The first 200 lines.
Shen Yue sebagai Dong Shan-cai
Dylan Wang sebagai Dao Ming-si
Darren Chen sebagai Hua Ze-lei
Liang Jing-kang sebagai Feng Mei-zuo
Wu Xi-ze sebagai Xi-men Yan
Melawan si kepala nanas yang memakai buaya hijau.
Dia selalu mengira dirinya benar.
Aku tak takut.
Gadis yang bernama Dong Shan-cai itu benar-benar tangguh.
A Si memang perlu dihajar.
Kali ini Dong Shan-cai sudah membantu menegakkan keadilan.
Hari ini patut diperingati.
Ayo kita foto dia.
Laporan khusus dari Mei-zuo, reporter Mesir yang menggali makam mumi.
Kepalanya bahkan dibuat benjol oleh gadis berbetis besar itu.
Ini lelaki yang paling sial di abad 21 ini.
Lei, ayo kemari foto bersama mumi.
Yang kamu lihat adalah video Dao Ming-si yang pertama kali pingsan setelah dipukul.
Sungguh memalukan.
Jika aku jadi A Si, aku takkan lagi kuliah di Ming De.
Jika aku jadi A Si, aku takkan lagi menetap di bumi.
Sudah jam berapa?
Apaan ini?
Kamu kena tendang hingga pingsan. Lantas kami mengantarmu pulang.
Aku ingat. Gadis gila itu berani menendangku.
Lihat nanti bagaimana kubalas dia.
A Si, apa kamu tahu setelah mengantar makanan untukmu...
...saat pulang, dia hampir dilecehkan oleh dua orang preman?
Kamu bertemu dengannya?
Setelah itu, tak terjadi apa-apa bukan?
Pantas Dong Shan-cai kesal hingga datang menendangmu.
Kamu pantas mendapatkannya./ Apa urusanku.
Lagipula, preman mana yang berselera rendah begitu, mau saja lecehkan dia.
Baiklah. Karena kamu sudah sadar, kita tak usah hiraukan dia lagi. Ayo pulang.
Lepaskan.
Kalian membuat catatan dengan baik. Aku juga mau berkelompok dengan kalian.
Ini hasil kerja keras aku bersama Li Zhen.
Xin-hui, ini data tim yang dibuat aku dan Li Zhen.
Berikan email kalian, akan kukirimkan.
Dong Shan-cai, kamu jelas tahu Xin-hui suka Dao Ming-si.
Kamu masih main mata dengannya.
Aku tidak. Xin-hui, aku tak bermaksud demikian.
Dong Shan-cai, kini kamu adalah anak baru yang paling tenar di Ming De.
Pertama menyerang tamu kehormatan, Bobbitt.
Kemudian menendang kakak kelas Dao Ming-si.
Kalaupun mau terkenal, jangan memakai cara seperti ini.
Ini bukan salah Shan-cai. Dao Ming-si yang merusak ponselnya.
Sebenarnya ini salahku. Akulah yang telah membuat Dao Ming-si marah.
Aku tahu semua ini terlihat seperti masalahku.
Tapi Dao Ming-si sudah cukup membuatku celaka.
Dia juga membagikan kartu Joker, ingin aku bertaruh dengannya melalui kartu Bridge.
Apakah aku harus membiarkan dia menindasku seenaknya?
Apa? Kamu dapat kartu Joker?
Atas dasar apa kamu?
Kamu bisa main Bridge?
Kamu... Memakai apa sebagai taruhan?
Kapan? Di mana?
Tak tahu. Aku tak tahu apapun.
Pokoknya aku takkan tunduk. Paling aku tidak ikut pertandingan.
Kamu tak mau kartu Jokernya. Boleh diberikan padaku?
Siapa saja yang mau. Aku tak tahan dengan Dao Ming-si.
Dong Shan-cai, jika ada lelaki yang kamu sukai, pergilah kejar dia.
Namun sebagai anak kampus yang baru masuk,
...selain bergaul baik dengan sesama teman, kamu juga harus menghargai kakak kelasmu.
Maaf, sudah mengganggu.
Ada masalah?/ Aku datang mengembalikan sapu tangan.
Simpanlah.
Aku tak biasa mengambil kembali barang yang sudah diberikan.
Aku menerima kartu Joker dari F4.
Berusahalah.
Itu... Waktu itu terima kasih.
Jika kamu tidak muncul, aku tak tahu harus berbuat apa.
Jangan salah paham. Aku hanya tak biasa melihat hal seperti itu.
Kalau begitu, bolehkah lain kali aku mencarimu di balkon?
Kalau begitu, aku tak ke sana lagi.
Apa kabar? Saudari Shan-cai.
Tuan Dao Ming-si minta Anda naik ke mobil.
Untuk apa aku naik ke mobil?/ Dia ingin bertemu denganmu.
Dan juga mengganti ponselmu. Dia ingin minta maaf di hadapanmu.
Bohong.
Saudari Shan-cai, silakan.
Tolong!
Mau apa kalian? Siapa kalian?
Tak ada yang penting lagi di dunia ini
Geli sekali.
Tolong.
Biarlah sungai perak bersinar dan berkilau
Wajahmu bulat, tak cocok memakai poni.
Dia terlalu gemuk.
Rambut belah tengah akan makin terkesan wajah lebar.
Kenapa kamu menentangku terus?
Dari bentuk wajah ini, sulit untuk menonjolkan wajah yang bagus.
Kalian sedang bicara apa?
Jangan ribut./ Diam.
Ayo cepat, kita mulai.
Pakai dulu Wetcode CC. Samarkan dulu jerawatnya.
Sudah tak bisa berbalik lagi
Sini./ Di sini. Ini dipoles./ Baik.
Poninya. Tutupi nodanya.
Begini./ Sudah?
Sudah.
Belum pernah seyakin ini
Kamulah yang membuatku penuh arti
Terlihat jauh lebih bagus.
Melihat wajahmu
Tak ada yang penting lagi di dunia ini
Saudari Shan-cai, mohon ikuti aku.
Memelukmu dengan erat
Biarlah sungai perak bersinar dan berkilau di setiap sudut di malam hampa
Tak lagi takut akan kegelapan Disiapkan kehangatan untukmu
Mulai sekarang kita bertemu dengan keabadian
Firasat ini begitu jelas
Melewati kekompakan yang tak disengaja Ibarat tarikan yang sedemikian kuat
Jangan ragu Jangan tolak
Sudah lama ingin memanjakanmu
Lemah, teguh, keras kepala, semuanya ingin kukumpulkan
Mohon tunggu sebentar. A Si segera datang.
Dao Ming-si sebenarnya mau apa?/ Saudari Shan-cai, jangan khawatir.
A Si sangat baik. Sama sekali tak berniat buruk terhadapmu.
Aku tak pernah menyangka akan melepas kesombonganku
Melihat air matamu
Hatiku hancur hingga sama sekali tak bisa bernalar
Aku sungguh tak tahu
Cinta itu cukup tidak sebagai tanda
Eratkan genggaman tangan
Bersama-sama membuat kenangan indah di sungai yang berkilau
Tak sangka, tak sangka Aku tak sangka
Melihat wajahmu, dunia ini tidak penting lagi
Entahlah, aku tidak tahu Biarlah sungai perak…
Jangan-jangan ini foto F4 saat kecil.
Melihat air matamu hatiku sakit hingga tak terperikan
Ternyata waktu kecil Hua Ze-lei begitu imut.
Akhirnya kamu muncul. Mana ponselku? Aku mau pulang.
Kamu suka Hua Ze-lei?
Dengar, kamu tak boleh menyukai Hua Ze-lei.
Aku suka padanya atau tidak, apa urusanmu?
Ini di mana?/ Rumahku.
Untuk apa bawa aku ke rumahmu? Ada lagi, untuk apa aku didandani seperti ini?
Bagaimana? Pelayanan di sini bagus bukan?
Dengar, asalkan kamu patuh. Aku bisa menjadikanmu sebagai pacarku.
Saat aku muncul, kamu boleh berdiri 1 meter di belakang aku.
Saat makan, juga boleh duduk bersamaku.
Intinya, kamu boleh kapan saja datang mencariku.
Dan bisa langsung menemuiku.
Seminggu sekali aku bisa mengantar jemput kamu ke kampus.
Saat pulang kuliah, atau sedang kuliah, kamu akan diberi cemilan dan minuman enak.
Jika ada masalah dalam mata pelajaran, aku bisa mengajarimu.
Saat kamu ulang tahun, kita bisa makan di restoran terbaik di Shanghai.
Dalam bermain game, aku akan memberimu uang dan emas semampuku.
Tiap tahun akan tur satu kali. Kalau ponsel rusak, segera ganti baru.
Harusnya kamu merasa sangat senang.
Senang.
Senang kepalamu!
Mana bajuku? Aku mau pakai kembali.
Kamu.
Kamu apa-apaan.
Dao Ming-si, aku tak tahu otakmu atau syarafmu sedang bermasalah.
Juga tak tahu untuk apa kamu bicara panjang lebar seperti itu.
Aku tak butuh fasilitas dan kenikmatan yang kamu sebut itu.
Lebih tak butuh lagi kamu memberiku uang dan ponsel. Aku mau pulang.
Dengar, kamu jangan menangis dan menyesal.
Di dunia ini tak ada yang tak bisa kudapatkan.
Kamu kira kamu siapa?/ Jurusmu ini takkan mempan bagiku.
Bagaimana? Aku ini tak bisa kau dapatkan dengan benda di seluruh dunia ini.
Dengar, aku bukan orang yang mudah diajak hidup bersama orang angkuh sepertimu.
Semua ucapanmu ini sama lucunya dengan kepala nanasmu itu.
Selamat tinggal.
Sampai bawa aku ke rumahnya untuk pamer. Kenapa ada orang aneh seperti ini?
Tapi jika harus diganti dengan benda yang di dunia ini, aku harus menggantinya dengan apa?
Tampaknya aku sudah tahu.
Shan-cai, hari ini kamu terlihat berbeda.
Apa iya? Apakah ada sesuatu di wajahku?
Pori di wajahmu jadi berubah kecil sekali. Alis mata juga dibuat bagus.
Apakah kamu pergi ke klinik estetika?/ Mana mungkin?
Tadi tampaknya Dao Ming-si terus melihatmu./ Lihat apa dia.
Apa kalian tak sadar Dong Shan-cai itu telah terpikat padaku?
Maksudmu gadis betis terbang yang telah menendangmu hingga pingsan itu?
Apa yang diketawakan? Tak percaya?/ Percaya.
Aku tahu tak ada yang mampu menahan daya tarikku.
Wanita itu lain di mulut, lain di hati.
Mengenai daya pikat yang dimiliki A Si, aku pun tak tahan.
Aku menemukan satu cara.
Kita sembunyi di toilet wanita, pakai wig menyamar jadi hantu.
Lalu takuti Dong Shan-cai. Aku tak percaya dia tak takut.
Yang benar saja, Kak. Kita ini lelaki dewasa.
Pergi ke toilet wanita untuk berbuat hal seperti ini? Apa bagus?
Kalau tidak, untuk apa ke toilet wanita?
Pertama, kita para lelaki menerobos ke toilet wanita, sudah cukup memalukan.
Jika masih harus menyamar jadi hantu lagi, takutnya akan jadi hantu buaya benaran.
Tak apa. Kita hati-hati saja. Yang penting tidak ketahuan.
Ya Tuhan. Tolonglah aku.
Pemahaman A Si terhadap wanita masih terhenti di tingkat SD.
Lei./ Aku tak mau menyamar jadi hantu.
Sudahlah.
A Si, sebenarnya mengejar seorang wanita, tak perlu serepot ini.
Siapa bilang aku mengejar dia. Aku hanya ingin mempermainkan dia saja.
Kamu yakin? Kalau begitu, aku tak membantumu lagi.
Tak apa.
Xi-men kurang solider. Kubantu kamu mengejarnya.
Baik.
No comments yet. Be the first to leave one.