The first 200 lines.
Kamu tidak pergi?
Kudengar kamu akan pergi.
Kenapa?
Kamu takut aku tidak akan pergi?
Apa?
Lihat wajahmu. Kamu begitu pucat.
Mencurigakan sekali.
Apa alasanku harus pergi?
Jangan khawatir. Aku akan pergi.
Aku menerima proyek kantor baru perusahaanmu di Tiongkok.
Aku akan segera pindah dari negara ini.
Maksudku, aku akan tetap di sini sampai saat itu tiba.
Astaga, kamu pasti sangat membenciku.
Kamu begitu ingin aku pergi?
Benar.
Bisa saja aku menjadi terbiasa,
tapi tidak denganmu.
- Silakan siapkan pesta perpisahan. - Entahlah.
Aku ingin menyiapkannya,
tapi takut tertawa terbahak-bahak karena bahagia. Jadi, tidak usah.
- Selamat tinggal. - Tunggu.
Ada apa?
Aneh.
Bagaimana kamu tahu aku akan pergi?
Aku hanya memberi tahu kakakku.
Tunggu, kamu mengenalnya?
Aku mendengarnya dari ayahku.
Kamu bilang
akan pergi setelah bercerai.
Astaga, kamu mengejutkanku.
Untuk sesaat, kukira kamu mengenalnya.
Tapi kurasa tidak mungkin kamu mengenalnya.
Benar, bukan?
Kita tidak akan bertemu lagi setelah aku pergi.
Mari sering bertemu selagi aku di sini, ya?
Sampai jumpa.
Pergilah setelah aku.
Kenapa aku harus pergi?
Aku ingin melihatmu diusir.
Bagaimana aku harus mempermainkan dia?
Aku bisa saja pergi tanpa mengetahui apa pun.
Apa maksudnya "mengetahui apa pun"?
Kamu bisa melihatku?
Maaf, aku memikirkan sesuatu.
- Cintamu sudah pudar? - Apa?
Maksudku,
hanya kamu yang kupikirkan.
Ini membuatku sedih.
Tunggu, kamu juga lupa soal tempat ini?
Aku ingat. Kita pernah ke sini.
Sebenarnya, ada dua lagi orang selain kita.
- Siapa? - Pamanku dan Kak Eun Seok.
Apa? Sungguh?
Di mana mereka?
Di sana.
Mereka menunggu di sana dengan buket dan cincin.
Aku hendak melamarmu hari itu.
Sungguh? Kenapa kamu...
Tapi aku tidak suka itu.
Kenapa tidak?
Menyenangkan melihat hal itu,
tapi memalukan jika aku yang mengalaminya.
Semua orang memandangiku.
Itu membuatku merinding.
Aku tidak menyukainya.
Gawat.
Misi dibatalkan. Bersembunyilah.
Cepat sembunyi.
Sungguh?
Kami bahkan minum pil penenang.
Paman hendak memberimu bunga.
Kak Eun Seok hendak bermain piano, aku bermain gitar.
Kami menyiapkan banyak hal.
Aku tidak tahu
dan bilang tidak mau dilamar di tempat seperti ini.
Aku tidak memikirkannya dengan matang.
Kukira kamu akan menyukainya,
karena aku suka.
Aku harus ke toilet.
"Bisa bertemu denganmu"
"Dan bisa menyentuh rambutmu"
"Bisa bertemu denganmu"
"Dan bisa bernapas denganmu"
"Bisa memelukmu"
"Dan menangis di pelukanmu"
"Aku sangat beruntung"
"Bisa memiliki dunia yang begitu indah"
"Yaitu kamu"
"Meski angin berembus kencang"
"Dan di bawah naungan atap basah"
"Aku tidak pernah sendiri"
"Meski hari kita biasa saja"
"Dan perjuangan kita berat"
Aku sudah melarangmu bernyanyi di depan orang lain.
- Apa seburuk itu? - Tidak.
Kamu membuat semua orang jatuh cinta kepadamu.
Aku ingin kamu hanya untukku.
Tampaknya kamu mahir bermain piano.
Kamu mempelajarinya saat bekerja paruh waktu?
Tidak, aku mempelajarinya saat masih kecil.
Ayah
yang mengajariku.
Sudah lama aku tidak sempat bermain piano.
Tanganku menjadi kaku.
Kemarilah.
Ada apa? Kamu kasihan kepadaku?
Tidak sama sekali.
Suamimu sangat hebat.
Aku akan mengubah semua kenangan menyedihkan
menjadi kenangan indah.
Aku akan melakukannya.
Mari lupakan soal itu.
Asalkan Ji Seok bahagia, aku bisa menerima apa pun.
Masih sulit kupercaya.
Dia membenci Go Ya.
Kenapa ingin melupakan rahasia mengejutkan ini?
Bagaimana jika dia sudah memberi tahu semua orang
dan mengacaukan keluarga Yang Sook?
Tolong dibereskan. Aku mau ke tempat Kak Yang Sook.
Terjadi sesuatu kepadanya?
Tadi dia mengantarkan makanan ke rumah ibunya Ji Seok.
Aku ingin tahu apa semua baik-baik saja
dan mereka tidak saling menjambak.
- Untuk apa mereka saling menjambak? - Sebelum berbesan,
mereka pernah saling menjambak dan menyiramkan air.
Apa?
Kak Yang Sook.
Bukankah kamu seharusnya di restoran?
Aku meminta Kak Tae Pyung berbenah dan pergi lebih awal.
- Kakak menemui ibunya Ji Seok? - Ya.
- Kalian bertengkar? - Jangan konyol.
Kami tidak selalu bertengkar setiap bertemu.
Dahulu begitu.
Untuk mengenal seseorang,
kita harus sering menemuinya.
Makin sering menemuinya, kakak makin menyukainya.
Tadinya kakak hanya mau mengantarkan makanan,
tapi dia memaksa kakak masuk dan minum teh.
Baguslah.
Aku mendengar sesuatu tentang adiknya.
Adiknya? Kakak bertemu dengan bibinya Ji Seok?
Dia menikah lagi setelah bercerai,
tapi dia bercerai lagi.
Aneh.
Kakakku dan bibinya Ji Seok sama-sama bercerai?
Apa itu sedang tren?
Seperti telepati, bukan?
Ya.
Kenapa tidak bisa tidur? Kamu masih sangat muda.
Kamu mengidap insomnia?
Apa Ji Seok mengorok?
Tidak.
Aku hanya sedang banyak pikiran.
Bagaimana dengan Ibu?
Ibu juga sama.
Adik ibu akan pergi.
Setelah semua pengorbanan ibu untuknya,
entah kenapa hubungan kami berakhir seperti ini.
Sejujurnya, Go Ya,
pria yang berselingkuh dengan adik ibu
adalah pria beristri.
Dia bahkan punya anak.
- Begitu, ya. - Astaga.
Ibu pasti sangat memercayaimu.
Ibu belum bisa menceritakan itu kepada Ji Seok,
tapi baru saja memberitahumu.
Kamu membuat ibu
memikirkan anak-anak pria itu.
Mereka pasti sangat menderita karena ayah mereka,
seperti kamu.
Ibu harap mereka baik-baik saja.
- Mereka tidak bersalah. - Aku yakin
mereka baik-baik saja.
Andaikan tahu Ibu mencemaskan mereka,
mereka pasti akan sangat senang.
Hei, kamu menangis?
Seharusnya ibu tidak membicarakan itu.
Tidak apa-apa.
Tadi
adik ibu datang.
Dia bilang putri sulung suaminya, Tae Pyung,
baru saja menikah.
Mungkin karena itu ibu teringat kepadamu.
- Kenapa dia membicarakan itu? - Entahlah.
Untuk apa dia memberi tahu ibu putri sulung suaminya
baru saja menikah?
Ibu tidak ingin berurusan dengannya.
Go Ya tampak cantik.
- Biar kulihat. - Berikan kepadaku.
Ada apa?
Kakak tampak konyol.
Biar kakak simpan.
Aku ingin melihatnya.
Aku tampak terlalu konyol.
Hampir saja.
Wajah Go Bong kusut sekali.
"Saat menatap matamu"
"Semua terasa seperti mimpi"
- "Di antara semua orang" - Itu maksudku.
Sedang apa kamu sepagi ini?
No comments yet. Be the first to leave one.