...

Jika ada alasan khusus...

Dahulu,

"Novelis Yuk Dong Ju"

hidupku begitu sulit.

Aku harus bekerja sebagai kurir dan sopir

sambil menulis novelku.

"Novelis Yuk Dong Ju"

Hasratku untuk menulis novel bagus sangatlah kuat.

Jadi, aku bergadang semalaman, mencoba menulis novelku.

Tapi saat aku hanya melihat kursor tetikusku,

berkedip di halaman kosong di pagi hari,

hatiku hancur.

Aku mulai meragukan bakatku

sebagai penulis juga.

Jadi, novel ini adalah contoh bagaimana kegigihanmu menang?

Bukan.

Kemiskinan dan kelelahan fisik

menghancurkan pikiran seseorang.

Aku bahkan tidak punya cukup uang untuk membayar uang sewa.

Menyuruhku tetap kuat secara mental dan mengatasi kemiskinanku

adalah omong kosong yang kejam.

Tapi aku masih bertahan

dengan tekadku.

Namun, aku mencapai batasku.

Kurasa aku tidak bisa meneruskannya.

Aku melihat hidupku hancur.

Pada saat itu,

aku melihat petir.

Maksudmu,

kamu terinspirasi seolah-olah tersambar petir?

Di dunia ini,

ada hal-hal ajaib

yang tidak bisa kita jelaskan dengan kata-kata.

Kurasa keajaiban juga terjadi kepadaku.

Dia pria yang jujur.

Terlepas dari kurangnya waktumu, novelmu jelas menunjukkan

kamu telah melakukan penelitian untuk menjaga keaslian sejarah.

Ada kiat khusus mengenai cara meneliti secara efektif?

Aku tidak punya kiat khusus atau semacamnya.

Aku membaca buku yang relevan atau menjelajah internet.

Aku sering melakukan penelitian di perpustakaan.

Aku juga bertemu orang-orang untuk mewawancarai mereka.

Kamu pasti punya banyak data.

Bisakah kamu menunjukkan jurnal penelitianmu?

Seorang novelis bernama Jung Yu Sun baru-baru ini mengungkap jurnalnya.

Itu menarik banyak perhatian.

Astaga, itu mustahil.

Aku tidak begitu rapi.

Itu juga rahasia dagangku.

Sayang sekali.

Adakah kejadian asli yang menginspirasi novelmu?

YouTuber yang mengulas buku

mengatakan novelmu itu mungkin berdasarkan kisah nyata.

"Sopir Hitam"

Entah apakah ada insiden yang mirip dengan novelku.

Tapi novelku dimulai

dari imajinasiku. Itu murni fiksi belaka.

Petir. Keajaiban.

Jawabanmu tidak rasional. Kamu hanya fokus pada sentimen.

Kamu terus memberinya jawaban yang membosankan. Astaga.

Kamu terlahir kaya raya.

Kamu harus terlahir kembali untuk memahami sentimen seperti itu.

Kamu harus melepaskan prasangkamu itu.

"Orang miskin itu baik. Orang kaya itu jahat."

Prasangka yang berasal dari rasa rendah dirimu itu.

Tentu. Terima kasih atas nasihatmu.

Hei, kamu seorang novelis.

Kamu seharusnya menjelaskan karyamu secara rasional.

Itu terserah kritikusnya.

Pak.

Mereka ingin memotretmu dengan Pak Yuk.

Baiklah. - Kenapa?

Tentu. Baiklah. Mari kita lakukan.

Tolong tolak mereka dengan sopan.

Wawancara ini tentang dia,

bukan aku.

Baiklah.

Sampai jumpa.

Setidaknya kamu harus minta maaf.

Aku mengerti kenapa kamu melakukannya.

Melepaskan rasa rendah dirimu melalui kekerasan

sangat memalukan dan kekanak-kanakan bagi intelektual seperti kita.

"Aku marah karena kamu memukulku. Jadi, minta maaflah."

Comments

No comments yet. Be the first to leave one.

Keep it about this subtitle — sync, quality, typos.500 characters left