The first 198 lines.
Melangkah Maju
Episode 26
Di saat aku paling memalukan,
kalian menerimaku dan mendukungku.
Aku sungguh sangat terharu.
Tetapi kemudian
aku sangat takut
dengan dukungan kalian.
Apa kalian tahu? Setiap kali aku gagal,
dan saat kalian menyemangatiku
seperti apa perasaanku?
Tatapan menghibur
membuatku merasa aku sangat tidak berguna.
Aku merasa tak ada tempat,
seperti hal konyol,
selalu gagal.
Jika kami tak bertanya,
kau akan merasa senang?
Orang yang sukses,
meski diludahi orang,
itu juga pujian dari iri hati.
Orang yang gagal,
menghadapi tepuk tangan,
tetaplah sebuah tamparan.
Semakin kalian menyemangatiku,
aku semakin merasa aku bukan apa-apa.
Jangan bilang begitu.
Kau dari kecil mulai syuting film.
Saat kecil hebat, saat dewasa belum tentu.
Bukankah itu perkataan ibumu?
Seberapa bencinya ibumu padaku?
Setiap kali datang bilang, aku pengangguran.
Dia tahu aku alergi pada saus itu,
selalu saja bawa kemari.
Kau tak beri tahu ibumu
saus buatan nenekmu itu,
kau berikan pada rekan kerjamu?
Jika kau merasa kau sendiri tak bisa,
kenapa kau masih ikut audisi?
Kau ini sangat bertele-tele.
Kau bilang kau tak bisa,
tetapi masih tetap ikut audisi.
Aku tak ingin kalian tahu!
Aku takut malu, kenapa?
Kami bukan tak izinkan kau ikut.
Kau merasa itu peranan kecil, jadi kau yang tak mau pergi.
Apa bedanya dengan pemeran tambahan?
Ibuku lebih merasa malu padaku.
Apa yang memalukan?
Jika hanya ada pemeran utama, apa bisa ditonton?
Apa yang kau tahu?
Sekarang kau berkembang dengan bagus,
Yueliang juga
menjadi wartawan yang dia sukai.
Apa yang aku lakukan?
Wawancara kerjaku tak lancar,
uang dari Taobao
tidak cukup untukku!
Semua jajananku
kau yang belikan untukku!
Orang yang gagal bukan kamu!
Tang Can.
Aku mengerti jika hatimu kacau.
Tetapi Tang Can,
kami ini sahabatmu,
bukan pelampiasan emosimu,
terlebih lagi bukan musuhmu!
Musuhmu sekarang adalah diri sendirimu!
Jianjian.
Aku tak mau bicara dengannya!
Menyebalkan!
Li Jianjian.
Kau ini hebat.
Sebagai pengacara
aku lihat kontrak Jianjian, kau dan Ziqiu masih khawatir.
Kebetulan, tanda tangani kontrak ini.
Di mana Tang Can dan Mingyue?
Zhuang Bei, kau datang?
Kenapa dengan kalian?
Tidak ada, hanya bermain.
Kebetulan aku mencarimu.
- Kita bicarakan di luar. - Kalian...
Halo, Kak senior.
Yueliang.
Hanya masalah kecil, bicarakan saja di sini.
Begini.
Terakhir kali kau temani ibuku main mahjong,
demi memberinya muka.
Kau memberinya kalung, 'kan?
Aku memang mau beri kau uang,
tetapi tidak cocok.
Jadi aku beli yang sama persis.
Ada apa?
Hal ini seharusnya kau katakan secara pribadi.
Ini juga bukan masalah besar.
Lagi pula, kami tak bicara banyak saat bertemu.
Dasar.
Kenapa kau begitu pada temanku?
Keterlaluan!
Aku pergi lihat.
Aku pergi dulu.
Baik, hati-hati.
Ada apa?
Bertengkar lagi dengan Tang Can?
Aku sedang menahan
perkataan yang bisa melukainya.
Saat bertengkar bisa menahan
kalimat yang melukai,
sungguh sangat dewasa.
Jangan lihat dia
lebih tua dari kami,
usianya itu tak berarti sama sekali.
Hanya bisa marah padaku.
Dia yang paling kekanak-kanakan.
Kau tadi masih membelanya.
Chen Ting
Menurutku, Tang Can ini
ada satu kebaikannya.
Cantik?
Pikirannya sederhana.
Senang atau tidak, mudah terlihat.
Terus terang.
Kau sedang memujinya atau memarahinya?
Chen Ting
Halo, Ibu.
Di beranda ruang tamu,
di kotak transparan laci ketiga.
Sudah makan.
Sedang berbicara dengan Jianjian.
Aku mau bicara dengan Jianjian.
Tidak baik.
Apanya tidak baik?
Ibuku mau bicara denganmu.
Cepat.
Jianjian.
Halo, aku Chen Ting.
Halo, Bibi Chen Ting.
Apakah Anda sehat?
Sehat.
Sekarang aku bisa menjaga diriku.
Ayahmu juga sehat, 'kan?
Ayahku juga sehat.
Terima kasih perhatianmu.
Kudengar,
Kak Ling Xiao kamu tinggal di seberangmu, 'kan?
Kalian bisa saling menjaga,
aku juga tenang.
Jika tak ada masalah, sampai sini saja.
Sampai jumpa.
Sampai jumpa, Bibi.
Ibumu sudah berubah?
Aku juga tak tahu.
Mungkin dia sudah memahaminya.
Dulu aku memikirkan
masalah ibumu.
Memikirkan apa?
Ibumu dan adikmu tak menyukaiku.
Jika kita bersama,
mereka pasti sangat tidak setuju.
Jika kita umumkan kita pacaran,
itu seperti dunia kiamat.
Kau peduli dengan pendapat mereka?
Aku peduli atau tidak, itu tak penting.
Yang penting adalah
keberadaan itu pasti ada.
Awalnya, aku khawatir,
kau tak punya hati,
tak memikirkan apa pun.
Ternyata kau berpikir banyak.
Oh iya.
Sejak kapan kau mulai
berperasaan padaku?
Sangat awal, saat SMA,
makanya aku tak izinkan kau masuk ke kamarku.
Begitu cepat?
Kau yang terlambat dewasa.
Jadi, jika saat
kau di Singapura,
aku sudah menikah, bagaimana?
Aku pernah pikirkan.
Jika kau sudah menikah,
aku akan menunggumu.
Menunggumu bercerai,
atau...
membantu menjaga anakmu.
Jika kau tak bercerai,
maka aku jadi kakakmu seumur hidup.
Kau menungguku?
Pemikiranmu ini sedih sekali.
Banyak wanita di luar sana.
Kau tak mengerti.
Orang sepertiku,
aku tak mampu membangun hubungan
dengan orang lain dari awal.
Bersamamu adalah kemampuanku...
Menolong diri sendiri.
Jika kau tak menggenggamku,
aku akan tenggelam.
No comments yet. Be the first to leave one.