The first 200 lines.
Dokter Yoon…
Apa?
Astaga. Apa yang terjadi?
Coba tebak? Aku baru melihat Dokter Yoon keluar dari rumah Kepala Hong.
Pagi-pagi sekali, mengendap-endap.
Kukira Du-sik pria yang jinak.
Dunia ini sudah tidak polos lagi.
Nam-suk, berhenti bergosip.
Hei, lihat ini.
- Apa? - Ada apa?
Kau tidur dengan Kepala Hong?
Kau tertangkap basah
Astaga.
Kau kenapa?
Apa itu benar?
Apa kita punya teh pengar?
Tunggu sebentar.
Kepalaku sakit.
EPISODE 5
Dia pergi terburu-buru.
BAHAN KALDU, TAOGE
Baiklah.
Sup kimci dan taoge kurang lengkap tanpa tahu.
Baiklah.
Kepalaku sakit.
Aku minum berapa banyak sampai bisa tertidur di sana?
Kepalaku…
Kak Du-sik.
Aku pernah belajar tari tiang.
- Aku seperti Kim Yuna, 'kan? - Apa…
Astaga.
Hei, lihat ini…
RESTORAN SASYIMI HWAJEONG
Lihat kemari. Satu, dua, tiga.
Ini gila.
Nomor sandi rumahku
adalah delapan, tujuh, nol, tujuh, dua, empat.
Kepala Hong!
Aku hebat, 'kan?
Aku kuat sekali, ya?
Aku hebat, ya?
Satu, dua!
Dua! Aku hebat sekali, 'kan?
Satu juta dua puluh dua, dua puluh tiga, dua puluh empat.
Kepala Hong!
Seharusnya aku berhenti minum.
Tunggu.
Ada yang aneh.
Setelah berputar-putar sejauh itu,
kenapa aku kembali ke rumah Kepala Hong?
Kak Du-sik.
Kepala Hong!
Tunggu. Kenapa aku tak ingat apa-apa lagi?
- Ayo berangkat. - Mi-seon.
- Bagaimana kalau kita libur hari ini? - Baiklah.
- Sungguh? - Ya.
Tagihan kartu kreditmu ada di atas meja.
- Tagihan bulan ini… - Aku tak mau tahu.
Baiklah, kita berangkat.
Ayo berangkat.
Kenapa?
- Aku dapat panggilan. Kau pergi dulu. - Panggilan apa?
Sepertinya agak lama. Pergilah lebih dahulu. Aduh.
Astaga.
CANTUMKAN DAN PERIKSA NEGARA ASAL
- Hei! - Hei!
Hei! Mereka tidur bersama?
Sungguh?
Mereka tidur bersama?
Astaga. Jangan berisik.
Dia baru bangun, kotoran matanya masih ada,
- tapi terlihat puas… - Itu benar.
- Terlihat puas? - Sungguh?
- Halo. - Astaga.
- Halo. - Hai.
- Selamat pagi. - Hei, Dokter!
- Itu Du-sik. - Hei.
Hei.
Kau pergi pagi-pagi tanpa mencuci piring.
Benar, 'kan?
Itu… Kenapa kau mengharapkan tamu yang mencuci piringnya?
- Kubawakan kau anggur mahal. - Teleponku…
- Kau lupa minum arak ginseng, ya? - Wi-Fi…
Kita minum arak ginseng?
Astaga, lupakan saja. Sudah makan sup pereda pengar?
Mau kufoto?
Aku masih punya waktu.
Mau mengobrol sambil sarapan?
- Menunya apa? - Yang klasik saja.
- Baik. - Lihat mereka.
Kalian sedang apa?
Kami sedang berfoto.
- Du-sik. - Foto?
Kau terlihat lelah, tapi bahagia.
Kenapa kalian berfoto di jalanan?
- Di sini sinyalnya bagus. - Kau tampak hebat.
Mana mungkin tak ada sinyal? Tak masuk akal.
- Pergilah. - Astaga.
- Ya. Dah. - Baiklah.
Mereka menuju restoran sup pereda pengar.
Lihat mereka?
Kalian sedang apa di sana?
Hei, cepat kemari.
Cepat.
Cepat kemari. Ini berita besar.
- Tak kelihatan. - Kubuka sedikit, ya?
Jangan berisik.
Kau bisa lihat?
- Ya. - Apa yang terjadi?
- Kelihatan? - Cantik, ya.
Sup pereda pengar klasik bagiku bukan sup darah lembu, tapi sup tulang.
Sup darah lembu yang paling bagus.
Ini kenyal dan gurih.
Bahkan mengandung vitamin A dan zat besi…
- Bukan itu yang penting. - Lalu apa?
Makanlah sealami mungkin.
Pegang sendokmu dan jangan melihat ke kiri.
Hei, kubilang jangan lihat ke kiri!
Astaga. Kau sudah gila.
Pantas saja telingaku berdengung.
Ternyata ada yang membicarakan. Ada apa?
Rumornya sudah menyebar.
Tadi malam kita…
tidur bersama.
Tidak terlihat jelas.
Omong-omong…
apa terjadi sesuatu kemarin?
Ada yang terjadi.
Apa?
Itu…
Banyak yang terjadi.
Kau bilang tak akan mabuk?
Tadi malam aku seperti menonton acara hiburan.
Tiba-tiba kau lari ke luar rumah, lalu bernyanyi dan menari.
Bergelantungan di tiang. Berteriak, "Aku seperti Kim Yuna, 'kan?"
Lalu tiba-tiba kau berlari
sambil berteriak memanggilku.
Sayang sekali hanya aku yang melihatnya.
Tak mungkin. Aku tak punya kebiasaan aneh saat mabuk.
Mungkin kemarin aku kurang sehat.
Baiklah. Kau tak mau mengaku, ya?
Setelah itu, kau ribut minta ronde kedua,
lalu kembali ke rumahku dan mengacak-acak koleksi arakku.
Sebaiknya kau ganti arak ginsengku.
Jadi, sup darah lembu kaya akan zat besi, ya?
Apa?
- Enak. - Astaga.
Ini.
- Astaga. - Hei!
Dia menyentuhnya?
Dia sedang apa?
Apa kau anak kecil? Bibirmu berlepotan.
Mereka akan makin salah paham!
Itu karena aku takut. Bibirmu merah dan tampak seperti Joker.
Kau membuat semuanya kacau.
Apa salahku?
Rumornya akan hilang kalau melihat kita makan berdua dengan santai.
Kenapa kau malah menyeka mulutku?
Sekarang mereka akan bilang kita cocok.
Mereka berdua tak terlihat seperti pasangan, ya?
Ya, 'kan? Kalau diibaratkan lagu, tak ada klimaksnya.
- Datar sekali. - Benar.
Rasanya seperti melihat suamiku menyeka mulut Bo-ra.
Seperti rasa sayang orang tua.
- Benar, 'kan? - Ya, seperti ini.
Benar, seperti itu.
Sepertinya tadi malam tak terjadi apa-apa.
Mereka pria dan wanita dewasa. Mana mungkin tak terjadi apa-apa?
Sungguh.
- Yang benar saja. - Hentikan!
Aku penasaran melihat kalian berkumpul. Ternyata aku membuang waktu.
- Kalian tak tahu privasi? - Aku tak tahu ejaannya.
Kenapa kau selalu membicarakan urusan orang lain?
Kenapa aku tak boleh membicarakan yang kulihat?
- Dia memang begitu. - Astaga.
Kau berani karena tak tahu apa-apa.
Fakta pun bisa mencemarkan nama baik seseorang.
- Kau mengerti? - Ya. Dasar sok pintar.
Pergilah.
Cepat pergi.
Ayo pergi.
Aku harus membuat mi. Ayo, pergi. Nanti kuhubungi.
Aku juga. Hari ini biji kopinya datang.
Aku harus membereskan barang-barang.
Kenapa dia masih di sana?
Astaga. Ayo!
Tunggu. Kakiku kesemutan.
Aku membuat ruang obrolan baru tanpa Hwa-jeong.
Kita berkumpul di Toko Kelontong Bora.
Kepala Hong terlalu baik untuknya.
Ya, sayang sekali.
Tentu saja.
Dokter Yoon tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Kepala Hong.
Banyak yang rela antre.
Du-sik tak punya kelemahan apa pun.
Semua wanita di Gongjin pasti pernah menyukainya.
Ya.
Dia cinta pertamaku.
- Apa? - Kau kira kau orangnya?
Astaga. Kalian keterlaluan.
No comments yet. Be the first to leave one.