Aśoka

Aśoka (अशोक)

Download Indonesian Subtitle

Release info

Asoka (2001) BluRay
A Commentary by AlifAkbarB
Don't resync, thanks.

Tags

BluRay
Published on: 2018-05-16
Downloads: 276
Hearing Impaired: No

Indonesian subtitle preview

The first 200 lines.

Business? Send me dm on Instagram.

Aku tidak akan bicara dengan kalian. Kalian juga akan meninggalkan ku.

Kakek juga pergi.

Ketika sayap kalian sudah kuat, kalian juga akan terbang jauh.

Kaisar Chandragupta Maurya telah memeluk ajaran Jainisme...

Sehingga dia turun dari singgasana, menyerahkan tahtanya...

Kerajaannya dan rakyatnya.

Kalau ada yang tertarik dengan amal. Harap berbaris.

Kakek, Asoka telah mengambil pedang mu. Dia bilang pedang itu adalah miliknya.

Kau akan pergi meninggalkan ku, tapi pedang ini adalah milik ku.

Asoka, Cucu ku, ini bukan hanya sebuah pedang.

Ini setan.

Ketika di hunus, dia haus akan darah. Dia tidak melihat Teman atau Lawan.

Dia hanya melihat darah. Hanya darah.

Sebelum dia menjadi lebih berbahaya, ayo kita singkirkan pedang ini.

'Ini bukan hanya sebuah pedang. Ini setan.

Dia tidak melihat Teman atau Lawan. Dia hanya melihat darah. Hanya darah.'

Tentara Takshila lebih kuat dari tentara kita.

Separuh dari tentara kita belum sampai.

Jenderal Shivrath, belum sampai...

atau Saudara ku Susima tidak membiarkannya sampai?

Kita tidak akan kalah. Walaupun peperangan ini terjadi di Medan Perang...

Tapi perang di menangkan oleh pikiran.

Tentara Takshila, maju terus.

Pangeran, Tentara Takshila mendekat.

Hentikan mereka, Jenderal, dengan kekuatan atau dengan muslihat.

Tentara mereka telah tercerai berai. Sekarang mereka ingin menyerah.

Musuh layak mendapat pengampunan. Bukankah begitu, Jenderal?

Bendera Takshila telah tumbang. Kami ingin menyerah, Pangeran.

Tentara kami sudah meletakkan senjata mereka.

Takshila bertekuk lutut di hadapan Magadha.

Menyerahlah.

Aku yang memegang senjatanya.

Ini bukan senjata.

Ini yang namanya senjata.

Kepala Raja yang tidak mau tunduk akan dipenggal.

Hei kau.

Apa yang kau bawa bersama mu?

Tidak ada.

Barang sebanyak itu dan kau bilang tidak ada?

Berilah kami sedikit.

Haruskah aku?

Itu terlalu banyak.

Mau lagi? - Tidak, kami akan berbagi.

Sebaiknya kalian berbenah diri.

Pangeran Asoka akan tiba, pemenang atas Takshila.

Bintang-bintang tidak pernah berbohong. - Persetan dengan bintang mu.

Ibunda Susima adalah Ratu Kesayangan Raja Bindusara.

Selama beliau masih ada tidak ada yang berani mengincar takhta.

Dan bagaimana dengan ibunda Asoka, Ratu Dharma?

Derajatnya di bawah Seorang Ratu dan di atas Seorang Budak.

Hanya Pangeran Susima yang berhak atas takhta.

Asoka. - Susima.

Kemuliaan bagi Kaisar.

Di mana Susima?

Jenderal Shivrath. Jenderal Shivrath yang hebat.

Kaulah yang menyarankan agar Asoka dikirim ke Takshila.

Kau bilang dia akan kalah, kan?

Kirim dia dengan setengah kekuatan Tentara dan dia tidak akan kembali hidup-hidup.

Kau bilang begitu, kan?

Lalu apa ini?

Apa yang harus kami lakukan dengan mu sekarang? Kau telah gagal.

Apa hukuman untuk Seorang Prajurit yang kalah?

Biarkan aku di hukum mati.

Kekalahan belum menghancurkan ego Prajurit ini. Dia masih bisa menegakkan kepalanya.

Aku mau dia menundukkan kepalanya.

Senjata dan baju perang ini adalah milik Jenderal Magadha yang hebat.

Apakah kau pikir kau layak mendapatkan semua ini?

Tidak.

Lepaskan semua.

Telanjangi dia.

Sudah, Saudara. Jenderal sekarang sudah siap untuk berperang.

Dia sudah menundukkan kepalanya.

Sekarang kau bisa membunuhnya.

Kau tidak mengenal Asoka. Aku sudah mencoba membunuhnya sebanyak sebelas kali.

Jangan khawatir. Asoka pasti akan mati.

Kau sudah tahu tugas mu dengan baik.

Aku sarankan kau untuk menyerangnya saat dia mandi di Sungai...

Saat dia paling mudah di serang...

Muncul dari dalam air, lalu...

Yang ingin aku ketahui adalah siapa yang mengirim mu.

Hidup Raja Susima.

Saudara..

Kalian gagal. Lagi.

Lihat, sedikit pun aku tidak terluka.

Aku mau kau pergi meninggalkan Magadha. - Mengapa aku harus pergi?

Enam malam tanpa sinar bulan yang akan datang tidak menguntungkan untuk mu.

Nasib baik atau nasib buruk ku di tentukan oleh pedang ku.

Apakah itu keinginan mu? Aku melarikan diri? Aku bukanlah pengecut.

Aku tidak takut pada siapa pun, Ibu. - Tapi aku takut.

Bagaimana kau bisa tahu rasa sakit Seorang Ibu? 9 bulan aku membawa mu di dalam rahim ku.

Aku ini Putra mu, Ibu. Aku mengerti penderitaan mu.

Bahkan jika aku harus terus menggendong mu selama sembilan bulan.

Biarkan aku mengetahui rasa sakit mu, Ibu.

Turunkan aku.

Kau benar, Ibu. Sembilan detik mungkin...

Tapi selama sembilan bulan, kau terlalu berat.

Jangan mengubah topik pembicaraan, kau akan pergi atau tidak?

Aku mendengar mu. Aku janji, Ibu.

Asoka. - Aku berjanji, Ibu.

Aku berjanji, Pundit-ji.

Bagaimana kabar mu? Kita belum berjumpa semenjak kepulangan mu.

Aku dengar Seseorang mencoba membunuh mu.

Seseorang memang berusaha membunuh ku, gagal lagi.

Siapa yang menginginkan itu, Asoka?

Orang Bodoh yang selalu gagal berkali kali.

Hati-hati, Asoka. Seseorang tidak boleh meremehkan Musuh.

Dia yang menghadapi ku dengan menghunus pedang adalah Musuh ku.

Bukan Seseorang yang menikam dari belakang.

Akan tetapi, dia yang bertahan hidup akan menaiki takhta.

Tidak, Susima. Takhta adalah milik Seseorang...

Yang memiliki keberanian untuk duduk di atasnya.

Itulah sifat mu dari kecil. Apa yang aku inginkan, apa yang aku suka...

Kau juga menginginkannya.

Kau bahkan mengambil pedang Kakek.

Turun dari singgasana itu, Asoka.

Paksa aku, Sugatra.

Tidak seperti ini, Sugatra.

Jika kau menginginkan takhta maka bertarunglah untuknya.

Di depan semua Orang.

Temui aku besok pagi dan aku akan bertarung dengan mu, di depan semua Orang.

Besok pagi...

Di depan semua Orang.

Tidur yang nyenyak, Asoka. Malam ini adalah malam terakhir mu.

Habislah kau.

Aku akan melawannya.

Silakan... Lawan dia.

Dia berani duduk di singgasana hari ini.

Besok, dia akan mengacungkan pedang pada ku.

Yang Mulia, menurut pendapat ku kita harus menganalisis situasi...

Perdana Menteri, menurut pendapat ku kau harus diam.

Kaulah yang telah memberinya semangat. - Kenapa menyalahkan Perdana Menteri?

Asoka berada di bawah kendali Dharma.

Hentikan dia, Dharma. Jika terjadi sesuatu besok...

kaulah yang akan di persalahkan sepenuhnya.

Apa yang terjadi di sini?

Ibu melakukan sumpah untuk berdiam diri. - Itu tidak akan terjadi di sini.

Semuanya, pergi.

Ibu.

Perbuatan Kekanak Kanakan apa ini? Bersumpah untuk berdiam diri, seumur hidup?

Kau tidak mau bicara pada ku lagi.

Mengapa, Ibu?

Dia tidak akan bicara dengan siapa pun.

Ibu berkata mengapa bicara kalau ternyata Anaknya Sendiri tidak mau mendengarkannya?

Ibu ingin kau meninggalkan Magadha dan berusaha menjalani kehidupan biasa...

Berjanjilah pada Beliau, tak Seorang pun tahu kalau anda adalah Pangeran Asoka.

Aku harus pergi? Pergi jauh?

Sehingga Orang Lain bisa menertawakan ku karena melarikan diri dengan ketakutan?

Kau tidak ingin Putra mu duduk di Singgasana? Tapi aku menginginkannya untuk mu.

Baiklah. Aku menyerah. Sekarang bicaralah pada ku.

Vitasoka, bilang pada Ibu untuk menyapa Orang Biasa.

Ibu keras kepala seperti mu, Saudara. Dia tidak akan bicara sampai kau pergi.

Baiklah, aku akan pergi.

Bahkan jika kau meminta ku, aku tidak akan kembali.

Bicaralah pada ku.

Saudara tidak akan datang kemari. Dia telah pergi, meninggalkan Magadha.

Pergi? Jadi dia takut.

Asoka Sang Pangeran Pemberani telah lari untuk menyelamatkan hidupnya.

Idiot. Ganti lagu mu.

Apa apa dengan mu?

Tidak ada apa-apa.

Sahabat seperti kita tidak ada yang harus di sembunyikan.

Tadi malam, ketika aku pulang, Istri ku tidak ada di rumah.

Dia pergi ke mana?

Ketika aku bertanya kepadanya pagi harinya...

Dia bilang dia bersama Temannya, Kamini.

Konyol. Dia pasti sedang bersama Kamini.

Kau yang bodoh, aku yang sedang bersama Kamini.

Tidak, aku yang bersama Kamini.

Aku juga ada di sana. Kau pasti datang setelah aku.

Aneh. Nama Istri ku juga Kamini.

Yang kulitnya hitam? - Ya.

Hei kau.

Kalian sudah dengar? Pangeran Asoka telah pergi meninggalkan Magadha.

Dia pasti ketakutan dengan Pangeran Susima.

Ketika Planet Jupiter memasuki posisi kedua belasnya...

Semua Orang Hebat harus mengasingkan diri. - Benarkah?

Seperti Rama, Pandawa, Pangeran.

Semua Orang. - Aneh.

Kau bukan berasal dari sini. Siapa kau sebenarnya?

Aku hanya Seorang Pengembara Biasa.

Biasa. Matahari tetap matahari walau pun berada di balik awan.

Takdir mu menunjukkan kalau kau sama sekali bukan Orang Biasa.

Apa yang di katakan takdir ku? Kalau aku ini Seorang Pangeran?

Suatu hari aku akan duduk di Singgasana? Menjadi Seorang raja?

Bahkan Seorang Raja adalah biasa. Takdir mu melampaui takdir Raja.

Takdir siapa yang bisa melampaui takdir Seorang Raja?

Takdir Seorang Pengembara... Saat perjalanannya telah selesai.

Makanlah, Nak. Di Kalinga tidak ada yang tidur dengan perut kosong. Kau juga harus makan.

Ini, Pawan. Ini makanan yang enak. Pawan, makan ini. Ini lezat.

Mengapa kau mau memakannya? Kau juga merindukan tangan Ibu yang menyuapi mu.

Jangan cerewet. Aku adalah Orang Biasa. Kau adalah Kuda Biasa.

Tidak ada Istana yang megah atau hidangan mewah untuk kita.

Sekarang, bumi adalah tempat tidur kita...

Langit adalah atap kita...

Dan Putri yang cantik kini hanya ada di dalam mimpi kita.

Jaa-Jaa Re Jaa Re Jaa Re, Jaa Re Pawan Pergi-pergi, oh angin

Jaa-Jaa Re Jaa Re Jaa Re, Jaa Re Pawan Pergi-pergi, oh angin

Mera Jaisa Dhoondke Laa Temukan aku Kekasih yang menakjubkan

Mera Sajan Seperti Diri ku

More Indonesian subtitles for Aśoka

Comments

No comments yet. Be the first to leave one.

Keep it about this subtitle — sync, quality, typos.500 characters left