The first 200 lines.
Justru aku yang merasa gugup.
- Asalamualaikum. - Alaikum salam.
Ayo kita mulai upacaranya.
- Johan bin Mansur. - Ya.
Kunyatakan Nurul Arlisa binti Aziz sebagai istrimu
dengan maskawin seribu ringgit tunai.
Kuterima nikahnya Nurul Arlisa binti Aziz dengan maskawin seribu ringgit tunai.
- Sah? - Sah.
Alhamdulillah.
- Amin. - Amin.
Maka akan berhasil.
Sedang apa?
Aku sedang melihat
fotomu.
Aku sudah ada di depan matamu.
Kenapa kau masih melihat fotoku?
Tangkap aku jika kau bisa.
Panas sekali.
Sayang.
Sayang, ayo kita pulang.
Kau bilang hanya sebentar. Ini sudah berjam-jam. Kau bohong.
Sayang, memancing butuh kesabaran. Sebentar lagi.
Aku tak bisa menunggu lagi. Lihat, kulitku sudah terbakar matahari.
Ayo, pulang. Ayo nyalakan mesinnya.
- Ayo. - Kumohon sebentar lagi.
Panas sekali.
- Ada banyak ikan. - Di mana?
- Itu ikan besar. - Kau dapat ikan?
- Ada lele, belut laut, - Akhirnya kita bisa pulang!
kakap, lele...
Sayang!
Jangan berlompatan di kapal lain kali. Bahaya. Bagaimana jika kau tenggelam?
Aku tak sanggup kehilanganmu.
Jangan lagi memancing atau naik kapal.
Kenapa kau tertawa?
Jangan lagi.
Aku berdoa agar kita bisa selamanya seperti ini.
Empat, lima, enam, tujuh, delapan. Delapan poin.
Baiklah. Lihat apa yang kupunya.
CERAI
Aku punya 10, 12, 14, 16.
Kau harus memasang kata itu?
- Sayang, ini hanya permainan. Kenapa? - Jangan bermain dengan kata itu, ya?
Aku tak suka. Ganti saja.
Hei, lihat.
Istriku yang cantik dan manis.
Dengarkan ucapanku.
Kau akan menjadi istriku selamanya.
- Selamanya? - Selamanya.
Sampai kita tua?
Kurasa tidak.
- Kau tak mau? - Baiklah, sampai kita tua.
- Baiklah. Janji. - Janji.
Bisa tenang?
Aku menyuruhmu pergi ke dokter dekat rumah kita, tapi tak mau.
Kau mau ke rumah sakit besar. Kenapa?
Bisa kau diam?
Jangan cerewet! Aku sedang kesakitan.
Bagaimana jika melahirkan di mobil? Siapa nama bayinya?
Inspira, Viva, atau Myvi?
Aku tak mau semua itu!
Sayang!
- Mansur, Rohaya. - Ibu.
- Ayah. Ibu. - Bagaimana keadaan Johan?
Arlisa.
Bersabarlah.
Dokter bilang,
jika Tuhan berkehendak,
Johan masih punya kesempatan.
Tapi jika dia mengalami koma, butuh waktu lama untuk pulih.
Astaga.
Arlisa.
Sayang.
Aku di sini.
Kau harus kuat. Harus.
Kau berjanji tak akan meninggalkanku.
Kau berjaniji.
SEBULAN KEMUDIAN
Arlisa.
Jangan begini terus.
Arlisa.
Aku sahabatmu.
Aku mengerti perasaanmu.
Sejak Johan koma, kulihat...
kau sangat pendiam.
Aku takut kehilangan Johan.
Aku tak bisa membayangkan hidupku tanpanya.
Allah.
Allah.
Sabarlah, Arlisa.
Bu Arlisa, Pak Johan sudah sadar.
Syukurlah.
Ayahmu berjanji.
- Dia akan membelikanmu mobil baru. - Ayah.
- Arlisa. - Ibu.
Sayang, syukurlah.
Syukurlah, kau sadar.
Aku sangat merindukanmu.
Kau mau makan atau minum?
Sayang.
Siapa kau?
Sayang, ini aku, Arlisa. Istrimu.
Ibu.
Sayang. Ibu.
Ini aku, Arlisa.
Ibu, apa yang terjadi?
Sayang.
- Sayang, aku Arlisa. - Ibu.
Sayang.
Cedera kepala Pak Johan telah menyebabkan pembengkakan
dan pendarahan di otaknya.
Cedera itu menyebabkan masalah dengan ingatannya.
Tapi, Dokter,
dia mengingat orang tuanya. Hanya aku yang dia lupakan.
Bu Arlisa.
Kondisi yang beliau alami sekarang disebut amnesia selektif.
Dari percakapan kami,
tampaknya hal terakhir yang diingatnya
adalah pesta ulang tahunnya yang ke-31.
Ulang tahun yang ke-31?
Dia belum bertemu Arlisa saat itu.
Aku tak mengerti semua ini.
Anggap saja otak kita seperti CD.
Saat CD tergores, ia tak akan berfungsi dengan baik.
Itulah kondisi Pak Johan sekarang.
Dokter,
apa dia punya peluang untuk pulih?
Beri dia waktu.
Ayah, Ibu.
Aku ingin meminta izin untuk membawa pulang Johan.
Arlisa.
Kenapa kau meminta izin?
Kau punya hak.
Dia suamimu, kau bisa membawanya pulang.
Kata Dokter
Johan bisa dibawa pulang besok.
Kau sudah memberitahunya?
Aku bingung bagaimana memberitahunya.
Dia bahkan tak mengenalku.
Aku takut dia akan menolak untuk diajak pulang.
Itu sebabnya aku meminta bantuan kalian.
Kau tak perlu cemas tentang itu.
Ayah akan berbicara dengannya.
Hanya satu hal yang kami minta.
Kau harus kuat menghadapi ujian ini.
Kau harus menerimanya dengan ikhlas dan terus berdoa kepada Allah.
Karena hanya Dia yang tahu apa yang terbaik untuk kita.
Bagus, 'kan?
Ini rumah kita.
Kau membangun rumah ini dua bulan sebelum kita menikah.
Kemari.
Mau tahu apa alasanmu memilih tempat ini?
Karena...
Karena udara segar,
pemandangan,
juga keindahan alamnya.
Alasan yang terpenting adalah
kau mau hanya kita yang tinggal di sini
agar tak ada yang mengganggu.
Ayo.
Tidak masalah.
Tidak apa-apa.
Mungkin kau akan ingat setelah kita masuk.
Ayo.
Ayo masuk.
Sayang, istirahat saja. Kau pasti lelah.
Aku akan memasak hidangan favoritmu.
Sayang.
Kau pasti lelah, istirahat saja.
Istirahat, ya?
Sayang.
Kenapa kau di sana? Kemari.
Lihat apa yang kumasak untukmu.
Cepat.
Aku memasak ini untukmu. Duduklah.
Aku membuat lempeng dan sambal kesukaanmu.
Enak.
Tunggu.
Minum obatmu setelah makan.
Bagaimana kau bisa tahu
aku suka makan lempeng dengan sambal?
Sayang.
Aku istrimu, Sayang.
Makanlah. Rasanya tak enak begitu dingin.
Makan selagi panas.
Enak, 'kan? Bagaimana rasanya?
Boleh aku minta? Suapi aku.
Itu dia. Celupkan.
Rasanya lezat.
Aku sangat pandai memasak, 'kan?
Makan lagi.
Sayang, kenapa kau belum mandi?
Di mana kamar tamunya?
Arlisa, kau baik-baik saja?
Aku baik-baik saja.
Bagaimana kabarmu dan Johan?
Johan?
Dia belum mengingat apa pun.
Tidak satu pun.
Dia bahkan memperlakukanku seperti orang asing.
No comments yet. Be the first to leave one.