The first 200 lines.
Burungnya cantik sekali.
Ada ibu burung, bayi burung, ayah burung...
...dan teman-temannya. Mereka semuanya sedang terbang.
Ibu, ulurkan tanganmu.
Pegang ini. Pegang.
Pegang yang erat.
Jeong A.
Ibu.
Lihatlah burungnya.
Cukup.
Awas sampai aku menangkapmu.
Kau belum menang./ Lihat.
Lihat sana.
Tidak./ Sudah.
Unni menangis.
Ada apa?
Ibu sudah tiada.
Ibunya Jeong A meninggal.
Dia janda selama 50 tahun yang lalu, bertani sepanjang hidupnya...
...demi membesarkan ketiga anaknya.
Dia menghabiskan tujuh tahun di panti jompo karena banyak penyakit dideritanya...,
...dan pada perjalanan pertamanya ke pantai bersama putrinya tercinta...,
...ibunya meninggal.
Nenek?
Bukannya kau harus kesana?
Biarkan saja dulu.
Bagaimana ini?
Apa lagi? Kita harus urus jadwal pemakaman.
Unni.
Ibunya Jeong A baru saja meninggal.
Sekarang juga? Di pantai.
Aku menelepon Unni karena kau sering mengurusi pemakaman.
Aku nanti telepon Seok Gyun Oppa.
Oh, benarkah?
Kita harus panggil ambulans?
Mereka mengirim ambulan kalau ada orang meninggal?
Ada saat-saat ketika aku merasa tidak berguna bagaikan kerang di pantai...
...karena kurangnya pengalaman karena orang dewasa...
...tampak begitu kuat dan tahu semuanya.
Bibi Yeong Won?
Ibunya Bibi Jeong A barusan meninggal.
Bagaimana ini?
Oh, begitu. Baiklah.
Kalau sudah diputuskan tempat penguburannya...,
...telepon aku ya.
Aku tak percaya aku merias wajahku cari uang...
...padahal barusan ada orang meninggal.
Mereka sudah siap sekarang.
Oke, aku datang. Ayo pergi.
Begitulah yang orang pikirkan.
Beraninya kau?/ Apa?
Hei!/ Beraninya kau?
Lepaskan rambutku!
Lepaskan aku! Sekarang juga!
Ketika mereka menentukan garis kehidupan...
Ketika mereka mengatakan orang mati ya harus mati dan orang yang hidup harus melanjutkan hidup mereka.
Ketika mereka memisahkan apa yang bisa dilakukan dan yang tidak bisa dilakukan.
Kau tidak mengerti?
Kami belum memutuskan tempatnya.
Aku akan meneleponmu kalau...
Apa maksudmu dmana? Biar aku bicara dengan anakmu.
Dia jatuh di kamar mandi?
Kalau begitu jangan datang ke pemakaman atau kami juga harus menguburmu.
Ketika mereka bilang itu bagian dari kehidupan. / Angkatlah.
Saat itulah kupikir para orang tua kelihatan hebat...,
...mengesankan dan tak terkalahkan.
Dia sudah gila?
Jeong A Unni dan Seok Gyun Oppa tinggal selama tiga hari saat ibunya...
...dan ayahnya meninggal dan dia tidak mau datang?
Kenapa tidak? Dia bakalan lelah?
Putrinya akhirnya menetapkan tanggal pernikahannya...
...dan bilang bakalan sial kalau datang ke pemakaman.
Aku tahu.
Itulah maksudku.
Sejak kapan dia mulai nurut sama istrinya?
Terus dia juga harus izin kalau mau selingkuh?
Bodoh.
Kalau dia meninggal, kita tidak usah ke pemakamannya.
Oh, iya.
Kalau kasih sumbangan 30 dolar diterima tidak?
Oh, terus kalau pesan makanan...,
...pesan makanan fermentasi ya.
Itu mahal.
Cumi-cumi saja ya.
Saudaranya Jeong A petani. Mereka tidak mampu.
Kenapa kau mau makan itu?
Kita harus makan itu! Biasanya acara pemakaman ada menu makanan itu!
Apa kau juga akan berhemat di pemakamanku?
Oke, baiklah.
Di mana rumah dukanya?
Kenapa lagi ini pesan makanan?
Bukankah rumah duka yang mengatur semuanya?
Kenapa kita belanja...
Diam.
Astaga.
Kita sudah beli semua ini.
Noona, Ibu menentangku meminang gadis Filipina.
Kau?
Dia itu baru 20 tahun.
22.
Kau mau apa dengan.../ Pembohong.
Bilang saja ini karena kakiku.
Ibu. Ibu.
Hei.
Tunggu disini. Ibu!
Ibu.
Buat apa baju ini?
Benar. Aku bisa saja mati besok. Aku tidak perlu baju baru.
Terus kenapa kalau aku mati besok? Aku bisa beli apa yang kumau.
Belikan itu untukku.
Halo?
Hei, Nak.
Kenapa lama sekali angkat teleponnya?
Oh, halo, Chang Soo.
Mau bertemu saja kita harus ke pemakaman.
Kudengar dia meninggal di tempat terbuka.
Iya. Masuklah ke dalam.
Baik.
Hei, Nak. Kapan kau sampai di sini?
Siapa ini?
Apa Ibu juga punya Ibu?
Tentu saja. Nenekmu.
Kau tidak pernah melihatnya karena dia mati muda.
Aneh...
...ibuku juga punya ibu.
Ya, aku punya ibu.
Limusin?
Tidak./ Tidak.
Peti mati. Royal foxglove, juniper...,
...kayu pohon pinus atau lauan, yang termurah.
Kita tidak bisa pilih lauan. Harus royal foxglove.
Lauan saja. Lagipula kau tak pernah peduli waktu dia masih hidup.
Tidak bisa.../ Lauan saja.
Berapa harganya? Aku sudah tua, tapi aku mengerti semua ini.
Pastikan kau hitung dengan benar.
Ibu! Ibu...
Ibu!
Kenapa dia?
Jangan sekarang.
Noona.../ Ikut aku.
Hidupkan dia./ Kemari.
Ayo keluar.
Ayo./ Ibuku yang malang...
Sudahlah. Ayo keluar.
Wanita yang malang...
Rangkaian acara pemakaman ibunya Bibi Jeong...
...selesai dalam empat hari.
Apa saudaramu membolehkanmu mengambil abunya?
Mereka marah pada Unni karena kau tidak baik sama ibumu.
Mereka mengira ibu mereka dirawat di tempat yang bagus.
Unni sudah banyak membantu.
Ibuku sudah mengalami kehidupan yang bising.
Jadi dia benci keributan.
Biarkan dia istirahat dalam damai.
Tugas kita melakukan hal ini.
Ibunya Bibi Jeong A, yang memiliki kehidupan yang berat...,
...ditaburkan dalam angin...
...dan dalam ombak.
Suatu hari, mereka semua akan tiada.
Dan juga pada...
...ibuku.
Baiklah, jalani saja.
Ini keinginan Ibu. Aku akan menulis tentang mereka.
Cerita ibuku...
...dan cerita bibi-bibi...
Daripada menyesal di kemudian hari, aku lebih baik menulis tentang mereka.
Dia memanggilmu "Nak?"
Iya. Dia melakukan itu sepanjang waktu.
Aku takut ada orang yang dengar.
Selamat malam, Nak.
Kenapa dia ini?
Aku mau dengar rekamannya.
Iya.
Ya, aku memukulnya.
Malah, setiap kali. Terus kenapa?
Bisakah kita menghancurkannya dengan rekaman itu?/ Kau punya bukti?
Tidak? Dia menyakiti dirinya sendiri!
Oppa berhati dingin.
Unni? Dae Cheol...
...mengirimku bunga.
Bukannya dia sudah menikah?
Tentu saja sudah.
[Wan lagi dekat dengan pria beristri. Larang dia.]
Nan Hee, Wan lagi dekat dengan pria beristri.
Aku yakin sekali.
Dia selingkuh dengan pria yang sudah menikah.
Larang dia.
Ibu. Ibu.
Anginnya segar, 'kan?
Kau sedang sedih?
Sedih sekali?
Kau merindukan Nenek?
Ingin kuhibur?
Aku akan menulis tentangmu.
Tentang Ibu dan bibi.
Kau senang, 'kan?
Dia pasti sedih sekali.
Jeong A.
Jeong A.
Jeong A.
No comments yet. Be the first to leave one.