The first 192 lines.
Di mana salahnya?
KALENDER BINTANG, 15 JUNI 2148
Sementara kami dipaksa bertempur, diperlakukan bak senjata di medan tempur,
kalian menikmati berlindung di balik tembok yang aman.
Dan kau menikmati posisimu dengan tampang tanpa dosa!
Kalau itu namanya bukan memperlakukan seperti babi, lalu apa?
Dengan beraninya mengira
omongan lembutmu itu cukup untuk membuat kami merasa lebih baik!
Terlebih, tak sekali pun kau pernah menanyakan nama asli kami, 'kan?
- Theo. - Raiden!
Jika berani membela babi putih ini…
Theo.
Baiklah.
Handler One, putuskan resonansinya.
Itu…
Pertempuran sudah berakhir.
Kau tak berkewajiban mengomando kami lagi.
Laughing Fox memang sudah kelewatan,
tetapi bukan berarti
kami dan yang lainnya ingin berbincang-bincang denganmu.
Maafkan aku…
HILANG SINYAL
Aku tak ingin mati.
Maafkan aku, Kaie.
Aku bertingkah seperti para babi putih itu…
dan mencoreng kematianmu.
Ayo!
KALENDER BINTANG, 16 JUNI 2148
Theo!
- Aku tahu itu! - Maaf.
Lanjut!
Oper sini!
Oper!
Ayo!
Hei! Shiro!
Jangan bergerak!
Shiro!
Theo, itu bentuk wajah rubah. Ekspresinya juga seram.
Terlebih tawanya kurang!
Padahal nama sandimu Laughing Fox.
Berisik sekali.
Kau resah gara-gara ucapanmu pada perempuan itu, ya?
Sama sekali tidak!
Tidak, sepertinya memang meresahkan.
Benar juga.
Apa?
Theo.
- Perbaiki itu! - Perbaiki itu!
- Kilik-kilik! - Kilik-kilik!
Kancing yang copot ini memang meresahkan, ya.
Padahal biasanya memang sengaja melepas satu kancing.
Suka-suka aku!
Sifat cuek memang sifatnya Theo, ya!
Masa bodoh!
Kemarin kau tak seperti biasanya, ya.
Caramu menyampaikannya memang kurang baik, tetapi…
itu mengingatkanku pada Kapten Fox.
Ya ampun. Kalian ini benar-benar.
Ini karena…
aku merasa iri.
Karena Theo bisa bertemu orang seperti dia.
Kenapa tiba-tiba membahasnya?
Bagimu, dia orang yang berharga dan akan selalu kau kenang, 'kan?
Aku tak pernah punya orang seperti itu.
Dengar, ya, Shin!
Lain kali, jangan liar lagi, ya!
Setidaknya sampai pasokan kita tiba, main aman saja!
Kuusahakan kalau bisa.
Hei, Theo!
Kau jangan liar juga, ya.
Ya ampun, para bocah ini memang membuat sakit kepala.
Seperti biasa, naik darahnya tak pernah absen, ya.
Sesekali aku juga ingin menyenangkan hatinya.
Itu mustahil.
Terima kasih.
Kira-kira, apa yang akan dikatakan Kapten pada Handler itu?
Maksudmu, Kapten Fox, ya?
Ya.
Mungkinkah Kapten juga akan marah?
Ya, siapa juga yang peduli.
Lagi pula, dia tak lagi menghubungi kita melalui Para-RAID.
Si babi putih sok suci itu.
Kaptenmu tak akan berkata begitu.
Tidakkah kau berpikir demikian?
Ada perlu apa,
Handler One?
KALENDER BINTANG, 16 JUNI 2148
Pada akhirnya, kau tetaplah rakyat republik, Lena.
Kita hidup di dunia kita sendiri.
Itu bukan sesuatu yang bisa dimaafkan.
Setidaknya aku tak bisa memaafkan diriku sendiri.
Jadi, bagaimana kau akan memaafkan dirimu sendiri?
Apa kau akan pergi ke Distrik 86, lalu bertempur bersama mereka?
Jelas tak bisa.
Sekarang, kau hanya perlu memanjakan dirimu, Lena.
Aku membuat puding terlalu banyak.
Maafkan aku, Annette. Aku sedang tak berselera.
Kau terlalu memaksakan diri.
Di dunia kita yang menakjubkan ini, kita bisa menikmati puding di siang hari.
Tak sedikit pun aku menganggap ini menakjubkan.
Ya ampun! Memang kenapa kalau kau tak menanyakan nama mereka?
Lagi pula, kau tak wajib mengetahui nama mereka, 'kan?
Kau juga tak akan pernah bertemu mereka.
Henrietta Penrose.
Ada apa tiba-tiba?
Itulah namamu.
Aku bisa mengenal namamu
karena kita berteman.
Lantas apa?
Nama adalah jati diri seseorang.
Dan aku telah menginjak-injaknya.
Aku tak memperlakukan mereka layaknya manusia.
Kau terlalu memikirkannya.
Lagi pula, kau tak berteman dengan para Eighty-Six.
Namun, mereka sesama manusia!
Kalau memang itu yang kau rasakan,
seharusnya dari awal kau menanyakan nama mereka.
Kejadian kali ini bisa jadi pelajaran untukmu.
Sebaiknya kau tak terlibat lebih jauh dengan mereka.
Kenapa kau selalu menolak mereka?
Karena tak ada yang bisa dilakukan.
Di sini ada puding, sedangkan di sana tidak.
Kita berbeda dengan mereka.
Dalam segala aspek.
Jadi, terlibat dengan mereka hanya akan berujung penyesalan.
- Namun… - Lena.
Peperangan tengah berlangsung.
Kita tak bisa kembali ke masa lalu.
Intinya, kau mundur sebagai Handler, dan bergabung dengan divisi riset!
Tetap saja…
Aku tak akan mundur sebagai Handler.
Dengarkanlah nasihat teman karibmu ini.
Vladilena Milizé.
Mari pergi melihat medan tempur.
Mari lihat segala yang terjadi di sana.
Tanpa terkecuali.
Mereka sedang berperang, 'kan, Ayahanda?
Ya, itu benar.
Terlepas dari itu, kita melakukan hal yang jauh lebih kejam pada mereka.
Hal yang kejam?
Ya.
Ini semua…
harus dihentikan.
Secepatnya.
Bisa maju sedikit lebih jauh lagi dari markas garis depan?
Dimengerti, Kolonel.
Ada apa?
Pamanda…
Hingga kini pun, aku masih belum lupa.
Kenangan terakhir di kala ayahanda membawaku ke medan tempur 86.
Aku merasa sedih mengingat apa yang terjadi pada beliau.
Namun…
Aku merasa bersyukur beliau memperlihatkannya padaku.
Bersyukur?
Ya.
Dengan melihat Distrik 86 secara langsung,
aku pun mengetahui kebenaran dari negeri ini.
Aku pun bisa kembali merangkul idealisme yang dibuang oleh republik.
Jadi…
Vaclav merangkul idealisme untuk memajukan republik ini.
Dia pria yang baik hati.
Dan pastinya dia seorang suami dan ayah yang baik.
Karena itulah dia memberitahukanmu kebenaran negeri ini.
Seseorang dengan jiwa keadilan sepertinya gugur karena serangan musuh.
Sebagai sahabat karibnya, aku merasa amat kehilangan.
Namun…
dia tak menyadarinya.
Tentang apa?
Bahwa dirinya sama seperti rakyat republik lainnya,
tak lebih dari sekadar pengamat dari jauh.
Meskipun berkedudukan setara, tetap saja setiap orang itu berbeda.
Secara tak sadar, dia berpikir bahwa hanya Eighty-Six yang gugur di medan tempur.
Itulah sebabnya dia membawamu ke medan tempur.
Vaclav yang berbuat sembrono
demi idealismenya itu lebih patut disebut teledor
dan bodoh.
Lena, aku tak ingin kau berakhir sepertinya.
Sudah cukup.
Usahamu sudah lebih dari cukup.
Aku juga bertanggung jawab karena telah menugaskanmu di pasukan yang merepotkan.
Namun, aku juga ingin kau merasakan langsung bagaimana situasi negeri ini.
Meski begitu, kau tak perlu memaksakan diri.
Tidak juga! Untuk ke depannya, sebagai Handler Eskadron Spearhead, aku…
Apa yang disimbolkan oleh bendera republik kita?
Kebebasan dan kesetaraan.
Lalu, kedekatan dan keadilan.
Terakhir, keluhuran.
- Memang kenapa? - Sudahkah kau menunaikannya?
Lihatlah kenyataan.
Konsep seindah itu nihil di republik ini.
Kau terlalu idealistis.
Baik pada orang lain, maupun pada dirimu sendiri.
No comments yet. Be the first to leave one.