The first 200 lines.
EPISODE 5
Selamat tidur.
Hati-hati di jalan besok,
dan semoga berhasil.
Jangan lupa perkataanku tadi.
Kau banyak bicara tadi.
Yang mana yang aku tak boleh lupa?
Mana pun yang paling menyentuh bagimu.
Kenapa kau mendukungku?
Padahal ibuku pun tidak mendukungku.
Karena kau memberiku harapan.
Maka itu, aku jadi menginginkanmu.
Aku juga menginginkan diriku berhasil.
Hal apa dariku yang membuatmu begitu?
Entahlah. Hanya saja…
Jika kau berusaha, aku juga jadi ingin berusaha.
Jika kau berhasil, aku juga jadi ingin berhasil.
Kau…
membuat orang lain bertumbuh juga, tidak hanya dirimu.
Dukunganku adalah pujian bagi dirimu yang seperti itu.
Jadi, bawalah semua dukunganku.
Aku akan…
bawa seluruh dukunganmu.
Lalu, ayo kita menjadi hebat bersama.
Tidak ada lagi…
yang seperti dirimu.
Masuklah. Aku akan pulang.
Baik.
- Hampir lupa. Tunggu sebentar. - Apa?
Hadiah. Ini pedang yang kau pakai tadi.
Untukmu berjaga-jaga karena sudah malam.
Gunakan jika bertemu penjahat.
Apa ini boleh untukku?
Ini pertama kalinya aku menghadiahkan pedang, jangan lupakan itu juga.
Tak akan lupa.
Masuklah. Aku akan pulang.
Dah, Back Yi-jin.
Astaga!
Ibu mengagetkanku.
Perpisahannya panjang sekali.
Kalian sebegitunya enggan berpisah?
- Ibu menguping? - Lantas, harus bagaimana?
Membiarkan kalian?
Hubungan kalian pasti istimewa sampai memberinya pedang.
Siapa dia?
Orang yang mendukungku, tidak seperti Ibu.
Bagaimana ibu bisa mendukungmu?
Kau janji akan berlatih keras sehingga pindah sekolah,
tetapi malah berkencan.
Rupanya Ibu sungguh tak percaya kepadaku.
Perbuatanmu tidak bisa dipercaya. Kau malah begini di luar.
Apa jika kau jadi ibu, kau akan percaya kepadamu?
Aku besok akan ke Hwaseong untuk ikut pemilihan timnas.
Kenapa kau ikut pertandingan itu?
Aku akan berusaha sekuat tenaga besok.
Namun, Ibu bukan alasanku untuk berusaha sekuat mungkin.
Aku hanya akan berusaha demi diriku.
Karena hanya aku…
yang tahu usahaku.
SEMANGAT NA HEE-DO
Saat masih kecil, Ibu adalah kebanggaanku.
TIM BALET ANAK-ANAK ANGSA RESITAL
Senang bisa bertemu denganmu.
Kau hebat sekali. Ini luar biasa.
- Ibu! - Min-chae.
Aku sangat merasa terhormat bisa bertemu denganmu.
- Benar. - Kau masih sama seperti dahulu.
Apa rahasiamu?
Terima kasih.
Lalu, aku selalu iri kepada Ibu.
Ibu selalu luar biasa dan terlihat terbiasa dengan itu.
Ibu bagai memang terlahir untuk itu.
Namun…
di bawah setiap halaman buku harian Ibu,
ada catatan tentang pelatihan di hari itu,
juga hal yang harus diperbaiki.
Ibu selalu menulisnya setiap hari.
HAL YANG KUSADARI LURUSKAN KAKI BELAKANG SAAT FENTE
CATATAN PELATIHAN
KENDALIKAN JARAK JANGAN TAKUT DENGAN LAWAN
Yang membuat aku terkejut bukanlah kisah percintaan Ibu,
tetapi usahanya.
Usaha Ibu yang hanya Ibu yang tahu.
Untuk pertama kalinya
aku melihat usaha Ibu, bukan kehebatannya.
HWASEONG, 1998 PEMILIHAN ATLET TIM NASIONAL ANGGAR
Na Hee-do, kau bisa sampai di sini karena keberuntungan.
Namun, saat keluar di sini,
kita akan melihat hasil dari usahamu.
Kau yakin berhasil, 'kan?
Pelatih.
Aku…
tak akan kalah hari ini.
Tangkap.
Yang benar saja.
Lempar kepadaku! Di sini!
Apa ini?
Kami tidak sengaja.
Kemarin kakakku bertanya tentang kabar kalian.
Tadi kami sungguh tak sengaja!
Maafkan kami.
Ayo kita pergi.
- Halo? - Kak Yi-jin, ini aku.
Kenapa meneleponku pagi-pagi? Apa ada masalah?
Tidak ada. Aku sedang menuju ke sekolah,
lalu menemukan koin di telepon umum,
jadi, meneleponmu.
Itu rezeki pagi hari.
Benar. Aku sangat beruntung.
Semoga kau juga beruntung hari ini!
Baiklah. Cepat ke sekolah.
Baik. Dah.
Semoga kau juga beruntung hari ini.
Pemilihan Tim Nasional Anggar Wanita
babak 16 besar akan segera dimulai.
HWASEONG, 1998 PEMILIHAN ATLET TIM NASIONAL ANGGAR
Di antara semua atlet yang ada di sini,
aku yakin dirikulah yang sudah berusaha paling keras.
Karena itu, aku pasti akan menang.
Hari ini, aku akan menjadi anggota tim nasional.
En garde.
Prêtes?
Allez.
Kau kenal Yi-hyun?
Nak, apa kau kenal Back Yi-hyun?
Ya, aku kenal dia.
Itu dia di sana.
Apa? Yang berdiri di penyeberangan jalan?
Benar, Pak.
Terima kasih.
En garde. Prêtes?
Allez.
Di mana ayahmu sekarang?
Katakan di mana ayahmu!
- Lekas katakan! - Sialan.
- Hei. - Hei.
- Hei. - Kau mau kabur?
Dengarkan aku.
- Berhenti, Pak! - Katakan.
- Ke mana ayahmu kabur? - Lepaskan dia. Bicarakanlah baik-baik.
- Di mana dia? - Hentikan.
Di mana ayahmu? Lekas katakan, di mana ayahmu?
- Kenapa diam saja? - Lekas katakan.
Halo?
Ya.
Ayo! Kau bagus!
En garde.
Prêtes? Allez.
Halte. Attaque non correcte.
Attaque. Touche. Point.
JANG EUN-GYEONG, NA HEE-DO
Tidak.
Tidak terjadi kontak.
En garde. Prêtes?
Allez.
Katakan di mana ayahmu!
Halte. Attaque. Touche. Point.
KIM SEUNG-HEE, NA HEE-DO
Kau pasti bisa!
En garde.
Prêtes? Allez.
Halte. Point.
- Bagus! - Silakan ke tengah.
Salut.
Susunan laporan liputannya berantakan!
Masih banyak yang kurang.
Isilah dengan hal penting lain.
Itu bukan fakta. Bagaimana bisa…
Tunjukkan.
Pak, di urutan keempat, kubacakan berita kemenangan Park Chan-ho ke-15 musim ini.
Baiklah.
Lalu, setelahnya berita home run ke-70 McGwire.
Tumben sekali.
Biasanya kau tak suka berita olahraga.
Na Hee-do?
Siapa dia?
Baiklah.
Kim Jeong-hyeon dan Na Hee-do yang masuk final.
Begitu? Kim Jeong-hyeon memang mantan timnas.
- Namun, siapa Na Hee-do? - Katanya murid SMA.
Minta foto Na Hee-do ke Federasi Anggar.
- Minta juga data pribadinya. - Ya.
Namun, Pak Kepala,
sampai kapan aku harus meliput soal anggar?
Aku sudah bukan di Divisi Olahraga lagi.
Di mana pun divisimu, di sini tetaplah kampung halamanmu.
Atlet Kim Jeong-hyeon
selalu menjadi timnas selama delapan tahun kecuali tahun ini.
Dia cepat, sangat fokus, dan bisa mengendalikan permainan.
Pengalamannya dua kali lipat daripadamu.
Kau sedang menakutiku?
Bukan.
Maksudku, atlet pemula sepertimu adalah lawan sulit baginya.
Dia tidak tahu apa pun tentangmu.
Jadi, kau hanya perlu tunjukkan cara beranggarmu seperti biasa.
Namun, ingat satu hal.
Dia akan berusaha keras untuk membuatmu emosi.
Ingat. Jangan terpengaruh olehnya.
Baik.
Kini, babak final pertandingan pemilihan timnas wanita akan dimulai.
No comments yet. Be the first to leave one.