The first 200 lines.
Hei! Kau tidak berencana menemui wanita dengan berpakaian seperti itu, kan?
Oppa-ku akan menjemputku.
Kali ini juga bukan pacaran. Namaku Ho Goo. Kang Ho Goo.
Namamu aneh juga ya?
Bukannya seperti itu cara berpacaran?
Walaupun ditengah keramaian, aku bisa menyadari keberadaan orang itu.
Bagi wanita, sinyal lampu hijau itu sebenarnya biasa saja.
Jangan melakukan apa-apa.
Kalau kau mau, kau cukup keluarkan uang lebih banyak saja untuknya.
Jadi, mengajaknya ke pantai juga termasuk lampu hijau?
Aku iri padamu, Kang Ho Goo!
Kau harus mengajaknya menginap.
- Kalau begitu, kembalikan ini pada hari Natal nanti./- Baiklah.
Beberapa bulan sejak kejadian itu.
Silahkan duduk di sini. Kenapa dia mengajakku bertemu di hari Natal?
Sudah lama ya.
Kau mau pergi ke mana?
Iya.
Pulang.
Kau sedang apa? Ada bangku kosong 'nih.
Rasanya aku tidak bisa... memutarkan kepalaku.
Karena aku takut, apa yang sedang kulihat ini adalah kenyataan.
Ini memang nyata.
Tapi aku tidak percaya. Rasanya, aku tidak mau percaya.
Aku tidak bisa melihat ke arah Do Hee.
Saat ini yang aku tahu, jelas perutnya bukan membesar karena ambeien.
Kalau begitu... sudah jelas...
Apa kabarmu?
Sepertinya kau baru saja pergi ke tempat yang sangat jauh.
Do Hee.
Bagaimana kabarmu?
Sepertinya kau juga baru saja pergi dari satu tempat.
Aku baru saja pergi ke rumah sakit.
- Itu... - Iya.
Ini semua demi bayiku.
Begitu ya.
Dia bilang... 'bayi'.
Dia baru saja bilang... ada bayi di dalam perutnya.
Bayi yang tercipta setelah pria dan wanita melakukan hubungan intim.
Bayi yang harusnya ada setelah kau melangsungkan pernikahan.
- Kalau begitu artinya, Do Hee... - Aku sudah mau turun. Duluan ya.
Iya..
Kalau begitu...
Bagaimana nasibku? Aku sudah menunggunya selama 6 bulan.
Bagaimana denganku?
Dasar bodoh! Payah!
Ho Goo, brengsek kau!
Ke mana dia?
Do Do Hee!
Lepaskan aku! Lepaskan!
- Cepat! - Ini tidak adil!
- Ini tidak adil! - Ho Goo!
Ini tidak adil!
Diam! Kau sudah melakukan kejahatan, jangan membuat onar lagi!
Ahjussi, kau ini kenapa 'sih?
Kau yang ahjussi, bukan aku!
- Pak, ayolah! - Pak, tolong lepaskan dia!
Tolong jangan tangkap dia! Tolong, jangan bawa dia!
Namaku Ho Goo. Kang Ho Goo.
[Mari kembalikan cumi-cumi pada tempatnya.]
Ayah, di sebelah sana!
Dia di sana.
- Ho Goo! Kau tidak apa-apa? - Ho Goo!
Ho Goo, kau tidak apa-apa?
- Ayah! - Iya, ini Ayah!
- Ada apa sebenarnya? Ho Goo! - Apa anda keluarganya?
- Iya, saya Ayahnya. - Anda sudah dengar, kan?
Iya, saya sudah dengar.
- Apa tindakannya separah itu? - Tentu saja, sangat parah!
Anak anda hampir saja membuat orang kehilangan usahanya.
Saya sudah bekerja di sini selama 10 tahun.
Tapi ini baru pertama kalinya saya lihat ada orang yang mabuk seperti ini.
Lihat ke sini! Ya ampun... kenapa kau melakukan itu?
Iya, Oppa! Kenapa kau melakukan itu?
- Ho Goo, kenapa kau melakukan itu? - Kenapa kau melakukan itu?
Ho Goo!
Ada apa?
Apa yang kau sembunyikan? Hah?
- Kalian bicara apa 'sih. - Oh ya?
Kau harus sudah tahu jawabannya, begitu aku keluar dari toilet.
Tapi tenang saja, waktumu masih panjang.
Aku tidak tahu apa yang sedang kau bicarakan?
Ho Goo.
Apa ini?
Kenapa Do Do Hee pakai pakaianmu?
Apa kau... jangan-jangan...
Chung... Chung Jae!
Jadi, orang yang sedang kau dekati itu...
Orang yang ingin kau temui pada hari Natal itu...
Perempuan... yang kau cium...
itu Do Do Hee?
Aku sebenarnya tidak mau menutupinya dari kalian.
Do Hee datang terlambat setelah kalian pergi.
Setelah itu, kami pergi ke Sungai Han dan minum jus sama-sama...
Tiba-tiba dia mengajakku ke pantai.
Semua ini tidak ada yang kurencanakan...
sampai akhirnya kami sampai di Yeosoo.
Makan sayurnya juga.
Kenapa kau menyembunyikan semua ini dariku?
- Aku minta maaf. - Ujung-ujungnya 'kan aku pasti tahu.
- Tae Hee... - Bagaimana bisa...
Kenapa kau menyembunyikan ini dariku?
Jadi, ciuman pertamamu itu bersama Do Do Hee.
Aku tidak tahu apa kau masih ingat.
Tapi, aku sudah menghabiskan masa mudaku bersamamu.
Sepertinya kau tidak tahu tentang sekolah kita, tapi ada aturan di sana.
Aku hargai kalau kau mau mengikuti aturannya.
Apa kau mengerti? Coba ulangi.
Lihat apa kau?
Coba ulangi.
Jadi, kau tidak mau pergi ke kantin?
Kau maunya pas jam istirahat pertama atau kedua? Aku mau 'kok.
Hei, hei, hei! Kau harus ke sana dua kali, dan menu yang aku minta beda-beda.
Bahkan istirahat ketiga pun kau harus membelikanku makanan.
Intinya sekarang aku mau makan roti, kau mengerti?
- Tolong jangan pukul wajahku! - Hei!
Kenapa?
Apa... kalian sedang mencoba memeras anak baru ini?
Memangnya apa urusanmu? Pergi kau!
Hei, mulai sekarang kau masuk ke kelas 135 aja.
Siapa yang suruh?
Sebagai gantinya!
Aku akan pindah ke kelas 246!
Hei, tolong pegangi ini.
Apa? Apa?
Kesini!
Ho Goo ya...namamu?
Iya.
Siapa yang memberimu nama seperti itu?
Ayahku.
'Ho' artinya baik 'Goo' artinya kejujuran.
- Hei, namaku... - Aku tahu.
Kim Tae Hee, kan.
Tae Hee! Kim Tae Hee!
Wah! Tae Hee, jalanmu jadi cepat sekali!
Aku sudah bilang 'kan, cowok kalau suka fitness itu jadi beda tampilannya.
Kalau lihat kau dari belakang saja beda banget.
Kau mirip Choo Sarang.
Aku sudah sering bilang, namany Choo Sung Woo!
Oh, iya. Choo Sung Woo, Choo Sung Woo.
Enak tidak?
- Hah?/- Enak tidak rasanya kencan dengan Do Do Hee?
Jujur, aku kecewa kau menutupi semua ini dariku!
Aku tidak akan bisa dengan mudah memaafkanmu, tapi...
Aku sangat bangga padamu, Kang Ho Goo.
Hah?
Sekarang, kau sudah satu tingkat dengan si brengsek itu. Byun Kang Chul.
Byun Kang Chul?
5, 4, 3, 2, 1, mulai!
Baiklah, mohon pegang medali kalian!
Bagus! Bagus! Tolong, gayanya! Bagus!!
Baiklah.
Tahan medali kalian! Bagus!
Bagus sekali!
Tolong, gayanya!
Halo. Apa kau mau aku bantu mengambilkan gambarnya?
Tidak usah.
Sini telponmu, biar aku yang fotokan.
Tidak usah terima kasih, aku tidak mau gaya yang biasa saja.
Begitu ya.
54 orang.
Bisa dikasih bintang di sini? Hei!
Hentikan menulis komentar. Kukumu bisa rusak lagi nanti.
Si gila Byun bisa mengamuk kalau aku tidak menyukai fotonya.
Sudahlah. Ho Kyung, ada pria yang bisa kau kenalkan padaku tidak?
Ada. Aku punya banyak kenalan pria. Kau mau yang mana?
- Yang penting baik - Itu aja?
Iya. Kalau aku pikir-pikir...
- Gimana kalau kakakmu? - Apa?
- Kau bilang Kakakmu jomblo. - Tidak boleh.
Memangnya kenapa? Kau bilang, kakakmu polos dan imut.
Nah, justru itu! Jodoh kakakku itu harus lebih imut dari dia.
Sayangnya, sepertinya saat ini dia sedang dekat dengan wanita tidak jelas.
Kenapa operasi pengangkatan ambeien saja sampai memakan waktu selama ini?
Jadi kau tidak bisa datang bulan depan?
Bagaimana kalau tidak bisa?
Janganlah! Bulan depan sudah banyak iklan yang menantimu.
Ayolah, lagipula tidak baik bagi seorang atlit cuti terlalu lama.
Sudahlah, pokoknya bulan depan kau harus kembali.
Pelatih, aku minta uang.
Tidak masalah.
Tidak usah irit-irit, kau nikmati saja waktumu sebelum kau kembali.
Tapi jangan makan terlalu banyak! Nanti kau gemuk!
Kirim saja ke rekeningku! Bagaimana kalau 10 juta won?
Apa? 10 juta won? Memangnya darimana uang sebanyak itu?
- Yang ada di rekening Ho Chi Minh. - Kau ini bicara apa sih?
Kau sedang bercanda ya? Aku tidak punya uang sebanyak itu.
Dari iklan yang kemarin saja, aku tidak mendapat bagian yang seimbang.
Aku memang sudah percaya padamu, tapi potongan 3/7 apa tidak berlebihan?
Hei, kenapa kau menilaiku seperti itu?
Nanti aku transfer dari rekening internet.
Tapi di sini 'kan tidak ada jaringan internet.
Lagipula, kenapa operasi seperti itu saja sampai membutuhkan 10 juta won?
Kirimkan saja ya.
Aku butuh uang itu.
Kenapa kau serakah sekali? Lihat saja, perutmu sampai besar begitu.
Duduk di sini saja.
- Tidak usah. - Tidak apa-apa.
Wanita hamil boleh duduk di sini.
Tidak, saya tidak hamil, nek.
No comments yet. Be the first to leave one.