The first 200 lines.
Kau harus bahagia.
Aku mengandung bayimu.
Kau akan lakukan apa?
Kau akan menyiksaku?
Membunuhku?
Kau tak berani melakukannya.
Kenapa?
Karena kau kesepian seumur hidupmu.
Walau mencoba menerima takdir itu,
kau masih menderita karenanya.
Apa aku salah?
Kita, manusia,
memang tak bisa belajar tanpa menderita.
Ayah.
Bawa ayah naik dari lantai bawah.
Apa? Mihol?
Dia meninggal.
Apa?
Apa? Apa maksudmu?
Apa yang terjadi?
Aku melakukannya.
Astaga, Yeobi.
Apa kata Taealha pada Ayah?
Ayah.
Aku mau hadiri pertemuan.
Mihol meninggal. Taealha...
Taealha membunuhnya.
Namun, Ayah biarkan dia pergi tanpa bicara apa pun.
Sekalipun aku ketua bang ,
aku tak paham apa yang terjadi.
Kita bicara lagi nanti.
Ada yang tak beres.
Apa reaksi warga?
Warga berhenti
ke pasar sejak kau lakukan itu pada patung Mihaje.
Ada yang meninggalkan Arthdal untuk kembali ke kota asalnya.
Mereka terguncang oleh kejadian itu.
Ini tak pernah terjadi sejak Serikat dibentuk.
Bagaimana Gunung Nandal?
Kami hanguskan Gunung Nandal keramat sesuai perintahmu.
Untungnya, tak ada yang melawan Pasukan Daekan.
Namun, beberapa warga Suku Bato lompat ke dalam api.
Bodohnya.
Maaf aku menyelang.
Klan Myo dari Suku Ago menyerbu Doldambul
dan membawa para budak.
Suku Ago?
Kudengar para budak membuat huru-hara belum lama ini.
Aku tak mau dengar soal Suku Ago. Ada lagi?
Ada aktivitas mencurigakan di Jipunae,
tempat Suku Bato dan Suku Ggachinol
kini bermarkas.
Maksudmu, mereka mau memberontak?
Aku belum yakin, tapi itu sangat mungkin.
Kenapa tak kirim 1.000 prajurit
ke Madeulgol agar Suku Bato tak berkomplot melawan kita?
Semua terjadi tepat seperti dugaanku.
Untuk persiapan penobatan, ikuti saja instruksi Saya.
Niruha, kita harus kirim prajurit ke Madeulgol...
Tak perlu.
Apa yang Niruha pikirkan?
Jika Suku Bato lakukan trik licik,
suku lain akan bergabung dengan mereka.
Mungkin dia mau membujuk mereka sekali lagi.
Kini sudah terlambat.
Saya, kau dengar sesuatu?
Tidak.
Semua terjadi tepat seperti dugaanku.
Tagon sudah punya solusinya.
Apakah itu?
Aku, Penulis Daedae, harus katakan sesuatu,
walau tahu mata dan kakiku bisa hilang karena itu.
Niruha.
Jika ini berlanjut,
Arthdal hancur.
Kenapa bisa?
Semua suku di Arthdal melihat yang terjadi pada Mihaje.
Kini, semua akan ketakutan, mencemaskan
kapan giliran mereka tiba.
Jadi?
Ini hanya akan beri kekuatan pada Suku Gunung Putih
yang berhasil kita asingkan.
Bagaimana caramu bereskan ini?
Daedae.
Siapa itu Cakar Merah?
Hanya kau dan aku yang tahu Cakar Merah di seluruh Arthdal.
Cakar Merah adalah
mata-mata yang kau susupkan
dalam Suku Ago.
Kenapa pikirmu kuberi perintah itu pada Cakar Merah?
Benar, kuyakin badai sedang menyapu tiap suku saat ini.
Namun, amukan badai itu pun
akan tunduk pada badai yang lebih hebat.
Pergilah jika kau mengerti.
Kau harus bahagia.
Aku mengandung bayimu.
Aku mengandung bayinya Aramun.
Ada dewa dalam rahimku.
Aramun kecil,
penerus garis keturunan dewa.
Dia akan melanjutkan garis keturunanku.
Bisikan Taealha...
Apa pun itu, Tagon berubah setelah mendengarnya.
Tentang apa itu,
aku tak tahu. Aku...
sama sekali tak tahu.
Jemari yang diukir di Karang Gochiju Besar.
Simbol dari mereka yang menyebabkan suku kita hancur.
Misi kita adalah bersiap untuk itu.
Baiklah.
Aku akan mencapai semuanya.
Lebih daripada dirimu, Ayah.
Aku, Taealha, akan melakukannya.
Apa maksudmu?
Mereka tewas?
Bicara apa kau?
Entahlah.
Harim dan Gamsil
sudah tewas.
Chaeeun dan Nunbyeol
menghilang.
Mereka tewas?
Chaeeun, aku tak mau melakukan ini.
Apa maksudmu?
Kita harus putuskan silsilahmu lagi,
atau nyawamu terancam.
Aku tak mau.
Jika silsilahmu tersambung lagi seperti waktu itu,
kau bisa mati.
Aku tak peduli
- meski mati. - Apa?
Sambungkan lagi sepenuhnya.
Bahkan Ayah belum pernah melakukannya.
Aku jelas tak bisa.
Kau tak pernah lakukan,
tapi kau tahu caranya.
Kau dan Ayah tahu.
Demi aku.
Bantu aku kembali jadi Neanthal sepenuhnya.
Aku tak bisa. Jika aku salah...
Jika ada salah kulakukan, kau akan mati.
Aku bisa jadi membunuhmu.
Chaeeun.
Kumohon padamu.
Nunbyeol.
Apa yang kau pikirkan?
Kau sendiri? Apa yang kau pikirkan melihat situasi kita?
Apa yang kau pikirkan sekarang?
Nunbyeol.
Pikiran kita sama.
Membalas dendam.
Tagon dan Taealha.
Akan kuhancurkan mereka.
Chaeeun di ahli obat?
Ya.
Aku mau tahu apa yang terjadi.
Kau tahu sesuatu?
Masalahnya...
Susu, katakan padanya.
Baik.
Begini...
Aku melihat Eunseom.
Apa?
Eunseom?
- Kita akan diapakan? - Aku takut.
Kami berhasil mengecoh prajurit Doldambul yang mengejar.
Mereka menuju Yongsocheon.
Hindari saja arah itu, kalian akan selamat.
Hindari arah itu, lalu ke mana?
Menurutmu?
Kalian bisa pulang ke kota asal kalian.
- Apa? - Dia serius?
- Kembali ke kota asal? - Pulang?
Ya, kalian semua boleh pulang.
Begitu saja? Aku yakin ada harga yang harus dibayar.
Ya, aku yakin kalian mengharapkan imbalan.
Kami harus lakukan apa?
Kalian yang bukan anggota Suku Ago
tak harus lakukan apa pun.
Namun, kuharap Suku Ago lakukan sesuatu sebagai imbalan.
- Sial. Sudah kuduga. - Astaga.
Aku ingin Suku Ago melakukan dua hal.
Kembali ke klan kalian, ceritakan ini pada semua orang, dan lakukan yang sama.
"Lakukan yang sama"?
Selamatkan klan Suku Ago yang dijual
ke Arthdal sebagai budak seperti tadi
dan pulangkan mereka.
- Apa? - Kenapa harus melakukan itu?
Lalu,
setelah memulangkan mereka?
Setelah itu...
Tak ada lagi.
Kalian hanya perlu membebaskan dan memulangkan mereka.
Ini terdengar masuk akal?
Kalian percaya dia? Apa ini masuk akal?
Ada apa ini? Muslihat apa yang kalian pikirkan?
Aku tak tahu rencana keji apa yang kalian miliki,
tapi jangan berpikir aku akan percaya omong kosongmu!
Kenapa kau tak percaya aku?
Kenapa pikirmu aku ada di Doldambul?
No comments yet. Be the first to leave one.